IMG-LOGO
Daerah

Tiga Kotoran Hati Ini Harus Dibersihkan

Jumat 16 Agustus 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Tiga Kotoran Hati Ini Harus Dibersihkan
Rais Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto, KH Husein Ilyas

Jombang, NU Online

Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, KH Husein Ilyas menyebut ada tiga kotoran hati yang seringkali dimiliki oleh kebanyakan orang.

 

Kotoran hati yang dimaksud, pertama adalah musyrik kepada Allah SWT. Syirik tergolong dosa yang sangat besar. Karenanya, manusia harus berupaya semaksimal mungkin untuk menjauhkan diri dari syirik, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

 

"Kotoran yang ini wajib dibersihkan. Caranya, tiada lain kecuali berhenti menyekutukan Allah. Allah Maha Satu," katanya kepada NU Online di Jombang, Kamis (15/8).

 

Kedua, sombong. Sifat ini sering hinggap di hati manusia. Sombong merupakan sifat iblis atau syetan. Manusia yang mempunyai akal dan hati tak sewajarnya memiliki sifat ini. Orang yang sombong disenangi syetan tapi dimusuhi manusia.

 

"Sombong itu warisannya iblis. Jangan jadi pewaris iblis," ujar kiai yang kerap disapa Husein ini.

 

Menurutbya, sifat sombong mengancam keselamatan manusia saat di akhirat kelak. Mengutip Sabda Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan setiap orang yang masih memiliki sifat sombong tak akan mencicipi nikmatnya Surga.

 

"Bahayanya sombong, Kanjeng Nabi Muhammad dawuh tidak mungkin masuk Surga orang yang dalam hatinya terdapat rasa sombong," ungkapnya.

 

Sombong pada hakikatnya adalah sifat atau sikap menolak kebenaran sekaligus meremehkan orang lain. Sifat ini tentu tidak etis dimiliki manusia. Pasalnya, sesama manusia akan senantiasa berinteraksi.

 

Kotoran hati yang ketiga adalah sifat iri. Iri merupakan penyakit hati yang didasari oleh ketidaksenangan melihat orang lain senang, tapi senang melihat orang lain susah. Sehingga orang yang punya penyakit iri, hatinya selalu tersiksa.

 

“Penyakit ini juga harus dibersihkan. Caranya lapangkan dada,” ucap kiai yang juga penceramah ini.

 

Meski begitu, manusia yang hatinya sudah bersih lantaran selalu dibersihkan, sehingga tiga kotoran hati sebagaimana yang disebutkan di atas hilang, menurutnya masih belum cukup. Hati yang sudah bersih harus dihiasi dengan ilmu karena ilmu adalah cahaya. Kemudian juga harus dihiasi dengan sabar dan istiqamah melakukan kebaikan-kebaikan.

 

Dawuh-nya Mbah Moen kepada saya, Gus, hati ini kalau sudah bersih jangan berhenti di situ, namun harus ditingkatkan ke tahalli. Artinya hati yang sudah bersih itu tandurono (tanami) perhiasan-perhiasan. Hati kalau tidak dihiasi tidak bisa berkembang," pungkasnya.

 

Kontributor: Syamsul Arifin

Editor        : Aryudi AR

 

Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 16 Agustus 2019 23:30 WIB
Mahasiswa IAIN Pontianak Ajak Santri Nonton Film Kebangsaan 
Mahasiswa IAIN Pontianak Ajak Santri Nonton Film Kebangsaan 
Nonton film di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Madusari, Sui Raya, Kubu Raya.
Kubu Raya, NU Online
Sejumlah kegiatan dilakukan kalangan masyarakat demi memperingati kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Hal itu pula dilakukan santri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Madusari, Kecamatan Sui Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
 
Mereka antusias nonton bareng film kebangsaan yang berjudul Jendral Sudirman.
Kegiatan ini atas inisiatif mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Pontianak yang sedang menggelar Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Integratif kelompok 55. 
 
“Kegiatan ini selain persiapan HUT ke-74 RI yang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, malam menuju hari kemerdekaan dikonsep dengan agenda nonton bareng atau nobar,” kata Rohim, Jumat (16/8). 
 
Menurutnya, kegiatan demi mengenang sejarah sejumlah pahlawan. “Dalam perjalanannya, Indonesia dapat merdeka karena kiprah para pahlawan termasuk ulama, kiai dan santri. Dan selanjutnya para santri saat ini harus memiliki semangat nasionalisme sebagai generasi bangsa selanjutnya,” ungkap salah seorang panitia kegiatan ini.
 
