Nasional KONGRES IPNU IPPNU

Usia Maksimal Pengurus IPNU dan IPPNU Diturunkan Jadi 24 Tahun

Sen, 15 Agustus 2022 | 07:45 WIB

Usia Maksimal Pengurus IPNU dan IPPNU Diturunkan Jadi 24 Tahun

Logo IPNU-IPPNU. (Foto: Istimewa)

Jakarta,Ā NU OnlineĀ 
Kongres XX Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Kongres XIX Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengesahkan perubahan usia anggota kedua organisasi pelajar NU ini menjadi 13 tahun sampai 24 tahun.


Aturan itu termaktub dalam Peraturan Rumah Tangga (PRT) IPNU Pasal 4 ayat (1) mengenai persyaratan keanggotaan. "Berusia antara 13 sampai dengan 24 tahun," demikian bunyi aturan itu.

 

Adapun ketentuan usia pengurus diatur dalam PRT IPNU Bab IX pasal 20. Usia maksimal 24 tahun untuk pengurus Pimpinan Pusat (ayat 1), Pimpinan Wilayah (ayat 2), dan Pimpinan Cabang (ayat 3), 22 tahun untuk Pimpinan Anak Cabang (ayat 4), 22 tahun untuk Pimpinan Komisariat (ayat 5) dan 18 tahun untuk Pimpinan Ranting (ayat 6).Ā 


Ketentuan mengenai peremajaan usia anggota dan pengurus IPNU ini mulai tahun depan berdasarkan pasalĀ 20 ayat 7. "Ketentuan mengenai kriteria pengurus sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), Ayat (4), Ayat (5), dan Ayat (6) berlaku 1 (satu) tahun semenjak ditetapkan," demikian bunyi PRT pasal 20 ayat 7.


Keputusan ini diambil setelah melalui pembahasan yang cukup alot pada Komisi Organisasi yang membahas Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IPNU. Ada beberapa pimpinan yang tidak setuju dengan peremajaan ini, sebelum akhirnya menyepakati setelah ada penjelasan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).


ā€œUsia (IPNU-IPPNU) itu berdasarkan ketentuan di ART (Anggaran Rumah Tangga) kita itu kan maksimal 27. Tetapi kemudian kita punya kebutuhan kaderisasi, kita harus mendekatkan IPNUā€“IPPNU kepada basisnya. Maka kita dorong kalau menjadi pengurus itu maksimal nanti 24, selesai maksimal 27,ā€ terang Ketua PBNU H Isfah Abidal Aziz pada Ahad (14/8/2022) malam.


Usia maksimal IPPNU

Adapun ketentuan usia maksimal anggota IPPNU ini terdapat pada PRT IPPNU pasal 5 mengenai syarat keanggotaan. Disebutkan, bahwa anggota IPPNU berusia 12 sampai 27 tahun.


Sementara ketentuan usia maksimal pengurus IPPNU diatur dalam PRT Bab VI tentang kriteria pengurus. Untuk pengurus pimpinan pusat (pasal 23) dan pimpinan wilayah (pasal 24), usia maksimal 24 tahun, pengurus pimpinan cabang (pasal 25) 21 tahun, pengurus pimpinan anak cabang (pasal 26) maksimal 19 tahun, dan pimpinan ranting (pasal 27) dan komisariat (pasal 31) maksimal 17 tahun.


Sama dengan IPNU, ketentuan di atas mulai berlaku pada tahun depan. Hal ini dijelaskan pada pasal 33 mengenai transisi. "Adapun pemberlakuan aturan pada klausul usia kriteria pengurus yang dimaksud pada pasal (23 s/d 32) akan diberlakukan setelah satu tahun setelah kongres atau dari ditetapkannya aturan ini," demikian bunyinya.

 

Keputusan ini juga sejalan dengan harapan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf yang berharap kader IPNU dan IPPNU tidak terlambat menua. Sebab, banyak hal lebih besar sudah menanti untuk digapai.


ā€œKe depan, masih terbentang lebar capaian-capaian yang lebih tinggi, yang lebih besar, yang bisa kalian raih,ā€ katanya saat menyampaikan amanah pada pembukaan Kongres XX IPNU dan Kongres XIX IPPNU Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (12/8/2022) sore.


Dalam hal ini, kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu mengingat bagaimana dahulu Soekarno telah menjadi Presiden Republik Indonesia saat usianya baru menginjak 44 tahun. Di usia yang sama, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mendapat amanah untuk memimpin PBNU. Lebih muda dari itu, ia menyebut ayahanda Gus Dur, yaitu KH Abdul Wahid Hasyim yang sudah menjadi menteri saat usianya baru 30-an tahun dan Ketua Umum PBNU ketika berusia 36 tahun.


ā€œIdealnya, IPNU IPPNU itu usia akhir SMP sampai dengan awal mahasiswa. Jadi, kira-kira umur 15 sampai 21, 22 tahun. Supaya nanti umur 23 kalian sudah bisa masuk Ansor dan Fatayat. Lalu, umur 30-an bisa segera menjadi pemimpin-pemimpin Nahdlatul Ulama,ā€ katanya.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Syamsul Arifin