Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

KH Miftachul Akhyar Ungkap Pentingnya Mensyukuri Hal Kecil

KH Miftachul Akhyar Ungkap Pentingnya Mensyukuri Hal Kecil
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar

Jakarta, NU Online
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menerangkan pentingnya mensyukuri sesuatu yang kecil, alih-alih terlalu mengelukan sesuatu yang besar.


Man lam yaskuril qalil lam yasykuril katsir, wa man lam yasykurinnas lam yaskurillah (Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit maka tidak mensyukuri yang banyak. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, maka tidak bersyukur pada Allah),” terangnya saat mengisi pengajian Al-Hikam di kanal YouTube TVNU, Jumat (12/11/2021).


Kiai Miftach menjelaskan, sesuatu yang besar pun sejatinya bermula dari yang kecil. Pandai mensyukuri hal kecil akan menyempurnakan nikmat bersyukur. Berbanding terbalik dengan seseorang yang baru akan bersyukur ketika mendapati sesuatu yang besar, Kiai Miftach menyebutnya sebagai bentuk syukur yang cacat.


“Barang siapa yang tidak mensyukuri sesuatu yang kecil, dia tidak bisa mensyukuri sesuatu yang besar. Sekarang dia hanya mensyukuri yang besar, yang kecil tidak disyukuri. Lah, ini syukur yang cacat. Syukur yang tidak dianggap, ghairu mu’tabar,” paparnya.


Sama halnya dengan mensyukuri manusia atau wasilah Allah, Kiai Miftach menerangkan barang siapa yang tidak mensyukuri wasilah atas sampainya sebuah nikmat kepadanya (berterima kasih), orang tersebut sama halnya dengan tidak bersyukur kepada Allah swt.


“Karena Allah sudah mengkhususkan dan sunnatullah seperti itu. Itu kehendak Allah,” terang Kiai Miftach.


Maka dari itu, kiai kelahiran Surabaya tersebut membeberkan dua kiat dalam menyikapi rezeki yang Allah berikan melalui perantara orang lain. Pertama, meneguhkan hati bahwa nikmat yang diterima adalah bersumber dari Allah swt.


“Walaupun ada perantara yang menyampaikan, itu hanya wasilah saja sebetulnya. Hakikatnya hanya Allah. Hati kita harus meyakini itu dari Allah. Yang lain itu kan wasilah semua. Artinya wasilah ini yang memang harus melakukan (atas kehendak Allah),” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Miftsachus Sunnah, Surabaya itu.


Kedua, mendoakan dan memberikan ucapan terima kasih kepada mereka yang diperantarai nikmat Allah swt. Perilaku tersebut merupakan bentuk seseorang dalam mengamalkan perintah Allah.


“Kita doakan mereka, ucapkan terima kasih bagi mereka yang diperantarai anugerah atau nikmat yang anda terima itu tadi. Kita puji mereka sebaga bentuk kita mempraktikkan perintah syariat. Karena syariatnya seperti itu,” paparnya.


Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Muhammad Faizin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×