::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketum PBNU Jelaskan Langkah Nabi Bangun Masyarakat Arab

Selasa, 20 November 2018 17:15 Nasional

Bagikan

Ketum PBNU Jelaskan Langkah Nabi Bangun Masyarakat Arab
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan sejumlah langkah Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat Arab yang saat itu dikenal dengan jahiliyah atau tidak berperadaban.

"Nabi Muhammad diperintah oleh Allah agar menyebarkan agama Islam dan akhlak di tengah-tengah masyarakat ummi (tidak berperadaban) dan sesat," kata Kiai Said, sapaan akrabnya.

Pernyataan tersebut disampaikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammd SAW yang diselenggarakan Pimpinan Fatayat NU bersamaan dengan Penutupan Grand Final Pekan Olahraga Perempuan (POP) Nahlatul Ulama, di GOR Otista Jakarta, Selasa (20/11).

Menurut Kiai Said, dalam membangun masyarakat Arab dari jahiliyah ke berperadaban, Nabi Muhammad menempuh empat tahap. 

Pertama, Nabi Muhammad memperkenalkan Al-Qur'an. "Jadi Nabi Muhammad, langkah pertamanya memperkenalkan Al-Qur'an kepada masyarakat yang masih buta huruf dan tidak beradab itu," ucapnya.

Kiai Said mengatakan, saat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an, masyarakat Arab terkesima oleh keindahan bahasa dan isinya. "Orang-orang Arab mendengarkan Al-Qur'an, bahasanya bagus isinya luar biasa," katanya.

Kedua, membangun kepribadian. Kiai kelahiran Kempek Cirebon, Jawa Barat itu mengatakan, pembentukan kepribadian dilakukan supaya umat Islam mempunyai martabat dan mulia, seperti bertanggung jawab dan idealisme yang tinggi.

"Nabi Muhammad membimbing sahabat seperti itu, Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar tidak beradab. Eh, begitu masuk Islam menjadi kepribadian pemimpin yang adil," ucapnya.

Ketiga, membentuk masyarakat yang berilmu, sehingga melahirkan orang-orang pintar, seperti Imam Syafii, Imam at-Thobari, dan Imam Ghozali. 

"Yang tadinya masyarakat ummiyin menjadi bangsa yang bergengsi karena menguasi ilmu pengetahuan," katanya.

Keempat, hikmah, yakni bijaksana atau arif. Orang yang sudah pada tahap ini, maka tutur katanya mengandung makna yang sangat baik. Dalam pergaulan, ia bisa memengaruhi orang untuk melakukan kebaikan. Ia juga dalam mengambil langkah selalu tepat.

Dengan demikian Nabi Muhammad sukses membangun umat Islam umat yang bermartabat yang tadinya ummiyyin. Inilah yang dibangun oleh Rasulullah SAW.

“Kesimpulannya, Nabi Muhammad membangun masyarakat agamanya, akhlaknya, budayanya, dan wisdom, hatinya juga dibangun," tandasnya. (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)