IMG-LOGO
Nasional

Saat Habib Ali Kwitang Mendeklarasikan Diri Jadi Nahdliyin

Ahad 28 April 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Saat Habib Ali Kwitang Mendeklarasikan Diri Jadi Nahdliyin
Habib Ali Kwitang (tirto.id)
Jakarta, NU Online
Kolektor Arsip Habib Ali Kwitang Anto Jibril mengatakan, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih dikenal Habib Ali Kwitang mendapatkan surat dari ulama-ulama di Jawa ketika Nahdlatul Ulama (NU) lahir pada 1926. Dia ditanya bagaimana sikapnya tentang NU. Habib Ali kemudian mengundang salah seorang muridnya, KH Ahmad Marzuki bin Mirshod, untuk menyelediki seluk-beluk NU. 

Habib Ali Kwitang, kata Anto, kemudian mengutus Kiai Marzuki untuk datang ke tempatnya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari untuk mencatat apapun yang dilihatnya di sana. Ketika sampai di sana, Kiai Marzuki kemudian meminta satu hal kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Yaitu agar jilbab yang dipakai perempuan NU dibenarkan. Jika itu dilakukan, Kiai Marzuki yakin NU akan bisa masuk ke tanah Batavia.

Dia menuturkan, setahun kemudian Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim datang ke Batavia. Mereka ingin agar NU didirikan di sana. Ketika sampai di Batavia, orang yang pertama kali ditemui Hadratussyekh Hasyim Asy’ari adalah Habib Ali Kwitang.

“Setelah itu tahun 1928, NU dibentuk di Batavia. Habib Ali izinkan itu waktu. Lagi-lagi Habib Ali masih pegang fatwanya Habib Utsman bin Yahya. Jadi jangan dimasukkan namanya (Habib Ali Kwitang di jajaran pengurus NU),” kata Kolektor Arsip Habib Ali Kwitang Anto saat mengisi acara Kajian Manuskrip Ulama Nusantara di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (27/4).

Menurut Anto, semula orang-orang di Batavia kurang tertarik masuk NU karena tidak ada nama Habib Ali di sana. Kemudian Kiai Marzuki ‘menegur’ Habib Ali karena dulu dirinya lah yang meminta untuk mendirikan NU di Batavia, namun ternyata setelah berdiri Habib Ali malah tidak bersedia gabung.

“Sampai pada akhirnya Habib Ali memproklamirkan dirinya jadi warga Nahdliyin. Ini jarang yang ungkapkan, padahal ini dipublikasikan di Koran-koran zaman dulu. Salah satu korannya berbahasa Belanda, koran Het Nieuws van den Dag (terbit) tanggal 20 Maret 1933,” jelasnya.

Anto menuturkan, Habib Ali Kwitang mendeklarasikan dirinya menjadi Nahdliyin pada 1933, atau setahun sebelum wafatnya Kiai Marzuki. Kemudian diadakan Kongres NU di daerah Kramat, Batavia. KH Abdul Wahab Chasbullah yang bertugas memimpin jalannya kongres tersebut. Setelah Habib Ali Kwitang mendeklarasikan diri menjadi Nahdliyin, ada sekitar 800 ulama yang saat itu siap masuk NU. 

“Dan kurang lebih seribu, disebutkan di koran itu, siap masuk pula menjadi warga Nahdlatul Ulama. Pertama Habib Salim bin Jindan,” jelasnya.

Di koran Belanda itu, lanjut Anto, pada saat itu Habib Salim bin Jindan mengkritik NU. Namun kemudian, Habib Ali Kwitang menenangkannya. Kemudian Habib Ali Kwitang mendeklarasikan dirinya sebagai Nahdliyin. Setelah mendengar ‘pengakuan Habib Ali Kwitang’, peserta yang hadir berdiri dan bertepuk tangan bersama. KH Abdullah Wahab Chasbullah juga senang dengan sikap yang ditunjukkan Habib Ali Kwitang tersebut. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Ahad 28 April 2019 22:30 WIB
Rais 'Aam Tegaskan Peran Penting Media sebagai Penjaga Aswaja
Rais 'Aam Tegaskan Peran Penting Media sebagai Penjaga Aswaja
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar
Surabaya, NU Online
Saat ini dunia sudah memasuki era yang dikenal dengan zaman revolusi industri. Beragam sektor harus segera menyesuaikan agar tidak tertinggal dengan kemajuan zaman yang sedang berlangsung saat ini, termasuk juga adalah para pemilik media.

