IMG-LOGO
Daerah

Tabarukan dengan Sowan kepada Para Kiai

Senin 18 Juni 2018 23:0 WIB
Bagikan:
Tabarukan dengan Sowan kepada Para Kiai
ngalap berkah di lebaran idul fitri, di Kudus
Kudus, NU Online
Umat Islam dari berbagai daerah, mulai dari Kudus, Demak, Pati, Grobogan bahkan Jakarta berbondong-bondong sowan kepada para kiai pada momentum Lebaran Idul Fitri ini.

Tradisi sowan kiai ini sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun. Di Kudus, para kiai yang ramai oleh umat yang sowan untuk bersilaturahim dan ‘ngalap berkah’ atau tabarrukan itu, antara lain KHM Sya’roni Ahmadi, KH Ulinnuha Arwani, KHM Ulil Albab Arwani, KHM Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Muhammad Arwan, KH Sanusi Yasin, KH Ahmad Badawi Basyir, KH Saiq, dan Kiai Yasin Bin Muhammad.

Di kediaman KHM Sya’roni Ahmadi, warga yang datang untuk sowan bahkan membeludag dan berdesak-desakan. Sehingga Banser pun turut membantu mengatur jalan masuk menuju kediaman kiai kharismatik yang juga Mustasyar PBNU tersebut.

"Sowan, silaturahim kiai ini untuk ngalap barokah. Alhamdulillah, di sini ada mauidhah dari Mbah Sya’roni," ujar Abdul Rois, warga Dukuh Karangmojo, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog.

Saking membeludagnya tamu yang datang, di teras rumah Kiai Sya’roni pun dipasangi layar, sehingga mereka yang tidak mendapatkan tempat di dalam, bisa menyimak keterangan dari apa yang disampaikan kiai.

Dalam kesempatan itu, Kiai Sya’roni di antaranya menjelaskan apa sebab ulama selalu doa kembali ke alam kesucian, dan apa sebab Kanjeng Nabi Muhammad berdoa supaya orang diberi keluasan rizki.

"Kembali ke alam kesucian, Nabi dawuh, kullu mauluudin yuuladu alal fitrah. (kabeh bayi itu suci). Anak durung baligh meninggal dunia, mesti (masuk) surga, walaupun anaknya orang non muslim, karena kita sudah baligh, makanya doanya adalah supaya kembali kepada kesucian, dengan berdoa semoga husnul khatimah," lanjutnya.

Terkait dawuh Kanjeng Nabi bahwa orang yang mau silaturahim itu akan panjang umur dan menambah rizki, karena silaturahim itu membangun sebuah kerukunan. "Silaturahim itu mempererat tali persaudaraan," tuturnya. (Adib/Muiz)
Bagikan:
Senin 18 Juni 2018 21:30 WIB
Ciri Bertakwa Peduli dengan Kesulitan Kerabat
Ciri Bertakwa Peduli dengan Kesulitan Kerabat
Jember, NU Online
Tempaan selama Ramadhan hendaknya bisa membekas pada perjalanan kaum Muslimin di waktu berikutnya. Takwa sebagai puncak hikmah puasa harusnya menjadi garansi dari proses pembentukan pribadi terbaik. Salah satu cirinya adalah peduli dengan kesulitan saudara terdekat.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Hafidz Hasyim saat memberikan mauidlah hasanah terkait hikmah Idul Fitri, Ahad (17/6). Kegiatan berlangsung di Rowo Tengah, Sumberbaru, Jember, Jawa Timur.

Menurut dosen di Institut Agama Islam Negeri Jember tersebut, bahwa banyak indikator bahwa seorang Muslim telah menjadi muttaqin atau orang bertakwa. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni surat al-Baqarah ayat 177.

Bahwa ciri orang yang bertakwa adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, sejumlah kitab, termasuk para nabi. 

“Juga memberikan harta yang dicinta kepada kerabatnya,” kata Ustadz Hafidz. Ayat ini memberikan pesan bahwa memiliki kepedulian kepada penderitaan sesama seharusnya lebih memprioritaskan kerabat terdekat, lanjutnya.

Karenanya, alumnus pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini kurang sependapat dengan penggalangan dana untuk kawasan yang lumayan jauh, bahkan hingga ke luar negeri. “Karena masih banyak kerabat sekitar yang layak dibantu, mengapa harus memikirkan mereka yang jauh?” sergahnya.

Dirinya mengingatkan bahwa mengentaskan kebutuhan saudara dari mulai adik, keponakan dan kerabat yang lain ternyata lebih dianjurkan dari kalangan lain. “Baru setelah itu perhatian diberikan kepada anak yatim, miskin, musafir dan mereka yang meminta-minta,” ungkapnya.

Pada ayat berikutnya disebutkan bahwa ciri mereka yang takwa adalah memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. 

“Juga orang-orang yang menepati janji, dan kalangan yang sabar saat terhimpit persoalan, penderitaan dan kala peperangan,” jelasnya. Mereka disebut memiliki iman yang benar serta kalangan bertakwa yang sesungguhnya. 

Karena itu tidak ada pilihan bagi kaum Muslimin yang telah ditempa selama Ramadhan selain meningkatkan kadar ketakwaannya. “Karena ini menjadi maksud dan tujuan mulia dari puasa yakni agar kita bertakwa,” tandasnya. (Red: Ibnu Nawawi
Senin 18 Juni 2018 21:0 WIB
Malam Takbir, Sejumlah Masjid Bagikan Doorprize
Malam Takbir, Sejumlah Masjid Bagikan Doorprize
Dpat hadiah sepeda usai takbir keliling
Kudus, NU Online
Bagi-bagi doorprize menjadi cara tersendiri bagi sejumlah masjid di Kudus Jawa Tengah meramaikan malam takbir Idul Fitri 1439 H, kemarin. Selain menarik minat warga untuk takbiran bersama cara itu juga bisa merekatkan hubungan masyarakat antar desa di sekitar masjid.

Pengurus Masjid Jami’ Roudlotul Jannah Pranak Lau Dawe, Masykuri mengatakan kegiatan semacam itu biasanya diinisiasi oleh remaja masjid. Mereka yang mengkoordinasikan warga untuk berduyun-duyun hadir ke masjid, melakukan kirab keliling kampung sambil bertakbir.

“Barulah pada puncak acara, doorprize itu dibagikan berdasarkan pada undian kupon yang dibagikan sebelumnya,” katanya.

Demikian itu juga dilakukan oleh Remaja Masjid Jami’ Nurul Mubin Gilang, Desa Bae, Bae Kudus. Masyarakat dibagi menjadi tiga kelompok untuk berkeliling kampung dan finish d satu titik yang sama, yaitu masjid.

Safiq Afandi, salah satu panitia, mengungkapkan jumlah hadiah yang dibagikan mencapai 250 hadiah. Diantaranya ada peralatan rumah tangga, pakaian, alat sholat, perlengkapan sekolah, sepeda gunung, sepeda lipat dan sebagainya.

“Hadiah itu kami dapatkan dari para donatur yang menginginkan kegiatan ini ada untuk memeriahkan lebaran,” paparnya.

Menurut Safiq, masyarakat amat senang dan bisa bersatu dengan adanya kegiatan itu. Kegembiraan terpancar pada seluruh masyarakat yang ikut ambil bagian menyambut idul fitri dengan ini. Bahkan yang biasanya tidak akur m, dalam kegiatan ini semua bisa melebur dan akrab.

“Karena dampak yang positif ini kami akan terus usahakan kegiatan serupa pada hari-hari besar Islam, mungkin nanti pada waktu tahun baru Islam akan ada lagi,” jelasnya.

Tak kurang dari seribuan orang dengan khidmat melantunkan takbir dan berjalan mengelilingi kampung, mereka saling bertegur sapa dan mengajak setiap orang yang ada di jalan untuk bergabung dan membaur tanpa ada sekat.

Tak hanya di Masjid Pranak dan Masjid Gilang, kegiatan serupa juga dilakukan di desa Puyoh, Dawe dan sejumlah desa lainnya.(Farid/Muiz)
Senin 18 Juni 2018 20:30 WIB
Ancaman Hidup Sengsara bagi Pemilik Lima Sifat Buruk Ini
Ancaman Hidup Sengsara bagi Pemilik Lima Sifat Buruk Ini
Mojokerto, NU Online
Untuk dapat merasakan hidup bahagia, maka ada sejumlah sifat yang harus dihindari. Ada jaminan bahwa kebahagiaan yang diraih tak semata di dunia, bahkan saat di alam kubur, hingga di alam keabadian kelak.

Hal tersebut disampaikan KH Akad Sujadi pada kegiatan halal bihalal yang diselenggarakan di Desa Mojoranu, Sooko, Mojokerto, Jawa Timur, Senin (18/6). 

“Mereka yang merasakan hidup bahagia, tidak harus disaksikan saat akan meninggal atau ketika di akhirat kelak. Saat di dunia saja akan bisa kita saksikan dengan jelas kebangkrutannya,” katanya di hadapan hadirin yang memadati lokasi halal bihalal.

Sebagai gambaran, tidak sedikit bahkan kebanyakan mereka yang memiliki sifat buruk berikut ini, akhirnya gagal dalam menjalani hidup. Alih-alih menjadi kebanggaan, yang diterima justru aib dan penderitaan.

“Sifat buruk pertama adalah durhaka kepada kedua orang tua,” katanya. Dirinya juga mengingatkan bahwa termasuk orang tua adalah mertua. 

Dalam Al-Qur’an perintah atas hal ini sangat jelas dan gamblang. “Jangankan menyakiti secara fisik orang tua dan mertua, menjawab dengan perkataan ketus saja dilarang,” ungkapnya. 

Padahal, ridha Allah SWT sangat bergantung kepada bagaimana perilaku anak dan menantu kepada orang tua maupun mertuanya. “Bila kedua orang tua rela, maka demikian juga Allah SWT ridha kepada kita,” jelasnya.

Mereka yang dengan sangat terbuka maupun secara samar durhaka, tak perlu menunggu saat tua. “Bahkan saat usia muda saja sudah pasti bangkrut,” tegasnya. 

Berikutnya yang pasti terpuruk adalah istri yang berkhianat. Ini dapat ditunjukkan dengan perilaku serong atau selingkuh denga laki-laki lain. 

KH Akad Sujadi mengingatkan, istri yang khianat akan menghabiskan berapa pun uang yang diberikan sang suami. Padahal peran istri sekaligus ibu demikian sentral dalam rumah tangga, khususnya kepada buah hati. 

“Yang ketiga adalah pemimpin yang ternyata tidak semakin taat,” katanya. 

Pemimpin model seperti ini adalah tidak menjadikan jabatan dan kekuasaan serta kepercayaan yang disandangnya untuk kian taat. “Banyak kalangan yang sebelum diangkat sebagai pemimpin demikian baik. Namun justru berperilaku buruk kala diberi amanah,” sergah kiai asal Jombang ini.

Orang-orang model seperti ini tidak akan bisa merasakan kebahagiaan dari kekuasaan yang dimiliki. “Bahkan dapat dipastikan akan terjerumus dalam kenistaan,” ungkapnya.

KH Akad Sujadi juga mengingatkan agar jamaah untuk bisa mengukur kemampuan saat bernadzar. “Karena bila sudah bernadzar, maka wajib dilaksanakan,” katanya. 

Baginya, orang yang gemar mengkhianati sumpah dari nadzar yang disampaikan, maka pada saatnya akan terpuruk lantaran telah berjanji kepada Allah SWT namun tidak melaksanakannya. 

Sedangkan yang terakhir adalah kalangan yang gemar menghindar dari ikatan keluarga. “Dengan alasan apapun, jangan pernah keluar dari kegiatan keluarga, apalagi mengatakan rugi,” tukasnya.

Dalam pandangan KH Akad Sujadi, banyak manfaat yang bisa direngkuh saat terus menjaga pertemuan keluarga. “Di samping tentu saja jaminan akan dipanjangkan usia, serta diluaskan rejekinya dengan keberkahan sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits,” pungkasnya. (Red: Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG