Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ribuan Warga Sidoarjo Ikuti Napak Tilas Wafatnya KH Nawawi

Ribuan Warga Sidoarjo Ikuti Napak Tilas Wafatnya KH Nawawi
Pelepasan kontingen Napak Tilas KH Nawawi dari Sidoarjo menuju Mojokerto. (Foto: NU Online/Yuli Rianto)
Pelepasan kontingen Napak Tilas KH Nawawi dari Sidoarjo menuju Mojokerto. (Foto: NU Online/Yuli Rianto)
Sidoarjo, NU Online
Nama  KH Nawawi sudah akrab di telinga masyarakat Sidoarjo dan Mojokerto, Jawa Timur. Selain aktif menyebarkan ajaran Islam, ulama yang satu ini juga dikenal karena perjuangannya melawan tentara Belanda.
 
Kisah perjuangan Kiai Nawawi salah satunya ditulis dalam bentuk buku yang berjudul ‘Titik Akhir di Sumantoro, Jejak Langkah Perjuangan KH Nawawi. Buku terbit Maret 2012 dan ditulis Abdullah Masrur, pemerhati sejarah di Mojokerto. 
 
Kiai Nawawi dan sahabat-sahabatnya mendirikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Mojokerto pada tahun 1928. 
 
“Saat Jepang tiba di Mojokerto tahun 1943, Kiai Nawawi menyamarkan kegiatan jamiyah NU menjadi Ahlusunnah wal Jama’ah. Selain menyebarkan ajaran Islam, juga mengajak masyarakat melawan penjajah. Ajaran beliau cinta tanah air dan bangsa bagian dari iman,” tulis Masrur dalam bukunya.
 
Kiai Nawawi gugur di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Kecamatan Sukodono Sidoarjo Jawa Timur pada 22 Agustus 1946. Saat itu dikeroyok oleh serdadu Belanda, hujaman pisau dan bayonet tentara musuh merenggut nyawa syuhada asal Mojokerto tersebut. 
 
Jenazah Kiai Nawawi langsung dibawa lari pasukan Hizbullah untuk dimakamkan di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, tempat kelahirannya. Karena jasanya, nama Kiai Nawawi diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kota Mojokerto berdasarkan Keputusan DPRD Kota Mojokerto No 8/DPRD/67 tanggal 30 Maret 1967. Menghubungkan Jalan Bhayangkara dengan Jalan Residen Pamudji.
 
Untuk mengenang gugurnya Kiai Nawawi, digelar napak tilas KH Nawawi VIII di Dusun Sumantoro, Plumbungan, Sukodono, Sidoarjo Sabtu (9/11).
 
Kegiatan difasilitasi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten Sidoarjo bersama Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporata) Kota Mojokerto. Kegiatan diikuti ribuan peserta yang didominasi generasi muda dari Sidoarjo, Surabaya, dan Mojokerto, yang berjalan kaki dari Sumantoro menuju garis finish di Pondok Pesantrean An-Nawawi Kota Mojokerto sejauh sekitar tiga puluh tujuh kilometer. 
 
Tampak hadir di lokasi pemberangkatan Wakil Bupati Sidoarjo, Anggota DPRD Sidoarjo, Kepala Dispora Kabupaten Sidoarjo, Kepala Disporata Kota Mojokerto, keluarga KH Nawawi dari Mojokerto, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Sukodono, dan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Sukodono beserta Banom, dan beberapa Kepala desa di Sukodono.
 
Dalam sambutannya, KH Lailatul Qodri sebagai cucu KH Nawawi  berharap semua yang hadir bisa meneladani perjuangan almarhum. 
 
“Mudah-mudahan kita sekalian ini bisa meneladani perjuangan beliau yang tanpa pamrih. KH Nawawi adalah kakek saya,” kata Kiai Qodri. 
 
Dirinya juga bercerita bahwa KH Nawawi sebagai komandan Sabilillah ketika itu melaksanakan resolusi jihad KHM Hasyim Asy’ari. 
 
“Beliau mendapatkan tugas untuk wilayah Sidoarjo, Mojokerto sampai Jombang, dan akhirnya gugur di Dusun Sumantoro ini,” katanya. 
 
Nur Ahmad Syaifuddin, Wakil Bupati Sidoarjo dalam pidatonya menyampaikan syukur atas terselenggaranya kegiatan yang sangat bermanfaat ini. 
 
“Harapan saya, kegiatan sudah masuk tahun kedelapan dan mudah-mudahan napak tilas mempunyai pengaruh terhadap kita semua, kepada generasi penerus saat ini,” harap Cak Nur, sapaan akrabnya. 
 
Wakil Bupati juga mengajak generasi muda untuk mengisi kemerdekaan  dengan perbuatan yang positif.
 
Achmad Fahrurrozi, panitia lokal menyampaikan kepada NU Online bahwasanya napak tilas KH Nawawi ini dilaksanakan rutin setiap tahun. Peserta tahun ini sekitar lima ribu orang dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun kemarin. 
 
"Kami berharap untuk pelaksanaan napak tilas tahun depan tetap ada sumbangsih dari Dispora dan swadaya dari masyarakat, sehingga kegiatan bisa terlaksana seperti apa yang kita inginkan,” ujar pengurus Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Ranting Plumbungan tersebut. 
 
“Rangkaian acara napak tilas dimulai kemarin malam dengan pembacaan shalawat dan istighotsah, dilanjutkan dengan khatmil Qur’an pagi tadi hingga sore hari,” ungkapnya. 
 
Untuk tahun ini ambulans baru milik LAZISNU Ranting Plumbungan ikut membantu peserta napak tilas yang kelelahan dan bergabung dengan ambulans Puskesmas Sukodono. 
 
 
Kontributor: Yuli Riyanto
Editor: Ibnu Nawawi

 
Posisi Bawah | Youtube NU Online