IMG-LOGO
Tokoh

Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair: Ditempa Keilmuan sebelum Usia Balig

Rabu 7 Agustus 2019 23:0 WIB
Bagikan:
Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair: Ditempa Keilmuan sebelum Usia Balig
Gus Umam saat bersama Mbah Maimoen
KH Maimoen Zubair adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Lahir pada hari Kamis Legi bulan Sya'ban tahun 1347 H bertepatan tanggal 28 Oktober 1928 di Desa Karang Mangu Kecamatan Sarang, Jawa Tengah. 
 
Nyai Mahmudah, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Sedangkan Kiai Zubair merupakan murid kinasih Syeikh Sa’id Al-Yamani serta Syeikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Secara genealogi keilmuan, Mbah Zubair merupakan ulama yang cukup disegani. 
 
Kematangan ilmu KH Maimoen Zubair tidak ada satupun yang meragukan. Sebab, sejak balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya. 
 
Kecerdasan dan daya ingat Mbah Moen sangat luar biasa yang membawanya menuju pribadi yang dewasa. Bahkan sampai usia ke 91 tahun daya ingatnya masih segar. 
 
Pada usia sekitar 17 tahun, Mbah Moen sudah hafal di luar kepala nadzam Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl. 

Seiring pula dengan kepiawaiannya membalah kitab-kitab fiqih madzhab Asy-Syafi’i, semisal Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan beberapa kitab jenis lainnya.
 
Pada tahun kemerdekaan, Mbah Moen memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim atau terkenal dengan sebutan Mbah Manaf. 
 
Selain kepada Mbah Manaf, Kiai Maimoen juga menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi. Di Lirboyo, Mbah Moen nyantri selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menenggak habis ilmu pengetahuan. 
 
Tanpa kenal batas, Mbah Moen tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. 
 
Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH Ahmad bin Syu’aib. Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama di bidangnya, antara lain:
- Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
- Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath
- Sayyid Amin Al-Quthbi
- Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani
- Syekh Abdul Qodir Almandily
 
Setelah dua tahun lebih dirinya menetap di Makkah Al- Mukarromah, kemudian kembali ke tanah air dan masih melanjutkan semangatnya untuk ngangsu kaweruh yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Mbah Moen masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama besar tanah Jawa yang ada kala itu.
 
Mbah Moen menikah pada usia 25 tahun, setelah menikah sosok yang dikenal sangat sederhana itu menjadi Kepala Pasar Sarang selama 10 tahun.  Mbah Moen  adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. 
 
Dari ayahnya, Kiai Maimoen meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. 

Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu selaras dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir Kecamatan Sarang, Rembang tidak membuat sikap Mbah Moen ikut mengeras. Justru Mbah Moen menunjukkan sikap sebaliknya. 
 
Kepada yang lebih muda Mbah Moen menunjukkan sikap yang sopan. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. 

Kiai Maimoen muda membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Pada tahun 1965 Mbah Moen mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama.
 
Hal itu diiringi dengan berdirinya Pesantren yang berada di sisi kediamannya. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. 
 
Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil karena  ikut nyantri dalam pesantren yang kerap dikunjungi para pejabat di negeri ini.
 
Mbah Moen dianugerahi 10 putra dari tiga kali pernikahannya. Almarhum menikah tiga kali karena istri pertama dan keduannya meninggal dunia. 
 
Istri pertama bernama Ibu Nyai Hj Fahima Baidhowi, yang merupakan putri dari KH Baidhowil Lasem Rembang. Dari pernikahannya, keduannya dikaruniai dua putra dan satu putri, masing-masing:
 
1. KH Abdullah Ubab (Gus Ubab)
2. KH Muhammad Najih (Gus Najih)
3. Ibu Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah)
 
Dari istri kedua, yakni Ibu Nyai Hj Mastiah, Mbah Moen dikaruniai 6 putra dan satu putri, masing-masing:
 
1. KH Majid Kamil (Gus Kamil)
2. KH Abdul Goffur (Gus Ghofur) 
3. KH Abdul Rouf (Gus Rouf) 
4. KH Muhammad Wafi ( Gus Wafi )
5. Ibu Nyai Hj Rodhiah (Neng Yah)
6. KH Taj Yasin (Gus Yasin)
7. KH Muhammad Idror (Gus Idror)
 
Setelah istri pertama dan kedua wafat lebih dulu, Mbah Moen kembali menikah dengan istri ketiganya yaitu Ibu Nyai Hj Heni Maryam putri dari salah satu ulama dari Kabupaten Kudus. Dari pernikahan ini tidak dikaruniayai keturunan.
 
Dalam hal agama, 10 penerus KH Maimoen Zubair sangat mumpuni. Bersama dengan mereka Mbah Moen mengembangkan pondok pesantren  Al Anwar 1, 2,3 dan 4. Pondok Pesantren 1 di asuh KH Maimoen Zubair sendiri sampai dengan sekarang. Pesantren ini berlokasi di Desa Karang Mangu, Kecamatan Sarang.
 
Sedangkan Pondok Pesantren Al Anwar 2, 3, dan 4 lokasinya berada di Dukuh Gondangrejo Desa Kalipang Kecamatang Sarang. Lokasinya berjarak sekitar 5 KM dari Ponpes Al Anwar 1 (Induk).
 
Yang membedakan pesantren ke empatnya adalah : Al-Anwar 1 murni pendidikan salaf, diasuh oleh KH Maimoen Zubair.  Al-Anwar 2 ada pendidikan salaf dan formal, ada MI, MTs, yang dikelola KH Abdullah Ubab. Berdiri sekitar tahun 2003.

Al-Anwar 3 khusus untuk Sekolah Tinggi STAI yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur sebagai rektornya. Al-Anwar 4 itu untuk SMK Al-Anwar yang diasuh oleh KH Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah berdiri pada tahun 2016.

Di Pesantren Al-Anwar juga terdapat pendidikan Ma'had Aly. Semacam program pendidikan khusus salaf yang disetarakan S1. Program tersebut berjalan sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang.
 
Saat ini ada sekitar 10 ribu santriwan-santriwati yang masih mondok di empat Pondok Pesantren. Sepeninggal Mbah Moen para santri diasuh oleh putra-putra Mbah Moen, sedangkan santri putri diasuh oleh Ibu Nyai Hj Heni Maryam, dan dibantu menantu-menantunya.
 
Kedelapan putra Mbah Moen semuanya diminta menetap di Sarang Rembang, untuk meneruskan mengelola pondok yang terus mengalami kemajuan. Kecuali kedua putrinya. Ibu Nyai Hj Shobihah (Neng Shobihah) di Cirebon menikah dengan KH Musthofa Aqil Siroj adik dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siroj, sedangkan Neng Diyah menjadi istri dari KH Zairul Anam (Gus Anam) Banyumas, Jawa Tengah. 
 
Perjalanan hidup Mbah Moen ini disarikan dari cerita KH Zainul Umam (Gus Umam). Gus Umam termasuk orang dekat keluarga KH Maimoen Zubair. Dia juga pernah mondok selama 9 tahun di Ponpes Al-Anwar dan menjadi santri Mbah Moen sejak tahun 1997 – 2006. 
 
Gus Umam adalah orang yang sering mendampingi Mbah Moen ketika bepergian. Terakhir ia mendampingi Mbah Moen ke Bandara Soekarno Hatta saat pergi ke tanah suci untuk berhaji sebelum wafat. 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 5 Agustus 2019 3:0 WIB
Sang Syahid KH Abdullah Sajjad dari Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk
Sang Syahid KH Abdullah Sajjad dari Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk
ilustrasi
Berkah Temu Alumni
Sekitar tahun 2003 Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep mengadakan temu alumni untuk pertama kalinya. Salah satu hal penting yang dipersiapkan guna mensukseskan gawe tersebut adalah penerbitan buku "Jejak Masyayikh Annuqayah". 

Maka, dibentuklah tim khusus yang bertugas untuk menelusuri sejarah Masyayikh Annuqayah dari para saksi yang masih hidup. Tim lalu bergerak ke beberapa daerah, seperti Karduluk, Kemisan, Kalabaan, dan sebagainya.

Saya adalah bagian dari tim khusus tersebut yang kebetulan bertugas untuk menelusuri kehidupan dan perjuangan Kiai Haji Abdullah Sajjad. Saya pun meluncur ke daerah Guluk Manjung, Kapedi. Di sana ada seorang saksi hidup yang bernama H. Abdurrahman. Masyarakat setempat biasa menyebutnya "Kiai Rahman". 
 
Kiai Rahman
Perawakannya agak tinggi, kulit kuning, kurus dan sedikit bungkuk karena dimakan usia, namun masih terlihat sehat dan lincah. Wajahnya cerah, tenang, dan bibirnya selalu basah, yang menyiratkan bahwa beliau seorang ahli ibadah.

Menurut pengakuannya, beliau berumur 113 tahun. Saat itu beliau tinggal bersama salah satu putrinya dari salah satu istrinya. "Lebih dari 10 perempuan yang pernah saya nikahi," ujarnya sambil tersenyum.

