IMG-LOGO
Opini

Kosmopolitanisme Kepemimpinan Umar bin Khattab

Kamis 10 Oktober 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Kosmopolitanisme Kepemimpinan Umar bin Khattab
Ilustrasi Umar bin Khattab. (NU Online)
Oleh Fathoni Ahmad
 
Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam dihadapkan pada kepemimpinan para sahabat terdekatnya. Melalui musyawarah mufakat yang sangat demokratis, umat Islam melalui sistem yang disebut Ahlul Halli wal Aqdi secara berturut-turut mengangkat dan membaiat Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Era tersebut dinamakan Khulafaur Rasyidin.
 
Era Khulafaur Rasyidin bisa dikatakan sebagai era di mana berakhirnya sistem bermusyawarah mufakat (syura) dalam sebuah pemerintahan Islam. Karena era selanjutnya yang berlaku ialah sistem dinasti. Meskipun demikian, era dinasti tidak melepaskan diri dari teladan-teladan yang diberikan oleh kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dalam memandang kemajemukan bangsa yang tidak hanya diisi oleh umat Islam. Apalagi kala itu ekspansi wilayah Islam semakin luas sehingga memerlukan pengorganisasian wilayah baru.
 
Pengorganisasian wilayah pendudukan baru yang begitu luas dan penerapan ketentuan masyarakat Arab yang primitif yang belum dikodifikasi terhadap masyarakat kosmopolitan yang hidup dalam berbagai kondisi, menjadi tugas berat yang harus dihadapi oleh pemimpin Muslim.

Realitas kosmopolit tersebut disadari oleh Umar bin Khattab. Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2014) mencatat, Umar bin Khattab adalah orang pertama yang menyadari persoalan tersebut. Dalam berbagai riwayat, Umar ditampilkan sebagai penguasa yang berhasil mengatasi persoalan realitas kosmopolit tersebut. Sehingga ia dipandang sebagai pendiri kedua teokrasi Islam—sejenis utopia Islam—yang ditakdirkan tidak berusia lama. 
 
Tentu saja teladan tersebut didapat Umar dari Nabi Muhammad SAW ketika mendirikan negara yang berdasarkan kesepakatan bangsa-bangsa (Darul Mitsaq) ketika hijrah ke Madinah. Negara yang didirikan Rasulullah tersebut mendasarkan diri pada konsensus kebangsaan bernama Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah). Sebuah Undang-Undang yang mengatur kehidupan warga negara Madinah yang plural dan kosmopolit.

Inklusivitas atau keterbukaan, toleransi, dan kosmopolitanisme Umar bin Khattab diakui oleh Sejarawan Muslim terkemuka Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab (2016). Ia memberikan kesaksian tentang sosok Umar. Husain Haekal berkata: “dialah Umar ibn al-Khaththâb, lelaki agung yang namanya semerbak harum dalam sejarah besar umat Muhammad. Umar  adalah sahabat Rasulullah yang paling cemerlang, sang inspirator umat Islam, hamba yang takwa kepada Rabb-nya. 

Dialah Umar, hawâri Rasul terdekat, orang terpercaya, sekaligus penasihat utamanya. Selepas Rasulullah wafat, Umar adalah pengganti kedudukan beliau yang kedua, setelah Abu Bakar, dan menjadi khalifah Islam terbesar sepanjang sejarah.

Umar adalah sosok besar yang menatah sejarah besar. Di tangan seorang khalifah Umar, Islam telah menjelma ‘imperium’ adiluhung dalam tempo waktu yang tak lebih dari sepuluh tahun, yang mampu menaklukkan negeri-negeri legendaris, meruntuhkan imperium agung Persia, juga mengguncang keberadaan imperium adiluhung Byzantium. Islam pun pada akhirnya memiliki wilayah kekuasaan yang membentang luas mulai dari Cerynecia (Tripoliana), Mesir, Nubia, Levantina atau Mediterania Timur (Syam; sekarang wilayahnya meliputi Syria, Lebanon, Yordania, dan Palestina), Anatolia, hingga Persia. 

Sebab itulah, sosok Umar kerap disebut sebagai seorang ‘Kaisar’ yang setara dengan Alexander Agung—Kaisar Macedonia, dan Cyrus the Great—Kisra Persia, dua emperor besar dunia pada zamannya, yang kebesaran serta kekuasaannya malang melintang di seantero jagat.

Namun demikian, jangan pernah membayangkan jika kehidupan Umar layaknya para Kaisar pada umumnya—sebuah potret kehidupan yang berlimpah ruah sebagaimana yang diceritakan oleh epik-epik. Umar tetap hidup sederhana dan bersahaja: ketika takwa adalah cita-cita utamanya, ketika Allah jauh lebih ia cintai dari segala isi dunia, ketika Rasulullah adalah teladan abadinya, dan ketika kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat banyak adalah impiannya. 

Hati dan akhlak Umar jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Umar lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang ‘Kaisar’, seorang emperor yang jauh melebihi tahta seorang presiden, yang makanannya adalah roti juwawut beroles minyak zaitun, minumnya hanya air putih, ranjang tidurnya adalah alas tikar, pakaiannya penuh dengan jahitan karena robek dan tercabik di banyak tempat, dan mahkotanya adalah serban yang sudah lusuh. 

Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang kaisar agung yang tidak memiliki ajudan seorang pun, tidak memiliki harta yang melimpah ruah sedikit pun, karena Umar men-tasaruf-kan semua gajinya untuk rakyat-rakyatnya. 
 
 
Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
 
--------------
Artikel ini diterbitkan kerja sama antara NU Online dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo 
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 10 Oktober 2019 15:30 WIB
Joker dan Kebencian yang Menjalar
Joker dan Kebencian yang Menjalar
Joker adalah film besutan Todd Philips yang menghadirkaan Joaquin Phoenix sebagai karakter utama.Joker adalah karakter villain, ikonik dari DC Comics. (Foto: Instagram/Dusygrave)
Oleh Muhammad Daniel Fahmi Rizal
 
Publik sempat terhenyak saat Joker muncul pertama di layar bioskop awal bulan ini. Film besutan Todd Philips yang menghadirkaan Joaquin Phoenix sebagai karakter utama mampu diperankan dengan luar biasa. Joker adalah karakter villain, ikonik dari DC Comics. Seringkali karakter ini menjadi antitesis dari Batman, pahlawan andalan DC Comics. Namun, Joker kali ini dibikin menjadi karakter yang mandiri. Phillips mengatakan bahwa Joker versinya tidak seperti Joker yang sebelumnya hadir dalam komik-komik. Lebih penting lagi, Joker versi Phillips bukanlah karakter yang terikat dengan DC Extended Universe alias semesta film superhero DC. Ini membuat film Joker muncul tanpa ada beban keterikatan dengan film-film lain.

Film Joker menceritakan kisah hidup sosok Arthur Fleck. Fleck adalah lelaki yang penuh dengan beban hidup. Dia menderita pseudobulbar affect (PBA), gejala yang membuat dirinya tidak bisa mengontrol ekspresi tawa. Di momen-momen yang tidak menyenangkan pun, Fleck bisa tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan sampai harus mencekat tenggorokannya agar tawanya berhenti. Ke mana-mana Fleck juga membawa kartu yang berisi pesan bahwa dia menderita kelainan.

Hidup Fleck begitu merana. Dia tinggal di kota Gotham yang sarat dengan kriminalitas, kemelaratan, ketimpangan sosial, dan wabah penyakit. Fleck mengalami masalah dengan tempatnya bekerja. Masyarakat di tempatnya tinggal tidak bersahabat. Fleck juga mengalami masalah mental membuatnya harus rutin berkonsultasi kepada dokter. Di tengah berbagai beban hidup pribadinya, dia juga harus mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan.

Fleck ingin sekali menjadi komedian tunggal. Namun, dia tidak bisa membuat materi komedi dengan baik. Buku hariannya penuh dengan coretan liar, yang terkadang isinya begitu sadis dan destruktif tanpa ada sisi komikal sama sekali. Obsesinya ingin tampil di acara The Murray Show. Tidak hanya tampil, Fleck juga menyimpan keinginan untuk disayang dan dianggap anak oleh pembawa acara pertunjukan, Murray Franklin. Keinginannya ini bahkan sampai menimbulkan waham dan delusi, figur Franklin tengah memeluknya dengan hangat.

Di antara semua kemalangan yang menimpanya, ibu Fleck berpesan kepada anaknya untuk tersenyum dan selalu memasang wajah bahagia. Sebuah ironi tersaji di tengah hidup Fleck yang penuh kemalangan.

Kehidupan Fleck berubah saat dia dirundung oleh tiga orang dengan setelan jas di gerbong kereta. Saat baru saja dipecat atasannya, Fleck dengan dandanan badut yang masih menempel naik ke dalam kereta. Gejala tawanya kumat. Tiga orang berjas merasa terganggu dengan Fleck. Mereka kemudian menghajar Fleck sampai terkapar. Fleck yang terjepit kemudian melepaskan pelatuk dari pistol yang sudah seharian dia sembunyikan. Ketiga orang yang menyerang Fleck segera meregang nyawa.

Konflik dengan orang-orang berjas tadi menimbulkan efek domino. Masyarakat kelas bawah Gotham menganggap Fleck sebagai simbol perlawanan terhadap orang-orang kaya. Orang-orang menganggap Fleck mewakili keresahan mereka. Padahal, Fleck hanyalah orang malang yang tidak sengaja berselisih dengan tiga orang tadi. Orang-orang ramai memasang topeng badut dan memprotes mereka yang berkerah, dan duduk manis di rumah mewah. Gotham menjadi kaos dan konflik horisontal terjadi.

Masalah hidup Fleck bertambah parah saat dia mengetahui kisah masa lalu ibunya. Momen itu menjadi titik balik Fleck untuk bertindak ekstrim. Fleck yang memendam segunung dendam menjelma menjadi Joker.

Wacana Rundung yang Bergaung
 
Menurut saya, salah satu momen yang menyenangkan dalam pertunjukkan film adalah diskusi yang muncul setelah film tayang. Di sosial media, ramai orang memperbincangkan Joker. Ada yang menganggap film Joker bisa memberikan pengaruh buruk terhadap penonton. Ada pula yang ramai memperbincangkan “orang jahat terlahir dari orang baik yang disakiti”. Ada juga yang fokus menyalahkan Fleck yang gagal beradaptasi dengan lingkungannya. Ada juga yang lebih concern terhadap isu mental illness. Beberapa bahkan mengaitkan Joker dengan pengalaman pribadi yang mereka punya. Bagi saya, diskusi ini penting dan menarik untuk disimak.

Dari sekian banyak isu yang dibicarakan, saya tertarik pada isu bullying yang direpresentasikan oleh karakter Fleck. Fleck yang mengalami depresi serta schizofrenia tidak mendapat perlakuan baik dari lingkungan hidupnya. Film bahkan dibuka dengan adegan Fleck yang dirundung pemuda-pemuda tanggung di jalanan. Alat kerjanya diambil. Dia dipermainkan, dipukul, bahkan ditendang bertubi-tubi oleh para pemuda itu. Kepala perusahaan tempat Fleck bekerja juga tidak memperlakukannya dengan baik. Rekan kerjanya bahkan menjebak Fleck agar mendapatkan citra buruk. Belum lagi sikap tidak menyenangkan dari Thomas Wayne, figur yang digadang baik hati oleh ibu Fleck. Ditambah lagi orang-orang berjas yang memukuli Fleck di kereta serta polisi yang terus-terusan menguntitnya, tekanan hidup Fleck seakan tidak habis.