Dirinya juga menyatakan bahwa film yang diputar telah melalui pertimbangan dari berbagai kalangan. "Kami sengaja memilih film ini untuk menumbuhkan semangat nasionalisme menyambut HUT RI,” jelasnya. Film tersebut juga menarik untuk ditonton karena alur ceritanya selain action, juga lucu, lanjutnya.
 
Aksi menegangkan dalam film menimbulkan ekspersi unik dari santri yang menonton, gelak tawa pun kadang pecah di ruangan menambah keseruan film yang berlangsung selama satu jam lebih.
 
Apa yang dilakukan mahasiswa ini disambut baik pihak pesantren. Bahkan usai nonton film juga dilakukan pemberikan motivasi sebagai upaya menumbuhkan semangat nasionalisme.
 
Ustadz Mursaha mengemukakan  bahwa apa yang dilakukan mahasiswa KKN Integratif sebagai ikhtiar yang layak diapresiasi. “Alhamdulillah agenda mahasiswa ini sangat baik dan positif untuk santri di yayasan ini," ujar ustadz yang juga ketua yayasan.
 
Diharapkan santri akan terus mendapatkan asupan yang bermanfaat sebagai bekal untuk mengisi masa depan. “Karena itu, kami akan selalu memberikan support atas segala kegiatan demi masa depan santri,” pungkasnya. (Lina/Ibnu Nawawi)
Jumat 16 Agustus 2019 23:15 WIB
Media Sosial Bisa Tekan Angka Kekerasan terhadap Perempuan
Media Sosial Bisa Tekan Angka Kekerasan terhadap Perempuan
Pegiat literasi media sosial yang juga salah satu Redaktur NU Online, Ahmad Rozali saat menjadi pembicara dalam Seminar dan Pembukaan Sekolah Kader Kopri Kopres PMII Puteri Cabang Jakarta Timur di Wisma Tanah Air, Cawang, Jakarta Timur.

Jakarta, NU Online

Pegiat literasi media sosial yang juga salah satu Redaktur NU Online, Ahmad Rozali mengajak kaum perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menggunakan media sosial sebagai upaya mereduksi angka kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, hal itu penting dilakukan dengan harapan dapat menekan angka kekerasan yang kerap mendera kaum hawa.

 

“Media sosial dan media online bisa digunakan untuk mereduksi kekerasan pada perempuan. Karena penggunanya yang tinggi, maka harus digunakan untuk kebaikan, termasuk untuk menekan angka kekerasan pada perempuan,” katanya saat menjadi pembicara dalam Seminar dan Pembukaan Sekolah Kader Kopri Kopres PMII Puteri Cabang Jakarta Timur di Wisma Tanah Air, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (16/8).

 

Ia menambahkan, perkembangan tekhnologi yang begitu pesat harus dimanfaatkan seoptimal mungkin, diantaranya sebagai kampanye anti kekerasan seksual. Kelompok perempuan PMII dinilai tepat untuk mengawali gerakan itu. Sebab, jutaan kader perempuan PMII hampir rata menggunakan media sosial.

 

“Pertama yang bisa dilakukan seperti mengkampanyekan hak dan kewajiban warga negara (perempuan) melalui Youtube,” lanjutnya.

 

Selain itu, perempuan PMII juga perlu mengkampanyekan penegakan terhadap kasus-kasus kekerasan yang menimpa perempuan, seperti yang terjadi belakangan, kasus Baiq Nuril. Pemberian Amnesty Presiden Joko Widodo kepada Baiq Nuril bukan sesuatu yang tiba-tiba, namun ada pengaruh dan peran masyarakat, salah satunya kampanye di media sosial yang gencar dilakukan aktifis perempuan.

 

“Dengan begitu kita bisa berkontribusi dalam memberikan pemahaman dan kontribusi di masyarakat tentang anti kekerasan seksual di Medsos, juga bisa mengajak pemerintah untuk melakukan penegakan hukum,”tuturnya.

 
Ia berharap agar Kopri sebagai lembaga perempuan di PMII harus terlibat penuh dalam kampanye anti kekerasan di media sosial. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh PMII, namun juga akan banyak manfaat yang akan dirasakan masyarakat secara langsung.

 

Seminar yang bertajuk Peran Media Terhadap Penekanan Angka Kekerasan pada Perempuan tersebut diikuti oleh puluhan anggota perempuan PMII se-Jakarta Timur.

 

Kontributor: Rahman Ahdori

Editor: Aryudi AR

Jumat 16 Agustus 2019 20:0 WIB
Pelajar SMA Cianjur Sambut HUT RI dengan Tahlilan di Makam Pahlawan
Pelajar SMA Cianjur Sambut HUT RI dengan Tahlilan di Makam Pahlawan
Siswa SMA PGRI Takokak Cianjur berziarah ke Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu Kecamatan Takokak
Cianjur, NU Online
Acara Tahlilan atau Yasinan lazimnya akrab dengan para santri di pesantren atau siswa-siswi di madrasah. Tapi, tidak demikian halnya dengan siswa-siswi di SMA PGRI Takokak Cianjur (SMAPTa). Setiap Jumat pagi, mereka rutin menggelar acara tersebut. Biasanya, usai menunaikan shalat dhuha bersama.
 
Namun, ada yang berbeda dengan Jumat (16/8/2019) sehari sebelum hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Mereka menggelarnya di Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu Kecamatan Takokak Cianjur, Jawa Barat, yang jaraknya kurang lebih dua kilometer dari sekolah.  
 
“Tujuan ziarah sendiri adalah mengajak siswa-siswi mengenang jasa para pahlawan, sekaligus mendoakan arwah mereka, semoga ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah,” tutur Ustadzah Rini Puspa Rahayu guru PAI SMAPTa.       
 
Ditemui secara terpisah M. Rani Patty, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMAPTa juga menjelaskan tentang pentingnya generasi penerus bangsa menghormati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan yang sudah berdarah-darah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
 
“Bentuk penghormatannya tentu bermacam-macam, yah. Yang paling sederhana buat kita di lingkungan sekolah adalah dengan cara berziarah ke makam mereka yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari sekolah kita, membersihkan rumput-rumput liarnya di sana, mendoakan, mengenang, dan seterusnya,” ujarnya.
 
Menurutnya, perjuangan para pahlawan itu belum usai sehingga harus dilanjutkan sesuai dengan tuntutan zaman, kemampuan, dan kapasitas masing-masing orang. Sekolah bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi terpelajar yang membanggakan, berprestasi, kompetitif, dan berakhlak mulia.
 
“Saya yakin, apa yang kami lakukan ini menjadi hadiah bagi para pahlawan yang gugur di medan perang, juga bermanfaat untuk menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, dan sikap kepahlawanan siswa. Itulah sebagian nilai yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak di sekolah kami,” imbuh M. Rani kepada awak media.
 
Acara yang dipimpin oleh guru-guru PAI pun berlangsung khidmat. Di penghujung doanya, Ustadz Wijaya menyampaikan, “Semoga doa yang kami panjatkan bersama anak-anak kami ini diterima Allah dan keberkahannya dilimpahkan kepada arwah para pejuang yang sudah di alam baqa. Terima kasih para pahlawan! Atas perjuangan kalian, kami menghirup udara kemerdekaan. Selamat beristirahat, semoga tenang di sisi-Nya.”   
 
Sebagaimana dilansir arsipindonesia.com, di Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu sendiri terdapat 71 nisan putih berbaris di atas tanah tinggi yang banyak ditumbuhi pepohonan rasamala. Tak seperti kuburan pada umumnya, nisan-nisan putih itu sama sekali tak bertuliskan apa-apa. Polos begitu saja.  
 
Deretan nisan itu merupakan makam para pejuang perang yang dibantai kaum penjajah Belanda saat memasuki wilayah Takokak, Cianjur selatan. Pada awalnya, tulang-tulang mereka berserak begitu saja di hutan-hutan, rimbunan pepohonan, dan jurang-jurang curam yang ada di kaki Gunung Malang, Puncak Bungah, Pasir Tulang, Ciwangi, dan sekitarnya. 
 
Namun atas inisiatif para veteran Siliwangi setempat dan kemurahan hati para penduduk Takokak, pada tahun 1985 tulang-tulang dan kerangka para pejuang yang tak dikenal itu dikumpulkan lalu dipindahkan ke sebuah lahan milik Dinas Kehutanan di Desa Pasawahan. Warga setempat kemudian menyebutnya dengan Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu.        
 
Belakangan, melihat besarnya potensi wisata alam dan indahnya kawasan Taman Makam Pahlawan ini, Pemda Cianjur tak tinggal diam. Pada awal 2019, ia menyulapnya menjadi tempat wisata alam yang asri dan sejuk, serta selalu ramai dikunjungi para wisatawan yang hendak melepas penat, terutama di akhir pekan. Tak heran jika tempat yang semula sepi ini, sekarang menjadi kawasan indah, teduh, dan asyik untuk bersantai bersama keluarga. (Red: Mahbib)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG