Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Peringatan Kemerdekaan sebagai Sarana Evaluasi Capaian Saat Ini

Peringatan Kemerdekaan sebagai Sarana Evaluasi Capaian Saat Ini
Peringatan kemerdekaan RI di kantor PCNU Bondowoso, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Ade Nurwahyudi)
Peringatan kemerdekaan RI di kantor PCNU Bondowoso, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Ade Nurwahyudi)

Bondowoso, NU Online

Kader Nahdlatul Ulama hendaknya memaknai kemerdekaan sebagai amanah dari para ulama, kiai dan pejuang terdahulu. Dengan demikian, ketika memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, bukan sekadar seremonial.

 

“Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia juga menjadi bahan evaluasi. Apakah capaian saat ini sesuai dengan semangat ulama yang memperjuangkan kemerdekaan,” kata KH Abdul Qodir Syam, Senin (17/8).

 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso, Jawa Timur tersebut juga menyatakan bahwa momentum kemerdekaan hendaknya digunakan untuk evaluasi diri dan terus membesarkan NU.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Cermee pada kesempatan tersebut mengajak untuk mengheningkan cipta dan mendoakan para pejuang yang diawali tawassul kepada Rasulullah SAW. Acara dikemas dengan tasyakuran, doa dan tahlil. Kegiatan dalam rangka dirgahayu kemerdekaan ke-75 Repubik Indonesia yang dipusatkan di gedung Graha NU Kutakulon.

 

Saat didaulat memberikan wawasan, H Amin Said Husni menjelaskan dua tanggung jawab yang melekat dari warga NU dan bangsa Indonesia. Keduanya harus dilaksanakan dengan beriringan dan tidak dipertentangkan.

 

"Setidaknya ada dua tanggung jawab yang sekaligus menyatu ibarat dua sisi mata uang dari peringatan kemerdekaan RI,” kata Amin Said. Yang pertama yakni tanggung jawab keagamaan atau masuliah diniyah dan kedua adalah tanggung jawab kenegaraan atau masuliah wathaniyah, lanjutnya.

 

Menurut mantan Bupati Bondowoso ini, dua tanggung jawab yakni keagamaan dan kebangsaan merupakan hal yang sudah final dan tidak perlu dipertentangkan bahkan saling menguatkan.

 

"Maka sebagai generasi penerus bangsa dua masuliah diniyah dan wathaniah ini untuk senantiasa terus dikembangkan, dihidupkan, diwariskan dan dijalankan sesuai bidangnya," katanya.

 

Karena itu dirinya berharap mengimplikasikan hal itu sesuai bidang masing-masing dalam kehidupan. Yakni untuk mencetak generasi yang hebat baik di tingkat sekolah maupun di pondok pesantren, serta memajukan bangsa dan negara.

 

Kegiatan juga menghadirkan pendamping desa, Pendamping Lokal Desa (PLD), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) berserta badan otonom dan lembaga.

 

Kontributor: Ade Nurwahyudi

Editor: Ibnu Nawawi

Posisi Bawah | Youtube NU Online