Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Gus Yahya Kembali Ingatkan Ada Ancaman Serius dari Politik Identitas

Gus Yahya Kembali Ingatkan Ada Ancaman Serius dari Politik Identitas
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Rabu (25/1/2023) mengatakan, politik identitas menjadi ancaman serius di Pemilu 2024. (Foto: dok NU Online)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Rabu (25/1/2023) mengatakan, politik identitas menjadi ancaman serius di Pemilu 2024. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya mengatakan, politik identitas menjadi ancaman serius di Pemilu 2024. Pasalnya politik identitas kerap dijadikan senjata di setiap ajang pemilu.


"Politik identitas ini menjadi ancaman yang serius terhadap keutuhan dan harmoni dan kehidupan masyarakat kita, jelang pemilu 2024," kata Gus Yahya dalam Webinar 'Partisipasi Ormas dalam Pendidikan Pemilih Cerdas untuk Mewujudkan Pemilu Berkualitas 2024', Rabu (25/1/2023). 


Menurut Gus Yahya, politik identitas sudah menjadi semacam warisan yang sulit dihilangkan dari masa ke masa. Sejak masa orde baru, selama 32 tahun, usaha pemerintah menetralisir politik identitas tak jua membuahkan hasil. Tak ayal sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa peta politik di Indonesia pada umumnya didasarkan politik aliran. 


"Dahulu selama Orde Baru 32 tahun, kecenderungan ini dicoba dinetralisir pemerintah tapi dengan cara yang kurang lebih opresif, walaupun memang pada akhirnya ada pelunakan di dalam politik identitas," kata Gus Yahya.


Akan tetapi, lanjut dia, begitu terjadi reformasi politik dan refresif pemerintah berhasil dihilangkan kecenderungan politik identitas dan aliran itu menyeruak kembali, bak luka lama yang terbuka kembali. "Ini menjadi tantangan cukup berat bagi kita termasuk NU," ucapnya. 


NU sebagai alat politik
Gus Yahya kemudian menyoroti masalah NU yang kerap digunakan sebagai senjata politik di setiap ajang Pemilu. Ia menegaskan, di era kepemimpinannya, NU tidak akan dan tidak boleh dilibatkan dalam kepentingan politik.


"Pada Pemilu terakhir 2019, kita lihat ada mobilisasi dukungan dengan menjadikan identitas NU ini sebagai senjata, tapi kami sadari ini bukan model dinamika politik yang baik karena identitas ini adalah motivasi politik yang bersifat irasional," ujar Gus Yahya.


Lebih lanjut, Gus Yahya berharap keserentakan Pemilu dan Pilkada 2024 dapat menekan politik identitas. Menurutnya, desain keserentakan ini membuat partai politik hingga calon kontestan kesulitan untuk melakukan konsolidasi.


"Eksperimen Pemilu Serentak dari pusat sampai daerah sampai Pilpres dan Pilkada ini sebetulnya eksperimen menarik karena akan mengacak formasi koalisi di antara pihak-pihak yang terlibat," jelas Juru Bicara Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.


Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×