Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Puisi Kemerdekaan Kiai D Zawawi Imron Ceritakan Perjuangan Pahlawan

Puisi Kemerdekaan Kiai D Zawawi Imron Ceritakan Perjuangan Pahlawan
Budayawan Madura, KH D Zawawi Imron saat membacakan puisinya tentang kemerdekaan Indonesia. (Foto: YouTube TV9 Official)
Budayawan Madura, KH D Zawawi Imron saat membacakan puisinya tentang kemerdekaan Indonesia. (Foto: YouTube TV9 Official)

Jakarta, NU Online
Budayawan Madura, KH D Zawawi Imron, menciptakan puisi kemerdekaan yang berisi tentang perjuangan para pahlawan. Hal ini terekam dalam YouTube TV9 Official, Rabu (17/8/2022).


Puisi tersebut diawali dengan pembacaan teks proklamasi. Barulah selepas itu, Kiai Zawawi membacakan bait puisi yang dibuatnya sebagai berikut:


“Setelah proklamasi 1945 itu kita bangsa Indonesia memang mulai bisa bernapas lega, meskipun tugas mengisi kemerdekaan luas tak terbatas. Sedangkan penjajah Belanda tidak rela bumi Indonesia menjadi tanah merdeka. Bumi Indonesia harus tetap berada dalam cengkeraman Belanda, si angkara murka.


Rakyat Indonesia tak boleh menikmati kebebasan dan kemerdekaan. Sungai panjang yang mengalir ke laut, gunung-gunung yang membiru serta daun-daun pepohonan harus menyanyikan sanjungan kepada penjajah, karena Belanda masih ingin mencengkeramkan kuku-kukunya yang tajam kepada Indonesia.


Niat busuk Belanda terus direkayasa, dan Surabaya, kota kita tercinta menjadi sasaran utama. Maka, dengan membonceng tentara Sekutu, Belanda datang ke Indonesia, ke Surabaya mereka mulai menembakkan senjata, menakut-nakuti penduduk Surabaya sebagai preman kolonial yang bengis dan tak tahu aturan, dan Surabaya mulai dicekam kekhawatiran.


Rakyat jelata belum tahu mereka harus berbuat apa. Tapi, semangat merdeka masih terus menyala-nyala. Rakyat Indonesia tidal rela Indonesia kembali dijajah, Indonesia sudah merdeka dan harus tetap merdeka. Sekali merdeka, tetap merdeka.


Pada saat rakyat kebingungan seperti itu, tampillah seorang kiai sepuh, KH Hasyim Asy'ari namanya, yang melihat umat dengan kacamata rahmat. Beliau merasakan dengan jiwa yang dalam, terasa berat bagi beliau penderitaan umat.


Lalu, beliau mengumpulkan para kiai dan ulama se-Jawa dan Madura untuk menyelesaikan masalah umat, masalah bangsa, masalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja merdeka.


Dari kejernihan jiwa Kiai Hasyim yang taqarrub kepada Allah, yang didukung oleh akal sehat kolektif serta hasil istikharah para ulama, maka pada tanggal 22 Oktober 1945 tercetuslah fatwa Resolusi Jihad.


Bahwa setiap muslim wajib angkat senjata berjuang membela Tanah Air Indonesia, dan mereka yang gugur di medan perang melawan penjajah adalah kusuma bangsa yang mati syahid di jalan Allah.


Fatwa yang cerdas dan penuh tanggung jawab itu beredar ke seluruh tanah Jawa. Fatwa itu dicatat sebagai mustika jiwa oleh seorang pemuda Surabaya berumur 25 tahun, Bung Tomo namanya.


Bung Tomo yang muda dan cerdas itu bertakbir “Allahu akbar”. Kemudian anak-anak santri untuk sementara menutup dan menyimpan kitabnya. Para petani lalu meninggalkan sawahnya dan mengasah parangnya, dan yang lain membuat bambu runcing sebagai senjata. Tentara menyiapkan senjata walau apa adanya untuk menyambut kedatangan musuh dengan iman kepada Allah dan keberanian yang sempurna.


Amboi.. Jangan lupakan peristiwa itu, 10 November 1945 tanggalnya, tentara Sekutu dan Belanda datang lagi dengan niat memporak-porandakan Surabaya dan Indonesia serta hendak menghancur-leburkan semangat kemerdekaan. Bung Tomo berteriak Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Teriakan takbir Bung Tomo mengangkasa di langit Surabaya.


Arek-arek Suroboyo, para santri, tentara, pedagang kecil, buruh, petani serta pemberani lainnya terjun ke medan perang membela kemerdekaan dengan keberanian yang total.


Allahu akbar, Allahu akbar, Surabaya menjadi lautan api. Allahu akbar, Allahu akbar, Surabaya banjir darah. Jasad para pahlawan yang ditembus senjata musuh bergelimpangan di jalan-jalan raya.


Luka-lukanya yang merah mekar laksana bunga mawar yang bersanding dengan keikhlasan jiwa mereka yang putih laksana melati. Mawar dan melati, mawar merah melati putih, mawar melati merah putih, merah putih bendera tanah airku. Allahu akbar, merah putih. Allahu akbar, bendera Tanah Airku.


Dengan Allahu akbar, peluru musuh dan tank-tank raksasa menjadi kecil, bom-bom yang berdentuman dianggap kecil, mitraliur yang melesat ganas menjadi kecil. Bahkan, maut pun oleh para pejuang dianggap kecil, semua dianggap kecil, hanya Allah yang maha besar. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.


Maka jadilah tanggal 10 November menjadi Hari Pahlawan, tanggal 22 Oktober 1945 ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional.


Kiai Hasyim Asy'ari menjadi pahlawan, kiai Wahab Hasbullah menjadi pahlawan, Kiai Zainul Arifin menjadi pahlawan, dan Bung Tomo yang meneriakkan takbir itu menjadi pahlawan. Nama mereka akan harum dalam kenangan, dan harumnya akan sampai ke perkampungan surga, perkampungan yang kerikilnya saja terdiri dari batu-batu permata.”


Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori
​​​​​​​


 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×