Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Kebijakan Ibadah, Belajar, dan Bekerja di Rumah Harus Dipantau

Kebijakan Ibadah, Belajar, dan Bekerja di Rumah Harus Dipantau
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Syahrizal Syarif. (Foto: NU Online/Suwitno)
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Syahrizal Syarif. (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Terkait usaha mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah pusat maupun daerah didorong tidak hanya sekadar mengeluarkan kebijakan, tetapi juga melakukan pemantauan terhadap jalannya kebijakan oleh masyarakat.

Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Syahrizal Syarif, ada beberapa indikator kebijakan ‘di rumah aja’, yakni belajar di rumah, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah.

Menurutnya, tiga indikator ini harus diterjemahkan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari dengan pemantauan. “Baik pada tingkat pusat maupun tingkat daerah, harus melakukan pemantauan,” ujar Syahrizal Syarif, Rabu (18/3).

Jadi, imbuh dokter ahli epidemiologi ini, keberhasilan kebijakan menjaga jarak sesuai harapan jika kebijakan tersebut dipantau oleh masing-masing pemerintah daerah.

“Anak-anak sekolah diliburkan atau belajar di rumah, ini harus dipantau, apa benar anak-anak itu ada di rumah, tidak boleh justru anak-anak diajak orang tuanya untuk liburan,” ucap Syahrizal.

Langkah serupa juga perlu dilakukan terhadap kebijakan shalat di masjid maupun di mushola. Menurutnya, kebijakan meniadakan Shalat Jumat dan jamaah shalat wajib lima waktu juga perlu dilakukan pemantauan.

Pemerintah merilis data terbaru kasus positif virus corona Covid-19 hari Rabu (18/3). Ada tambahan 55 pasien positif baru sehingga total 227 orang dirawat karena terinfeksi virus corona.

Dari kasus tersebut, pasien corona yang meninggal melonjak tajam menjadi 19 orang per sore hari ini yang sebelumnya hanya 7 orang. Sedangkan yang berhasil sembuh baru 11 orang.

Dengan perkembangan data terbaru ini, Indonesia menjadi negara di Asia Tenggara dengan jumlah korban meninggal corona tertinggi dari total 227 kasus positif.

Melansir data dari laman worldometers, di urutan kedua setelah Indonesia yaitu Filipina dengan total 202 kasus positif dan 17 orang meninggal. Kemudian Malaysia yang menempati urutan pertama di Asia Tenggara untuk kasus positif namun jumlah korban meninggal hanya 2 orang.

Kemudian Thailand total 212 kasus dengan korban meninggal 1 orang. Sementara Singapura dengan total 266, Vietnam 68 kasus, Brunei Darussalam 68 kasus, serta Kamboja 35 kasus. Namun keempat negara ini belum ada korban yang meninggal. Sedangkan dua negara ASEAN lainnya, Myanmar dan Laos, tidak ditemukan datanya.

Penderita corona yang meninggal dunia paling banyak berada di Jakarta, yakni 12 orang. Kemudian, ada 1 penderita Covid-19 yang meninggal di Bali, di Banten ada 1 orang,  Jawa Barat 1 orang, Jawa Tengah 2 orang, Jawa Timur 1 orang, dan di Sumatera Utara 1 orang.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×