Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Dengan Sepeda, Gus Dur Muda Membonceng Tamu dari Denanyar ke Tambakberas

Dengan Sepeda, Gus Dur Muda Membonceng Tamu dari Denanyar ke Tambakberas
Tamu yang memohon fatwa tentang kurban itu pun kemudian dibonceng Gus Dur naik sepeda pancal (ontel) dari ndalem Kiai Bisri di Pesantren Denanyar menuju ndalem Kiai Wahab Hasbullah di Pesantren Tambakberas.
Tamu yang memohon fatwa tentang kurban itu pun kemudian dibonceng Gus Dur naik sepeda pancal (ontel) dari ndalem Kiai Bisri di Pesantren Denanyar menuju ndalem Kiai Wahab Hasbullah di Pesantren Tambakberas.

Selama ini cerita yang berkembang tentang seseorang (masyarakat desa) yang mempunyai uang cukup untuk membeli satu sapi kurban kemudian bertanya kepada Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Hasbullah itu lepas setting atau latar belakang. 


Nah, dari ceramah Gus Dur antara lain pada Haul Ke-29 KH Bisri Syansuri pada tahun 2008 M di Pesantren Denanyar, kita menjadi tahu bahwa Kiai Bisri Syansuri menerima tamu itu setelah beliau selesai mengisi pengajian bagi masyarakat luas, tiap Selasa siang di ndalem kasepuhan Denanyar. Untuk diketahui, Gus Dur ikut mengaji kepada Kiai Bisri Syansuri tiap Selasa dan Jumat siang.


Tradisi Ngaji Selasa siang yang dimulai Kiai Bisri Syansuri ini sampai sekarang masih lestari di Pesantren Denanyar, hanya berganti tempat, yang semula di ndalem, selepas wafatnya Kiai Bisri Syansuri bertempat di serambi Masjid Denanyar.


Tamu tadi ikut mengaji, dan menunggu hingga Kiai Bisri Syansuri selesai mengaji. Kemudian ia bertanya,


"Kiai, saya mempunyai uang yang cukup untuk pembelian sapi. Namun anak saya ada delapan orang."


"Sampean belikan satu sapi, dan itu cukup untuk korban tujuh orang. Nah, karena ada delapan anak, maka yang satu anak itu dibelikan saja satu kambing. Atau, Sampean nunggu tahun depan saja kurbannya, sehingga cukup untuk kurban delapan anak," jawab Kiai Bisri Syansuri. 


Tampaknya seseorang ini masih kurang puas, dan hal ini dirasakan oleh Kiai Bisri. Gus Dur yang ikut mengaji, kemudian dipanggil Kiai Bisri untuk diberikan solusi. "Abdurrahman, Sampean antar orang ini ya, ke Kiai Wahab di Tambakberas. Apa kata Kiai Wahab saja," Gus Dur kemudian melaksanakan perintah kakeknya tersebut. 


Akhirnya tamu yang memohon fatwa tentang kurban itu pun kemudian dibonceng Gus Dur naik sepeda pancal (ontel) dari ndalem Kiai Bisri di Pesantren Denanyar menuju ndalem Kiai Wahab Hasbullah di Pesantren Tambakberas.


Sambil menunggu di teras ndalem Kiai Wahab, Gus Dur ikut mendengarkan.


"Sampean dari mana, ada perlu apa?" Tanya Kiai Wahab yang kemudian dijawab dengan menyebut nama desa oleh seseorang tersebut.


Seseorang itu kemudian menyampaikan masalahnya, sama seperti yang disampaikannya kepada Kiai Bisri Syansuri. 


Jawab Kiai Wahab, "Dibelikan sapi untuk kurban tujuh anak. Sampean beli satu kambing kuat (mampu) tidak?"


Dijawab oleh orang NU yang bertanya itu, "Iya, Kiai. Kuat."


"Nah, karena yang paling kecil itu belum bisa naik sapi, ya dibelikan satu kambing untuk pijakan (ancik-ancik)."


Rupanya orang ini puas atas jawaban Kiai Wahab. Demikianlah Kiai Wahab dikenal sebagai Kiai yang lebih memahami psikologi (suasana jiwa) masyarakat.


Ustadz Yusuf Suharto, pegiat Aswaja Center Jawa Timur



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Fragmen Lainnya

Terpopuler Fragmen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×