::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Untuk Meraih Ilmu yang Barakah, Ini Caranya

Kamis, 31 Mei 2018 19:01 Daerah

Bagikan

Untuk Meraih Ilmu yang Barakah, Ini Caranya
KH Abd Rahman Al Jambuany
Jember, NU Online 
Ilmu yang banyak belum tentu barakah. Seseorang yang cerdas dengan titel akademik yang mengular, tidak ada jaminan bahwa ilmu yang dimiliki bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Sebab, bermanfaat tidaknya ilmu, tergantung pada barakah ilmu itu sendiri.

Hal tersebut diungkapkan Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kalisat, KH Abd Rahman Al Jambuany saat memberikan taushiyah Ramadhan di Masjid Baitur Rahmat, Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Jember, Rabu (30/5).

Menurutnya, ilmu yang barakah tidak semata-mata terletak pada kemanfaatannya, tapi juga dengan ilmu itu pemiliknya bisa lebih dekat kepada Allah.

“Jadi kriterianya ilmu yang barakah, selain bermanfaat juga harus menjadi sarana bagi pemiliknya untuk lebih dekat kepada Allah. Percuma pinter tapi jauh dari Allah,” tukasnya.

Ia menambahkan, orang tua wajib memberikan pendidikan yang layak bagi anaknya. Ilmu yang barakah diperoleh melalui pendidikan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Pengasuh  Pesantren Nurul Huda, Kalisat itu pun  mengutip dawuh Ibnu Abbas bahwa orang tua wajib memberikan pendidikan anaknya dengan dua hal. Yaitu dengan ilmu agama dan ilmu akhlak. 

“Jadi akhlak kita, akhlak orang tua kita kepada  guru kita, juga sangat menentukan apakah ilmu kita kelak barakah atau tidak,” jelasnya.

Kiai Abd Rahman mengaku miris dengan tatakrama anak zaman now dalam mencari ilmu. Guru hanya difungsikan sebagai pengajar dan ditempatkan dalam hubungan belajar-mengajar, sehingga guru disamakan dengan temannya.

“Anaknya sudah begitu. Orang tuanya juga tak ada penghormatan kepada guru atau kiainya. Yang begitu itu sulit mendapat ilmu yang barakah,” urainya. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz)