IMG-LOGO
Daerah

IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang

Ahad 16 Agustus 2015 4:1 WIB
Bagikan:
IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang

Jombang, NU Online
Jombang dikenal memiliki tokoh NU yang mumpuni. Sejumlah nama besar lahir dari kota santri ini. Gejolak juga kerap mengiringi Jombang, termasuk dalam dinamika NU.<>

Cerita ini disampaikan Nyai Hj Mundjidah Wahab saat silaturahim dan halal bihalal PC IPNU dan IPPNU Jombang yang juga diikuti sejumlah alumni lintas generasi di Mojokrapak, Tembelang Jombang, Jum'at (14/8).

"Dulu IPNU dan IPPNU Jombang pernah pecah menjadi tiga cabang," kata Nyai Hj Mundjidah. Saat Mundjidah Wahab muda menjadi Ketua PC IPPNU, ia "hanya" mendapatkan wilayah kota yang meliputi Denanyar dan Tambakberas. Karena untuk Jombang Timur berada di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan. "Sedangkan untuk Jombang Selatan berpusat di Seblak," kenangnya.

Hal ini sebagai imbas dari saling bersikukuhnya para fungsionaris PC IPNU kala itu. "Kepengurusan IPNU Selatan dipimpin oleh Hamid Baidlawi," kata Wakil Bupati Jombang ini. Upaya mediasi pernah dilakukan dengan mendatangkan sejumlah kiai, namun gagal. "Kalau gak geger, bukan Jombang namanya," seloroh Bu Mundjidah.

Namun "aneh"nya, meskipun terpecah menjadi tiga, setiap kepengurusan memiliki hak yang sama saat Kongres. "Masing-masing diakui dan mendapatkan kesempatan yang sama ketika Kongres IPNU dan IPPNU," kata Ketua PC Muslimat NU Jombang ini.

Kendati demikian, Bu Mundjidah mengemukakan bahwa ketiga kepengurusan IPNU dan IPPNU tersebut sama-sama aktif. "Bahkan saat saya menjadi Ketua IPPNU Jombang  tahun 1967-1968 telah memiliki grup drum band sendiri," bangganya. Dan grup drum band ini menjadi andalan NU saat ada kegiatan karnaval dan sejenisnya, lanjutnya.

Kepengurusan PC IPNU dan IPPNU Jombang akhirnya kembali menjadi satu setelah para aktifis di tiga kepengurusan tersebut pulang kampung. "Karena para penggeraknya saat itu masih mondok dan tidak dapat didamaikan, maka tetap terjadi tiga kepengurusan," ungkapnya. Namun saat mereka kembali ke tanah kelahiran masing-masing, perpecahan itu akhirnya reda dengan sendirinya.

Pertemuan alumni IPNU dan IPPNU ini rutin dilaksanakan setiap Jum'at terakhir di bulan Syawal. Dan untuk tahun depan, kegiatan akan dilangsungkan di rumah dinas Wakil Bupati Jombang. (Syaifullah/Fathoni)

Bagikan:
Ahad 16 Agustus 2015 23:59 WIB
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Surabaya, NU Online
Memasuki tahun ajaran baru, pengurus komisariat PMII Sepuluh Nopember ITS mengadakan pelatihan gerak mahasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari ini sejak Sabtu, (15/8) hingga Senin, (17/8), berhasil menarik minat mahasiswa baru ITS, PENS maupun PPNS. 
<>
Dalam acara pembekalan hari pertama, terdapat tiga sesi. Sesi pertama adalah bagaimana cara Bertransformasi dari Siswa Menjadi Mahasiswa, materi ini disampaikan oleh Dr Agus Zainal Arifin Skom Mkom, salah satu dosen Teknik Informatika ITS yang juga pembina dari PMII Sepuluh Nopember maupun CSSMoRA ITS. 

Sesi kedua diisi oleh Zahra S. Arfenti, Mawapres ITS. Dalam sesi ini, ia memaparkan kiat bagaimana menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurutnya prestasi mahasiswa tidak  hanya dalam hal akademis saja, masih ada berprestasi di non akademis semisal PKM. Selain itu, dirinya juga menjelaskan tentang bagaimana cara mengelola waktu, bagaimana cara mencari tim PKM atau keilmiahan lain, bagaimana cara membuat life-mapping dan masih banyak lagi lainnya.

Sesi ketiga merupakan sesi sharing antara peserta dengan anggota PMII Sepuluh Nopember yang berhasil menorehkan berbagai prestasi. Dalam sesi ini ada lima anggota yang membagikan pengalamannya dan tips bagaimana prestasinya berhasil menghampirinya. Mereka yang berlima adalah Mutawalli Alfin, Rizki Mendung, Iklil Muna, Misbahul Munir dan Deni Setiawan. 

Dalam sesi ini ternyata mampu menarik minat dari peserta untuk menanyakan berbagai hal. Salah satunya adalah bagaimana cara menjadi penghafal Al-Qur’an. “Kuncinya adalah istiqomah,” ujar Rizki Mendung kepada para hadirin.

Tidak hanya angkatan 2015 saja, pelatihan ini ternyata mampu menarik minat dari angkatan lain, ada dari 2014 bahkan ada salah seorang peserta yang berasal dari angkatan 2012. Menurut salah satu peserta 2014, Rizal, “Pelatihan yang sangat recommended banget buat para mahasiswa dan atau calon mahasiswa,” ungkapnya pada panitia. 

“Tidak hanya ilmu tapi juga motivasi yang mampu menjadikan siswa menjadi mahasiswa yang rahmatan lil alamin,” imbuhnya mahasiswa jurusan TMJ ITS 2014 itu. (Ahmad Hanan/Mukafi Niam)

Ahad 16 Agustus 2015 23:1 WIB
PMII Mantapkan Ideologi dengan Sekolah Aswaja
PMII Mantapkan Ideologi dengan Sekolah Aswaja

Jepara, NU Online
Untuk memantapkan ideologi ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) kader PMII, PMII Jepara mengadakan Sekolah Aswaja yang dilaksanakan di Gedung Muslimat NU desa Bulungan, kecamatan Pakis Aji, kabupaten Jepara, Jum’at-Senin (21-24/8) mendatang.<>

Kegiatan yang bertajuk “Mengukuhkan Aswaja Sebagai Nafas Gerakan” ditargetkan diikuti 30 peserta baik dari Cabang Jepara maupun luar daerah. Beberapa pemateri yang rencananya mengisi: Nur Sayyid Santoso Kristeva, Mayadina Rohma Musfiroh, Murniati, Gus Sahil, Gus Wa’i, A. Syaifudin, Abdul Wahab, Purwanto, Rumail Abbas dan M Ali Nazilatul Furqon.

Selama kegiatan peserta menerima beberapa materi. Di antaranya Doktrin dan Prinsip Aswaja, Geneologi Pemikiran Islam di Indonesia, Aswaja sebagai Manhaj Al Fikr dan Manhaj Al Harokah, Amaliah Keagamaan Kaum Nahdliyyin dan masih banyak lagi.

Dalam siaran persnya, Ainul Mahfudh, ketua PMII Cabang Jepara menyebutkan sekolah ini bertujuan membekali kader PMII ideologi Aswaja. 

“Guna membendung paham-paham radikal yang datang dari luar,” tuturnya.

Mahfudh menegaskan, sesuai AD/ART PMII merupakan organisasi yang berideologi Aswaja. Sehingga kegiatan ini terangnya penting diberikan dalam rangka pemahaman secara mendalam tentang Aswaja baik dari sejarah hingga proses implementasinya dalam beribadah dan bermasyarakat.

Masih dalam rilis yang diterima NU Online, makna tema yang diusung menurut dia dalam bersikap dan bertindak kader PMII harus selalu berlandaskan nilai-nilai Aswaja.

Sarjana Unisnu ini menambahkan kader PMII yang mengikuti sekolah harapannya mampu memahami lebih nilai-nilai Aswaja. 

“Selain itu kader bertanggung jawab kepada kader selanjutnya. Sehingga ilmu-ilmu yang didapatkan dapat meneruskan generasi pemahaman Aswaja di setiap jenjangnya,” pungkas Mahfudh. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Ahad 16 Agustus 2015 22:9 WIB
JIHAD PAGI
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pringsewu, NU Online
Ustadz Abdul Hamid pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang diadakan rutin di kantor NU kabupaten Pringsewu, Ahad (16/08/15) menyampaikan pesan agar tidak gampang menyalahkan sebelum memahami persoalan secara menyeluruh dan mendalam. 
<>
Pesan ini disampaikan menyikapi fenomena di zaman sekarang ini banyak sekelompok golongan yang dengan gampang menyalah-nyalahkan amaliyah golongan lain.

Menurut Ustadz Hamid golongan ini sering memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara tekstual saja. Padahal menurutnya, dalam memahami makna dari ayat Al-Qur’an dan hadits diperlukan pemahaman yang dalam, mencakup juga makna kontekstual berikut asbabun nuzul dan asbabul urutnya.

Menurut Ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3 di IAIN Radin Intan Lampung ini, pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an hendaknya tidak memotong-motong ayat. Hal ini karena banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan dalam memahami hadits, Ustadz Hamid mengatakan bahwa diperlukan pemahaman tentang sebab-sebab dan bagaimana hadits tersebut disampaikan oleh Nabi.

Hal senada juga disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi yang memoderatori Jihad Pagi tersebut. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama tidak hanya mengkaji dan menyampaikan secara tekstual dalil dan hukum di dalam agama Islam. Banyak sekali yang menyampaikannya dengan langsung memberikan uswatun hasanah kepada umat.

KH Sujadi mencontohkan bagaimana baru-baru ini KH Maimun Zubair memberikan uswatun hasanah dengan berdiri ketika dilantunkan lagu Indonesia Raya pada Muktamar ke-33 NU di Jombang walaupun kondisi beliau sedang menggunakan kursi roda. 

"Kemudian apakah ada dalil upacara kemerdekaan 17 Agustus? Apakah ada dalil menghormati bendera merah putih? Hal itu tidak harus diperdebatkan karena para ulama lebih tahu dengan mencontohkan yang terbaik kepada umatnya," terangnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG