IMG-LOGO
Trending Now:
Humor

Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah

Jumat 28 September 2018 14:0 WIB
Bagikan:
Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah
Ilustrasi Makkah (via Pinterest)
Di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam perjuangan membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), ada satu peristiwa ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya, baik pasukan dari jalur normal, pasukan lembah, dan pasukan bukit untuk menyatakan, al-yaum yaumal marhamah (hari ini hari kasih sayang).

Namun, salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumal malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Atas pernyataan dari sahabat Nabi tersebut, penduduk Makkah kembali diselimuti ketakutan.

Abu Sufyan gentar kemudian melayangkan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal sebelumnya diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Rasulullah lalu menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu lidahnya cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra terucap la.

Hal itu yang menyebabkan kalimat al-yaum yaumal marhamah berubah menjadi al-yaum yaumal malhamah sehingga menimbulkan kesalapahaman. (Fathoni)


*) Kisah ini disarikan dari buku "Khutbah-khutbah Imam Besar" karya KH Nasaruddin Umar (2018)
Tags:
Bagikan:
Jumat 21 September 2018 8:30 WIB
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang dekat dengan siapa saja dan dari kalangan mana pun. Suatu sore ia didatangi seorang tamu, pemuda non-Muslim.

Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur. Pemuda itu merasa, panggilan ‘Gus’ begitu istimewa.

"Gus, kuliah di mana biar saya dapat gelar ‘Gus’ seperti Gus Dur?" tanya si pemuda.

"Enggak ada kuliah dan wisudanya," kata Gus Dur menimpali.

"Kalau gelar kiai dan ulama?" tanya si pemuda lagi ingin paham lebih jauh.

"Sama juga. Hehehe. Kenapa kamu bertanya begitu?" ucap Gus Dur.

"Saya pengin dapat gelar Gus supaya jadi Presiden kayak panjenengan,” selorohnya. (Ahmad)


Kisah ini disampaikan oleh KH M. Luqman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor
Kamis 20 September 2018 7:30 WIB
Orang Madura Naik Pesawat
Orang Madura Naik Pesawat
Ilustrasi (merdeka.com)
Suatu ketika Kamiluddin, pria paruh baya dari Sumenep ingin mengunjungi saudaranya di Jakarta. Ia memilih naik pesawat terbang agar cepat sampai. Lagipula, moda transportasi ini belum pernah dicobanya. Ini merupakan pengalaman pertama Kamiluddin naik pesawat.

Ia mempersiapkan segala sesuatunya, terutama tiket. Ia agak terburu-buru karena harus check-in 30 menit yang seharusnya 60 menit sebelum penerbangan.

Dengan langkah tergopoh-gopoh akhirnya dia bisa masuk ke pesawat juga. Tidak memperhatikan nomor seat di boarding pass, Kamiluddin serta merta langsung duduk di bagian depan. Padahal, kursinya di bagian belakang.

Sedang asyik bersantai setelah merapikan tas di bagasi kabin, Kamiluddin tiba-tiba didatangi oleh seorang perempuan muda.

“Maaf pak, kursi yang bapak duduki itu kursi saya,” kata si perempuan.

“Eh mbak, jangan sembarangan, ini kursi milik perusahaan pesawat, kursi sampean di rumah,” jawab Kamiluddin dengan logat khas Maduranya.

Melihat keributan itu, seorang pramugari mendatangi Kamiluddin dan si perempuan. Pramugari langsung melihat tiket masing-masing. Kemudian berkata, “Maaf pak, ini tempat duduk ibu, kursi bapak di bagian belakang,” ucap pramugari.

“Eh mbak, sampean ini siapa? Kursi saya di rumah, bukan di belakang. Ini kursi pesawat tempat duduk semua penumpang,” Kamiluddin tetap teguh dengan pendiriannya.

Keributan itu menyita semua mata penumpang, tak terkecuali pria asal Surabaya bernama Fauzan yang sedikit banyak memahami karakter orang Madura.

“Maaf, bapak tujuannya ke mana?” tanya Fauzan.

“Saya mau ke Jakarta,” jawab Kamiluddin dingin.

“Kursi tempat duduk bapak bukan untuk penumpang tujuan Jakarta, nanti bapak bisa nyasar loh. Tujuan Jakarta tempat duduknya di belakang,” terang Fauzan.

Tanpa basa-basi, akhirnya Kamiluddin langsung mlipir ke kursi bagian belakang dipandu oleh pramugari agar sesuai dengan nomor seat. (Fathoni)
Ahad 16 September 2018 18:30 WIB
Nikmatnya Jadi Orang NU
Nikmatnya Jadi Orang NU
Kenduri (Foto: Ist.)
Kebiasaan mengundang jamaah untuk doa bersama sudah menjadi budaya warga NU. Biasanya setelah doa bersama yang biasa dinamakan kenduri, para jamaah membawa pulang makanan khas yang dinamakan berkat.

Dinamakan berkat karena berharap apa yang dilakukan dan makanan yang disedekahkan akan menjadi berkah bagi pengundang maupun yang diundang. Tak heran jika ada pernyataan menilai bahwa warga NU yang sudah sukses dalam kehidupan tidak lepas dari jasa nasi berkat yang ia makan sejak ia kecil.

Terkait kebiasaan kenduri ini suatu hari usai shalat Ashar, Pak Kaum Ahmad bediri di depan para jamaah yang memenuhi mushala tua disamping rumahnya. Dengan suara pelan penuh wibawa, namun terdengar oleh seluruh jamaah, ia mengumumkan kepada jamaah bahwa nanti malam akan ada dua kegiatan kenduri dilingkungannya.

Tampak para jamaah mendengarkan satu-persatu kalimat yang disampaikan oleh Pak Kaum yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi ikhlas demi warga mulai dari menikahkan warga sampai dengan mengurusi jenazah ini.

Belum sampai Pak Kaum menyampaikan inti dari apa yang disampaikan, batuknya menghentikan kalimatnya dan menggema di ruangan Mushala. Jamaah pun merasa penasaran. Dua kegiatan kenduri apa yang akan dilaksanakan nanti malam.

“Bapak-Bapak nanti habis maghrib dan habis Isya, kita mendapat undangan dari jamaah kita. Mudah-mudahan kita diberi kesempatan dan kesehatan untuk hadir,” jelasnya sambil memperbaiki letak surban hijau di pundaknya.

Salah satu jamaah spontan bertanya kepada Pak Kaum tentang undangan kenduri apa dan dari siapa nanti malam. “Maaf Pak Kaum, undangan kenduri apa dan dari siapa?,” tanya jamaah yang nampak kurang sabar menunggu pengumuman dari Pak Kaum.

“Nanti malam habis Maghrib dan Isya kita diundang kenduri Syukuran di tempat Pak Slamet dan Slametan di tempat Pak Syukur,” jawabnya seraya menutup pengumumannya dengan salam. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG