Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Survei Indikator: 66 Persen Warga Nilai Kenaikan Harga BBM Tingkatkan Beban Hidup

Survei Indikator: 66 Persen Warga Nilai Kenaikan Harga BBM Tingkatkan Beban Hidup
Ilustrasi: Seorang petugas SPBU bersiap mengisi Bahan Bakar Minyak kendaraan angkot (Foto: NU Online/Suwitno)
Ilustrasi: Seorang petugas SPBU bersiap mengisi Bahan Bakar Minyak kendaraan angkot (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Indikator Politik merilis survei nasional tentang opini publik terhadap kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang telah diumumkan Presiden Joko Widodo, pada 3 September 2022 lalu. Survei ini dilakukan pada 5-10 September 2022 dan dirilis pada 18 September 2022. 


Salah satu poin survei yang dilakukan Indikator Politik adalah menyodorkan persepsi tentang subsidi BBM tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati orang yang mampu, juga persepsi bahwa kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan lain sehingga beban hidup semakin berat.  


Hasilnya, 66 persen warga atau responden memilih persepsi kedua yakni menilai bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak pada meningkatnya beban hidup. Sementara 29,5 persen menilai subsidi BBM tidak tepat sasaran. Responden yang tidak menjawab atau menjawab tidak tahu sebanyak 4,5 persen. 


"Mayoritas menilai subsidi BBM tidak tepat sasaran, tapi di sisi lain mayoritas juga merasa akan menanggung konsekuensi jika harga BBM naik, yaitu kenaikan harga-harga kebutuhan lain sehingga beban hidup semakin berat, 66 persen," demikian bunyi salah satu poin hasil survei ini, dikutip NU Online dari dokumen Indikator Politik, Senin (19/9/2022).


Di dalam survei ini, Indikator Politik juga menyodorkan pertanyaan kepada responden mengenai keadaan ekonomi nasional dengan kategori jawaban yakni sangat baik, baik, sedang, buruk, sangat buruk. Hasilnya, mayoritas warga menilai kondisi ekonomi saat ini buruk atau sangat buruk. 


Sebanyak 34,2 persen menjawab buruk dan 17,6 persen menjawab sangat buruk. Lalu ada yang menjawab sedang (26,7 persen), baik (17,7 persen), dan sangat baik (2,6 persen). Sementara responden yang tidak menjawab atau menjawab tidak tahu sebanyak 1,2 persen. 


"Mayoritas warga menilai kondisi ekonomi saat ini buruk/sangat buruk, 51,7 persen," begitu bunyi hasil survei Indikator Politik. 


Target populasi survei ini adalah warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon, sekitar 83 persen dari populasi nasional. Pemilihan sampel dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD), yakni teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.


Dengan teknik RDD sampel sebanyak 1.215 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening. Margin of error survei diperkirakan kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.
 

Total nomor telepon yang dikontak sebanyak 20.857, lalu terdapat 2.483 pemilik telepon yang mengaku warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Sementara jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 1.215 pemilik telepon. 


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×