Perundungan adalah aksi yang sangat berbahaya. Efeknya tidak hanya dirasakan mereka yang disiksa, tapi juga para penyiksa. Dilansir dari stopbullying.gov, anak kecil yang dirundung bisa menderita gejala depresi, ketakutan berlebihan, terus-terusan merasa sedih dan sepi, siklus hidup kacau, dan kehilangan daya hidup. Gejala ini bahkan bisa terus berlangsung sampai dewasa. Efek paling ekstrim, korban perundungan bisa saja mengakhiri hidupnya sendiri!

Semakin lama ditekan, korban perundungan akan melakukan pemberontakan. Bisa jadi dia berontak ke dalam, bisa jadi berontaknya keluar. Berontak ke dalam bisa dilakukan dengan melukai dirinya sendiri. Di titik puncak bahkan bisa bunuh diri. Berontak keluar bisa dilakukan dengan melukai orang lain.

Contohnya sudah banyak. Di Amerika, beberapa kali terjadi aksi siswa sekolah melepaskan tembakan beruntun ke murid-murid lain. Usut punya usut, si pelaku penembakan sebelumnya di-bully oleh teman-temannya. Maka dari itu, isu perundungan mendapat perhatian banyak dari pemerintah Amerika Serikat.

Joker membuat saya terpelatuk akan bahaya perundungan. Gambaran yang disajikan Phillips bersama timnya begitu menakutkan. Fleck yang sepanjang film terlihat lemah, di akhir cerita bisa menjadi liar dan bengis. Isu bullying yang masih kerap terjadi, ditambah kejadian-kejadian miris yang mengiringi, membuat saya terasa terhubung dengan film Joker. 

Merundung karena Berbeda

Saat mulai memikirkan tulisan tentang Joker, tiba-tiba pikiran saya terlempar di tahun 2016. Ketika itu, saya ikut sebuah acara perkumpulan pemuda antarumat beragama. Acara ini dihelat di Bogor, Jawa Barat. Berbagai anak muda dengan latar belakang suku dan agama hadir di sini. Selama dua hari, kami diajak menyimak materi tentang toleransi dan bahaya radikalisme. Kami juga diajak memikirkan strategi untuk menangkal kebencian yang tidak ada habis-habisnya muncul di Indonesia.

Di acara tersebut, saya berkenalan dengan pemuda asal Bandung. Sebut saja namanya Fulan. Orangnya sedikit bicara dan terlihat pemalu. Si Fulan ini menganut kepercayaan Baha’i. Kepercayaan yang dia serta orang tuanya pilih berbeda dengan kepercayaan yang dianut keluarga besarnya.

Fulan bercerita, karena pilihan kepercayaan ini, dia beserta orang tuanya mengalami konflik dengan keluarga besarnya. Mereka dipandang sebelah mata, dijauhi, bahkan disisihkan dari rumahnya karena memilih jalan yang berbeda. Keluarganya menganggap mereka aib. Fulan yang ketika itu masih kecil menerima perlakuan yang begitu menyesakkan, diusir dan dianggap asing oleh orang-orang yang memiliki pertalian darah dengannya.

Namun, Fulan yang ada di depan mata saya saat itu tidak tampak seperti orang yang menyimpan dendam. Dengan kehadirannya di forum antarumat beragama, saya melihat upaya Fulan untuk berdamai dengan masa lalunya. Dia tidak antipati terhadap orang lain yang memiliki kepercayaan sama dengan keluarga yang mengusirnya. Bahwa apa yang menimpanya bukanlah kesalahan dari ajaran agama lain. Dia percaya bahwa semua agama mengajarkan perdamaian. Dia yakin, hidup selaras dengan mereka yang berbeda bisa dan harus dilakukan.

Saya kembali berpikir. Memang benar, ada yang salah dengan saudara-saudara seiman saya. Banyak di antara mereka yang dengan sadar membangun jarak yang lebar kepada siapa saja yang tidak sepaham. Ucapan semacam kafir, munafiq, fasiq, najis, ahli neraka, kerap telontar dari mulut dan jari saudara-saudara seiman saya.

Saya teringat Fulan, dan di waktu yang hampir bersamaan terngiang Joker. Apakah banyak orang yang berbesar hati seperti Fulan? Memaafkan orang-orang yang merundungnya, dan memilih untuk berdamai dengan mereka. Atau, malah lebih banyak orang yang seperti Joker? Menyimpan dendam dan benci terhadap orang yang menjatuhkannya.

Joker menyadarkan saya akan bahaya besar perundungan. Fulan menunjukkan saya manfaat besar memaafkan. Sekarang tinggal memilih yang mana, mau menjadi Fulan atau Joker?
 
 
Penulis adalah Santri dan Penikmat Budaya Pop.
 
--------------
Artikel ini diterbitkan kerja sama antara NU Online dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo 
Rabu 9 Oktober 2019 22:0 WIB
Cinta Indonesia sebagai Bagian Keimanan Seorang Muslim
Cinta Indonesia sebagai Bagian Keimanan Seorang Muslim
null
Oleh Fathoni Ahmad
 
Cinta terhadap tanah air Indonesia bukan cinta yang buta, tetapi cinta yang dilandasi dasar agama. Sebagaimana maqolah yang dikatakan oleh KH Hasyim Asy’ari, “Cinta negara merupakan bagian dari pada iman” (Hubbul Waton Minal Iman).
 
Spirit inilah yang membawa para ulama Islam di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, menjaga kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Bahkan, Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menyatakan dengan tegas bahwa membela Tanah Air merupakan kewajiban agama.
 
Dalam menjaga NKRI tersebut, NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan) bukan ‘penjaga biasa’. KH Achmad Siddiq, seorang ulama yang telah merumuskan naskah Hubungan Pancasila dan Islam menegaskan bahwa NU bertugas memperkuat dan merajut berbagai elemen bangsa untuk menyadari bahwa cinta tanah air merupakan salah satu upaya aktualisasi nyata keimanan seseorang. Sehingga cinta tanah air berlaku untuk seluruh kaum beragama di Indonesia.
 
Kiai Achmad Siddiq sendiri yang sejak muda telah terlibat dalam perjuangan NU juga turut membidani penyusunan Pancasila. Sehingga beliau memahami betul proses ‘Khittah 1926’ dengan menuliskan Khittah Nahdliyyah, risalah penting untuk memahami Khittah NU dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dengan menyusun deklarasi hubungan Pancasila dengan Islam, dengan bantuan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan kawan-kawan, termasuk KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).
 
Setidaknya ada beberapa alasan mendasar NU membahas Pancasila ke forum tertinggi organisasi di level Muktamar. Dasar bahwa Pancasila mampu mempersatukan seluruh bangsa tidak cukup bagi sejumlah ormas Islam di Indonesia kala itu. Meskipun NU sendiri tidak pernah mempersoalkan keberadaan Pancasila karena dirancang sendiri secara teologis maupun filosofis oleh KH Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur.
 
Tentu menjelaskan hubungan Islam dan Pancasila tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena jika hal ini berhasil dilakukan NU, ormas Islam di Indonesia merasa terbantu menjelaskan hubungan keduanya dengan dasar yang syar’i. Sebab itu, Pancasila dengan lima sila-nya sebagai dasar berbangsa dan bernegara harus juga dijelaskan keselarasannya dengan pondasi agama Islam oleh organisasi keagamaan sekaliber NU.
 
Riwayat ketika Gus Dur memutuskan bahwa Pancasila itu Islami dan final diceritakan oleh Gus Mus (Lihat, KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015). Bahkan, Gus Mus sendiri merupakan pelaku sejarah dalam perumusan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dalam Muktamar NU 1984 tersebut. Dia salah satu kiai yang ditunjuk oleh Gus Dur untuk menjadi anggota dalam tim perumusan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila.
 
Kala itu, Gus Dur sendiri yang memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Upaya itulah yang hingga saat ini menjadikan NU sebagai civil society dengan peran kebangsaan tanpa melibatkan diri dalam politik praktis.
 
Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang menjadi asas bangsa Indonesia. Deklarasi hubungan Islam dan Pancasila dalam pandangan Kiai Achmad Siddiq bukan berarti menyejajarkan Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Karena hal itu dapat merendahkan Islam dengan ideologi atau isme-isme tertentu. Problem ini seiring dengan isu yang berkembang di kalangan umat Islam saat itu.
 
Dorongan yang dilakukan NU mendapatkan perlawanan dari sejumlah pihak yang beranggapan bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti menyamakan Islam dengan ciptaan manusia. Mereka beranggapan bahwa kelompok yang menerima asas tunggal Pancasila sebagai kafir, sedang kalau menerima keduanya berarti musyrik. Tentu hal ini dibantah oleh Kiai Achmad Siddiq sebagai cara berpikir yang keliru.
 
Dengan cara berpikir keliru tersebut, Kiai Achmad Siddiq menegaskan kepada seluruh masyarakat bahwa Islam yang dicantumkan sebagai asas dasar itu adalah Islam dalam arti ideologi, bukan Islam dalam arti agama. Ini bukan berarti menafikan Islam sebagai agama, tetapi mengontekstualisasikan Islam yang berperan bukan hanya jalan hidup, tetapi juga sebuah ilmu pengetahuan dan pemikiran yang tidak lekang seiring perubahan zaman.
 
Ideologi adalah ciptaan manusia. Orang Islam boleh berideologi apa saja asal tidak bertentangan dengan Islam. Terkait Islam diartikan sebagai ideologi, Kiai Achmad Siddiq memberikan contoh Pan-Islamismenya Jamaluddin Al-Afghani. Islam ditempatkan oleh Al-Afghani sebagai ideologi untuk melawan ideologi-ideologi lainnya. Karena saat itu dunia Timur sedang berada dalam penjajahan dan tidur nyenyak dalam cengkeraman penjajahan artinya tidak tergerak untuk melawan kolonialisme.
 
Maka tidak ada jalan lain menurut Jamaluddin Al-Afghani membangkitkan semangat Islam secara emosional, yaitu dengan mencantumkan Islam sebagai asas gerakan Pan-Islamisme. Sejak itu Islam mulai diintrodusir sebagai ideologi politik untuk menentang penjajah. Bukan seperti ulama-ulama di Indonesia yang menggunakan Islam sebagai spirit menumbuhkan cinta tanah air dan nasionalisme. Spirit yang ditumbuhkan para kiai untuk melawan penjajah tidak membawa Islam sebagai ideologi politik pergerakan, melainkan aktualisasi Islam dalam wujud cinta tanah air untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.
 
Sebagai salah satu tokoh arsitek Khittah NU 1926 dan juga berperan penting dalam ikut merumuskan pondasi hubungan Islam dan Pancasila, KH Achmad Siddiq menyampaikan sebuah pidato. Berikut salah satu cuplikan pidato Kiai Achmad Siddiq yang begitu berkesan bagi umat Islam Indonesia, khususnya Nahdliyin (1999):
 
“Dengan demikian, Republik Indonesia adalah bentuk upaya final seluruh nation (bangsa), teristimewa kaum muslimin, untuk mendirikan negara (kesatuan) di wilayah Nusantara. Para Ulama dalam NU meyakini bahwa penerimaan Pancasila ini dimaksudkan sebagai perjuangan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial.”
 
Penulis adalah redaktur NU Online
 
Selasa 8 Oktober 2019 15:0 WIB
Beda mah Biasa
Beda mah Biasa
Disadur dari buku 'Menjadi Pembuat Konten Toleransi' Wahid Foundation.

Oleh Fathoni Ahmad

 

Perbedaan dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang lumrah, lazim, wajar, bahkan sebuah keniscayaan ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, perbedaan adalah sesuatu yang biasa. Justru aneh ketika ada seseorang atau kelompok orang ada yang mempermasalahkan perbedaan untuk dipertentangkan. Hal ini kerap kali terjadi ketika momen politik tiba atau dilakukan untuk kepentingan politik kekuasaan dengan menghembuskan sentimen-sentimen identitas.

 

Al-Qur’an menyatakan, diciptakanNya manusia berbeda suku bangsa untuk "saling mengenal" (lita’arafu). Apa maksudnya? Keragaman itu merupakan sarana untuk kemajuan peradaban. Kalau kita hanya lahir di suku kita saja, tidak pernah mengenal budaya orang lain, tidak pernah bergaul dengan berbagai macam anak bangsa, dan hanya tahunya orang di sekitar kita saja, maka sikap dan tindak-tanduk kita seperti katak di dalam tempurung.

 

Kita tidak bisa memilih lahir dari rahim ibu yang beragama apa, atau keturunan siapa atau tinggal di mana. Keragaman tidak dimaksudkan untuk saling meneror, memaksa atau melukai. Al-Qur'an mengenalkan konsep yang luar biasa: keragaman itu untuk kita saling mengenal satu sama lain.

 

Dengan saling mengenal perbedaan kita bisa belajar membangun peradaban. Dengan saling tahu perbedaan di antara kita maka kita akan lebih toleran; kita mendapat kesempatan belajar satu sama lain. Kesalahpahaman sering terjadi karena kita belum saling mengenal keragaman di antara kita.

 

Al-Qur'an menggunakan bentuk tafa'ala dalam redaksi lita'arafuu yang bermakna saling mengenal. Fungsinya lil musyaarakati baina itsnaini fa aktsara.

 

Tidak cukup interaksi kita itu hanya untuk mengenal yang lain, mereka pun harus juga mengenal kita. Interaksi kedua belah pihak akan melahirkan tidak hanya simpati tapi juga empati. Kalau kita meminta orang lain memahami kita, maka pihak lain pun meminta hal yang sama. Langkah awalnya persis seperti pesan Al-Qur'an: saling mengenal.

 

Para leluhur kita sejak berabad-abad lalu telah mencetuskan bahwa walaupun berbeda-beda, tetapi kita tetap satu (bhinneka tunggal ika). Semboyan tersebut bisa ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad ke-14 pada era Kerajaan Majapahit.

 

Indonesia beruntung telah memiliki falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ sejak dahulu ketika negara Barat masih mulai memerhatikan tentang konsep keberagaman. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keberagaman. Jika dilihat dari kondisi alam saja Indonesia sangat kaya akan ragam flora dan fauna, yang tersebar dari ujung timur ke ujung barat serta utara ke selatan di sekitar kurang lebih 17.508 pulau.

 

Indonesia juga didiami banyak suku (sekitar kurang lebih 1.128 suku) yang menguasai bahasa daerah masing-masing (sekitar 77 bahasa daerah) dan menganut berbagai agama dan kepercayaan. Keberagaman ini adalah ciri bangsa Indonesia. Warisan kebudayaan yang berasal dari masa-masa kerajaan Hindu, Budha dan Islam tetap lestari dan berakar di masyarakat. Atas dasar ini, para pendiri negara sepakat untuk menggunakan bhinneka tunggal ika yang berarti "berbeda-beda tapi tetap satu jua" sebagai semboyan negara.

 

Bangsa Indonesia sudah berabad-abad hidup dalam kebersamaan dengan keberagaman dan perbedaan. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat istiadat, agama, dan berbagai perbedaan lainya. Perbedaan tersebut dijadikan para leluhur sebagai modal untuk membangun bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang besar. Sejarah mencatat bahwa seluruh anak bangsa yang berasal dari berbagai suku semua terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua ikut berjuang dengan mengambil peran masing-masing.

 

Umat beragama

 

Kebebasan beragama di Indonesia adalah hak setiap individu selama kebebasan itu tidak merugikan orang lain. Manusia yang keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari aktivitas berfikirnya yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dan lingkungan di mana dia berada. Dari keadaan ini memunculkan berbagai ide, baik itu berupa gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan maupun sikap. yang kesemuanya itu tidak mungkin terpenuhi tanpa adanya sikap toleransi dari lingkungan dimana ia berada. Jadi, toleransi dan kebebasan adalah dua hal yang mesti ada dan saling berhubungan.

 

Pemahaman keagamaan adalah hal yang paling esensial demi terwujudnya masyarakat kondusif. Pada prinsipnya semua agama mengedepankan budaya toleransi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian dari ketinggian kekuasaan Sang Khalik.

 

Kehadiran Islam sejak awal menunjukkan sikap-sikap yang merangkul. Rasulullah mengawali dakwahnya di Makkah secara pelan-pelan: mulai dari keluarga, kawan-kawan terdekat, orang-orang tertindas seperti budak, dan seterusnya. Yang penting dicatat, tahapan demi tahapan dilalui tanpa paksaan, apalagi kekerasan. Bahkan, beliau sendiri yang justru kerap mendapatkan perlakuan kasar hingga percobaan pembunuhan dari para penentangnya, terkecuali dua pamannya, Abu Jahal dan Abu Lahab.

 

Kita tahu, sejak belia Nabi mendapat julukan “al-amin” karena karakternya yang jujur. Rasulullah juga dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada siapa pun, gemar menolong, dan pembela yang lemah. Kepribadian inilah yang menjadi modal dasar beliau mengatasi beragam tantangan tersebut hingga sukses mensyiarkan Islam di Tanah Arab yang kemudian terus meluas ke seluruh penjuru dunia.

 

Meskipun diakui adanya perbedaan, tidak bisa kita pungkiri adanya titik-titik temu yang menghubungkan budaya Islam secara universal. Salah satu titik temu itu berupa komitmen masing-masing pribadinya fakta kewajiban menjalankan setiap usaha untuk menciptakanmasyarakat yang sebaik-baiknya di muka bumi ini Kewajiban itu dinyatakan dalarn Firman Allah: "Hendaknya di antara kamu ada umat yang melakukan dakwah ila al-khayr, amar ma'ruf dan nahy munkar, dan mereka itulah orang-orang yang bahagia" (QS. Ali ‘Imran [3]:104).

 

Maksud al-khayr dalam ayat tersebut adalah kebaikan universal; suatu nilai yang menjadi titik temu semua agama yang benar, yaitu agama Allah yang disampaikan kepada umat manusia lewat wahyu Ilahi.

 

Pemahaman keberagaman ini perlu mendapat perhatian semua pihak karena upaya membina kerukunan umat beragama seringkali terkendala oleh adanya kenyataan bahwa sosialisasi ajaran keagamaan di tingkat akar rumput lebih banyak dikuasai oleh juru dakwah yang kurang peka terhadap kerukunan umat beragama. Semangat berdakwah yang tinggi dari para pegiatdakwah ini seringkali dinodai dengan cara-cara menjelek-jelekan milik (agama) orang lain.

 

Membangun harmonisasi beragama memang hal yang mesti dilakukan oleh umat beragama dalam menyatukan serta menanamkan rasa persaudaraan juga rasa kekeluargaan walau itu berbeda keyakinan. Keragaman suku, ras, agama didunia khususnya di Indonesia memang bukan hal yang baru kita ketahui untuk itu perlu kiranya jika kerukunan umat bergama di Indonesia khususnya ditanamkan untuk saling bahu membahu satu sama lain dalam pembangunan Indonesia yang tercinta ini.

 

Namun harmonisasi bukanlah ranah untuk menyatukan kepercayaan umat bergama melainkan hanya untuk menanam rasa welas asih antar sesama. Dengan pengakuan dan pelaksanaan inilah, Islam akan senantiasa menjadi rahmat bagi semua (rahmatan lil 'alamin).

 

Penulis adalah Redaktur NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG