Nasional

Gus Reza Lirboyo: Wahbi dan Kasbi, 2 Jalan Rezeki dari Allah

Ahad, 18 Juni 2023 | 09:00 WIB

Gus Reza Lirboyo: Wahbi dan Kasbi, 2 Jalan Rezeki dari Allah

Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jatim, KH Reza Ahmad Zahid saat mengisi ceramah dalam Khataman Akhirussanah ke-59 Pondok Pesantren Raudlatul Muttaqien (PPRM), Jangkrikan, Kepil, Wonosobo, Jateng Sabtu (17/6/2023) malam. (Foto: YouTube PPRM)

Wonosobo, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Reza Ahmad Zahid mengungkap dua jalan rezeki mengalir dari Allah Swt kepada manusia. Dua jalan rezeki itu adalah wahbian dan kasbian.


Hal itu diutarakan Gus Reza, sapaan karibnya, ketika mengisi ceramah dalam Khataman Akhirussanah ke-59 Pondok Pesantren Raudlatul Muttaqien (PPRM), Jangkrikan, Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (17/6/2023).


Wahbi itu anugerah. Wahbi adalah suatu rezeki yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya sesuai keinginan Allah. Makanya di situ ada min haisu la yahtasib, rezeki turun kapan sesuai kehendak Allah,” jelasnya kepada hadirin dalam YouTube pprm_jangkrikan Official semalam.


Gus Reza mengurai, ada orang yang tidak begitu bekerja, tetapi diberi rezeki melimpah oleh Allah. Rezekinya mengalir, datang saja. Itu pertama. Kedua, adalah kasbi.


“Kasbi artinya kita harus menggerakkan badan kita, harus menggerakkan tangan kita, menggerakkan kaki kita. Supaya apa? Rezekinya datang. Kalau tidak kerja, ya meleleh,” terangnya.


“Makanya harus kerja. Harrik yadak, ya'tiika rizquka. Gerakkan tanganmu, maka rezeki akan datang kepadamu,” imbuh Gus Reza.


Gambaran rezeki wahbi dan kasbi, lanjut dia, adalah seperti apa yang terjadi pada Imam Malik dan Imam Syafii. Lalu ia pun mengisahkan dua tokoh pendiri madzhab dalam Islam itu dengan bahasa santri dan jamaah yang hadir.


Alkisah, ketika dalam suatu pengajian, Imam Malik berkata, “Nak, kita mendapat rezeki dari Allah. Sudah, jangan terlalu. Karena rezeki semua makhluk yang berjalan di atas bumi Allah itu sudah ditentukan. Maka, kalau mencari rezeki tidak usah terlalu keras. Santai saja,” tuturnya.


Di tengah pengajian itu, Imam Syafii yang merupakan salah satu murid Imam Malik tunjuk jari. “Wahai Imam Malik, saya punya pendapat yang berbeda.”


“Apa pendapatmu?”


“Pendapat saya, kita kalau ingin mendapat rezeki itu malah mestinya harus kerja. Kalau tak kerja, rezeki tidak datang.”


Keduanya pun berdebat, adu argumen, antara guru dengan murid. Yang satu dalam soal rezeki berkata santai saja, yang lainnya harus bekerja. Tak ada titik temu dalam perbedaan pendapat itu.


Ringkas cerita, pagi-pagi Imam Syafii berjalan-jalan ke suatu desa. Di tengah perjalanan, ia melihat orang-orang sedang panen anggur. Riwayat lain mengatakan panen apel. Lalu ia membantu memetik buah atau panenan itu. Walhasil, setelah panen, ia diberi sekeranjang buah itu.


Imam Syafii pun senang. Tetapi senangnya ini bukan karena mendapat jatah buah, melainkan karena ia jadi punya dalil atau argumentasi. “Alhamdulillah, saya punya dalil. Ini akan saya berikan kepada Imam Malik.”


Kemudian datanglah Imam Syafii ke rumah Imam Malik. Ia pun ditanya keperluannya.


“Ada apa?”


“Saya punya dalil.”


“Dalil apa?”


“Saya usai membantu petani panen, lalu mendapat buah. Kalau seumpama tidak membantu petani, saya tidak mendapat sebungkus anggur ini. Berkah saya bekerja, saya dapat rezeki. Dan ini menjadi dalil saya, bahwasannya rezeki Allah itu harus diusahakan dengan bekerja, kalau tidak kerja tak dapat.”


Mendengar argumen Imam Syafii itu, Imam Malik pun tersenyum. Ia lalu bercerita. “Tadi malam saya bermimpi makan anggur. Begitu bangun, saya berdoa: ‘Ya Allah, saya bermimpi makan anggur. Begitu bangun, saya ingin makan anggur. Semoga ada yang mengantarkan anggur kepada saya’,” ungkap Imam Malik.


Mendengar jawaban itu, Imam Syafii pun terbelalak karena berargumen bahwa harus bekerja untuk mendapat anggur. Sedangkan kata Imam Malik, tidak pakai kerja, anggur datang sendiri kalau memang sudah menjadi rezeki.


Akhirnya, setelah terjadi perbedaan pendapat dan pembahasan soal anggur itu, keduanya pun bergurau dan makan anggur barsama.


“(Rezeki) wahbi atau kasbi, semuanya itu minallah, dari Allah swt,” simpul Gus Reza.


Di acara ini, kiai kelahiran 22 September 1980 itu juga didaulat meluncurkan dan mendoakan MTs As-Syamsy di bawah Yayasan Raudlatul Muttaqien yang dibuka tahun ini. Hadirin pun mengamini rapalan doa Gus Reza.


Pentingnya Doa Orang Tua
Sebelumnya, Pengasuh PPRM Kiai Akhmad Fadlun Sy (Gus Fadlun) dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya doa orang tua kepada anak-anaknya, khususnya yang sedang menempuh pendidikan.


Lembaga pendidikan, terlebih pesantren, tak seperti penjahit. Untuk itu, Gus Fadlun meminta wali santri untuk banyak membacakan al-Fatihah kepada putra-putri mereka.


“Kalau kita datang kepada penjahit, membawa bahan pakaian, mengukur, lalu bayar, besoknya bisa jadi. Kalau pondok (pesantren) tidak bisa seperti itu,” ungkap kiai yang juga anggota komisi E DPRD Jateng itu.


Sebagai informasi, rangkaian acara Khataman Akhirussanah ini dimulai dengan pentas seni dan kreativitas santri, menghadirkan bintang tamu pelantun shalawat Hj Wafiq Azizah pada Jumat (16/6) malam.


Lalu, pada Sabtu (17/6), adalah khataman kitab yang syair atau teksnya dilantunkan para santri sesuai tingkatan kelasnya. Disaksikan wali santri dan banyak orang, mereka melafalkan hafalan itu di panggung.


Di antara kitab serta disiplin ilmu yang dihafal itu adalah Syiir Ngudi Susilo (Akhlak) karya KH Bisri Mustofa (Rembang, Indonesia); Aqidatul Awam (Tauhid) karya Syekh Ahmad Marzuqi (Sibbat, Mesir); Amsilatut Tashrifiyah (Shorof) karya KH Muhammad Ma'shum bin Ali (Gresik, Indonesia).


Kemudian, Matan al-Jurumiyah (Nahwu) karya Syekh ash-Shonhaji (Fez, Maroko); al-Imrithi (Nahwu) karya Syekh Syarafuddin Yahya (Amrit, Mesir); dan Alfiyah (Nahwu) karya Ibnu Malik (Jaén, Spanyol).


Kontributor: Ahmad Naufa
Editor: Musthofa Asrori