Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Islam Agama Realistis, Tak Selalu Idealistis

Islam Agama Realistis, Tak Selalu Idealistis
Katib Syuriyah PBNU H Sarmidi Husna saat berbicara pada gelaran PMKNU di Lampung. (Foto: NU Online/Faizin)
Katib Syuriyah PBNU H Sarmidi Husna saat berbicara pada gelaran PMKNU di Lampung. (Foto: NU Online/Faizin)

Metro, NU Online
Islam adalah agama yang moderat. Di antara definisi moderat adalah mampu menempatkan posisi dengan baik antara idealisme dan realitas. Dengan posisi ini Islam mampu memberikan solusi yang solutif dalam berbagai hal kehidupan umat Islam.


“Islam adalah agama yang realistis. Tidak selalui idealistis,” kata Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Sarmidi Husna saat kegiatan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) yang digelar di Kampus Institut Agama Islam Ma’arif NU Kota Metro, Lampung, Jumat (25/11/2022).


Kiai Sarmidi memberikan contoh moderat dan realistisnya Islam dengan kemudahan (ruhshah) dalam ibadah shalat. Kondisi ideal, shalat harus dilakukan sesuai dengan waktu dan jumlah rakaat yang telah ditentukan.


Namun, kata dia, dalam kondisi tertentu Islam juga realistis dengan diperbolehkannya umat Islam melakukan jama’ (mengumpulkan) atau qashar (memendekkan) jumlah rakat shalat.


Ia memberi contoh lain, tentang sistem pemerintahan sebuah negara. Dalam kondisi ideal, sistem pemerintahan negara adalah menggunakan syariat Islam. Namun realitasnya, hal itu tidak bisa dilakukan di seluruh dunia khususnya di Indonesia yang memiliki keragaman agama.


“Ini namanya tanazul (turun) dari idealis ke realistis,” kata pria yang juga Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat ini.


Sikap moderat ini juga bisa terlihat dari prinsip dan pandangan para kiai Nahdlatul Ulama dalam menyikapi perbedaan. Menurut dia, penegakan amar ma’ruf nahi munkar juga harus melihat kondisi realistis yang ada.


Jika dalam sebuah perbedaan  masih memiliki dasar hukum maka tidak akan dilakukan nahi munkar. Namun sebaliknya, hal kemaksiatan yang sudah jelas tak memiliki dasar diperbolehkan, maka nahi munkar harus dilakukan.


“Karakter Aswaja tak gampang mengafir-ngafirkan,” tegasnya.


Sebelumnya, Kiai Sarmidi dalam sebuah tulisan di NU Online menjelaskan bahwa sikap moderat yang dimiliki NU karena mengikuti perpaduan antara syariat dan tasawuf.


“Tahu menerapkan syariat pada situasi dan kondisi yang ada,” tegasnya.


Selain itu, NU selalu mengedepankan untuk menjaga tiga ukhuwah yaitu Islamiyah, Basyariyah, dan Wathaniah. Ketiga ukhuwah ini sejalan dengan paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) Annahdliyah, yang mengantarkan NU menjadi moderat.


“NU menyadari bahwa dalam beragama ada pihak-pihak yang moderat. Namun, ada juga yang tidak. Ketika ada yang tidak moderat, maka perlu dibina melalui pendidikan,” pungkasnya.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×