Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Pentingnya Ilmu, Kiai Marzuki: Dimulai dari Dasar

Pentingnya Ilmu, Kiai Marzuki: Dimulai dari Dasar
Tangkap layar Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Masyayikh Pesantren Raudlatut Thalibin, Sabtu (1/10/2022).
Tangkap layar Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Masyayikh Pesantren Raudlatut Thalibin, Sabtu (1/10/2022).

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar mengungkapkan bahwa ilmu sangat penting di bidang apa pun, dimulai dari ilmu yang paling dasar dan sederhana yaitu tajwid sampai ilmu tasawuf. Ibadah yang tidak didasari ilmu maka tidak akan menjadi ibadah.


Orang rajin shalat tapi tidak belajar tajwid sama sekali sehingga makhrajnya salah. Salah makhrah termasuk ke dalam salah besar yang bisa mengubah makna dan membatalkan bacaan. 


"Kalau bacaan yang salah itu kebetulan rukun shalat seperti takbir, fatihah, tahiyat, salam jika salah maka shalatnya shalatnya menjadi batal. Jadi penting untuk mengaji untuk memperbaiki makhraj," tuturnya saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Masyayikh Pesantren Raudlatut Thalibin, Sabtu (1/10/2022).


Selain itu menurutnya ilmu fiqih juga penting seperti thaharah sampai gerakan-gerakan shalat jika tidak menggunakan ilmu maka akhirnya tidak menjadi shalat. Seperti dalam kasus menggunakan peci yang menutup kening sehingga tidak menempel tempat sujud.


"Seperti juga kasus perempuan yang bercadar, jika tidak membuka keningnya saat sujud maka menjadi batal. Terlibatnya seperti syar’i sekali tapi karena tidak menggunakan ilmu justru menjadi sebab shalatnya tidak sah," jelas Kiai Marzuki.


Ia juga menambahkan bahwa ilmu fiqih juga dapat digunakan untuk membedakan penyembelihan hewan yang sah dan tidak. Jika tidak dapat membedakan sembelihannya itu sah maka sama halnya memakan bangkai, jika memakan bangkai maka mulut menjadi najis.


"Pisau untuk menyembelih tidak boleh dilepas sebelum saluran pernafasan dan saluran makan pada hewan benar-benar putus. Syukur-syukur kalau menurut imam Syafi’i disunahkan memotong urat nadi yang ada di sebalah kanan dan kiri, ketika pisau dilepas maka darah akan mengucur deras. Jika darah sudah keluar semua maka hewan akan mati, itu yang dinamakan sembelihan yang sah," terangnya.


Ia menegaskan bahwa seseorang penting untuk diingatkan mana lubang bukan karena biar masuk ke lubang itu, tapi untuk menghindari lubang. Ada seorang sahabat yang ingin mengetahui kesalahan agar tidak masuk ke dalam lubang yang salah, itulah kenapa ilmu menjadi penting.


Selain itu menurutnya ilmu tauhid juga sangat penting dipelajari. Menjalankan shalat dengan benar dan setiap malam menjalankan tahajud tapi ketika tauhidnya masuk kategori musyabbihat, mujassimat, yaitu membayangkan bahwa Allah swt itu berwujud fisik maka tidak menyembah Allah namanya. Padahal Allah tidak mungkin sama dengan makhluknya.


"Apa yang terbayangkan dihati tentang Allah itu bukan Tuhan, bayanganmu ya bayanganmu, imajinasimu ya imajinasimu. Kalau itu yang dibayangkan berarti selama beribadah sama halnya menyembah bayangan sendiri tentang Allah, ini dinamakan musyrik," bebernya.


Kika semua ilmu sudah benar tapi hatinya tidak benar maka seperti sebuah sandiwara, sehingga tidak bisa dinamakan ibadah. Agar ibadah dapat diterima sebagai ibadah yang sesungguhnya harus menggunakan ilmu.


Kontributor: Afina Izzati
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×