Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Cara Youtuber Purbalingga Ajak Milenial Teladani Mbah Hasyim Asy'ari

Cara Youtuber Purbalingga Ajak Milenial Teladani Mbah Hasyim Asy'ari
Tangkap layar video siaran langsung melalui youtube dalam rangka haul KH Hasyim Asy'ari oleh youtuber Purbalingga.
Tangkap layar video siaran langsung melalui youtube dalam rangka haul KH Hasyim Asy'ari oleh youtuber Purbalingga.
Purbalingga, NU Online
Sejumlah youtuber NU Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah mengadakan peringatan wafatnya Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Kamis (30/4) malam. Peringatan diadakan dengan talkshow disiarakan secara langsung.
 
Dalam acara yang berlangsung sekitar dua jam ini, Ahmad Prayitno, pengurus MWCNU Kecamatan Kaligondang mengatakan sosok Mbah Hasyim Asy'ari sebagai orang yang tidak gila harta dan jabatan. Terbukti saat diberi penghargaan oleh Pemerintah Belanda Mbah Hasyim tidak menerimanya.
 
Menurut Ahmad Prayitno hal yang saat ini perlu dicontoh adalah kesemangatan belajar dan perjuangan Mbah Hasyim baik dalam menegakkan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah maupun NKRI. "Sehingga kita penerusnya akan menjadi generasi moderat yang pada akhirnya Islam membawa kepada perubahan peradaban manusia yang rahmatallil 'alamin," ungkapnya.
 
Sementara itu, Jaitun seorang dalang wayang kulit yang juga sebagai host mengatakan harapannya agar acara tersebut membantu mengenalakan figur luar biasa dalam pendidikan Islam dan pejuang yang ikhlas demi negara Indonesia kepada genarasi muda yang sekarang dan masyarakat secara luas.
 
"Sebagai sosok ulama yang kharismatik terbukti saat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sering dimintai nasihat oleh Ir Soekarno dan Bung Tomo serta Jendral Sudirman," tambahnya.
 
Menurutnya, bagi kalangan santri muda, keteladanan Mbah Hasyim dapat menjadi teladan. Pasalnya saat masih belia, Mbah Hasyim, sosok yang cinta ilmu terbukti saat mondok mendalami berbagai dan ilmu. Selain itu, Mbah Hasyim juga nyantri tidak hanya di satu pesantren.
 
"Banyak pesantren yang beliau jadikan tempat menimba ilmu bahkan sampai di Makkah yang menjadikan beliau dianugrahi gelar Hadratussyekh karena hafal kutubusitah. Serta, terbukti dengan banyak karya-karya kitabnya di antaranya Adabul 'Alim wal Muta'alim, Risalatu Ahli Sunnah wal Jamaah, Nurul Mubin fi Bayani Sayidil Mursalin, dan lain sebagainya," katanya.
 
Bagi negara, lanjut Jaitun, kontribusi besar Mbah Hasyim terutama yang masyhur sampai saat ini adalah jargon Hubbul wathon minal iman atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman. "Yang mana dalam mengobarkan semangat juang para pejuang dan santri sampai terjadinya pertempuran pada 10 November di Surabaya," sambungnya.
 
Rangkaian acara yang Live rutin disajikan Gedang Mas Canel mulai bada asar Ngaji Kitab Sulamunajat, di lanjutkan 'Mutiara Senja' Oleh Ahmad Prayitno, Ba'da tariwih 'Secangkir Kopi ' dan Slawatan Oleh Yayan.
 
Acara talkshow juga diwarnai idengan pembacaan kitab Adabul 'Alim wal Muta'alim karya Mbah Hasyim dan Shalawat Li Khomsatun. Talkshow merupakan bagian acara rutin Secangkir Kopi episode spesial. Secangkir Kopi sendiri biasanya mengupas persoalan keluarga dan keumatan.

Pimpinan Gedang Mas sebagai penyelenggara acara tersebut, Aris Prasetyo mengatakan, acara ini sengaja diadakan untuk mengenang ulama besar Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional. "Agar terus menjadi suri tauladan santri dan masyarakat banyak meniru perjuangannya," kata dia.
 
Aris Prasetyo juga mengungkapkan, dengan program yang disampaikan melalui  media daring youtube dengan kemasan milenial dapat lebih dapat menjangkau dakwah yang sulit ditembus oleh metode dakwah konvensional. Hal itu juga sesuai dengan salah satu kaidah atthoriqotu ahammu minal maddah, matode lebih penting dari materi.
 
"Jika Walisongo menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah karena wayang kulit pada zaman itu sangat dekat dengan masyarakat maka pada era ini youtube menjadi pilihan yang tepad untuk berdakwah," pungkasnya.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Abdullah Alawi
BNI Mobile