Bagi masyarakat sekitar, Kiai Rahman tak lebih dari lelaki tua yang sudah uzur. Hal itu wajar karena beliau lebih banyak menghabiskan waktu gagahnya di luar Madura, sehingga banyak yang tidak mengenalnya secara mendalam. Selepas Agresi Militer Belanda tahun 1947, beliau berpetualang ke Jawa dan Kalimantan. Di mana bumi di pijak, di situlah beliau membangun masjid. Termasuk, di mana bumi di pijak, di situlah dia punya istri baru (Hmmm...mungkin ini yang bisa membuatnya panjang umur). Jadi wajar jika dia kemudian meninggalkan banyak masjid dan istri di daerah rantauan. 

Masyarakat sekitar juga tidak banyak tahu bahwa menjelang kejatuhan Soeharto, tahun 1998, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkunjung ke Kiai Rahman ini. Hal ini dibenarkan oleh putrinya yang juga sudah lanjut usia. Tak mungkin keduanya bersepakat untuk berbohong.

Ketika diajak berbicara, beliau bersemangat sekali apalagi yang berkenaan dengan Annuqayah di masa lalu. Ingatan dan gelora perjuangannya seakan muncul kembali.

Ketika Belanda Memasuki Annuqayah
"Ketika saya ngaji ke Kiai Ilyas, putra-putri beliau masih kecil-kecil kecuali Kiai Khazin, saya masih ingat dulu saya sering menggendong Kiai Warits," Kiai Rahman memulai ceritanya. "Kiai Khazin itu bagi saya adalah pendekar yang pemberani, malah terkadang nekad. Di antara aksi nekadnya adalah, jika menunggang kuda, beliau tidak menghadap ke depan, tapi ke belakang sambil mengendalikan kuda. Dan beliau tidak pernah pelan kalau menunggang kuda," tuturnya.

Saat Belanda datang pada tahun 1947, ada instruksi dari KH Abdullah Sajjad selaku pimpinan laskar Sabil, bahwa Pesantren Annuqayah harus dikosongkan karena Belanda berhasil mematahkan pertahanan Sabil di Pakong dan sudah bergerak menuju Guluk-Guluk. Menurut Kiai Rahman, Kiai Ilyas tidak serta merta mengosongkan pesantren. Bahkan beliau berkata, "Saya tetap di sini saja bersama santri."

Benar saja, Belanda datang dan langsung melakukan penyisiran. Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik semua tempat, tapi yang dicari tidak ditemukan. Setelah puas mengobrak-abrik Pesantren Annuqayah, salah seorang pimpinan Belanda memberi aba-aba bahwa pesantren kosong, dan mereka pun meninggalkan Annuqayah dengan tangan hampa.

"Aneh..," kata Kiai Rahman, "padahal waktu penggeledahan itu Kiai Ilyas sedang morok santri di Masjid Annuqayah, saya juga sedang ikut ngaji meski tubuh basah bermandikan keringat dingin karena takut ketahuan Belanda," imbuhnya. "Rupanya, Kiai Ilyas sedang menampakkan kejunilannya (karomahnya)," hela Kiai Rahman. Subhanallah....

Belanda memang menggeledah semua tempat di Annuqayah, tapi tidak sejengkal pun mereka menapakkan kaki di daerah Lubangsa. Menurut Kiai Rahman, mereka hanya tercengang ketika melihat daerah Lubangsa laksana melihat kolam besar yang penuh air. Wallahu a'lam...

Kidung Kiai Sajjad
Nama "Sajjad" menurut Kiai Rahman adalah nama asli dari Kiai Haji Abdullah Sajjad bin KH Muhammad Syarqawi al-Kudusi, bukan nama gelar (di mana beliau wafat dalam keadaan sujud sebagaimana versi Ahmad Baso), sebab saat masih hidup beliau biasa dipanggil "Kiai Sajjad" dan pasukannya disebut "Pasukan Kiai Sajjad".

Kiai Sajjad adalah orang yang paling dicari oleh Belanda. Mereka tahu bahwa dalang sekaligus aktor yang menggerakkan rakyat untuk melawan dan menghadang pergerakan Belanda di daerah Pakong adalah Kiai Sajjad. Jadi wajar jika beliau selalu diburu oleh Belanda dengan berbagai cara. Akhirnya Kiai Sajjad bersembunyi (lebih tepatnya bergerilya) di daerah Karduluk.

Menurut Kiai Ali Wafa, seorang saudagar kaya di Prenduan yang pernah menyelamatkan Kiai Khazin Ilyas ke Sukorejo, bahwa Kiai Sajjad pernah ingin diungsikan ke daerah Sukorejo juga, namun beliau menolak. Beliau tidak sudi menumbalkan rakyat hanya demi keselamatannya sendiri, sehingga beliau tetap bertahan di Karduluk.

Ketika dalam pengungsian, Kiai Sajjad tidak melupakan tugas utamanya sebagai pengayom dan guru umat. Beliau masih sering morok ketika situasi dianggap benar-benar aman. Materi yang sering beliau berikan adalah tauhid.

Beliau juga sangat kreatif menyusun syair-syair berbahasa Madura yang dilantunkan bersama Shalawat Nabi. Saking seringnya syair-syair itu dilantunkan, banyak di antara laskar dan para pengiringnya yang hafal, termasuk Kiai Rahman. (Catatan: mengenai Kidung Kiai Sajjad ini pernah dimuat dalam buku "Jejak Masyayikh Annuqayah" dalam edisi terbatas).

Syair-syair itu terus beliau lantunkan, sampai suatu ketika datanglah sepucuk surat yang dihantar oleh seorang kurir. Jika mengingat serta melantunkan Kidung Kiai Sajjad itu, Kiai Rahman laksana menyenandungkan kidung kematian, karena Kiai Sajjad senantiasa melantunkan kidung tersebut di masa-masa akhir hayatnya, sehingga tanpa terasa air mata Kiai Rahman meleleh di ujung kedua matanya.

Sebuah Pengkhianatan
Belanda yang masih bercokol di daerah Kemisan Guluk-Guluk terus berusaha mengendus keberadaan Kiai Sajjad. Mata-mata pun disebar, termasuk mengerahkan kaum pribumi yang kehormatannya bisa dibeli alias para pengkhianat.

Sebuah kabar angin menuturkan bahwa Kiai Sajjad bersembunyi di daerah Karduluk. Belanda pun menyusun siasat. Mereka tidak ingin buruannya lepas. Maka dipakailah siasat lama yang pernah digunakan Belanda untuk menjerat Pangeran Diponegoro, yakni "Surat Damai". Belanda kemudian menyewa seorang kurir untuk mengantarkan surat tersebut. Isi surat itu adalah meminta Kiai Sajjad untuk pulang ke Annuqayah karena situasi telah aman dan Belanda telah menarik diri ke daerah Pamekasan.

Di sini Kiai Rahman mencoba berspekulasi. Menurutnya, surat itu sebenarnya bukan bikinan Belanda, tetapi bikinan pribumi pengkhianat yang menginginkan kematian Kiai Sajjad. Surat itu sengaja dibuat oleh seorang pengkhianat agar Kiai Sajjad keluar dari persembunyiannya dan pulang ke Annuqayah, kemudian setelah beliau benar-benar pulang, si pengkhianat lalu melaporkan pada Belanda. Na'udzubillah...

Didorong oleh kerinduannya pada pesantren yang diasuhnya, Kiai Sajjad pun pulang ke Annuqayah. Dalam perjalanan, beliau merasakan adanya kedamaian tanpa curiga sedikit pun. Hingga menapakkan kaki di Annuqayah, masyarakat mengelu-elukan kedatangannya. Mereka datang silih berganti, siang dan malam, hanya untuk bertemu dengan beliau.

Setelah mengetahui bahwa Kiai Sajjad berada di Pesantren Annuqayah, maka Belanda langsung merencanakan penangkapan. Satu regu diterjunkan. Mereka bergerak senyap di malam hari menuju Latee. 

Suasana di Latee yang semula penuh haru biru, tiba-tiba berubah menjadi tegang karena kehadiran pasukan loreng Belanda dengan senjata laras panjang. Kiai Sajjad juga terlihat sedikit panik saat mengetahui kehadiran Belanda. Beliau bukannya takut, tapi berpikir kenapa ada Belanda dan bagaimana menyelamatkan masyarakat yang sedang bersama beliau itu? 

Satu pimpinan regu nampak tersenyum ketika melihat Kiai Sajjad. Sambil bergerak maju, ia meminta Kiai Sajjad agar mau dibawa ke Markas Belanda di Kemisan untuk bermusyawarah. Masyarakat berang, mereka paham dengan siasat licik Belanda ini, pasti akan terjadi apa-apa jika beliau sampai bersedia dibawa Belanda. Hal buruk pasti akan menimpa beliau. 

Masyarakat berontak, tapi ditahan oleh Kiai Sajjad. Beliau berusaha menahan dan menjanjikan pada masyarakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Meski dihantui rasa curiga, masyarakat pun rela melepaskan Kiai Sajjad untuk dibawa ke Kemisan. Dengan penuh ksatria, beliau melangkah tanpa meminta pengawalan orang terdekatnya sekalipun. Deru tangis kerabat, handai taulan, dan masyarakat mengiringi kepergian beliau.
 
Dan Darah Itu...
Sesampainya di Kemisan, tepatnya di Kantor Kecamatan sekarang, Kiai Sajjad diinterogasi oleh Belanda. Awalnya Belanda menggunakan cara halus, dengan merayu. Menurut kabar, jika beliau tunduk pada Belanda, maka beliau akan tetap dikukuhkan sebagai kepala desa. Namun beliau tidak mau.
Lalu dengan pongahnya, Belanda menggertak Kiai Sajjad, tapi lagi-lagi beliau tetap tidak bisa ditundukkan. Rupanya beliau tetap bersikeras untuk menentang kehadiran Belanda di Bumi Pertiwi yang nyata-nyata sudah memproklamirkan kemerdekaannya.
 
Karena tidak mempan dengan rayuan dan gertakan, Belanda pun menggunakan cara pamungkas, yakni mengeksekusi Kiai Sajjad. Tanpa rasa gentar sedikit pun, beliau mau menerima konsekuensi sikap nonkooperatifnya itu dengan dua syarat, yakni: Pertama, jika beliau sudah dieksekusi, maka Belanda harus angkat kaki dari Guluk-Guluk. Kedua, beri beliau kesempatan untuk shalat sebelum dieksekusi. Belanda berjanji akan memenuhi kedua permintaan Kiai Sajjad tersebut.
 
Malam itu, suasana di Kemisan benar-benar kaku dan mencekam. Masyarakat tidak ada yang berani keluar rumah dan menampakkan diri karena Belanda memberlakukan Jam Malam. Mereka hanya mengendap-endap di kegelapan malam. 
Kiai Sajjad dibawa ke sebuah tanah lapang. Di tempat yang sudah ditentukan oleh Belanda, Kiai Sajjad melaksanakan shalat sunnah. Beliau shalat dengan sangat khusyu'. Belanda hanya mengawasi dengan seksama. Setelah salam, Kiai Sajjad berdiri dan shalat lagi. Terus begitu sampai beberapa salam. Serdadu Belanda mulai gusar dan tak sabar menunggu shalat yang tak kunjung selesai itu. Merasa dipermainkan, seorang serdadu Belanda mengambil sikap seraya mengokang senjata laras panjangnya. Ia membidik Kiai Sajjad yang sedang shalat. Dan... Dor dor dor...!!! Tiga tembakan senapan menyalak memecah keheningan malam. Darah bersimbah membasahi sekujur tubuh Kiai Sajjad. Tiga butir timah panas menerjang menembus dadanya. Tubuh itupun tersungkur dalam posisi sujud menghadap Sang Ilahi. 
 
Oh... Darah itu...!
 
Demi melepas belenggu Ibu Pertiwi...
Dan masa depan anak-anak negeri...
Sang Syahid itu rela mengorbankan diri...
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un...!
Belanda tersenyum puas melihat jenazah Kiai Sajjad, dan di balik rimbun semak-semak di sana ada beberapa pasang mata yang tersenyum dalam.
Menurut Kiai Rahman, tempat shalat sekaligus tempat eksekusi Kiai Sajjad adalah di sebuah tempat yang sekarang dibangun tugu pahlawan. Setelah wafat, tubuh Kiai Sajjad diseret dan dibuang ke pojok lapangan Kemisan, yang dulu pernah dibangun gardu dari kayu dan bambu.
 
Secara sembunyi-sembunyi, beberapa warga dan pihak keluarga 'mencuri' jenazah Kiai Sajjad untuk kemudian dibawa ke Pesantren Annuqayah. Bau wangi semerbak tercium dari darah Sang Syahid. Sesampainya di Annuqayah, jenazah beliau langsung dishalati di Masjid Annuqayah, Kiai Ilyas bertindak sebagai imam shalat. Lalu jenazah beliau disemayamkan di selatan pesantren. Lahul fatihah...!
Begitulah kisah Sang Syahid yang wafat karena pengkhianatan bangsanya sendiri, bukan karena hebatnya penjajah. Memang, setiap perjuangan akan melahirkan pahlawan sekaligus pengkhianat. Tapi, setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi tersendiri. Terbukti, berkat perjuangan Sang Syahid, kini Annuqayah menjadi pondok pesantren terbesar di Madura. Tak kurang dari 10.000 santri yang menuntut ilmu setiap hari di pesantren ini, mulai dari tingkat TK hingga PT.  
 
Wallahu a'lam bi al-shawab
 
Dirgahayu Republik Indonesia Tercinta...!
Pamekasan, 4 Agustus 2019. 
(Ahmad Fauzan Rofiq)
 
Ahad 28 Juli 2019 3:0 WIB
Abah Anom; Wali Sakti dari Tanah Sunda
Abah Anom; Wali Sakti dari Tanah Sunda
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencimu tangan Abah Anom
Oleh Yanuar Arifin
 
Tokoh wali ini lebih dikenal dengan nama Abah Anom. Dalam bahasa Sunda, Abah Anom berarti "Kiai Muda". Nama aslinya ialah KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin. Ia lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah putra dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), pendiri Pesantren Suryalaya, dan ibu yang bernama Hajjah Juhriyah.

Abah Anom mengawali pendidikan dari ayahnya sendiri, Abah Sepuh yang mengajarinya dasar-dasar ilmu agama. Pendidikan formalnya ditempuh saat ia berusia delapan tahun dengan bersekolah di Sekolah Dasar di Ciamis. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya dengan masuk sekolah tingkat menengah di Ciawi, Tasikmalaya. Sejak tahun 1930, ia nyantri ke beberapa pesantren di Jawa Barat, karena orang tuanya berkeinginan agar Abah Anom kelak dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai pengasuh Pesantren Suryalaya.

Semula Abah Anom nyantri di sebuah pesantren di Cicariang, Cianjur. Kemudian, pindah ke Pesantren Jambudwipa Cianjur selama lebih dari dua tahun. Ia lalu pindah ke Pesantren Gentur Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. Dua tahun kemudian, tepatnya sejak tahun 1935 sampai 1937, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Cireungas, Cimelati, Sukabumi yang saat itu diasuh oleh Ajengan Aceng Mumu, seorang ahli hikmah dan ilmu silat. Di pesantren terakhir inilah, ia mulai mematangkan keilmuannya, tidak hanya di bidang keilmuan Islam, tetapi juga dalam ilmu bela diri dan lain-lain.

Berbekal keilmuannya, Abah Anom memberanikan diri menikahi gadis bernama Euis Siti Ruyanah pada usia 23 tahun. Tak lama kemudian, tepatnya pada tahun 1938, ia berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Kala bermukim di Makkah selama kurang lebih tujuh bulan, ia sangat rajin mengikuti pertemuan bandungan di Masjidil Haram yang disampaikan guru-guru yang berasal dari Makkah dan Mesir. Ia juga aktif mengunjungi Ribat Naqsabandi di Jabal Gubaisy, untuk muzakarah (ngaji) kitab tasawuf karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yakni kitab _Sirr al-Asrar dan Ghaniyyat at-Talibin, kepada Syekh Romli, seorang ulama dari Garut.

Sepulang dari Makkah, Abah Anom ikut serta memimpin Pesantren Suryalaya mendampingi ayahnya. Namun, karena tahun 1939 sampai 1945 merupakan masa-masa menjelang kemerdekaan, ia lebih aktif sebagai pejuang yang turut menjaga keamanan dan ketertiban NKRI. Ketika terjadi gerakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa Barat, ia memutuskan segera bergabung dengan TNI untuk melawan gerakan tersebut. Dengan demikian, pada masa akhir sampai awal kemerdekaan, ia sangat berkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik dari penjajahan bangsa asing maupun dari gerakan makar saudara sebangsa sendiri.

Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya secara penuh ketika ayahnya, Abah Sepuh wafat pada tahun 1956. Ketika itu, DI/TII terus bergerak aktif melakukan perlawanan menentang pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Sukarno. Tidak kurang dari tiga puluh delapan kali Pesantren Suryalaya mendapat teror dari DI/TII, terhitung sejak tahun 1950 sampai 1960. Untuk menghadapi teror dan serangan DI/TII, Abah Anom selaku pemimpin Pesantren Suryalaya selalu menginstruksikan kepada para santri dan pengikutnya untuk memberikan perlawanan secara gigih. Atas kontribusinya tersebut, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah RI.

Abah Anom adalah seorang kiai yang dikenal memiliki karamah berupa kesaktian. Konon, ada banyak kisah yang tersebar mengenai karamah Abah Anom, seperti yang dituliskan di buku-buku latar belakang dan perkembangan Pesantren Suryalaya. Di antaranya, kisah seorang kapten sakti yang ingin menjajal ilmu kesaktian Abah Anom berikut.

Alkisah, pada suatu hari, seorang kapten yang sakti dan beberapa anak buahnya datang berkunjung ke Pesantren Suryalaya. Kapten itu membawa sebuah batu kali sebesar kepalan tangan di kantongnya. Batu itu lantas dikeluarkan dan diletakkan di tangannya. Dengan sekali pukul, sang kapten berhasil membelah batu tersebut menjadi dua. Setelah unjuk kebolehan, kapten itu dengan sombong menyerahkan batu kalinya pada Abah Anom agar si tuan rumah mempertontonkan kemampuannya.

Abah Anom hanya tersenyum seraya menerima batu kali dari tangan si kapten. Batu kali itu segera diremasnya. Secara ajaib, batu kali berubah bentuk menjadi tepung yang halus. Si kapten terbelalak, seolah tidak percaya dengan kesaktian yang dipertontonkan oleh Abah Anom. Bila si kapten hanya mampu membelah batu kali menjadi dua, Abah Anon justru membuatnya menjadi seperti tepung.

Beberapa saat kemudian, Abah Anom meminta segelas air yang di dalamnya terdapat seekor ikan kepada salah seorang santrinya. Gelas air berisi ikan itu kemudian diberikan kepada si kapten. Dengan sikap yang masih sombong, si kapten segera bergaya seperti orang yang memancing. Dengan gayanya itu, ia berhasil membuat ikan di dalam gelas seakan benar-benar terpancing. Si kapten pun kembali menyombongkan kemampuannya di hadapan Abah Anom.

Giliran Abah Anom yang unjuk kebolehan. Ia kemudian memberikan isyarat jari telunjuk, tiba-tiba ikan dalam gelas itu berpindah ke hadapannya. Ikan itu seolah terkait dengan pancingan telunjuknya. Tidak sampai di situ, Abah Anom kembali memperlihatkan kesaktiannya yang lain. Ia memberikan isyarat tangan yang seolah-olah memegang ketapel. Ia lalu mengarahkan tangannya ke langit untuk membidik sesuatu. Dengan sekali bidik, seekor burung tiba-tiba jatuh di hadapannya.

Melihat kesaktian Abah Anom tersebut, si kapten hanya bisa takjub.Ia seolah tidak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Si kapten yang sakti nan sombong itu kemudian bersujud di hadapan Abah Anom, seraya meletakkan lututnya pada lutut Abah Anom. Ia mengaku kalah dan segera meminta maaf akan kesombongannya. Selain itu, ia juga minta ditalqinkan untuk menganut dan mengamalkan tarekat yang dipimpin oleh Abah Anom. Sejak itulah, ia menjadi pengikut ajaran Abah Anom.

Abah Anom wafat pada 5 September 2011. Ia dikenal sebagai wali yang istimewa. Keistimewaannya tentu tidak sekadar karena karamahnya, tetapi lebih-lebih karena ia adalah seorang ulama yang ahli ibadah, dzikir, dan ilmu. Dengan kapasitasnya ini pantas bila ia begitu disegani oleh kalangan ulama di tanah air.
 
Penulis adalah santri Kutub dan editor di Jogjakarta
 
Selasa 23 Juli 2019 21:15 WIB
Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang
Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang
Hj Nur Rohmah (kiri) penerus Pesantren Kemadu, Sulang, Rembang
Bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya, nama Hj Shofiyah Syahid, atau biasa dikenal dengan Ibu Nyai Syahid cukup dienal. Ia adalah istri dari seorang ulama KH Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah, pendiri Pesantren Alhamdulillah, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
 
Setiap acara haul, ribuan santri dari penjuru daerah pasti datang memadati halaman pesantren. Karena area pemakaman Mbah Syahid dan Nyai Shofiah berlokasi di komplek pesantren. Apalagi jumlah santri lulusan pesantren yang di asuh Mbah Syahid, panggilan akrab KH Ahmad Syahid, sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
 
Setiap haul, para ulama besar seperti KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), dan Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tak jarang, para anggota DPRI RI hadir dalam acara rutinan, yang sudah lestari setiap tahun.
 
Dalam beberapa kesempatan KH Yahya Cholil Staquf pernah mengungkapkan ketokohan Hj Shofiyah. Menurut Gus Yahya, almarhumah merupakan sosok wanita hebat yang setia mendampingi Mbah Syahid dalam merintis pondok dan mengajar masyarakat serta santri belajar tentang agama Islam.
 
Gus Yahya mengisahkan, pernikahan Mbah Syahid dengan Nyai Hj Shofiah beda usia. Usia Nyai Shofiah jauh lebih dewasa jika dibandingkan Mbah Syahid.
 
"Nyai Hj Sofiyah wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada Mei 1994. Semasa hidup, beliau sangat total membantu Kiai Syahid mengembangkan pondok," cerita Gus Yahya dihadapan ribuan hadirin haul Nyai Hj Shofiah.
 
Saat Mbah Syahid dikhitan di usia kanak-kanak, Mbah Shofiyah sebagai tetangga bersama wanita dewasa lainnya sudah ikut membantu orang tua Mbah Syahid mempersiapkan masakan untuk kondangan. Hal itu menunjukkan perbedaan usia antara keduanya.
 
Namun diperjalanan keduanya dipertemukan sebagai sepasang suami istri, dan belakangan menjadi dua orang pengasuh pesantren yang diberi nama Ponpes Alhamdulillah. Dalam perjalanannya, Mbah Syahid sangat menghormati sang istri, begitu juga sebaliknya.
 
Nyai Shofiyah bisa dikatakan perempuan sangat hebat karena rela berkorban untuk mendukung kiprah sang suami merintis sebuah lembaga pendidikan yang bernama pondok pesantren.
 
Dikatakan Gus Yahya, pernah suatu ketika Kiai Syahid berkata "Orang-orang itu salah sangka, dikiranya aku ini keramat. Padahal yang punya keramat itu sebenarnya ya Nyai (Mbah Shofiyah red). Aku bisa begini ini karena Nyai. Kalau bukan karena dia, mustahil aku bisa istiqamah," cerita Gus Yahya menirukan Kiai Syahid.
 
Hj Shofiyah Syahid merupakan sosok pertama yang mendampingi KH Ahmad Syahid. Sepeninggal Nyai Shofiyah, Kiai Syahid menikah dengan Nyai Hj Nur Rohmah Syahid dan dikaruniai dua orang putra yakni Rabbi' Lutfi (Gus Obi') dan Safiqoh Samiyah (Neng Sa).
 
Sepintas, tidak ada bedanya peringatan haul yang digelar oleh keluarga besar Pesantren Alhamdulillah, dengan hal yang digelar di pondok yang lain. Namun jika ditelusuri lebih mendalam, ada kekhasan yang menjadi kebiasaan yang sudah turun – temurun semasa Hj Shofiyah Syahiddan KH Ahmad Syahid semasa hidupnya.
 
Kebiasaan ini masih diteruskan oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid, sebagai penerus pesantren. Di pesantren ini sangat memuliakan tamu, dengan jamuan khasnya. Ternyata jamuan tersebut biasa dilakukan sejak zaman pesantren itu berdiri. Salah satu jamuan yang di kangeni para tamu adalah nasi jagung, yang dipadukan dengan nasi beras, lengkap dengan lalapan serta sayur dan ikan. Seluruh makanan yang disajikan di pesantren sebagian besar merupakan hasil pertanian yang digarap para santri dan pengurus pondok.
 
Bagi masyarakat Desa Kemadu Kecamatan Sulang saat itu, Nyai Shofiyah tergolong kaya raya. Kebun dan sawahnya luas. Nyai Shofiyah mewakafkan lahan untuk membangun pesantren bagi Kiai Syahid, suaminya.
 
Singkat kata, dengan dukungan Nyai Shofiyah, Mbah Syahid bisa fokus dan istikamah mengajar santri dan masyarakat, tanpa harus terbebani urusan ekonomi keluarga. Tak hanya itu, Nyai Shofiyah juga merelakan hasil panen pertaniannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
 
Pondok Kemadu sendiri didirikan sekitar tahun 1950 - an oleh KH Ahmad Syahid bin Sholikhun bersama istri pertamanya, Nyai Shofiyah. Pondok ini terletak di Jalan Rembang - Blora KM 14, tepatnya di Desa Kemadu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang.
 
Tepat pada hari Jumat, 3 September 2004, Kiai Syahid wafat pada usia 78 tahun. Kiai Syahid dimakamkan di sebelah pusara istri pertamanya, Nyai Shofiyah yang berada di komplek pondok.
 
Sepeninggal Kiai Syahid, Pondok Kemadu diasuh dan dipimpin oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid. Saat itu, Gus Obi' dan Neng Sa masih kecil. Saat ini, Gus Obi' masih mondok di sebuah pesantren ternama di Pare. Ia juga tengah menyelesaikan studi S-1 di sebuah perguruan tinggi ternama di Malang.
 
Usai merampungkan studinya, Gus Obi' berencana membantu ummi panggilan Gus Obi' kepada Nyai Hj Nur Rohmah 'nggulowentah' santri-santri di Pesantren Kemadu melanjutkan perjuangan sang ayah, Kiai Syahid. (Ahmad Asmui)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG