IMG-LOGO
Esai

Menjadi Indonesia yang Kafah

Senin 22 April 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Menjadi Indonesia yang Kafah
Oleh Wahyu Noerhadi

Satu tempo, saya berjumpa, ngopi, dan ngobrol ngidul-ngalor-ngetan-ngulon dengan seorang kawan dari NU Online. Dari obrolan sore hari itu, ada satu topik (cerita) yang hingga kini masih terpatri dalam batok kepala saya. Kawan saya yang wartawan itu berkisah, pada saat ia melakukan peliputan tentang Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China, ia bersua dengan seorang kakek tua penjaga Hok Tek Bio di kampungnya, di Cirebon. Dan ketika ia mengenalkan bahwa dirinya adalah wartawan NU Online, katanya, kakek tua itu tiba-tiba menampakkan wajah yang semringah dan terkesan begitu karib. Kata kawanku, sang kakek tersenyum lebar hingga tampaklah beberapa gigi yang sudah tanggal.

Setelah berkenalan dan kawanku sudah mendapatkan bahan berita, kawanku mengungkapkan, si kakek bercerita atau tepatnya berharap, benar-benar berharap pada Nahdlatul Ulama (NU) agar senantiasa mampu menjaga keutuhan NKRI. Kakek itu berharap agar NU selalu mampu mengawal persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar. Kata kawanku, yang terus diingat olehnya itu ialah saat si penjaga kelenteng menyampaikan rasa terimakasihnya kepada NU sebagai Ormas yang sampai saat ini selalu menebar kedamaian.

"Islam yang rahmatan lil ‘alamiin," kata kawanku pada si kakek.

Selanjutnya, satu tempo yang lain, di kantin kampus, saya bercakap-cakap dengan seorang kawan baru yang awalnya saya kira dia itu muslim, dan ternyata Katolik. Percakapan bermula ketika kami menuju kantin, dan kawan kelas saya itu berkata sambil menyenggol tubuh saya dengan sikunya, "Kader muda NU, ya?" Saya pun kaget.

Mengapa dia tiba-tiba bertanya begitu? Saya membatin. Ah ya, di dalam kelas, waktu perkenalan, saya menyebutkan bahwa saya bantu-bantu di sebuah lembaga di PBNU.

"Mmm, NU kultural, Bung. Hehe," sanggah saya, yang kemudian berpikir setelahnya bahwa NU itu memang dibangun dari kultur.

"Bung, gue seneng lihat kader-kader muda NU yang rajin meng-counter radikalisme dan mengampanyekan kesatuan Republik Indonesia. Gue percaya bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian, bukan kekerasan dan perpecahan, termasuk agama Islam. Maka itu, gue juga kurang sepakat tuh adanya Islamophobia di Barat sana. Anggapan mereka tentang Islam gue kira sangatlah subjektif. Mereka belum paham betul bagaimana Islam di Indonesia. Mereka mungkin tak pernah mendengar cerita tentang orang-orang Islam yang menghajar penjajah di Surabaya. Meski dengan kalimat-kalimat Islam, gue pikir, semangat kebangsaanlah yang digaungkan sama Bung Tomo waktu itu, buat ngusir penjajah dan untuk kemerdekaan Indonesia," jelasnya di hadapan muka saya yang hanya manthuk-manthuk saja mencerna ucapannya.

Saya mencerna bahwa kawan saya yang berkacamata bundar itu sedang bicara soal peristiwa 10 November 1945 atau yang juga kita kenal dengan Pertempuran Surabaya, yang semangatnya lahir dari Fatwa Resolusi Jihad Founding Father NU, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Bagi saya, pada peristiwa 10 November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, sumbangsih kiai seperti KH Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Mas Mansur, KH Wahid Hasyim, serta santri-santrinya amatlah besar. Bung Tomo, TKR (Tentara Keamanan Rakjat), etnis Tionghoa, dan laskar santri Hizbullah-Sabilillah bertempur dengan 30 ribu pasukan Britania Raya. Saya pikir, itulah persatuan Indonesia!

"Gue serius, Bung, NU harus berdiri tegap melawan radikalisme Islam. Gue agak khawatir juga dengan aksi-aksi itu, Bung. Jangan sampai deh Islam nantinya mengalami zaman kegelapan, di mana dominasi agama begitu kuat masuk ke ranah politik. Jangan sampai agama dijadikan alat untuk berbuat semena-mena, mengawasi dan menghukum siapa saja yang diangap sesat. Tapi gue rasa aksi-aksi entu hanya politik belaka dan sifatnya sementara. Bentar lagi juga reda. Tapi kalo ampe NU turun ke jalan bareng mereka, lha itu udah bahaya. Harapan gue sih, NU juga
Muhammadiyah bisa konsisten dan komitmen buat jaga keutuhan NKRI," ungkapnya.

Saya menanggapinya dengan tersenyum. Dan, tiba-tiba teringat Gus Dur. Ya, kita tahu, Gus Dur itu berdiri di atas semua golongan; dekat dan terdepan membela minoritas, Contohnya terhadap etnis Tionghoa. Kita mafhum, pasca tragedi Mei 1998, Gus Dur—yang saat itu masih menjabat sebagai Ketum PBNU—menyerukan kepada warga Tionghoa yang berada di luar negeri agar balik lagi ke Indonesia. Dan, Gus Dur menjamin keselamatan mereka. Gus Dur pulalah, melalui Keppres No. 6 tahun 2000, yang mengubah tanggal Tahun Baru Imlek menjadi tanggal merah, hingga kita pun bisa berleha-leha di rumah.

Terbitnya Keppres itu bikin banyak orang terheran-heran. Bahkan bikin kaget sendiri Budi Tanuwibowo selaku Sekretaris Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. Budi kaget karena proses terbitnya Keppres itu terbilang cepat (Kompas, 7 Februari 2016).

Gus Dur memang kerap disebut sebagai presiden yang nyeleneh dan kontoversial. Padahal, kata guru ngaji saya, Gus Dur itu ibarat lokomotif Jepang yang super cepat, sedang kita masyarakat Indonesia adalah gerbong kereta ekonomi Indonesia. Tentunya banyak dari kita yang terseok-seok mengikuti laju pemikiran Gus Dur. Hal itu terbukti ketika pada akhirnya Gus Dur dijuluki Bapak Bangsa, tokoh pluralis ataupun humanis. Meskipun cukup sulit juga menyematkan atau menyebut Gus Dur dengan satu-dua gelar atau title. Wong Gus Dur sudah manusia yang manusia; yang memanusiakan manusia. Gus Dur itu mengajarkan kebangsaan; mengajak kita untuk menjadi bangsa Indonesia yang kafah, yang utuh; menunjukkan hakikat persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana amanat salah satu butir Pancasila, sebagai dasar berdirinya Republik Indonesia.

Ya, andai saja Gus Dur masih ada. Harapan kakek tua penjaga kelenteng dan harapan kawan katolik saya bakal langsung dijawabnya: "Berapa pun besar biaya dan resikonya, NU akan menjaga keutuhan NKRI." Harapan saya, (sifat, sikap, dan pemikiran) Gus Dur tetap ada di relung-relung batin dan kepala kita, terutama pada anak-anak muda NU atau generasi milennial macam saya.

Tidak hanya lewat Gus Dur, selaku tokoh NU dan Bapak Bangsa, kepada tokoh-tokoh NU lain seperti Mbah Moen, (Mbah) Gus Mus, Kiai Said, Habib Luthfi, dan kiai-kiai lainnya kita bisa belajar. Belajar mematrikan paham hubbul wathon minal iman Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asya’ari kepada ranah rasa. Hingga cintanya betul-betul pada Indonesia. Ya, rasa cinta pada Tanah Air bagian dari iman. Menurut Gus Mus, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia; kita lahir, hidup, dan bahkan mungkin mati nanti ada di Bumi Pertiwi.

Kemudian, Kiai Said pun sering mengungkapkan bahwa hanya di Indonesia ada kiai yang nasionalis dan nasionalis yang kiai. Tidak ekstrem kanan tidak juga ekstrem kiri, tapi di tengah-tengah dengan menjadi Indonesia, sebagaimana prinsip NU sendiri, yakni tawazun (proporsional), selain dua prinsip lain: tasamuh (toleran) dan tawasuth (moderat).

Ketiga prinsip itulah yang saya pikir perlu ada dihayati betul oleh warga Nahdliyyin pada khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Selain itu, di tengah radikalisme dan modernitas yang terus merongrong manusia kita, maqolah masyhur di NU, "Almuhafadhoh alal qodimis solih wal akhdu bil jadidil aslah," atau "Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik" harus terus ada pada benak kita.

Saya kira itulah harapan (mimpi) saya, yang mungkin harapan kita semua untuk Indonesia, yang di dalamnya NU tumbuh dan berkembang; menjaga-mengawal jargon #NKRIHargaMati. Ya, harapan saya sebagai generasi milenial memang tak muluk-muluk, NU dan Indonesia harus seperti ini atau harus seperti itu. NU atau Indonesia harus sebagaimana adanya, sebagaimana mestinya, sebagaimana cita-cita para pendirinya; sebagaimana harapan mereka (para pendiri) kepada kita, selaku penerusnya.

Penulis adalah pegiat sastra dan literasi, kini diembani amanah mengelola nucare.id.

Bagikan:
Kamis 11 April 2019 3:30 WIB
Dialektika Pendekatan Islam di Jerman dan Nusantara
Dialektika Pendekatan Islam di Jerman dan Nusantara
Diskusi online Global NU Connection.
Oleh Hendro Wicaksono 

Judul tulisan ini juga menjadi tema yang diangkat dalam diskusi yang diadakan secara online pada hari Senin, 8 April 2019 lalu. Diskusi tersebut menghadirkan pembicara Rüstü Aslandur, salah satu tokoh penting Muslim Jerman dan juga pendiri Deutschprachige Muslimkreis Karlsruhe (DMK), komunitas Muslim berbahasa Jerman Kota Karlsruhe. Turut hadir pula KH Ma'ruf Khozin, direktur Aswaja Center Jawa Timur. Diskusi ini dipandu oleh tim dari PCINU Jerman dan Unusa. Diskusi merupakan upaya merealisasikan inisiatif Global NU Connection.
 
Global NU Connection adalah sebuah inisiatif yang digulirkan oleh PCINU Jerman, LPTNU Jawa Timur, ISNU Surabaya, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, dan beberapa universitas di Jawa Timur. Tujuannya untuk memperkaya wawasan ke-Aswajan-an, ke-NU-an, keprofesian, dan sains, baik kepada Nahdliyin maupun masyarakat Jerman, dan juga masyarakat luas. Diharapkan Global NU Connection ini menjadi sarana untuk saling mengenal dan bersilaturahim antar muslim sedunia untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.

Dalam diskusi tersebut, Rüstü Aslandur menyampaikan tanggung jawab dan tantangan yang dihadapi umat Islam Jerman, yang hanya berjumlah sekitar lima persen, dan berasal dari multietnis. Walaupun begitu, sistem negara Jerman menjamin kebebasan semua pemeluk agama untuk beribadah, berpendapat, dan berdakwah. Nilai-nilai Islam banyak yang justru mengakar di kebudayaan Jerman, walaupun yang mengamalkannya bukan Muslim, misalnya terorganisir dengan baik, disiplin, tepat waktu, saling menghormati, menjaga kebersihan.

Nilai-nilai ini sebenarnya sudah diamalkan oleh Rasulullah Saw ketika berhijrah ke Madinah dengan penuh perencanaan dan juga suasana kota Madinah yang bersih setelah berhijrah. Rüstü menghindari pembedaan Muslim dan Non-Muslim dalam konteks pengalaman nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari di Jerman, bukan dalam konteks akidah. Hal ini seperti juga telah diungkapkan oleh ulama Timur Tengah puluhan tahun yang lalu, bahwa orang-orang Eropa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam; sedangkan di dunia Islam, malah banyak yang berperilaku sebaliknya.
 
Rüstü juga menyampaikan tentang metode dakwah yang ramah, mengakomodasi nilai-nilai lokal, dan juga mengandalkan kualitas. Organisasi-organisasi dan individu-individu Islam selain mempunyai pengetahuan bagus tentang ke-Islaman, berkualitas di bidangnya masing-masing untuk bersaing dengan warga Jerman yang terkenal mempunyai standar tinggi, juga ramah dan mampu berinteraksi dengan masyarakat luas, terutama non-Muslim. Muslim harus menjadi bagian dari masyarakat yang didalamnya diisi oleh umat lain.
 
Keramahan berperilaku dan berdakwah ini juga diamini oleh KH Ma'ruf Khozin. Berkembangnya Islam di Nusantara berabad-abad yang lalu merupakan buah dari metode ini. Rüstü juga menimpali bahwa keramahan, kesopanan, dan kerendahan hati ini tercermin dari perilaku Muslim dari Nusantara yang ia jumpai di Jerman, di Makkah ketika haji dan umrah, serta kunjungan ke Surabaya pada tahun 2016.

Kiai Ma'ruf menambahkan bahwa sejak tahun 2000-an, dengan berkembangnya radikalisme di Indonesia, ulama-ulama NU menggunakan terminologi Islam Nusantara untuk mengajak masyarakat kembali ke Islam yang ramah, seperti yang dicontohkan ulama-ulama terdahulu ketika berdakwah di Nusantara.

Pada sesi tanya jawab, Pak Istas Pratomo, dari Unusa dengan antusias menanyakan metode dakwah paling efektif di Jerman. Pak Rüstü sekali lagi menekankan pentingnya keramahan, dan juga dakwah lewat jalur budaya. Contohnya, bahwa program memasak bersama dengan masakan dari negara mayoritas muslim lebih banyak menarik orang-orang Jerman, daripada kegiatan ceramah atau diskusi, di rangkaian acara pekan Islam Karlsruhe.
 
Kemudian, muncul pertanyaan dari peserta apakah di tengah-tengah kalangan muslim Jerman, ada upaya untuk membangun metodologi Islam Jerman yang tetap bersumber dan bertumpu pada koridor Islam Ahlusunnah wal Jama'ah, namun memiliki kecocokan dengan budaya Jerman dan nilai-nilai masyarakat Jerman.

Pak Rüstü menjawab bahwa hal ini sangat menarik dan akan sangat tergantung dengan bagaimana muslim Jerman mampu mengembangkan solusi Islami bagi masalah-masalah hidup di Jerman. Ia memberi contoh bagaimana solusi-solusi tradisi yang tertulis di dalam kitab yang dikembangkan di negara seperti Turki maupun negeri-negeri Arab, di saat diterjemahkan langsung ternyata tidak cocok dengan pola kehidupan di Jerman.

Memang sudah ada upaya dari para ulama untuk memberikan metode baru, contohnya, bagaimana metode bisa berkembang dengan menuju tujuan-tujuan syariat. Atau mengembangkan ide baru oleh muslim Jerman yang mau belajar di negeri-negeri Islam dan kemudian kembali untuk mengembangkan ilmu Islam di Jerman sehingga bisa menghasilkan metode-metode, kitab-kitab, solusi-solusi yang sesuai dengan kehidupan di Jerman.
 
Ia kemudian menambahkan jika saat ini yang ada hanyalah pendapat-pendapat tradisional yang tidak cocok dengan kehidupan saat ini di Jerman, pandangan Salafi Wahabi, dan adanya pandangan yang terlalu liberal. Sayang sekali hingga saat ini belum ada metode yang tepat yang bisa memberikan solusi bagi masalah kehidupan terutama untuk generasi muda. Mereka membutuhkan metode-metode ini, dan juga orang-orang yang mampu untuk melakukan penelitian dan pendalaman dalam masalah ini. Disepakati bahwa dialog terus-menerus dan juga dialog dengan Islam Nusantara berdasarkan pengalaman para ulama Nusantara selama ratusan tahun, akan merupakan hal yang menarik dan penting untuk dilanjutkan dalam upaya pengembangan metode Islam Jerman ini.
 
Pada akhir acara, semua peserta diskusi sepakat bahwa rangkaian kegiatan saling bertukar pengalaman dan wawasan dalam inisiatif NU Global Connection ini sangat penting untuk kedua belah pihak, Indonesia dan Jerman. Nilai-nilai seperti disiplin, tepat waktu, terorganisir, dan profesional yang mengakar di Jerman sangat penting diterapkan oleh umat Islam sedunia, dan juga nilai-nilai keramahan, kesopanan, kerendahan hati, dan yang tercermin dalam perilaku dan metode dakwah Islam Nusantara.

Penulis adalah Mustasyar PCINU Jerman; aktif mengajar di Universitas Jacobs Bremen.

Kamis 4 April 2019 16:15 WIB
Merayakan Komik Indonesia, Perdebatan untuk RA Kosasih
Merayakan Komik Indonesia, Perdebatan untuk RA Kosasih
R.A. Kosasih. Sumber: tempo.co
Oleh M Daniel Fahmi Rizal

Hari ini, 4 April 2019 adalah hari istimewa bagi insan komik Indonesia. Baik komikus, penggemar, maupun pemerhati komik ramai menggelar kegiatan berkomik. Ada yang menyelenggarakan acara menggambar bersama, ada yang melakukan diskusi, atau sekadar meramaikan tagar di media sosial. Semuanya dilakukan untuk meramaikan dunia perkomikan Indonesia.

Mengapa hari ini istimewa? Apa yang para insan komik ini rayakan? Jawabannya karena di tanggal ini, tepat 100 tahun yang lalu, merupakan hari lahir Raden Ahmad Kosasih atau R.A. Kosasih.

Kosasih adalah nama yang begitu berpengaruh di medan komik Indonesia sampai sekarang. Dia adalah pencipta tradisi komik wayang di tahun 1955. Melalui pemikiran jeniusnya, lahir komik epos Mahabharata dan Ramayana. Komik wayangnya sukses besar. Distribusinya meluas sampai ke kota-kota kecil di luar pula Jawa.

Sebelum membuat komik wayang, di tahun 1954 Kosasih memulai debut komiknya bersama penerbit Melodie dari Bandung dengan menciptakan Sri Asih. Sri Asih adalah sosok superhero perempuan asli Indonesia. Superhero ini menggunakan kostum seperti tokoh wayang golek. Sri Asih diceritakan mempunyai kekuatan yang sangat besar. Dia bisa terbang, bisa juga membelah diri, bahkan mampu berubah menjadi raksasa. Jika tidak menjadi superhero, sosok Sri Asih berubah menjadi remaja perempuan biasa bernama Nani. Selain Sri Asih, Kosasih juga membuat superhero perempuan lain, di antaranya adalah Siti Gahara dan Sri Dewi.

Sayangnya, ketika itu banyak kalangan yang tidak begitu suka dengan karya Kosasih. Golongan pendidik mengkritik habis karyaKosasih. Dibilangnya komik superhero buatan Kosasih sebagai produk yang kebarat-baratan. Komiknya juga sarat akan sihir. Mereka bahkan mengklaim komik Kosasih bisa membuat anak-anak menjadi bodoh.

Tidak mau berpangku tangan begitu saja, Kosasih bersama Penerbit Melodie akhirnya memutar otak. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengalihwahanakan cerita wayang, cerita khas nusantara, ke dalam medium komik. Kosasih memang penggemar wayang. Masa mudanya sering dihabiskan dengan menonton wayang golek sampai pagi. Jadi klop sekali ide membuat komik tersebut bagi Kosasih. Demikian akhirnya, pada tahun 1955, epos Mahabharata dan Ramayana terbit pertama kali dalam bentuk komik.

Ide Kosasih ini begitu besar pengaruhnya. Setelah suksesnya komik wayang Kosasih, banyak penerbit dan komikus yang mulai meniru membuat komik wayang. Beberapa di antaranya bahkan turut terkenal karena ciptaan komik wayangnya yang juga bagus, seperti yang dihasilkan oleh komikus Ardisoma. Tidak selesai pengaruhnya di tanah Jawa, komik wayang Kosasih bahkan menancapkan pengaruhnya sampai ke Medan. Kelak di tahun 1960-an, komik Medan menjadi gerakan tersendiri dalam sejarah komik Indonesia. Menurut penelusuran Henry Ismono, pengkaji dan kolektor komik Indonesia, gerakan komik Medan sendiri diawali dari munculnya komik wayang dari penerbit Casso di tahun 1955. Jika ditilik sampai ke belakang, siapa lagi kalau bukan R.A. Kosasih yang awal mula memberikan pengaruh.

Itulah kenapa, R.A. Kosasih begitu disegani oleh komikus-komikus Indonesia. Mulai dari angkatan tua yang aktif membuat komik dari tahun 1960-an, sampai angkatan di atas tahun 2000, banyak sekali yang menghormati Kosasih.

Salah satu komikus aktif yang dekat dengan Kosasih adalah Beng Rahadian, pengajar Institut Kesenian Jakarta dan pencipta karakter komik Lotif. Mengingat begitu besarnya jasa Kosasih terhadap komik Indonesia, oleh inisiatif Beng dan kawan-kawannya R.A. Kosasih akhirnya ditakbiskan sebagai Bapak Komik Indonesia. Hari lahirnya, tanggal 4 April, dirayakan sebagai Kosasih Day. Di hari itu, komikus-komikus Indonesia dari berbagai daerah ramai-ramai membuat kegiatan berkomik di daerahnya masing-masing. Oleh Beng dan kawan-kawannya pula, tanggal 4 April mereka usulkan sebagai Hari Komik Nasional.

Perdebatan untuk Kosasih
Namun, usaha mengapresiasi Kosasih mengundang perbedaan pendapat. Beberapa komikus di komunitas Masyarakat Komik Indonesia atau MKI tidak setuju dengan gelaran 4 April sebagai Hari Komik Nasional. Mereka berdalih, hari komik sebelumnya sudah diputuskan pada 12 Februari. Pada tanggal 12 Februari 1998 pernah diselenggarakan Pekan Komik dan Animasi Nasional. Oleh Edi Sedyawati, Dirjen Kebudayaan waktu itu, tanggal 12 Februari diusulkan sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional.

Dalam artikel R.A. Kosasih dan Napas Panjangnya dalam Menggeluti Komik, yang dimuat dalam tirto.id, Beng Rahadian dkk. keberatan dengan keputusan Hari Komik dan Animasi Nasional. Bagi Beng, lebih baik fokus terhadap hari komik saja tanpa menyertakan animasi. Menurutnya, kawan-kawan animasi pun pasti menginginkan hari mereka sendiri tanpa ada embel-embel komik.

Tentang penyebutan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia sendiri mendapatkan beberapa ketidaksetujuan. Salah satu yang menentang adalah komikus Jaka Sembung, Djair Warni. Dalam memoar pribadi yang dia tulis tangan sendiri, Djair menuliskan bahwa Kosasih kurang pantas disebut Bapak Komik Indonesia. Menurutnya, Kosasih belum memiliki karakter komik yang khas. Dia kemudian membandingkan Kosasih dengan dirinya yang membuat karakter komik Jaka Sembung. Komik Jaka Sembung yang dibuatnya pada tahun 1968 laris manis di pasaran. Pun akhirnya berhasil dialihwahanakan dalam bentuk film di tahun 1981. Jaka Sembung bahkan bisa jadi pantun yang diucapkan di siaran televisi nasional. Siapa tidak tahu pantun familiar yang berbunyi, “Jaka Sembung naik ojek. Enggak nyambung, Jek!

Alasan berbeda diungkapkan oleh Henry Ismono. Menurutnya, Kosasih sebenarnya punya banyak karakter komik yang top. Selain Sri Asih dan Siti Gahara, Kosasih juga sempat membuat komik Empat Sekawan yang karakter-karakternya adalah anak-anak. Zaman itu, belum lumrah komikus Indonesia mencipta karakter utama cerita adalah anak-anak. Maka dari itu, menurut Henry, jasa R.A. Kosasih tetaplah sangatlah besar. Terlepas dari ketidaksetujuan banyak pihak, Henry menawarkan kembali untuk memperhitungkan ukuran dan variabel dalam membicarakan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia.

Pengaruh yang Tak Lekang
Terlepas dari kontroversi penyebutan mendiang Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia, rasanya kita tidak bisa menafikkan jasa besar Kosasih terhadap kebudayaan Indonesia. Kejeniusan Kosasih dalam mengalihwahanakan komik wayang terasa benar pengaruhnya hingga sekarang. Simak saja, sampai sekarang banyak sekali komik-komik yang mengambil karakter wayang sebagai materi penceritaan mereka. Banyak yang di antaranya sukses besar. Salah satu yang penulis sebutkan di sini adalah komikus asal Surabaya, Is Yuniarto.

Is Yuniarto adalah pencipta komik Garudayana. Komik tersebut menceritakan tentang petualangan gadis bernama Kinara dan burung garuda yang bernama Garu. Di dalam petualangannya, mereka juga dibantu oleh Gatotkaca. Seperti dikutip dari reoncomics.com, Is Yuniarto mengaku bahwa dia terinspirasi dari R.A. Kosasih. Ketika kecil dia gandrung membaca komik wayang karya R.A. Kosasih, Ardisoma, dan Teguh Santosa. Is Yuniarto memiliki style gambar ala komik Jepang atau manga. Namun, dia tak lupa dengan khazanah lokal yang punya potensi besar untuk dimanfaatkan. Dengan gaya gambar manga-nya, Is Yuniarto kemudian bisa menjangkau pembaca masa kini yang memang sudah akrab dengan komik Jepang. Dengan cerita wayangnya, Is Yuniarto turut melestarikan budaya lokal khas nusantara.

Begitu suksesnya komik Garudayana, karakter di dalam komik ini bahkan sempat dialihwahanakan ke dalam medium lain. Di tahun 2017, produsen game internasional dari China Mobile Legend: Bang Bang melirik karakter Gatotkaca untuk dijadikan jagoan dalam game terkenal tersebut.

Selain tentang pengaruh Kosasih, penulis juga memberikan perhatian khusus terhadap komik superhero ciptaan Kosasih. Komik superhero ciptaan Kosasih ini tokoh-tokoh utamanya perempuan. Di tengah kehidupan negeri yang kental akan budaya patriarki, Kosasih justru membuat perempuan sebagai sosok kuat, mandiri, dan lebih dari itu, perempuan digambarkan sebagai sosok yang peduli terhadap kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Kosasih ini berbeda jauh dengan kultur penciptaan superhero Amerika. Di industri komik Amerika, sudah biasa superhero perempuan dieksploitasi lekuk tubuhnya sedemikian rupa agar mampu menarik minat pembaca. Kosasih tidak melakukan itu. Kosasih bahkan meramu superheronya dengan kearifan lokal agar pembaca merasa lebih dekat dengan karakter tersebut. Hal ini sebagaimana yang terlihat dari kostum ala wayang golek yang dikenakan Sri Asih dan Sri Dewi.

Jadi menurut penulis, perdebatan tentang cocok atau tidaknya Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia masih bisa terus didiskusikan. Boleh saja kita tidak setuju dengan penyebutan Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia. Namun, kita juga tidak boleh menafikan jasa-jasa Kosasih terhadap komik Indonesia. Sampai sekarang pun, ide jenius Kosasih dalam menggubah epos pewayangan dalam medium komik betul-betul terasa benar manfaatnya. Maka dari itu, momen 4 April menurut penulis tetaplah patut untuk dirayakan. Paling tidak, di tanggal tersebut kita semua bisa berefleksi tentang apa yang dilakukan Kosasih untuk komik Indonesia. Refleksi tersebut nantinya bisa kita gunakan untuk menyusun strategi, bagaimana nasib komik Indonesia di kemudian hari. Jadi, selamat Hari Kosasih! Selamat merayakan komik Indonesia!


Penulis adalah Santri Pesantren Ciganjur, Penggemar Komik Indonesia



 

Rabu 27 Maret 2019 2:10 WIB
Pengakuan Akademik atas Pemikiran Kiai Husein Muhammad
Pengakuan Akademik atas Pemikiran Kiai Husein Muhammad

Oleh Dede Wahyudi

Di dunia diskursus tentang isu kesetaraan Gender, nama KH Husein Muhammad bukan nama baru. Kiai asal Cirebon ini sudah lama sekali malang melintang dalam isu tersebut. Perjuangannya kali ini mendapat pengakuan secara akademik. Tepat pada Selasa 26 Maret 2019 Buya Husein Muhammad menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang. Pemberian gelar ini dipromotori oleh tiga profesor yakni Prof Dr KH Nazaruddin Umar, Prof Dr Hj Istibsyaroh dan Prof Dr Imam Taufiq. 

Gelar terhormat tersebut disematkan kepada Buya Husen atas pemikirannya tentang Tafsir Gender. Penghargaan ini tidak lain karena keberhasilan Buya Husein dalam membedah tafsir secara paradigmatik terkait isu-isu keadilan sosial, terutama dalam bidang gender.

Buah pikiran Buya Husein yang pertama, bahwa kemaslahatan bukan hanya sekadar membawa kemaslahatan dan menolak keburukan. Melainkan menjaga tujuan syariat yang terangkum dalam lima pilar (al-kulliyyah al-khomsah). Maka, setiap hal yang mengandung perlindungan itu adalah maslahat dan setiap hal yang menegasikannya itu mafsadat. Jadi jelas, menghindar dari segala apa yang mendatangkan keburukan itu pasti maslahat.

Sesungguhnya pilar maqoshid tidak hanya itu, menurut Buya Husein, menjaga kehormatan manusia dan lingkungan juga termasuk didalamnya sebagaimana telah dijelaskan para ulama ushul. Dua pilar terakhir ini yang tidak banyak orang mencermatinya. Buya Husein memberi perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Bertahun-tahun lamanya Buya Husein memikirkan bagaimana pilar-pilar dasar tujuan penerapan syari’ah ini operasional dan menjadi solusi atas masalah-masalah ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang hari-hari ini marak dilakukan oleh umat Islam.

Untuk itu, Buya Husein merumuskan kembali pilar-pilar tersebut dalam perspektif kemanusiaan. Menjaga agama (hifzh ad-din) berarti menjaga hak kebebasan berkeyakinan, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) berarti menjaga hak hidup, menjaga akal (hifzh al-‘aql) berarti menjaga hak kebebasan berfikir sekaligus kebebasan berekspresinya, menjaga keturunan (hifzh an-nasl) berarti menjaga hak berketurunan atau reproduksi, menjaga kehormatan (hifzh al-‘irdl) berarti menjaga hak atas kehormatan tubuh (dignity) dan (hifzh al-mal) berarti menjaga hak kepemilikan atas harta atau properti.

Pemaknaan seperti ini tidak diketemukan dalam literaur Arab klasik mengingat pijakan berfikirnya masih sebatas al-huquq al-insaniyyah al-asasiyyah atau hak-hak dasar kemanusiaan, tidak disebut al-asasiyyah al-‘alamiyyah (sendi-sendi kemanusiaan) sehingga perbedaan jenis kelamin, ras, status sosial dan sebagainya luput dari pembahasan. Inilah pilar HAM yang sejatinya dapat menembus sekat-sekat budaya dan peradaban apa pun, melintasi ruang dan waktu, karena HAM melekat pada diri manusia. yang dapat membedah segala persoalan kemanusiaan dewasa ini.

Buah pikiran Buya Husein kedua, relasi antara laiki-laki dan perempuan itu setara. Berpijak pada universalitas makna dalam memahami nalar teks lebih diutamakan ketimbang lafaz teks yang muatan maknanya bersifat partikular. Maka, untuk membongkar paradigma lamajalur takwil merupakan jalur yang dapat ditempuh karena lebih membuka cakrawala dengan realitas yang terus dan cepat bergulir.

Buah pikiran Buya Husein yang ketiga, untuk menghindari benturan teks dengan realitas, diperlukan posisi diantara keduanya. Dalam hal persoalan veritak (ibadah) lafazh teks menjadi penentu. Adapun dalam hal persoalan horizontal (muamalah) realitas lah yang menjadi penentunya.

Buah pikiran Buya Husein yang keempat, karena kemaslhatan harus menepis segala hal yang dapat mendatangkan keburukan, maka ijmak ulama pun dapat didialogkan kembali karena seiring dengan bergesernya realitas, maka berubah pula tuntutan kemaslahatannya. HAM sebagai sebuah kesepakatan bersama, dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’ah, bahkan mendukung tercapainya tujuan syari’ah itu sendiri, maka HAM merupakan sendi kemanusiaan yang harus diejawantahkan dalam kehidupan, dimana pun dan kapan pun.

Prosesi pemberian gelar ini sendiri disaksikan oleh sejumlah pejabat terkait antara lain Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Ketua Senat Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, para guru besar, para anggota senat akademik, para wakil rektor, para dekan dan seluruh pimpinan UIN Walisongo. Selain itu tampak pula para pejabat di lingkungan Kementerian Agama, para Ulama dan para Kiai, Gubernur, Bupati/Walikota, dan TNI/Polri,  Para Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, Pimpinan organisasi sosial politik dan keagamaan dan civitas akademika serta rombongan para santri dan mahasiswa ISIF Cirebon yang diampu oleh Kiai Husein sendiri.


Penulis adalah Dosen Tetap ISIF Cirebon dan Mahasiswa Program 5000 Doktor Kemenag RI Prodi Religious Studies UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG