Nasional

Luncurkan Buku, Kiai Said Jelaskan Pentingnya Tasawuf dan 3 Kekuatan bagi Manusia

Ahad, 25 Februari 2024 | 10:00 WIB

Luncurkan Buku, Kiai Said Jelaskan Pentingnya Tasawuf dan 3 Kekuatan bagi Manusia

Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj pada peluncuran dan bedah buku Kiai Pesantren Membangun Peradaban: 70 Tahun Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A,. Kamis (23/2/2024). (Foto: dokumen UNJ)

Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa Islam tanpa tasawuf dan tanpa adanya 3 power atau kekuatan manusia itu akan kering.


"Santri itu identik dengan tasawuf. Kenapa? (Karena) Islam tanpa tasawuf itu, Islam yang kering, Islam yang radikal, Islam yang dangkal, Islam yang jumud," kata Kiai Said pada peluncuran dan bedah buku Kiai Pesantren Membangun Peradaban: 70 Tahun Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A,. Kamis (23/2/2024).


Pada  acara yang dilaksanakan di Gedung Dewi Sartika, Kampus A Universitas Negeri Jakarta tersebut, Kiai Said mengungkapkan Islam tanpa tasawuf tidak menerima perkembangan zaman.


Sementara 3 power atau kekuatan yang dimiliki manusia menurut Kiai Said adalah the power of intelligent (kekuatan kecerdasan), the power of idea (kekuatan gagasan atau cita-cita, dan the power of spirit (kekuatan semangat). 


"Manusia memiliki 3 power, yang pertama quwatun natiqah atau the power of intelligent. Kekuatan kecerdasan yang ada di otak, makanya manusia didorong oleh Al-Qur;an agar menggunakan akal, menggunakan pikiran, menggunakan tadabur dan tafakur," kata Kiai Said.


Menurutnya, di pesantren sudah diajarkan tentang kecerdasan tersebut, tetapi kadang santri sendiri minder untuk memperaktikkannya di masyarakat.

 

Kiai yang pernah mengemban amanah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2015 dan 2015-2021 tersebut juga menjelaskan bahwa kekuatan intelligent merupakan kecerdasan otak manusia. Oleh Al-Qur’an sendiri manusia didorong untuk menggunakan akal, pikiran, tadabur untuk membagi sebuah fakta dan tafakur untuk merenungkan hikmah dari sebuah kejadian. 

 

"Yang kedua yaitu quwatun mutakhayyilahdi atau the power of idea. Di dalamnya ada dua saja ringkasnya. Satu, himmah; Dua, azimah. Himmah datangnya dari nafsu ambisi, yang kalau diniati dengan baik, dipoles dengan kebaikan menjadi himmah, the dreams. Kalau azimah jika dipoles dengan baik maka menjadi the goal," tutur Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon itu.

 

Dia menjelaskan bahwa kekutan idea, didasari oleh himmah atau niat dan azimah atau tekad. Jika keduanya dipoles dengan baik maka akan membuahkan dreams dan goal.


Kiai Said menambahkan bahwa dalam ilmu jiwa barat, hanya menjelaskan 2 power tersebut. Namun Imam Ghazali tidak berhenti menjelaskan sampai situ. "Di sana ada lagi kekuatan yang luar biasa, kekuatan spirit. Di sana ada marifat, di sana ada takwa, di sana ada ikhlas, dan seterusnya. Ini dibahas dengan tasawuf yang mendalam oleh Imam Al-Ghazali,” imbuhnya.

 

"Oleh karena itu, tanpa tasawuf Islam kita akan kering dan kerontang. Kalau quwatun natiqah quwatun mutakhayyilah kering maka supaya kita merasa tenteram damai dan kita menjadi orang yang attaqiyun naqi. Itu harus kita ikut sertakan, quwatu ruhaniyah atau the power of spirit," jelasnya.

 

Kiai Said menegaskan bahwa, ketiga kekuatan itu dapat membawa umat Islam kepada tujuan attaqiyun naqi. "Orang yang bertakwa dan bersih dalam kehidupan kita ini," tegasnya.