Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Urgensi Konten Kontra Narasi Melawan Ekspresi Kebencian

Urgensi Konten Kontra Narasi Melawan Ekspresi Kebencian
Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (di insert) sedang mengomentari hahsil penelitian Balitbang Kemenag. (Foto: Istimewa)
Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (di insert) sedang mengomentari hahsil penelitian Balitbang Kemenag. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Menanggapi hasil penelitian Balitbang Diklat Kementerian Agama RI berjudul Respons Tokoh Agama atas Konten Kontra Narasi Ektremisme di Media Online, Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron mengungkapkan, kontra narasi merupakan bantahan sigap dan langsung untuk melawan ekspresi kebencian.


Hal tersebut dikatakan Mahbib saat didaulat berbicara dalam Seminar Hasil Penelitian Konten Narasi Ekstremisme di Media Online yang diinisiasi Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balitbang Diklat Kemenag RI di Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2021) malam.


“Kontra narasi mempunyai sifat defensif bertujuan mengungkap dan mendiskreditkan pesan berisi kebencian dan pernyataan tidak benar. Dengan kata lain, konten tersebut juga berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi masyarakat agar tidak terpapar paham yang salah,” kata Mahbib.
 


“Jadi, kita membidik sasaran secara spesifik dan kemudian memberi narasi sebaliknya sehingga menjadi semacam tameng bagi masyarakat,” sambung alumnus Pesantren Ciganjur asuhan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini. 


Kontra narasi, lanjut Mahbib, efektif digunakan dalam keadaan genting. Contohnya, ketika terjadi peristiwa pengeboman di kawasan Thamrin lima tahun lalu, secara responsif sikap masyarakat menunjukkan penolakan dan pernyataan yang mendeskripsikan kekesalan terhadap aksi teror tersebut. 


“Nah, itu adalah bagian dari kontra narasi. Tapi umurnya bisa pendek. Artinya, kontra narasi itu terikat oleh momen,” terang pria asal Bojonegoro Jawa Timur ini.
 


Upaya preventif lain, menurut dia, dapat juga menggunakan narasi alternatif. Yakni, narasi yang berfokus pada penguatan ide-ide positif dan mempersatukan, termasuk para penyebar kebencian dengan jangkauan yang lebih luas.


Strategi ini, lanjut Mahbib, tidak melawan hasutan kebencian secara langsung. Akan tetapi, mempengaruhi wacana yang beredar di publik dengan menawarkan cara-cara alternatif dalam melihat permasalahan sosial.


“Narasi itu biasanya kami definisikan sebagai narasi yang secara tidak langsung kita hadapkan kepada sebuah kasus atau peristiwa tertentu. Jadi, sifatnya lebih ke mengedukasi,” terangnya.
 


Mahbib mencontohkan, penjelasan makna dan jenis-jenis jihad secara benar, kemudian implementasi amar ma’ruf nahi munkar secara tepat, dan lainnya. “Jadi, kita menyasar tokoh, kelompok, dan peristiwa-peristiwa tertentu secara spesifik,” papar Mahbib.


Kendatipun terdapat kelemahan antara kedua narasi tersebut, ia menyebutkan bahwa keduanya mempunyai fungsi dan tujuan yang sama, yaitu merebut ruang publik yang terindikasi ekspresi kebencian.


“Tentu, kedua narasi tersebut dibutuhkan meskipun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan,”  jelas alumnus program Pascasarjana Universitas Indonesia ini.


Perbanyak kontra narasi
Dalam kesempatan yang sama, Elma Heryani selaku peneliti dalam riset Balitbang Kemenag RI ini menyebutkan, memperbanyak kontra narasi ektremisme tepat digalakkan. Terlebih bagi kelompok masyarakat yang aktif dalam menggunakan media sosial.


“Tujuan utamanya adalah untuk membentengi mereka dari kejahatan dunia maya,” kata Elma.


Perempuan asal Madura ini juga berpendapat bahwa kelompok masyarakat yang aktif membuka media daring urgen membekali diri dengan literasi digital untuk memahami dan mengkritisi setiap informasi.
 


Pasalnya, lanjut Elma, mereka tak bisa langsung menyerap dan mengambil apalagi meyakininya, tapi harus mengkritisi sumber dan konten informasi itu.


“Pesan yang termuat dalam media harus dideteksi siapa penulisnya ataupun siapa pengunggahnya, apa tujuan dari pesan tersebut, apakah pesan tersebut memuat kata-kata yang ekstrem, apakah pesan tersebut cenderung mengekspresikan emosi atau mengungkapkan fakta. Nah, itu semua penting ditelusuri,” tegasnya.


Lebih lanjut, Elma berharap program kontra narasi online dapat memoderasi dunia maya sebagai ruang pengetahuan dan informasi yang berisikan pengetahuan damai, toleran, inklusif, dan terbuka.


“Program itu diharapkan dapat membawa paham keagamaan yang inklusif-moderat, penguatan kebangsaan dan cinta Tanah Air, serta melawan kontra-propaganda yang disebarkan oleh kelompok ekstrem,” pungkas Elma.


Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×