Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Gus Mus: Menerima Perdamaian Bukan Berarti Lemah

Gus Mus: Menerima Perdamaian Bukan Berarti Lemah
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri menjelaskan bahwa orang yang bisa menerima perdamaian dari sebuah perselisihan bukan berarti sedang menunjukkan sebuah sikap yang lemah dan hina. Sebaliknya, hal tersebut merupakan akhlak mulia dan terhormat.


“Orang yang mau menerima perdamaian itu bukan berarti lemah, orang yang mau menerima perdamaian yang dilakukan pendamai yang adil, kalau dia mau menerima itu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang terhormat, orang yang luhur,” papar kiai yang akrab disapa Gus Mus itu saat menjelaskan kandungan hadits dalam sebuah pengajian yang ditayangkan di kanal Youtube Gus Mus Channel, Selasa (28/9/2021).


Dalam video yang diberi tagline Jimat Gus Mus itu dijelaskan, orang yang meminta maaf sekaligus orang yang memberi maaf bukan berarti menunjukkan sebagai sikap yang lemah. Sebab, meminta atau memberi maaf kepada orang lain membutuhkan sebuah keberanian untuk mengungkapkannya.


“Kadang-kadang orang menganggap bahwa orang yang meminta maaf itu orang yang lemah, buktinya minta maaf. Orang lemah ya gitu, baru digituin aja udah memaafkan. (anggapan) itu salah,” ujar Gus Mus.


Lebih lanjut, Gus menjelaskan tentang anjuran mendamaikan dua belah pihak yang sedang berselisih dan disebutkan bahwa tumbuhnya keinginan untuk berdamai merupakan sebuah tanda adanya sebuah toleransi dalam diri seseorang. 


“Orang yang didamaikan kalau sudah mau berdamai, itu karena sama-sama punya rasa toleransi. Kalau tidak ada toleransi ya tetap ngamuk,” jelasnya.


Gus Mus menambahkan, salah satu tradisi baik yang ada di nusantara adalah saling meminta maaf, terlebih pada saat hari raya. Tradisi seperti ini, menurut Gus Mus, bisa dijadikan sebagai ajang untuk menumbuhkan keberanian dalam mengungkapkan dan menyampaikan permohonan maaf kepada orang lain.


“Sekarang ada model baru, mau Ramadhan minta maaf, mau Sya’ban minta maaf, baguslah itu. Itu menjadikan orang berani meminta maaf,” jelas Pengasuh Pesantren Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang tersebut.


Gus Mus juga menyampaikan penjelasan lain dalam kandungan hadits yang ia bacakan, diantaranya tentang pentingnya mempunyai kasih sayang kepada orang yang mempunyai hutang, seperti mengurangi beban hutangnya atau memberikan toleransi waktu pembayaran.


“Kalau kamu memberi hutang kepada orang, orang tersebut kelihatan sangat kesulitan, tidak usah ditekan, diberi waktu lah,” imbuhnya.


Selain itu, Gus Mus juga menyampaikan tentang larangan keras melakukan sumpah akan meninggalkan perbuatan baik, sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nur ayat 22.


Pewarta: Aiz Luthfi
Editor: Syakir NF



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×