Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kiai Marzuki: Carilah Menantu karena Ilmunya

Kiai Marzuki: Carilah Menantu karena Ilmunya
Ilustrasi
Ilustrasi

Jombang, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar memberikan pandangan agar Nahdliyin mencari calon menantu yang memiliki kapasitas keilmuan mumpuni.


Hal ini disampaikannya saat mengisi acara tujuh hari wafatnya Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum (induk) KH Abdul Nashir Fattah, Sabtu (3/9/2022).


"Golek (mencari) mantu juga karena ilmu. Saya tidak bisa membayangkan bila di Nahdlatul ulama tidak ada orang alim. Ilmu awet ribuan tahun. Kalau bangunan bisa runtuh," jelasnya.


Pandangan ini, kata Kiai Marzuki bukan tanpa sebab. Alasan logisnya karena Islam tetap eksis saat ini karena sisi keilmuannya jalan terus. Menjaga Islam saat ini dengan ilmu. Bangunan bisa hilang dan lapuk. Namun, ilmu semakin diajarkan, akan semakin barakah.


Selain itu, menantu adalah calon pewaris dan pengelola lembaga dan penerus tradisi Nahdliyin. Penting mewarisi hal baik dimulai dari lingkup paling kecil yaitu keluarga. Jika keluarga sudah kacau, maka hal besar lainnya lebih kacau.


"Kembali ke ilmu, Kiai Nashir dan Tambakberas biasanya cari menantu yang penting alim (berilmu). Rumusan keluarga pondok itu ilmu, ilmu dan ilmu," ujarnya.  


Oleh karenanya, para kiai mendidik anaknya hingga alim dan cari besan pun karena ilmu. Sebab kiai Nahdlatul Ulama harus memperhatikan sisi keilmuan. Jika orang yang pintar berasal dari non-Nahdliyin maka dikhawatirkan Nahdlatul Ulama tidak lagi direspons masyarakat.


"Kita pesantren kurang ilmu sains. Ini penting. Setelah hafalan Qur'an dan kutubussittah maka masuk ke ranah sains. Ushul fiqih, kaidah fiqih kita kuasai, filsafat kita kuasai, sains kita kuasai, maka Islam jaya," tegas tokoh agama asal Malang ini. 


Kiai Marzuki menambahkan mengetahui politik, jaringan sosial dan ilmu ekonomi itu benar. Namun, jangan sampai mengejar itu semua lalu abai dengan kedalaman ilmu. Tetap harus berdiri di jalur ilmu.


"Ada banyak pondok dan masjid yang dulu Nahdlatul Ulama, lalu tokohnya wafat dan berubah arah. Maka penting kokoh dan mantap di jalur keilmuan," imbuhnya.


Menurut Kiai Marzuki, segala sesuatu itu ada tiangnya agar kokok dan tidak ambruk. Tiang yang membuat bangunan Islam kokoh adalah ilmu. Masjid-masjid yang tidak ada kajian keilmuan dan hanya jamaah saja maka tinggal menunggu waktu kejatuhannya.


"Majelis ilmu itu lebih utama dari wiridan 60 tahun. Orang awam jangan jauh dari kiai, biar mati tetap bawa iman," katanya.


Dikatakan, pentingnya ilmu bagi umat Islam juga bisa digunakan untuk mengetahui perubahan teks hadis dan kitab kuning. Karena banyak yang mulai merubah kitab kuning versinya mereka.


Penting warga NU menjadi alim seperti menguasai kutubussittah, Riyadussholihin, Fathul Wahab, untuk jaga tradisi keilmuan dari Rasulullah.


"Sekarang banyak yang merubah teks hadis dan kitab kuning sesuai akidahnya. Kalau kita tidak alim maka bahaya, tidak tahu ada yang diubah," tandas Kiai Marzuki


​​​​​​​Kontributor: Syarif Abdurrahman 
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×