Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Penanaman Sikap Humanis pada Santri Dapat Cegah Kekerasan di Pesantren

Penanaman Sikap Humanis pada Santri Dapat Cegah Kekerasan di Pesantren
Ilustrasi: Penanaman sikap humanis pada santri akan dapat mencegah tindakan-tindakan yang mengarah pada kekerasan di pondok pesantren. (Foto: NU Online)
Ilustrasi: Penanaman sikap humanis pada santri akan dapat mencegah tindakan-tindakan yang mengarah pada kekerasan di pondok pesantren. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Ponsok Pesantren Yanbu’ul Ulum Sukolilo Pati, Jawa Tengah, KH Abdul Kholiq Syafi’I menjelaskan bahwa perilaku kekerasan di pesnatren dapat dicegah melalui sikap-sikap humanis. Menurutnya, salah satu cara menanamkan sikap dan sifat humanis adalah pengasuh yang rajin memberikan bimbingan kepada pengurus agar mereka lebih bersifat humanis. 


“Saya biasanya memberikan pemahaman kepada para pengurus bahwa junior mereka atau santri yang bukan pengurus adalah adik-adik mereka jadi mereka harus menanamkan kasih sayang,” tutur Kiai Kholiq kepada NU Online, Kamis (16/9/2022).


Menurutnya, perlu diingatkan secara berulang-ulang kepada santri tentang hadis yang berbunyi, barang siapa yang tidak menyayangi anak-anak di bawah usianya dan tidak menghormati orang yang lebih tua, maka tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw.


“Karena dalam hal ini sering kali yang menjadi penyebab kekerasan di lingkungan apa pun termasuk pesantren yakni ada dua hal. Pertama, junior yang tidak menghormati seniornya. Kedua, senior yang tidak menyayangi juniornya. Sehingga ketika tidak ada rasa saling menghormati dan menyayangi maka kecenderungan kekerasan akan bisa terjadi di antara mereka,” jelas Kiai Kholiq.


Dia menyebutkan bahwa dua permasalahan di atas dapat diuraikan solusinya dengan tindakan-tindakan sederhana seperti berbicara dengan bahasa yang baik dan sopan. Dengan begitu, maka satu sama lain akan merasa diperhatikan dan dihargai.


Menurut Kiai Kholiq status senior dan junior harus ada dalam rangka klasifikasi pengelompokan anak sesuai dengan usianya. Anak yang sudah dilabeli dengan santri senior artinya sudah berada lama di pesantren dan kemampuannya sudah mumpuni.


“Pelabelan santri junior itu juga penting. Karena kadang ada yang merasa dia sudah besar dan jumawa sehingga berbuat sesuatu sesuka hatinya. Sehingga dengan pelabelan ini bisa juga mencegah tindakan kekerasan,” tuturnya.


Kiai Kholiq menegaskan bahwa dengan adanya pelabelan santri senior dan junior akan memberikan hak dan kewajiban yang sesuai dengan masing-masing anak.


Kontributor: Afina Izzati

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×