Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Gus Nadir Jelaskan 3 Peristiwa Penting Tentukan Nasib Islam Indonesia

Gus Nadir Jelaskan 3 Peristiwa Penting Tentukan Nasib Islam Indonesia
Guru Besar Universitas Monash Australia Prof Nadirsyah Hosen. (Foto: dok. NU Online)
Guru Besar Universitas Monash Australia Prof Nadirsyah Hosen. (Foto: dok. NU Online)

Cirebon, NU Online 

Guru Besar Universitas Monash Australia Prof Nadirsyah Hosen menjelaskan bahwa ada tiga peristiwa penting yang menentukan nasib Islam di Indonesia.


Hal itu disampaikan dalan Simposium Internasional yang digelar Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren. Kegiatan ini digelar di GOR Mbah Muqoyyim, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (6/12/2022).


Pertama, bolehnya umat Islam Indonesia untuk melaksanakan haji. Ketika dijajah Belanda, Snouck Hurgronje sebagai penasihat Koloni menyarankan agar Pemerintah Hindia Belanda tidak melarang para ulama pergi haji karena itu hanya ibadah.


"Itu kesalahan besar. karena para kiai kita bukan hanya sekadar ke tanah suci untuk beribadah, tetapi ngaji kepada para masyayikh di tanah suci," ujarnl akademisi yang akrab disapa Gus Nadir itu.


Hal penting lagi, menurutnya, kebolehan umat Islam Indonesia berhaji juga membuat mereka bertemu para ulama dan para aktivis dunia muslim. "Terjadi pertukaran gagasan di musim haji saat itu akibat pemerintah Belanda mengizinkan para ulama dan para kiai kita pergi naik haji," jelasnya.


"Sehingga mengakibatkan para ulama kita memiliki wawasan internasional, tahu yang terjadi di belahan dunia lainnya," lanjut akademisi internasional bidang hukum itu.


Kedua, jelas Gus Nadir, adalah kesalahan Pemerintah Hindia Belanda dengan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan lainnya ke luar Pulau Jawa karena kesal terhadap pergerakan mereka. Tanpa sadar, Belanda tengah memperlihatkan bahwa Indonesia bukan hanya Jawa. Di tempat pembuangan itu, tampak sama-sama dijajah, memiliki persoalan yang sama. Meskipun bahasa dan makanannya berbeda, tetapi memiliki satu kesatuan.


"Dibuang ke berbagai pulau-pulau di luar Jawa, punyalah wawasan kebangsaan," jelasnya.


Hal tersebut justru memberikan wawasan kebangsaan terhadap para tokoh, bahwa Indonesia sangatlah luas. "Kita punya satu kesatuan. Dibuang ke manapun membuat Indonesia luas. Punya wawasan kebangsaan.


Hal lain yang menentukan Islam Indonesia adalah adanya pesantren yang mempertemukan para santri dari berbagai penjuru Nusantara melalui pendidikan agama. "Pesantren ternyata mempertemukan para santri dari berbagai pelosok di tanah air," ujarnya.


Ia mencontohkan sosok ayahnya, Prof KH Ibrahim Hosen. Ulama yang berdarah Bugis itu berangkat mendengar nama ulama besar saat ia tinggal menetap di Bengkulu. Dari Pulau Sumatra, ia mengembara ke Jawa mencari sosok tersebut, yaitu KH Abbas Abdul Jamil Buntet Pesantren. Prof Ibrahim digembleng secara khusus oleh Kiai Abbas dan menjelma menjadi sosok pakar fiqih perbandingan madzhab.


Simposium ini juga dihadiri oleh Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof Mohammad Ali, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Jajang Jahroni, Ketua STIT Buntet Pesantren KH Fahad A Sadat, dan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) M Abdullah Syukri.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×