Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Prof Azyumardi Azra: Islam dan Laut Pemersatu Indonesia

Prof Azyumardi Azra: Islam dan Laut Pemersatu Indonesia
Guru Besar Sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra pada Simposium Nasional Islam Nusantara di Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (8/2). Foto: NU Online/Syakir NF)
Guru Besar Sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra pada Simposium Nasional Islam Nusantara di Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (8/2). Foto: NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Indonesia merupakan negeri maritim dengan luas laut melebih luas daratannya. Hal itu bukanlah pemisah melainkan menjadi pemersatu antarpulau.
 
"Oleh karena itu Islam kita ini menjadi Islam yang menyatu," kata Guru Besar Sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra saat Simposium Nasional Islam Nusantara di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Sabtu (8/2).
 
Azra mencontohkan persebaran kitab karya Syekh Abdul Rouf Singkel yang begitu cepat. Kitab berjudul Mirat al-Thullab yang ditulis pada abad 17 di wilayah Sumatera itu, sudah menyebar ke Buton, Sulawesi hingga Mindanao, Filipina bagian selatan.
 
"Naskah yang ditulis abad 17 oleh Singkel yang menjadi dasar pembentukan dasar fiqih Syafii dalam waktu tidak lama ditemukan di Buton atau di Mindanao," kata akademisi yang mendapat gelar kehormatan Commander of The Order of British Empire (CBE) itu.
 
Perbedaan tradisi, suku, bahasa yang begitu kompleks itu bukan soal bagi masyarakat Nusantara karena kehadiran Islam menjadi pemersatunya. "Islam menjadi faktor pemersatu," ujarnya.
 
Sejarahwan asal Minangkabau, Sumatera Barat itu menikah dengan orang bersuku Sunda. Sampai hari ini, ia mengaku tidak bisa berbahasa Sunda. Tetapi, kebersatuan keduanya adalah faktor Islamnya. "Yang menyatukan itu faktor Islamnya itu," ujarnya.
 
Ia juga menyontohkan sosok ulama besar masa lampau, yakni Syekh Yusuf al-Maqassari. Ia diterima dengan mudah, bahkan dijadikan menantu oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Ia juga mengembara ke Aceh dan diterima dengan baik.
"Indonesia ini tidak pernah ada jawasentris. Karena memang dunianya fluid (cair)," ujar akademisi alumnus Universitas Columbia, Amerika Serikat itu.
 
Azra juga menyebut tiga penyebar Islam dari Minangkabau di NTB dan di tempat lain oleh orang yang sama. "Guru pengembara dari mana ke mana. Ini yang menyatukan suku yang berbeda itu," pungkasnya pada kegiatan bertema Islam Nusantara dan Tantangan Global itu.
 
Kegiatan ini juga menghadirkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Guru Besar Universitas Indonesia Susanto Zuhdi, Sejarahawan sekaligus Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH Ng Agus Sunyoto, dan Cendekiawan Fachry Ali.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×