Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Cerita Penjahit Rumahan; Sepi Garapan, sementara Menanggung Beban Ganda

Cerita Penjahit Rumahan; Sepi Garapan, sementara Menanggung Beban Ganda
Ibu Miah menerima paket beras dari Pengurus NU Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Foto:NU Online/Nuruddin Suryanulloh)
Ibu Miah menerima paket beras dari Pengurus NU Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Foto:NU Online/Nuruddin Suryanulloh)
Jombang, NU Online
Covid-19 telah berdampak kepada hampir semua lapisan masyarakat. Yang paling tampak, di samping dampak medis, aspek ekonomi masyarakat juga tak bisa dilihat dengan sebelah mata. Apalagi masyarakat yang taraf ekonominya menengah ke bawah. Alih-alih dari pekerjaannya bisa mencukupi kebutuhan kesehariannya, kadang mereka hanya menganggur tak punya pekerjaan pasti.
 
Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur banyak ditemui masyarakat yang menjadi korban terdampak Covid-19. Salah satunya seperti Ibu Miah (45), seorang penjahit tas hajatan yang saat ini tidak lagi mendapat pesanan jahit dari warga sekitar. Beda tatkala sebelum adanya wabah Covid-19, keuntungan dari menjahit tas bisa didapat tidak sekadar mencukupi kebutuhan pribadinya, tetapi juga keluarganya.
 
Sekarang, perempuan asal Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Jombang ini kurang lebih satu bulan tak lagi beroperasi. Ia terpaksa meliburkan diri, lantaran tak ada lagi pesanan menjahit dari masyarakat sekitar, bahkan pelanggannya.
 
Padahal, Ibu Miah sekarang menanggung beban ganda, di samping harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, juga harus mengurus adiknya yang sedang sakit. Bahkan harus intens mendapat penanganan dari tenaga medis.
 
"Sudah kurang lebih satu bulan ini libur tidak menjahit tas, karena tidak ada yang dikerjakan. Padahal saya lagi merawat adik yang sedang sakit," katanya saat beberapa Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kedungbetik mengunjungi rumahnya untuk memberikan paket beras.
 
Ia mengaku, dirinya memang sudah cukup lama menanggung beban kesehatan adiknya ini. Pasalnya, adiknya mengalami lumpuh sekitar 19 tahun lamanya, dan hingga kini belum juga sembuh. Situasi pandemi Covid-19 tentu menjadi pukulan telak baginya. "Sakitnya itu sudah (sangat lama) tahunan," ungkapnya.
 
Miah bersyukur atas bantuan paket beras yang diterima dari PRNU setempat. Paling tidak dalam beberapa waktu ke depan bisa membantu kebutuhan pokoknya. "Dengan adanya bantuan ini, Alhamdulillah bisa mengurangi beban keseharian saya" tuturnya dengan penuh rasa syukur.
 
Sementara itu, Ketua NU Ranting Kedungbetik Sulton Binnuri saat dihubungi terpisah mengungkapkan, sejak satu pekan terakhir ini PRNU memang menyasar warga-warga yang kurang mampu untuk diberikan paket beras. "Bantuan ini di berikan kepada warga yang tidak bisa bekerja akibat adanya Covid-19 dan juga diberikan ke para duafa," ucapnya, Selasa (21/4).
 
Dirinya berupaya memberikan kontribusi positif yang manfaatnya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang membutuhkan. "Yaitu memfasilitasi para donator untuk menyalurkan bantuan atau sumbangan kepada masyarakat," pungkasnya.
 
Kontributor: Nuruddin Suryanulloh
Editor: Syamsul Arifin


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×