Nasional

Orasi Ilmiah di Unuha Sumsel, Katib Syuriyah: Ilmu, Iman, Akhlak, Solusi Hadapi Zaman 

Ahad, 18 Desember 2022 | 12:00 WIB

Orasi Ilmiah di Unuha Sumsel, Katib Syuriyah: Ilmu, Iman, Akhlak, Solusi Hadapi Zaman 

Katib Syuriyah PBNU, KH Muhyidin Thohir, saat memberi orasi ilmiah pada Wisuda Ke-9 Universitas Nurul Huda (Unuha) OKU Timur Sumsel, Sabtu (17/12/2022) menegaskan di era yang semakin komplek, integrasi ilmu, iman, dan akhlak menjadi solusi kesuksesan hidup. (Foto: tangkapan layar)

OKU Timur, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhyidin Thohir menegaskan bahwa di era yang semakin komplek, terlebih memasuki era industri 4.0, integrasi ilmu, iman, dan akhlak menjadi solusi kesuksesan hidup. 


Hal ini lanjutnya, telah ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al Mujadalah ayat 11 yang berarti: "Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu" maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." 


"Pada firman Allah ini sudah sangat jelas 'amanu' (percaya), sebagai kaum intelektual harus menjadi motivasi bagi semua orang agar menanamkan kepercayaan kepada Allah dan ciptaan-Nya," jelasnya saat memberi orasi ilmiah pada Wisuda Ke-9 Universitas Nurul Huda (Unuha) OKU Timur Sumsel, Sabtu (17/12/2022). 


Selanjutnya ilmu yang dimiliki ini harus diamalkan sesuai dengan bidangnya. "Seperti terselenggaranya program pendidikan di Unuha ini, adalah bagian dari upaya untuk mengangkat derajatnya dihadapan Allah melalui ilmu dan iman," jelasnya. 


Kiai Muhyidin mengajak pendidikan tinggi agama Islam di lingkungan NU untuk mengintegrasikan prinsip akademik barat yang positifistik diintegrasikan dengan epistemologi keislaman. Hal ini dilakukan dengan memuat pendekatan bayani (melalui teks fiqih dan kalam, burhani (empiris), irfani (intutif). 


"Ini bertujuan menguatkan keimanan, pada sisi ilmiah berkontribusi besar pada pendidikan tinggi dalam mempertemukan dan mendialogkan secara ilmiah dan alami antara sains dan agama," ungkapnya. 


Terlebih memasuki era post truth ketika situasi objektif lebih sedikit pengaruhnya dibandingkan dengan hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik. Perguruan tinggi yang berbasis keislaman atau agama harus menjadi katalisator, sekaligus dinamisator yang mampu mengedukasi masyarakat untuk merawat keharmonisan masyarakat dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan. 


Kiai Muhyidin juga mengingatkan pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang harus terus diperkuat seluruh elemen bangsa khususnya mereka yang pernah berada dalam atmosfir lingkungan akademis. Hal ini akan lebih mudah karena di lingkungan ini mengutamakan dialog yang inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan. 


"Amalkan apa yang diajarkan para ulama terutama para ulama NU untuk bertindak tassamuh, tawasut, tawazun, i'tidal, dan amar maruf nahi munkar," katanya mengingatkan sekaligus mengimbau untuk memperkuat prinsip menerima dan menghormati kearifan dan budaya lokal. 


Selain itu trilogi ukhuwah juga harus dipraktikkan di tengah masyarakat yang meliputi ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. "Dengan mengamalkan tiga ukhuwah yang diajarkan NU, kami yakin para sarjana dan kita semua bisa diterima hidup dimanapun juga, bisa menjawab permasalahan-permasalahan kemanusiaan, kebangsaan dan keislaman," tegasnya. 


Gelar sarjana lanjutnya adalah gelar akademis yang diberikan perguruan tinggi. Namun ia mengingatkan agar jangan mudah puas atau baik dan terus menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk meraih cita-cita. 


"Seorang sarjana jangan minder, apalagi kalian sudah ditempa di Unuha, saya yakin pada diri kalian, ada ilmu yang bisa menaklukan dunia dan selamat di akhirat. Kalian jangan takut tidak punya duit, orang yang berilmu bukan kalian yang mencari duit, tapi duit yang mencari kalian, karena setelah punya ilmu, harta mengiringi, kemudian derajat pasti didapat," imbaunya. 


Selain itu, sarjana juga harus tetap menghormati guru, memuliakan orang tua. "Kasihi sesama yakin ilmu kalian bermanfaat dunia dan akhirat," pungkasnya. 


Hadir pada acara tersebut Pembina Yayasan Nurul Huda yang juga Rais Syuriyah PWNU Sumsel KH Affandi, Rektor Unuha Dr Imam Rudin, Bupati OKU Timur, LLDIKTI Wilayah, Kopertais wilayah 7, Kepala Kemenag, Kapolres, Dandim, pengasuh pesantren dan perguruan tinggi di OKU Timur dan para wali wisudawan.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan