IMG-LOGO
Esai
MUNAS KONBES NU 2019

Relawan-relawan Pahlawan Kesuksesan Munas

Selasa 26 Februari 2019 1:30 WIB
Bagikan:
Relawan-relawan Pahlawan Kesuksesan Munas

Ahmad Rozali

Malam telah datang membawa gelap ke atas atap Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat. Namun puluhan relawan baik dari Banser, para santri maupun relawan lain yang tak menunjukkan identitasnya tampak masih sibuk dengan persiapan-persiapan teknis seperti menyediakan kursi, mengangkat barang-barang dan yang lain.

Mereka adalah para nahdliyin yang sedang bekerja sukarela untuk menyukseskan acara Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019. Sebagian mereka ada yang menyiapkan panggung, ada pula yang memasang baliho, menyiapkan kursi, mem-print berkas dan melakukan pekerjaan lain sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Selang beberapa lama, mereka yang tadinya bekerja di lokasi utama kegiatan ini berangsur menghilang menuju kamar masing-masing untuk menunaikan Shalat Maghrib. Beberapa waktu lepas Shalat Maghrib, ratusan panitia tadi berhamburan menuju kawasan dapur umum untuk makan malam bersama, persis seperti semut yang mengerumuni gula.

Di dapur umum yang terletak di seberang bagian belakang kawasan utama tempat para relawan bekerja tadi, tampak puluhan anggota Banser mengantri dalam barisan memanjang. Di meja prasmanan yang menyediakan nasi, aneka lauk dan sayuran, satu persatu mereka mengambil sendiri nasi dan lauk yang diinginkan lalu menuju deretan meja makan.


Di belakang meja prasmanan terdapat sejumlah santriwati relawan seksi konsumsi yang siap sedia membantu para Banser dan relawan lain. Sesekali mereka membuatkan minuman hangat berupa kopi dan teh. Sebagian mereka juga menuangkan kembali nasi atau lauk yang mulai menipis.

Kami, relawan media yang terdiri dari rombongan NU Online, 164 Channel, Majalah Risalah yang datang lebih dahulu segera bersiap meninggalkan lokasi agar tempat makan yang terbatas bisa dipakai secara bergantian.

Namun saat hendak beranjak ke luar lokasi dapur umum, mata saya justru terpikat pada sebuah gubuk yang mengebulkan asap putih ke udara. Dari kejauhan dapat saya lihat seorang pria dewasa dan wanita tua yang tengah sibuk dengan tiga buah dandang berukuran besar.

Pria yang usianya kutaksir sekitar 45 tahun ini adalah relawan yang membantu Hj Fatonah (65) yang bertugas di dapur. Hj Fatonah-lah yang mengemban tugas ‘mulia’ untuk memastikan bahwa semua peserta baik relawan dan panitia makan dengan cukup, sementara pria tadi adalah relawan yang membantunya. Sesekali Hj Fatonah yang lebih dikenal dengan ‘Mbok Dalem’ ini memberi arahan pada pria yang didepannya mengenai tungku-tungku di atas bara api yang masih memerah itu.

Kata dia, sejak pagi ia telah menanak sekitar dua kwintal nasi untuk ratusan relawan dan panitia yang kelaparan. “Masak nasi 10 sak. Satu sak (isinya) 25 kg. Ya 2,5 kwintal kira-kira,” katanya.

Sejak persiapan beberapa waktu lalu, ia mengaku menunaikan tugasnya di dapur atas bantuan beberapa orang relawan yang bergantian sejak pagi hingga malam hari. Para relawan ini membantu pekerjaannya mulai mengatur letak beras, mengambil kayu bakar, memasak air panas, menanak nasi, dan seterusnya. Para relawan yang membantunya terdiri dari warga lokal dan santri pondok. “Dari kemarin masak untuk panitia dan santri yang ‘roan-roan’ (kerja bakti),” kata dia.


Terkadang dia dan para relawan bekerja hingga larut untuk memastikan ketersediaan nasi di pagi hari. “Kerjanya siang sampai malam. Kalau malam sudah ada nasi untuk pagi hari baru kami bisa istirahat. Kadang-kadang jam 2 pagi ada orang minta nasi karena habis masang tenda, masang bendera atau masang apa,” katanya.

Ia mengaku juga mendapat bantuan dari aparat TNI setempat untuk menjaga ketersediaan nasi sepanjang hari. “Dibantu TNI. Kalau disini aja kami keteteran,” kata dia. Selain menyiapkan nasi, panitia juga telah menyiapkan snack dan kotak nasi sebanyak 1500 untuk hari pembukaan.

Spot selfie ‘tulisan NU’

Sesungguhnya, para rewalan Munas dan Konbes yang bekerja di di dalam pesantren hanyalah sebagian saja. Sebagian lainnya juga bekerja di luar kawasan tersebut, terutama di spot strategis misalnya di jalan raya sekitar 300 meter sebelah kanan dari pintu masuk pesantren.

Di sana tampak dua orang terlihat tengah sibuk mengecat tulisan huruf N dan U yang masing berukuran besar sekitar dua meter persegi. Irham Fanani (38) sang arsitek mengaku telah mengerjakan itu sejak beberapa hari lalu. Sambil mengusapkan kuas di tangannya ia mengatakan bahwa nantinya spot ini akan digunakan sebagai media untuk berswafoto peserta dan pengunjung Munas. Tujuannya agar semakin banyak orang yang berfoto dan mengunggah fotonya di sosial media sehingga kegiatan ini menjadi makin ramai diperbincangkan.


Budi mengaku mengerjakan tulisan NU ini bersama tiga orang temannya. Ia menjelaskan bahwa untuk membuatnya ia membutuhkan puluhan batang bambu baik yang berukuran kecil maupun yang besar. Bambu-bambu itu kemudian dibuat dengan sedemikian rupa hingga membentuk huruf NU. “Membuatnya mudah sebenarnya. Hanya saja bagian tersusahnya adalah mengikat bambu-bambu jadi tulisan,” kata dia.

Selain Irfan dan  Hj Fatonah, terdapat puluhan hingga ratusan relawan lain yang tengah sibuk menyiapkan pekerjaannya demi kesuksesan Munas NU ini. Maka tak berlebihan jika kesuksesan acara ini selain bergantung pada PBNU dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar juga tergantung pada kerja bersama dari berbagai kelompok masyarakat baik yang datang dari lokal Kota Banjar maupun yang datang dari tempat lain.

 

Penulis adalah Redaktur NU Online

 

Bagikan:
Senin 25 Februari 2019 23:40 WIB
Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur
Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur
Ilustrasi Neno Warisma (Mojok.co)

Ahmad Rozali

Setiap kali ada orang yang menakut-nakuti orang lain, atau memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang cenderung bertentangan dengan norma agama dengan dalil agama, saya selalu teringat dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau umum dipanggil Gus Dur, lebih spesifiknya teringat pada salah satu artikelnya 'Tuhan Tidak Perlu Dibela'.

Seperti kali ini, saat Neno Warisman menyeret-nyeret nama Tuhan dengan nada ancaman “Jika kami dibiarkan kalah, kami khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu”, saya tergoda untuk kembali membuka artikel yang diterbitkan Tempo tahun 1982 yang lalu kemudian dibukukan oleh LKiS itu.

Inti tulisan Gus Dur dalam ‘Tuhan yang tak perlu dibela’ dituangkan secara singkat beberapa paragraf terakhirnya yang digambarkan dalam tulisan sebagai perkataan seorang guru tarekat. “Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan Pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-NYa”.

“Al-Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘Ia menyulitkan’ kita. Juga tak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”

Banyak yang berpendapat tulisan-tulisan Gus Dur masih sangat relevan hingga saat ini. Buktinya, 40 tahun setelah Gus Dur menulis itu, Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb dan Paus Fransiskus berjumpa untuk menandatangani sebuah dokumen bersejarah, yaitu 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama'. Dokumen itu dideklarasikan dalam sebuah Pertemuan Persaudaraan Manusia Manusia di Uni Emirat Arab (UEA) beberapa waktu lalu.

Dalam dokumen itu ditulis: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Menurut pendapat singkat saya, ada dua hal yang menjadi penyebab mengapa relevansi tulisan Gus Dur begitu tinggi: Pertama, Gus Dur adalah sosok yang futuristik dan visioner. Artinya, saat menulis, Gus Dur mampu memprediksi masalah-maslah yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ini menggembirakan, karena kita bisa memiliki orang yang begitu cerdas di masa lalu yang bisa kita contoh.

Penyebab kedua tidak semenyenangkan yang pertama; yakni memang masalah sosial kita tak beranjak dari dulu hingga saat ini. Artinya masalah yang ada sejak jaman Gus Dur masih ada hingga sembilan tahun pasca wafatnya, kita masih berputar dalam lingkaran yang sama. Kita belum beranjak dari perdebatan ganjil mengenai sisi tidak produktif dalam masalah agama. Kita masih saja suka menjadikan agama sebagai tameng dari kepentingan kita. Kita masih berputar di situ-situ saja selama puluhan tahun ini.

Namun begitu saya yakin bahwa sebagian besar dari kita ingin perdebatan itu selesai dan mulai beranjak lebih banyak membicarakan kemajuan zaman, penelitian termutakhir, dan sibuk berlomba dalam kebaikan. Sayangnya, segelintir orang seperti Neno Warisman orang masih ‘doyan’ menarik-narik kita ke masalah-masalah masa lalu yang tak menguntungkan sama sekali. Saya jadi berangan-anak, andai saja Neno membaca dan mengilhami tulisan ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela'-nya Gus Dur, mungkin tak begini jadinya. Wallahu A’lam

Penulis adalah redaktur NU Online

Ahad 24 Februari 2019 18:25 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Munas NU: Tentang Masalah Sosial dan Ajang Silaturrahmi Warga NU
Munas NU: Tentang Masalah Sosial dan Ajang Silaturrahmi Warga NU
Kegiatan Pramunas di Tangerang

Oleh Ahmad Rozali

Beberapa waktu lalu, Kiai Said Aqil Siraj, Ketum PBNU menegaskan bahwa acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 yang akan digelar di Kota Banjar beberapa hari mendatang (27 Februari -1 Maret 2019) tidak terkait dengan situsi politik baik Pilpres maupun Pileg.

"Jadi (Munas-Konbes NU) tidak ada kaitannya dengan Pilpres. Tidak sama sekali," kata Kiai Said Kamis (21/2) lalu. Apa yang dikatakan Kiai Said bukan tak berdasar. Jika ditengok dari ‘menu’ yang akan dibahas selama Munas 27 Februari -1 Maret 2019 mendatang tak ada satu forum pun yang akan membahas masalah politik, apalagi sampai menentukan sesuatu yang bertentangan dengan Khittah NU sebagai sebuah organisasi yang tidak berpolitik praktis.

Masalah kontemporer, hukum negara hingga rancangan undang-undang

Alih-alih NU membahas masalah lima tahunan, NU lebih tertarik membahas setumpuk masalah yang dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah, baik dari aspek sosial, ekonomi, hingga keagamaan. Sehingga selama tiga hari mendatang para ulama dan warga NU akan membahas kepentingan bangsa dan negara. Berikut daftar pembahasan dalam Munas: 

  1. Bahaya sampah plastik
  2. Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menyebabkan sumur warga kering
  3. Masalah niaga perkapalan
  4. Bisnis money game (seperti MLM)
  5. Legalitas syariat bagi peran pemerintah
  6. Perniagaan Online yang tidak membayar pajak
  7. Negara, kewarganegaraan, dan hukum negara
  8. Konsep Islam Nusantara
  9. RUU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha
  10. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual 

Tentang Munas dan warga NU yang doyan silaturrahmi

Dasar penyelenggaraan Munas juga tidak berhubungan dengan agenda politik nasional. Dasar pelaksanaannya tertuang dalam AD/ART NU Pasal 74; Munas merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Muktamar yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar.

Pasal itu juga mengatur bahwa Munas membicarakan masalah-masalah keagamaan yang menyangkut kehidupan umat dan bangsa. Peserta Munas terdiri dari alim ulama, pengasuh pondok pesantren dan tenaga ahli, baik dari dalam maupun dari luar pengurus Nahdlatul Ulama sebagai peserta.

Oleh karenanya, biasanya dalam Munas seperti ini warga NU yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang-bidang yang dibahas akan hadir untuk urun sumbang pemikiran.

Ambil saja contoh pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan. Dalam pembahasan ini, warga NU yang menjadi aktivis perempuan dan HAM, baik dalam organisasi non-pemerintahan maupun pemerintah akan terlibat dalam pembahasan sejak awal pembahasan hingga acara Pra-Munas beberapa waktu lalu. Sebut saja aktivis Komnas Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Fatayat, Muslimat, Lakpesdam NU, dan yang lain.  Demikian juga warga NU yang memiliki perhatian dalam masalah lain yang akan dibahas dalam forum tersebut.

Oleh karena itu, forum ini selain menjadi ajang pembahasan masalah kebangsaan, bagi kalangan keluarga besar NU, forum semacam ini akan dimaknai sebagai forum silaturrahmi yang akan menyedot ribuan warga NU baik untuk ikut pembahasan atau hanya sekedar temu kangen. Tapi yang jelas, forum ini tidak akan melahirkan rekomendasi atau keputusan politik praktis seperti forum ulama yang lain. 

Penulis adalah Redaktur NU Online

Ahad 24 Februari 2019 17:15 WIB
Muhasabah Kebangsaan: Cinta itu Menggerakkan
Muhasabah Kebangsaan: Cinta itu Menggerakkan
Al-Zastrouw
(Catatan Haul Gus Dur ke 9 di Solo-2)

Puluhan ribu orang dari pelosok desa dan kota se Solo Raya hadir memadati stadion Sriwedari Solo. Stadion bersejarah yang menjadi tempat pelaksanaan PON pertama itu tidak mampu menampung jamaah hingga meluber ke jalan-jalan di seputar stadion. Jalan-jalan protokol solo macet karena menjadi tempat parkir kendaraan para jamaah. Beberapa tokoh dan pejabat hadir diantaranya KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof Mahfud MD, Prof Oman Abdurrahman (Staf Ahli Menag), Mbak Yeni Wahid (putri Gus Dur), Gus Yasin (Wagub Jateng), Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Wali Kota Solo dan Wakilnya. Mereka hadir dengan bekal dan biaya sendiri sebagai wujud kecintaan pada Gus Dur dan para ulama. Mereka hadir untuk memperingati haul Gus Dur ke-9. Acara yang digagas dan dikordinir oleh mas Husen Syifa' ini berlangsung meriah tapi tetap khusyu'.

Sebelum acara puncak, pengajian akbar, pagi hari dilaksanakan dialog kebangsaan dengan tema "mBabar Pitutur Kamangnusan Gus Dur" dengan nara sumber Dr Muh AS Hikam, Gus Dian Nafi' dan Wahyu Muryadi. Siang hari dilaksanakan Kirab Kebangsaan yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat lintas iman lintas agama dengan start dari Stadion Manahan dan finish di stadion Sriwedari. Kirab dengan tema "Berjuta warna satu Indonesia" ini juga diikuti oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mbak Yeni Wahid dan beberapa tokoh lain yang melibatkan puluhan ribu massa.

Perhelatan Haul Gus Dur ke-9 di Solo ini benar-benar menampilkan wajah Indonesia yang beragam dan menjadi bentuk aktualisasi semangat persaudaraan antar manusia sebagai cerminan dari ajaran agama yang rahmatan lil'alamin. Tak ada caci maki, provokasi, hujatan dan kebencian. Semua yang hadir merasakan kesejukan, kedamaian dan ketenteraman.

Ini semua terjadi karena jamaah dan para tokoh yang hadir benar-benar hanya ingin mendapat berkah dan siraman rohani, bukan untuk berebut kekuasaan atau menunjukkan kekuatan dan kebesaran diri dan kelompoknya. Mereka hanya ingin menghormati, meneladani dan menggali jejak perjuangan Gus Dur melalui mauidlah dan testimoni yang disampaikan oleh para ulama dan sahabat Gus Dur.

Menarik apa yang disampaikan Gus Mus saat memberikan tausiyah, bahwa Gus Dur sebenarnya adalah seorang 'habib sejati'. Ciri-ciri habib adalah penebar cinta dan kasih sayang. Dia mencintai dan dicintai. Kalau ada seseorang yang hanya mau dicintai tapi tidak mau mencintai maka dia belum layak disebut sebagai seorang habib. Buah cinta yang diterbarkan Gus Dur pada siapa saja adalah kekuatan yang menggerakkan hati setiap pecinta untuk hidup damai dan bersaudara seperti yang terlihat pada malam itu.

Pernyataan Gus Mus ini memperkuat apa yang disampaikan mbak Yeni saat memberikan sambutan atas nama keluarga. Mbak Yeni menyatakan, Gus Dur sering mengutip pernyataan imam Ghozali bahwa Hidup ini adalah cinta dan ibadah. Melalui haul ini, mbak Yeni mengajak para jamaah menebarkan cinta kepada sesama manusia, bangsa dan dunia sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Selain sebagai habib, menurut Gus Mus, gus Dur adalah seorang wali. Mengutip QS Yunus ayat 62 Gus Mus menjelaskan bahwa ciri seorang wali adalah mampu melampaui dan menaklukkan rasa takut dan tidak ada rasa sedih dalam hidupnya. Menurut Gus Mus, Gus Dur adalah sosok yang mampu melampaui rasa takut dan tak pernah sedih. Ini dibuktikan dengan sikap Gus Dur yang tidak takut menghadapi apapun untuk membela siapapun yang didhalimi, tak gentar menghadapi fitnah dan caci maki, bahkan tidak sedih melepas kekuasaan. Semua dihadapi dan diterima dengan tenang dan ikhlas.

Sikap seperti ini bisa terjadi karena Gus Dur menganggap semua persoalan hidup ini kecil. Tak ada yang lebih besar daripada Allah. Jabatan, kekuasaan, Pilpres semua urusan kecil. Oleh karenanya tak perlu mempertaruhkan segalanya demi kekuasaan dan politik apalagi sampai membawa bawa Tuhan dalam Pilpres karena ini hanya urusan kecil. Demikian sindir Gus Mus pada orang-orang yang selalu membawa nama Tuhan dalam politik. Sebagai dzat yang maha besar tak layak untuk diteriakkan di jalanan apalagi menjadi komando untuk menebar permusuhan.

Jika cinta mampu menggerakkan manusia untuk hidup damai dan bersaudara lalu mengapa kita mesti menebar kebencian dan caci maki yang membuat manusia saling menista. Sebagaimana cinta, kebencian juga memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Namun gerakan yang didorong oleh kebencian akan berdampak destruktif dan meresahkan. Meski atas nama Tuhan dan agama kebencian tetap saja menimbulkan keresahan, permusuhan dan perpecahan.

Di tengah kobaran kebencian yang bertebaran di mana-mana, cinta menjadi sesuatu yang berarti. Di sinilah perjuangan Gus Dur menebar cinta pada sesama menemukan relevansinya. Dan inilah yang menggerakkan umat untuk datang pada acara haul Gus Dur malam itu. Gus Dur telah menggali telaga cinta yang.mengalirkan kedamaian dan persaudaraan. Dan kini masyarakat merasakan indahnya suasana yang bersumber dari mata air cinta.

Para jamaah yang hadir di acara haul Gus Dur seperti musafir yang sedang menimba air dari telaga cinta yang digali Gus Dur untuk membasuh kebencian yang terus dikobarkan oleh mereka yang sedang berburu kenikmatan dunia dan haus kekuasaan. Semoga kita mampu menjaga dan merawat telaga cinta yang telah digali Gus Dur agar tetap bisa mengalirkan kesejukan dan kedamaian pada sesama. Cinta adalah kekuatan dan benteng untuk menahan virus kebencian dan keserakahan. Lahu Al-Fatihah (habis).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG