Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ketentuan Bayar Zakat Fitrah bagi Orang Perantauan

Ketentuan Bayar Zakat Fitrah bagi Orang Perantauan
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, NU Online 

Menjelang lebaran Idul Fitri menjadi momen mudik ke kampung halaman bagi umat Muslim khususnya di Indonesia. Meski begitu, ada sebagian orang di perantauan yang tidak melakukan mudik atau mudik tapi setelah lebaran karena ada beberapa hal. 


Sementara, setelah bulan puasa tepatnya sejak terbenamnya matahari sore Idul Fitri, seluruh umat Muslim diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Lalu, apakah orang yang masih di tanah rantau saat lebaran harus membayar zakat di tempat rantaunya atau boleh di kampung halamannya? 


Mengutip artikel NU Online berjudul Orang Perantauan Menunaikan Zakat Fitrah di Mana? dijelaskan bahwa pembayaran zakat harus dilakukan di tempat di mana seseorang berada saat terbenamnya matahari sore Idul Fitri. Penjelasan ini salah satunya dipaparkan Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi dalam Ghayatu Talkhisil Murad (hal. 43),

 

 (مسألة): تجب زكاة الفطر في الموضع الذي كان الشخص فيه عند الغروب، فيصرفها لمن كان هناك من المستحقين، وإلا نقلها إلى أقرب موضع إلى ذلك المكان 

 

Artinya, "Zakat fitrah wajib (ditunaikan) di tempat di mana seseorang berada pada saat matahari (di hari akhir Ramadhan) tenggelam. Maka ia memberikan zakat fitrah pada orang yang berhak menerima zakat yang berada di tempat tersebut, jika tidak ditemukan, maka ia berikan di tempat terdekat dari tempatnya."


Berdasarkan penjelasan di atas, orang yang masih berada di perantauan saat Idul Fitri harus membayar zakat di tempat saat ia berada, bukan di kampung halamannya. 


Terkait kebiasaan orang perantauan yang mewakilkan pembayaran zakat di kampung halaman sendiri menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhaddzab (6/225) terdapat perbedaan ulama, ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan. 


Menyikapi perbedaan pandangan ulama tersebut, Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal. 217) menjelaskan bahwa pendapat yang lebih unggul adalah yang mengatakan tidak boleh, artinya orang perantauan harus membayar zakat di tempat ia berada. 


Kontributor: Muahamad Abror
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×