Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Monumen Kesetaraan: Gerakan Awal Perempuan NU

Monumen Kesetaraan: Gerakan Awal Perempuan NU
Ilustrasi perempuan NU. (Foto: dok. NU Online)
Ilustrasi perempuan NU. (Foto: dok. NU Online)

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyebut muktamar ke-13 di Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten merupakan monumen kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam organisasi NU. Pada saat itu 2 perempuan atas nama Nyai Djuaesih dan Siti Sarah berpidato di arena muktamar di hadapan para pendiri NU yang menuntut untuk agar mereka terlibat dalam pergerakan. Sebuah peristiwa yang tak pernah terjadi pada muktamar-muktamar NU sebelumnya. Peristiwa itu selalu dirujuk pada tiap penulisan pada awal sejarah perempuan NU. Maka wajar jika Ketum PBNU menyebutnya sebagai monumen.


Meski demikian, tampilnya 2 perempuan itu ternyata belum berdampak pada struktur keorganisasian. Para kiai NU belum menyepakati sebuah wadah tersendiri sebagaimana yang berlaku terhadap pemuda NU dengan berdirinya ANO. Maka, saat muktamar ke-14 NU di Magelang pada 1939, muncul rumusan pembentukan organisasi perempuan NU. 


Pada muktamar itu pembahasan sudah lebih maju karena mulai dibentuk Komisi Bidang Perempuan yang dipimpin Nyi R Djuaesih. Muktamar ini juga dihadiri perempuan dari Muntilan, Sukareja, Kroya, Wonosobo, Surakarta, Magelang, Banatul Arabiyah Magelang (para keturunan Arab), Zahratul Iman Magelang, Parakan, Bandung, dan lain sebagainya. Kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan berdirinya organisasi perempuan kalangan NU. (Sri Mulyati, Tujuh Puluh Tahun Muslimat Nahdlatul Ulama: Kiprah dan Karya Perempuan NU, 2016).


Namun lagi-lagi, pada muktamar itu pun, para kiai belum menyepakati sebuah wadah khusus perempuan NU. Lalu pada muktamar selanjutnya, yang ke-15 di Surabaya pun sama saja. Barulah setahun selepas Indonesia merdeka, secara struktural, Muslimat resmi menjadi salah satu badan otonom NU pada Muktamar ke-16 di Purwokerto pada 1946. 


Lalu, ketika kalangan perempuan NU tidak terakomodasi secara organisasi, lantas mereka berpangku tangan? Ternyata tidak demikian. Kalangan perempuan NU terlibat dalam organisasi tanpa menunggu adanya status yang jelas. Pada sebuah berita berjudul Pasamoan Openbaar Nahdlatoel Oelama Tjabang Cirebon yang dilaporkan langganan No 848 majalah Al-Mawaidz edisi Juli 1934 melaporkan:


Nalika malem Kemis tanggal 27 ka 28 Juni tahun 1934 atanapi 16 Mulud 1353 ku jamiah Nahdlatul Ulama Kring Karangsembung dan Kring Ciledug (sadaya bagian cabang Cirebon) geus diayakeun openbaar nasehat tempatna di masjid Desa Jatipiring bagian onderdistrik karangsembung, Distrik Sindanglaut (Cirebon). 


Jalma anu nungkulan langkung ti 100 jalma lalaki, awewe, kolot, ngora, ti pihak polisi oge cukup. 


Ku margi teu aya deui tempat, jadi kapaksa para istri ditempatkeun di lebet masjid, lalaki di pakarangan masjid terus ka alun-alun. Ti pihak polisi oge teu aya kabeuratan asal bae nu nyarios kedah sahandapeun wawangunan (sayaktosna nu nyarios teu kedah handapeun wawangunan, asal dina pakarang anu dipager, red.). Nu rek nungkulan terus merul. 


Berdasarkan berita, NU Cirebon mengadakan sebuah acara yang diikuti kalangan lak-laki dan perempuan. Laki-laki berada di pekarangan masjid, sementara perempuan di dalam. 


Laporan lain yang dimuat Berita Nahdlatoel Oelama edisi 1 September 1936 menunjukkan hal serupa, yaitu keterlibatan perempuan dalam acara-acara NU. Berdasarkan berita itu, kalangan perempuan menghadiri acara yang dilaksanakan ANO Cirebon:


Tanggal 1 ke 2 bulan Agustus, 1936 diadakan openbaar nasehat di rumah Abdulmukmin, letaknya dekat dengan Gemeente di Babakan onderdistrict Babakan, District Ciledug. Kegiatan itu dihadiri 7000 orang laki-laki dan perempuan.


Sementara di cabang-cabang NU yang lain, Muslimat tak hanya hadir di kegiatan NU, melainkan mengadakan acara tersendiri, misalnya Muslimat NU Cabang Bandung dan Subang seperti mengadakan pengajian khusus ibu-ibu sampai lembaga pendidikan khusus perempuan. Koran Sipatahoenan Januari 1937 menyebut mereka sebagai Nahdlataoel Oelama Istri saat memberitakan kegiatan-kegiatan mereka. Misalnya pada berita berikut ini yang dihadiri 1200 orang. 


Vergadering Nahdoh Istri Bandoeng noe tempatna di Gedoeng Hassanijah school Kopoweg, didatangan koe koerang leuwih 1200 kaoem istri.


Poekoel 9 vergadering diboeka koe Voorzitter sarta ngahatoerkeun wiloedjeng soemping djeung sadjaba ti eta, sarta sanggeusna ngajakeun waktos pikeun silatoerracbmi, teroes ngabarempoegkeun Madrosah Istri noe bukul diboeka dinu tanggal18 Januari n.b.d. 


Sanggeus eta teroes Secretaresse ngadadarkeun hal ngadji noe bakal diajakeun keur kaom istri bae, nja eta saban 2 minggoe sakali di Gedong Hawanijahschool, mimiti poekoel 9 isoek-isoek, djeung rek dimimitian dina powe Ahad tanggal 17 Januari n.b.d.


Dari berita itu bisa diketahui, kalangan perempuan NU telah memikirkan dan mengupayakan semacam lembaga pendidikan untuk perempuan. Berita lain pada koran yang sama menunjukkan keberhasilan mereka dalam bidang itu, yaitu berdirinya lembaga pendidikan khusus perempuan di Cicendo, Bandung. 


Di NU Subang juga berlangsung aktivitas kalangan Muslimat sebagaimana dilaporkan koran Pemandangan edisi 19 Mei 1938 dengan judul Moeslimatoen Nahdoh N. O. (isteri): 


Pada hari Minggoe tanggal 15-5-38, M.N, Soebang ta' ketinggalan, telah mengadakan perajaan Mauloed jang speciaal oentoek kaoem iboe sendiri, bertempat disekolah N. O. 


Padjangan tempat sidang, lebih dari menjedapkan penglihatan. Boenga2an ta” koerang banjaknja. Jang mengoendjoengi boekan hanja sadja dari fihak M.N. sendiri, akan tetapi besar perhatian dari kaoem iboe doenia loearnja, hingga menjebabkan ta' sedikit jang tidak kebagian tempat doedoek, 


Moelai djam 9 pagi, sidang perajaan diboeka oleh njonja Solihat Fagih, kemoedian membatja ajak Al-Qur'an oleh njonja Sa'diah.


Muslimat NU Purwakarta yang berkedudukan di Subang itu berdasarkan koran Pemandangan 13 Mei 1941, diberitakan bahwa kalangan perempuan NU memperingati ulang tahuannya yang kelima. Dengan demikian, gerakan perempuan NU di wilayah tersebut berlangsung sejak 1936. 


Tak heran kemudian, gerakan perempuan NU di Jawa Barat sangat diperhitungkan karena tidak melulu menyangkut masalah internal. Sebagai contoh, perempuan NU Bandung pernah menolak ordonansi pernikahan Hindia Belanda, serta mengikuti Volkenbond internasional yang membahas pelacuran dan perdagangan anak. Apa yang dilakukan para ibu di Bandung mendapatkan apresiasi pengurus NU di tingkat pusat sebagaimana diungkapkan pada verslaag Muktamar ke-15 NU di Surabaya pada 1940. 


Majalah Al-Mawaidz edisi 15 October 1935melaporkan sebuah kegiatan yang dilaksanakan bagian istri NU di Soemedang pada berita berjudul Ngaos Mi’radj di Soemedang:


Poe Minggoe anoe anjar kaliwat di Soemedang geus diajakeun rioengan ngaos M’radj koe istri-istri noe aja di ieu kota, tempatna di clubhuis N.O. 


Noe saroemping ngaloeloeoehan kana ieu pasamoan, moal kirang ti 500 istri. 


Samemeh ngamimitian ngaos Mi’radj, djoeng djoeragan Siti Rahmah ngadeg nganoehoenkeun ka noe saroemping, noe geus kersa njontang waktos tina padamelanana. 


Tammat noe nganoehoenkeun disamboeng koe Djoeragan Siti Roekajah, medar roepa-roepa nasehat anoe dipirig koe hadits; nasehatna atra tetela, pikahartieu anoe ngadengekeun nepi ka nasehat anoe sakitoe pandjang lebarna the karasana koe hadirot asa sakeudeung pisan. 


Geus kitoe toeloej disamboeng koe ngaos Al-Qoer’an, sarta sabadana teras ngaos Mi’radj dirembeuj koe roepa-roepa nasehat. 


Istrina Djoeragan Antaprawira oge (Vorrzitter N.O. Soemedang) teu tinggaleun ngedalkeun roepa-roepa nasehat. 


Poekoel 12 pasamoan ditoetoep ditoengtoengan koe Al-Fatihah. 


Lebih dari itu, Muslimat di beberapa cabang Jawa seolah-olah sudah berdiri. Di Indramayu berdasarkan Berita Nahdlatoel Oelama misalnya melaporkan kegiatan Muslimat NU yang mengadakan pergantian pengurus. Selain itu, pada muktamar ke-15 di Surabaya pada 1940, Muslimat NU dari Indramayu turut menjadi peserta atas nama St. Hasanah dan St. Salihah.


Di Cirebon sepertinya pada akhir tahun 1930-an seolah-olah sudah terbentuk sebuah cabang. Hal itu bisa diketahui melalui rubrik Kabar Kematian di Berita Nahdlatoel Oelama edisi Jumadil Awwal 1941. Pada rubrik itu disebutkan ada warga NU Tasikmalaya yang meninggal atas nama Ny Sarumah, bewijs No. 7171 serie J. Warga yang meninggal lainnya adalah Bok H Homsatun, ibunya dari Bok Hj. Fatima, kandidat Kring Muslimat Nahdlatul Ulama Cirebon.


Melalui kabar itu Bok. Hj. Fatima merupakan seorang anggota dari kandidat ranting Muslimat NU di Cirebon. Dengan menyebut kandidat ranting, mengisyaratkan sudah terbentuknya cabang Muslimat NU di daerah tersebut. Namun sayang, belum ditemukan titi mangsa berdiri dan susunan kepengurusannya. Kabar yang didapatkan masih sebatas mengikuti kegiatan-kegiatan di NU.


Penulis: Abdullah Alawi  

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Fragmen Lainnya

Terpopuler Fragmen

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×