Hal ini disampaikan oleh Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan tausyiah di pembukaan acara Forum Silaturrahim Nasional (Forsilatnas) ke VIII Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja (PPM Aswaja) yang berlangsung di Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya.

Menurutnya, sudah saatnya media aswaja berkontribusi untuk menjaga aswaja di era revolusi industri ini. “Saat ini dunia sudah memasuki era revolusi industri, saya berharap yang hadir di sini bisa turut berkontribusi untuk menjaga aswaja, meneliti kitab-kitab aswaja, dan sebagainya,” ucapnya, Sabtu (27/4).

Terlebih lagi, saat ini aswaja sedang mendapatkan ancaman dan tekanan yang sangat intens dari pihak manapun. “Saat ini aswaja mendapat ancaman dan tekanan yang beragam macam dari berbagai pihak, salah satunya adalah serangan hoaks dan saya lihat pelaku-pelaku hoaks kebanyakan lulusan dari Timur Tengah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach mengapresiasi atas penyelenggaraan kegiatan Forsilatnas yang diselenggarakan di pesantren asuhannya. Ia mengatakan bahwa pesantren merupakan tempat munculnya kader-kader aswaja dan tempat yang memiliki banyak nilai keberkahan.

“Saat ini pesantren menjadi tempat bagi munculnya kader-kader aswaja dan harus menjadi pilihan utama. Sebab di sana adalah tempatnya keberkahan karena ada ridlassyaikh (ridla dari kiai.red), ada du’aul walidain (ridla dari kedua orang tua.red),” tukasnya.

Kiai Miftach juga menekankan agar yang hadir dalam kegiatan ini menjadi insan yang profesional tanpa melupakan bismirabbik,
seperti yang ada dalam wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah. Sebab dengan ini seseorang akan menjadi insan yang lurus.

“Jadilah kalian orang yang memiliki kemampuan, memiliki gelar, tapi jangan lupa bismirabbika, sebab akan menjadi pembimbing kalian menjadi insan yang lurus,” pungkasnya. (Hanan/Muiz)
Ahad 28 April 2019 21:35 WIB
Ketum Pagar Nusa Minta Jangan Ada Pihak Mempermainkan Demokrasi
Ketum Pagar Nusa Minta Jangan Ada Pihak Mempermainkan Demokrasi
Ketum Pagar Nusa, M Nabil Haroen.
Sukoharjo, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen (Gus Nabil) menegaskan jangan ada satu pun pihak yang berani main-main dengan demokrasi dan NKRI. 

Hal tersebut diungkapkan Gus Nabil dalam Harlah NU dan Latihan Gabungan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Sukoharjo, di Lapangan Krida Wijaya, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (28/4). 

Di bawah terik matahari yang sangat menyengat kulit, Gus Nabil menjelaskan, akhir-akhir ini banyak sekali fenomena orang-orang yang mempermainkan demokrasi, provokasi, dan ajakan untuk terpecah belah antarsesama diumbar di media.

"Sebagai wadah para pendekar yang diasuh para kiai, Pagar Nusa harus tetap konsisten membela Tanah Air dan ulama, apa pun kondisinya," kata Gus Nabil.

Menurut Gus Nabil, banyak orang bilang, kelompok yang disinyalir radikal lebih solid ketimbang Nahdlatul Ulama. "Kita (Pagar Nusa) harus merapatkan barisan, menjaga soliditas, meng-up grade militansi dan bergerak lebih taktis dalam rangka membentengi bangsa dan negara dari segala bentuk ancaman yang ada. Siapa pun yang bermain-main dengan demokrasi dan NKRI akan berhadapan langsung dengan pendekar Pagar Nusa," tegas Gus Nabil di tengah-tengah ribuan pendekar Pagar Nusa.

Tak hanya itu, Gus Nabil juga mengingatkan para Pendekar untuk terus berkhidmat dengan cinta kasih serta akhlakul karimah kepada negara dan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, dengan keikhlasan dan kesungguhan berkhidmat, barokah para kiai bercucuran menemani aktivitas sehari-hari. 

Dalam kesempatan tersebut, Gus Nabil juga menceritakan pengalaman pribadinya. Menurutnya, semakin serius ia berkhidmat, semakin mengalir barokah dan rejeki yang ia dapatkan. Sebaliknya, jika semangatnya kendor maka rejekinya pun ikut kendor.

"Percayalah, barokah para masayikh kita tidak akan pernah habis. Berkhidmat di Pagar Nusa, berkhidmat di NU jangan takut menjadi miskin. Rezeki akan terus mengalir, jika kita ikhlas dan sungguh-sungguh," ujarnya.

NU dan Pagar Nusa, kata Gus Nabil, besar bukan karena kita. Sebaliknya, kita semua besar dan berkembang karena berada di NU dan Pagar Nusa. "Tetap rendah hati, jangan pernah merasa kitalah yang membesarkan NU, tapi merasalah NU yang membesarkan kita," tegas Gus Nabil

Menurut Gus Nabil, Pendekar Pagar Nusa tidak pernah diajari kekerasan. Pendekar Pagar Nusa harus selalu mempergunakan kekuatannya selaras dengan akal dan hati nuraninya, agar selalu toleran dan ringan tangan dalam membantu serte melindungi tanpa membeda-bedakan.

Ia menegaskan agar Pendekar Pagar Nusa tidak ugal-ugalan, anarkis dan tetap sowan kepada para kiai. Seluruh pendekar Pagar Nusa harus tetap solid dan satu komando dalam menjaga kiai, bangsa, dan negara. (Red: Kendi Setiawan)

Ahad 28 April 2019 21:25 WIB
Kemendes Buka Pelatihan Berbasis Ekonomi Kreatif
Kemendes Buka Pelatihan Berbasis Ekonomi Kreatif
Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi
Yogyakarta, NU Online
Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Anwar Sanusi membuka pelatihan handycraft rajut berbasis ekonomi kreatif, di Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta pada Sabtu (27/4).

Pelatihan ini dibuka atas kerjasama antara Kemendes PDTT dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan perusahaan PT Yogyakarta Isti Parama (YIP).

Sedikitnya 90 peserta dari pelatihan ini adalah kelompok keluarga yang masuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dari 4 Kabupaten di DIY yakni Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul dan Gunung Kidul yang akan berlatih membuat handicraft rajut di BBLM Yogyakarta dari tanggal 27 sampai 30 April 2019.

Sekjen Kemendes PPDT, Anwar Sanusi mengungkapkan, pelatihan ini merupakan suatu terobosan yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pasalnya, produk yang dihasilkan oleh para peserta dapat langsung diserap oleh pasar karena bekerjasama dengan PT. YIP.

"Produk yang dihasilkan dari pelatihan akan diambil langsung atau laku oleh pembeli. 
Dengan kata lain pelatihan ini adalah pelatihan yg dilakukan berdasarkan pesanan/order pembeli, sehingga sangat dipastikan adanya kepastian terjualnya hasil dari produk-produk dari para peserta pelatihan ini," katanya.

Selain Sekjen Anwar Sanusi, dalam pembukaan Pelatihan Handicraft turut pula dihadiri Kepala Bappeda Provinsi DIY, Ketua Karang Taruna DIY, Kepala BBLM Yogyakarta dan Direktur PT. Yogyakarta Isti Parama.

Untuk penutupan pelatihan ini akan dilaksanakan pada tanggal 30 April yang dijadwalkan akan dihadiri oleh Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG