IMG-LOGO
Nasional

Bertuliskan Tauhid, Kenapa Saudi Tetap Larang Bendera HTI?

Kamis 8 November 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Bertuliskan Tauhid, Kenapa Saudi Tetap Larang Bendera HTI?
Ilustrasi: Istimewa
Jakarta, NU Online
Profesor Antropologi Budaya King Fahd University of Petroleum and Minerals, Sumanto Al-Qurtuby mengatakan, Arab Saudi merupakan salah satu negara yang melarang eksistensi Hizbut Tahrir, ISIS, Al-Qaeda, Jabhah Nusrah, dan kelompok lainnya yang dianggap terlibat jaringan terorisme di wilayahnya. 

“Saudi kan salah satu negara yang melarang Hizbut Tahrir,” kata Prof Sumanto saat diwawancara NU Online, Kamis (8/11).

Oleh kerenanya, imbuhnya, segala atribut seperti bendera yang melekat kepada kelompok-kelompok tersebut juga dilarang dikibarkan di Saudi. Meskipun kelompok-kelompok tersebut memiliki atribut bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, sebagaimana bendera Saudi. 

“Melihatnya desain benderanya, bukan kalimat tauhidnya. Kan jelas desain bendera HT, ISIS, dan lain sebagainya yang dilarang keras di sini (Saudi). Bendera ISIS juga ada kalimat tauhidnya,” paparnya.

Ia menambahkan, Saudi juga tidak segan-segan untuk menghukum mereka yang terlibat dengan kelompok atau organisasi yang dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Saudi.

“Kalau kelompok yang terlibat di jaringan teroris (ISIS, Qaedah, Jabhah, dan lain sebagainya) sudah banyak sekali yang dihukum dari penjara sampai hukuman mati, tergantung tingkat kesalahan,” urainya.

Menurut Prof Sumanto, saat ini Saudi tengah gencar-gencarnya memberantas kelompok-kelompok teroris dan radikal.

“KSA (Kerajaan Arab Saudi) sedang bersih-bersih dari kelompok teroris, radikal, fanatik, dan intoleran,” tandasnya.  

Seperti yang diketahui, bendera Arab Saudi berwarna hijau dengan inskripsi dua kalimat syahadat (kalimat tauhid) dan sebuah pedang berwarna putih. Kalimat tauhid pada bendera Saudi menggunakan khat tsulutsi. 

Bendera Saudi dibuat dengan sisi depan dan belakang yang identik untuk memastikan kalau kalimat tauhid yang tertera dapat terbaca benar, dari kanan ke kiri, dan dari kedua sisi. Model bendera ini mulai dipakai Saudi sejak 15 Maret 1973. (Muchlishon)
Bagikan:
Kamis 8 November 2018 23:30 WIB
RMINU Pusat Serahkan Beasiswa untuk Santri NTB
RMINU Pusat Serahkan Beasiswa untuk Santri NTB
Ketua PP RMINU, Gus Rozin (kiri baju putih)
Mataram, NU Online
Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) menyerahkan beasiswa bagi Santri, majelis ta'lim pesantren, hingga Balai Latihan Kerja (BLK) bagi Pesantren terdampak gempa. 

Penyerahan beasiswa dilakukan di Aula NU Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (8/11) dihadiri Plt Rais PWNU NTB, TGH Lalu Sohimun Faisal, Plt Ketua PWNU NTB, Masnun Tahir, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, Baiq Mulianah, dan Sekertaris PWNU NTB, H Lalu Winengan serta pimpinan Pesantren. 

Ketua PP RMI KH Abdul Ghaffar Rozin mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan beberapa mitra di bidang ekonomi untuk membantu pesantren terdampak gempa. "Kami menyalurkan beasiswa santri terdampak gempa sebanyak 25 Pesantren dan 25 majelis pesantren," ujarnya kepada NU Online.

Selain itu, RMI juga memberikan bantuan kepada 5 pesantren untuk mengembangkan BLK. Masing-masing pesantren mendapatkan 1 Miliar. "Kita memberikan pengembangan BLK kepada pesantren terdampak gempa baik di Lombok dan di Palu untuk mempercepat recover," kata Gus Rozin yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan sapaan akrabnya.

Sementara, Ketua Tim NU Peduli sekaligus Rektor UNU NTB, Baiq Mulianah menyebutkan bahwa hari ini menyerahkan beasiswa kepada santri yang terdampak gempa. "Pemberian beasiswa ini merupakan bagian dari program NU Peduli terhadap gempa Lombok-Sumbawa," katanya.

Selain beasiswa, kata Baiq Mulianah, RMI juga pesantren diberikan BLK untuk memberikan kesempatan kerja bagi para santri. "Kami berharap dengan adanya BLK di pesantren bisa memberikan kemampuan bagi santri untuk menghadapi dunia kerja," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Plt ketua PWNU NTB, Masnun Tahir menyampaikan bahwa NU Peduli terus melakukan yang terbaik bagi pesantren yang terdampak gempa. 

"Hari ini, RMI menyerahkan beasiswa, pengembangan majlis taklim, dan BLK bagi pesantren yang tetdampak gempa. Semoga ini bermanfaat untuk mempercepat proses rehab pascagempa," pungkasnya (Hadi/Muiz)
Kamis 8 November 2018 22:30 WIB
Penelitian Al-Qur'an Bisa dengan Antropologi
Penelitian Al-Qur'an Bisa dengan Antropologi
Farid F Saenong (kiri pegang mik)
Tangerang Selatan, NU Online
Al-Qur'an dan antropologi bisa menjadi simbiosis mutualisme, saling membantu memberi pemahaman terhadap peneliti.

"Antropologi bisa membantu memahami ayat-ayat Al-Qur'an," kata Faried F Saenong Dosen dan Peneliti Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru pada Kajian Membumikan Al-Qur'an di Pusat Studi Al-Qur'an, Jalan Kertamukti, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (8/11).

Faried menjelaskan bahwa ada istilah etnografi imajiner. Ia membayangkan pemahaman masyarakat Makkah saat itu. Sebab, katanya, antropolog harus meyakini informasi yang informan sampaikan, meski tidak sampai menjadi keyakinannya.

"Sesuatu yang tidak mungkin kita percayai tidak perlu dipercayai sebagai keyakinan, tapi diyakini sebagai informasi yang melekat  keyakinan mereka," ujarnya pada diskusi yang bertema Yang Sakral dan Profan dalam Sejarah Kitab Suci: Al-Qur'an, Antropologi, dan Etnografi Imajiner itu.

Ia menceritakan, seorang peneliti Hindu di Meksiko juga melakukan pendekatan yang sama, yakni dengan memahami Hindu dari masyarakat India.

Katib PCINU Australia Selandia Baru juga menyampaikan bahwa tradisi masyarakat dengan Al-Qur'an bisa didekati dengan antropologi. Qari atau hafidh, misalnya, yang tidak pernah lepas dengan Al-Qur'an.

Selain itu, penyembuhan dengan Al-Qur'an, baik itu dengan dibacakan langsung atau melalui media air, menurutnya, juga bisa diteliti dengan pendekatan antropologi.

Contoh lain, seperti sebagai media pelindung dari makhluk halus dan makhluk jahat, dan penggunaan Al-Qur'an sebagai doa penambah rizki dengan membaca ayat tertentu. "Itu tradisi yang bisa kita teliti," tuturnya. (Syakir NF/Muiz)
Kamis 8 November 2018 19:0 WIB
Penjelasan Antropolog Tentang Mengapa Al-Qur’an Berbahasa Arab
Penjelasan Antropolog Tentang Mengapa Al-Qur’an Berbahasa Arab
Foto: freepik
Tangerang Selatan, NU Online
Antropolog Farid F Saenong menjelaskan, dari kacamata antropologi setidaknya ada dua hal mengapa Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Pertama, orang yang membawanya adalah orang Arab. Maksudnya, Nabi Muhammad yang diberi Allah wahyu Al-Qur’an adalah orang Arab. Sebagai nabi dan rasul terakhir, Muhammad memiliki tugas untuk menyampaikan ajaran Islam yang ada dalam Al-Qur’an.

Kedua, masyarakat dimana Al-Qur’an diturunkan adalah masyarakat berbahasa Arab. Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun di jazirah Arab; 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. 

Baik masyarakat Makkah maupun Madinah adalah suku-suku yang menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi sehari-harinya. Oleh sebab itu, Farid menyebut Al-Qur’an berbahasa Arab.

“Pasti lucu kalau Al-Qur’an bukan bahasa Arab,” kata Peneliti di JD Stout Centre Universitas Victoria Wellingtong merujuk dua hal di atas, di Ciputat, Kamis (8/11).

Di samping itu juga berkembang alasan-alasan lainnya mengapa Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, bukan bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Latin, Persia, Jawa, Indonesia, atau yang lainnya. Diantaranya bahasa Arab memiliki kelebihan dan keunggulan dibandingkan bahasa-bahasa lainnya. 

Ibnu Faris dalam kitabnya as-Shahibi fi Fiqh al-Lughah mengungkapkan, pada saat Allah memilih bahasa Arab untuk ‘menjelaskan’ firman-Nya maka itu menunjukkan bahwa kemampuan dan tingkatan bahasa-bahasa lainnya berada di bawah bahasa Arab.

Begitu pun dengan As-Suyuthi. Di dalam kitabnya al-Mazhar fi Ulum al-Lughah, ia menilai kalau bahasa Arab memiliki kekayaan linguistik dan keluasan dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG