IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said: Yang Tak Bisa Agama Jangan Bicara Agama

Rabu 6 Maret 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Kiai Said: Yang Tak Bisa Agama Jangan Bicara Agama
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj
Cilacap, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan bawa orang yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang ilmu agama untuk jangan sekali-kali bicara tentang agama, karena bisa menjadi salah pemahaman. 

Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika memberikan ceramah di acara Haul ke-60 dan Ultah ke-94 Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap Jawa Tengah, Senin,(4/3) malam. "Yang tidak bisa agama, juga sekali-kali bicara agama, nanti salah semua," tegas Kiai Said. 

Kiai kelahiran Cirebon ini memberikan contoh, ada seorang artis yang baru belajar memakai jilbab, tapi sudah berani menjelek-jelekkan amalan orang lain. "Ada seorang yang baru pakai jilbab dua hari, tapi sudah berani ngomong bid'ah sana-sini," jelasnya. 

Ketua PBNU dua periode ini menghimbau kepada warga NU untuk jangan pernah merasa takut dalam mengungkapkan sesuatu keberadaan dan berusaha terus belajar menjadi manusia yang berani mengucapkan kalimat haq. "Jangan pernah merasa ragu menjadi warga NU, karena NU selalu benar dalam beragama dan bernegara," tambahnya. 

KH Hasyim Asy'ari, lanjut Kiai Said jauh sebelum negara Indonesia berdiri beliau sudah menanamkan rasa nasionalisme dengan kalimat Hubbul Whaton Minal Iman atau atau mencintai negara adalah bagian dari iman. 

Maka dari itu, "Orang yang beragama harus punya sifat nasionalisme dan orang yang memiliki sifat nasionalisme harus pula beriman," pangkasnya.

Sebagaimana diketahui, Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap adalah lembaga pendidikan salaf-modern yang fokus pada pembekalan akidah, syariah, dan akhlak ala Ahlussunnah wal Jamaah serta pembekalan ilmu pengetahuan modern. Didirikan oleh KH. Badawi Hanafi pada tahun 1925 M dengan tujuan untuk mencetak santri menjadi ibadillah as-Shalihin. 

Pondok pesantren Al-Ihya Ulumaddin merupakan pondok persantren tertua di Cilacap Jawa Tengah. Lembaga ini dibangun dengan keikhlasan dan keteguhan hati serta kedalaman wawasan agama ulama kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, KH Badawi Hanafi. (Kifayatul Ahyar/Muiz
Tags:
Bagikan:
Rabu 6 Maret 2019 20:0 WIB
PBNU dan Dubes Pakistan Tegaskan Radikalisme dan Terorisme Sebagai Musuh Bersama
PBNU dan Dubes Pakistan Tegaskan Radikalisme dan Terorisme Sebagai Musuh Bersama
Pertemuan Duta Besar Pakistan dengan PBNu
Jakarta, NU Online
Perbincangan radikalisme dan terorisme mengemuka dalam pertemuan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Duta Besar Pakistan Abdul Salik Khan di Gedung PBNU, Jl . Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (6/2). Pertemuan tersebut merupakan kunjungan Dubes Pakistan yang baru ke PBNU.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak Dubes Pakistan untuk bersama-sama menyamakan persepsi tentang bahaya radikalisme dan terorisme. Sebab menurut Kiai Said, keduanya merupakan musuh bersama karena merusak nama Islam.

“Radikalisme dan terorisme itu merusak nama baik Islam,” kata Kiai Said.

Kiai Said pun membagi dua sumber radikalisme yang berkembang akhir-akhir ini. Pertama, sumber radikalisme akidah yang berasal dari wahabi. Menurutnya, wahabi tidak melakukan kekerasan secara fisik, tetapi suka menyalahkan amaliyah kelompok lain seperti tuduhan bid’ah.

“(Wahabi menganggap) Maulid nabi bid’ah, haul bid’ah,” ucapnya.

Kedua, sumber radikalisme politik, yakni berasal dari Ikhawanul Muslimin (IM). Kiai Said mengutip tokoh IM Sayyid Qutb yang menolak semua sistem pemerintahan kecuali khilafah.

Sementara Dubes Pakistan Abdul Salik Khan mengungkapkan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan hal berbahaya dan bukan ajaran Islam. Islam, menurutnya, agama yang toleran sebagaimana yang diajarkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW.

“Inilah pesan toleransi yang harus kita tekankan di dunia Islam maupun secara luas,” ucapnya.

Sehingga, sambungnya, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas radikalisme dan terorisme merupakan orang-orang yang salah dalam memahami ajaran Islam.

“Semua orang harus mengerti bahwa orang-orang yang terlibat dalam teorirsme dan radikalisme adalah orang-orang yang salah dalam memahami ajaran Islam. Radikalisme dan terorisme bukan yang diajarkan oleh Islam,” ucapnya.

Pertemuan tersebut merupakan agenda silaturahmi Dubes Pakistan ke PBNU. Hadir pada pertemuan tersebut Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Ing Bina Suhendra, dan Katib Syuriyah PBNU H Nurul Yakin Ishak. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
Rabu 6 Maret 2019 18:10 WIB
Dubes Pakistan Terkesan Peran NU dalam Wujudkan Perdamaian
Dubes Pakistan Terkesan Peran NU dalam Wujudkan Perdamaian
Duta Besar Pakistan Abdul Khalik Salik Khan bersama Pengurus PBNU
Jakarta, NU Online
Duta Besar Pakistan Abdul Khalik Salik Khan mengaku terkesan terhadap peran yang selama ini dilakukan Nahdlatul Ulama dalam upaya membangun perdamaian di dunia melalui sikap yang moderat dan toleran. Ia juga terkesan karena NU melakukan banyak hal melalui dunia pendidikan dan kesehatan.

“Kami sangat terkesan dengan semua hal yang telah dilakukan Nahdlatul Ulama. Peran utama ulama (memang) adalah penjembatanan Islam moderat yang selama ini ditekankan oleh NU,” kata Dubes saat berkunjung ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jl. Kramat Raya 164 Senin, Jakarta Pusat, Rabu (6/2).

Menurutnya, perdamaian yang telah dilakukan NU bukan hanya untuk internal umat Islam, melainkan juga untuk dunia internasional. Dirinya mengaku setuju dengan upaya yang telah dilakukan NU untuk perdamian.

“Kami setuju dengan pendekatan yang dilakukan NU, maka pesan damai ini lah yang juga kami tekankan,” ucapnya.

Ia mengatakan, umat Islam sudah seharusnya menunjukkan kepada dunia tentang moderatisme dan toleransi, serta bagaimana menjaga hubungan baik dengan penganut agama lain. NU sendiri, menurutnya, bukan hanya berbicara, tapi telah melakukannya.

“Inilah yang sebenarnya telah di lakukan dan kami sangat menghargai apa yang telah dilakukan NU. NU sudah melakukan hal itu saya sangat setuju,” jelasnya.

Sebaliknya, ia menyampaikan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan hal berbahaya dan bukan ajaran Islam. Islam, menurutnya, agama yang toleran sebagaimana yang diajarkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW.

“Inilah pesan toleransi yang harus kita tekankan di dunia Islam maupun secara luas,” ucapnya.

Sehingga, sambungnya, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas radikalisme dan terorisme merupakan orang-orang yang salah dalam memahami ajaran Islam. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
Rabu 6 Maret 2019 16:30 WIB
Kafir: Tinjauan Etimologi dan Semantik
Kafir: Tinjauan Etimologi dan Semantik
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin memberikan penjelasan tentang kata "kafir" dari sudut pandang bahasa (etimologi) maupun maknanya (semantik) terkait beberapa oknum yang mengatasnamakan diri ulama namun tidak bisa membedakan pengertian bentuk tunggal dari kata al-kafir (الكافر) dari bentuk jamaknya, yaitu al-kuffar (الكفار).

Penjelasan via akun Facebook-nya, Rabu (6/3) ini juga dalam rangka memberikan pencerahan kepada orang yang bermaksud mengkritisi hasil Munas Alim Ulama NU, padahal ia tidak mampu men-tashrif kata kafara (كفر), sehingga keliru menjadi kafara-yukaffiru-kufran.

Catatan sederhana ini penting dibaca untuk menambah wawasan, agar dalam beragama kita tidak tertipu oleh orang-orang yang hanya mengandalkan penampilan lahiriah bagaikan ulama besar, namun nyatanya kosong dari ilmu, bahkan ilmu bahasa yang paling dasar (Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf).

Al-kufru (الكفر) artinya menutupi apa yang seharusnya tampak jelas. Al-kufran (الكفران) artinya menutupi nikmat dari pemberi nikmat dengan tidak mau mensyukurinya.

Kekafiran terbesar (أعظم الكفر) adalah mengingkari keesaan Allah, kenabian, atau syariat. Kata Al-kufran (الكفران) paling banyak digunakan untuk pengingkaran terhadap nikmat. Sedangkan kata Al-kufru (الكفر) paling banyak dipakai dalam kekafiran terhadap agama. Adapun kata Al-kafur (الكفور) banyak dipakai pada pengingkaran terhadap kedua-duanya (yakni pengingkaran terhadap nikmat dan agama). Malam (الليل) disebut kafir (كافر) karena malam dengan kegelapannya menutupi segala sesuatu.

Bila orang berkata, kafara al-ni'mata (كفر النعمة)" maka artinya ia mengingkari nikmat dan tidak mensyukurinya, ia tidak berterima kasih kepada pemberinya, atau tidak berterima kasih kepada yang menjadi sebab datangnya nikmat, tetapi justru ia mengingkari anugerahnya.

Bila orang berkata, Kafara billahi (كفر بالله) atau Kafara Allah (كفر الله) maka artinya ia ingkar kepada wujud Allah.

Bila orang berkata Kafara bi al-rasul shalla Allahu 'alaihi wa sallama (كفر بالرسول صلى الله عليه وسلم) maka artinya ia tidak membenarkannya (لم يصدقه). Atau berkata Kafara bi kitabillahi (كفر بكتاب الله) maka artinya ia tidak membenarkan bahwa kitab itu berasal dari sisi Allah (لم يصدق أنه من عند الله).

Bila orang berkata, Kafara bi al-iman (كفر بالإيمان) artinya ia tidak melakukan apa yang menjadi konsekuensi keimanannya itu. Bila orang berkata, kafara al-rajulu haqqahu (كفر الرجل حقه) artinya ia mengharamkan haknya itu untuk dirinya atau mengingkarinya.

Bila orang berkata kaffara Allahu al-sayyiati (كفر الله السيئات) berarti Allah menghapuskan keburukan-keburukan dan tidak menyiksa karenanya, seperti dalam firman Allah,

... ربنا فأغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيئاتنا وتوفنا مع الأبرار ...

Al-kafur (الكفور) seperti disebutkan dalam firman Allah " فأبى أكثر الناس إلا كفورا".

Bentuk tunggal isim fa'il (kata benda yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari fi'il madli tsulatsi mujarrad (kata kerja bentuk lampau yang murni terdiri dari tiga huruf), yaitu kafara (كفر) adalah al-kafir (الكافر) yang berarti selain orang yang beriman (غير المؤمن).

Sedangkan bentuk jamak dari kata kafir (كافر) adalah kuffar (كفار), kafiruna (كافرون), dan kafaratun (كفرة).

Para pembaca Kitab Suci al-Quran perlu cermat dan berhati-hati dalam memaknai kata kafara (كفر) berikut derivasinya, karena kata tersebut memiliki banyak sekali makna. Bahkan para petani oleh Allah dalam QS: al-Hadid ayat 20 disebut sebagai al-kuffar (الكفار), yang tentu tidak bisa diartikan sebagai orang-orang kafir. Allah berfirman,

كمثل غيث أعجب الكفار نباته (سورة الحديد : ٢٠)

Dalam ayat di atas kata al-kuffar (الكفار) artinya adalah para petani, karena para petani setelah melubangi tanah, mereka lalu meletakkan benih, dan kemudian menutupi benih dalam lubang itu dengan tanah agar benih bisa tumbuh. Perbuatan menutupi itulah yang membuat mereka sebagai pelaku disebut sebagai al-kuffar (para petani). (Red: Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG