Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Santri Mewarisi Perjuangan Kiai Pembangun Negeri

Santri Mewarisi Perjuangan Kiai Pembangun Negeri
KH Maman Imanulhaq (berdiri).
KH Maman Imanulhaq (berdiri).
Jakarta, NU Online
Republik ini tegak karena perjuangan tak kenal lelah dari para kiai. Bahkan kalangan pesantren ini sejak dulu konsisten melakukan perlawanan terhadap penjajah, baik langsung maupun tidak langsung. 

Sikap kalangan pesantren yang tidak mau terkooptasi oleh penjajah berdampak pada kesadaran ingin merdeka. Hal ini muncul dari keprihatinan kemanusiaan yang terus menerus tertindas oleh perilaku kolonial. 

“Santri sebagai pewaris para kiai konsisten dengan sikap kerja keras, sabar, yakin, dan saling tolong-menolong dalam membangun negeri. Kesadaran ini akan terus terpatri sebab memegang teguh amanat para kiai pejuang negeri,” demikian kata Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq saat memberikan taushiyah usai kegiatan 1 miliar Shalawat Nariyah, Jumat (21/10) malam di Masjid An-Nahdlah PBNU Jakarta.

Kiai yang akrab disapa Kang Maman ini memberikan catatan pada fenomena dan perilaku sejumlah orang yang mengatasnamakan dirinya pembela Islam dan ulama. Mereka merasa terusik ketika ‘kehormatannya’ diganggu, namun mereka tidak merasa agamanya terinjak-injak ketika masyarakat dalam kondisi kelaparan, miskin, dan tertindas.

Disebutkannya, para guru santri sejak dahulu mengajarkan kesantunan, berpikir cerdas, saling menghormati, tidak mudah marah, tidak mudah mengubah kebencian, dan bersikap sabara dalam mendidik. Jiwa kemanusiaan mereka juga selalu tumbuh seiring penjajahan dan penindasan dari kaum klonial terhadap bangsa Indonesia.

“Sekarang terbalik, kita merasa kehormatannya terusik sambil teriak Allahu Akbar. Tetapi ketika ada masyarakat yang kelaparan, miskin, dan tertindas tidak merasa agamanya diinjak-injak,” terang Kang Maman.

Pembacaan shalawat nariyah di PBNU dibaca 4.444 dikali 7 paket sehingga total 31.108. Jumlah ini belum menghitung jamaah yang berhasil membaca hingga lebih dari satu paket. Pembacaan 1 miliar shalawat nariyah serentak dilakukan Jumat (21/10) malam di seluruh penjuru Nusantara untuk memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober. (Fathoni) 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×