Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Sapa Warga NU di Penajam Paser Utara, Gus Yahya Kutip Syair Cinta Mbah Hasyim Asy’ari

Sapa Warga NU di Penajam Paser Utara, Gus Yahya Kutip Syair Cinta Mbah Hasyim Asy’ari
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (ketiga dari kiri) saat bertegur sapa dengan warga NU di Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, pada Ahad (30/1/2022). (Foto: NU Online/Suwitno)
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (ketiga dari kiri) saat bertegur sapa dengan warga NU di Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, pada Ahad (30/1/2022). (Foto: NU Online/Suwitno)

Penajam Paser Utara, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengaku merasa sangat bahagia, karena bisa bertemu dan bertegur sapa dengan warga NU di Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, pada Ahad (30/1/2022). 

"Tentu saja bahagia karena saya bisa bertemu dengan bapak ibu sekalian, hari ini. Tidak ada suasana yang lebih membahagiakan daripada suasana bertemunya orang-orang yang saling mencinta," kata Gus Yahya di hadapan jamaah yang memadati pelataran Masjid Syaichona Cholil, Sepaku, Penajam Paser Utara. 

Meski belum mengenal satu per satu nama warga dan baru pertama bertemu secara langsung, tetapi Gus Yahya yakin bahwa di antara dirinya dengan masyarakat Penajam Paser Utara sudah ada ikatan cinta.

Ia lalu mengutip sebuah syair tentang kecintaan kepada warga NU yang digubah oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Menurut Gus Yahya, syair ini sangat indah dan menjadi gantungan harapan bagi Nahdliyin sebagai para pecinta para ulama NU. 

Syair itu berbunyi baini wa bainakum fil mahabbatin nisbatun, masturatun fii sirri haadzal alam. Nahnulladzuna tahaababat arwahuna min qabli khalqillahi thinata adam.

"Antara aku (Mbah Hasyim) dan kalian (warga NU) dari masa itu sampai hari kiamat, ada ikatan cinta. Antara aku dan kalian semua ada ikatan cinta. Tapi ikatan cinta itu, tersembunyi di balik rahasia alam. Karena tahu-tahu kita merasa saling mencinta tanpa mengerti kenapa, dari mana sebabnya, dari mana asal-usulnya, itu rahasia alam," terang Gus Yahya memaknai syair itu. 
 


"Kita adalah orang-orang yang ruh-ruh kita dulu, di alam azali sudah saling mencinta. Bahkan, sejak sebelum  Allah menciptakan lempungnya Adam. Nabi Adam itu diciptakan dari lempung, tanah. Tanah yang mau dipakai untuk menciptakan Adam belum dibikin, apalagi Nabi Adam-nya, (tetapi) ruh-ruh kita sudah saling mencinta,” imbuhnya menjelaskan bait kedua.

Menurutnya, pertemuan dengan masyarakat Penajam Paser Utara itu merupakan pertemuan antar-kekasih yang sudah menjadi kekasih. Sejak di alam ruh, lanjutnya, warga NU sudah berkumpul dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya. 

"Semoga nanti di hari kiamat kita terus berkumpul dalam keadaan bahagia seperti ini, bersama guru-guru yang kita muliakan, kiai-kiai yang kita cintai di surga Allah," harap Gus Yahya.

 

Selain itu, momen penuh kebahagiaan sangat mengharukan karena Gus Yahya melihat masyarakat Penajam Paser Utara sedang dalam keadaan bahagia. Salah satu alasannya karena baru saja dicanangkan sebagai ibu kota negara baru yang kini bernama Kota Nusantara. Ia lantas berkelakar dengan menjadikan kata ‘Nusantara’ sebagai sebuah akronim dan kepanjangan. 

"Itu kalau di Jawa, orang akan bilang Nusantara adalah singkatan dari singkatan dari NU, santri, pemerintah, dan rakyat," katanya, diiringi tawa hadirin. 

Dulu, saat ada gagasan soal pembangunan ibu kota negara baru, banyak daerah mengajukan diri untuk menjadi lokasinya. Namun menurut Gus Yahya, masyarakat Penajam Paser Utara, khususnya warga Kecamatan Sepaku, ketika itu tidak pernah berpikir daerahnya akan dijadikan sebagai ibu kota negara. 

"Daerah-daerah lain yang ingin jadi ibu kota negara justru tidak dapat, yang dapat malah tidak kepikiran, yaitu Penajam Paser Utara dan Sepaku. Mudah-mudahan ini memang pertanda berkah Allah untuk warga Penajam Paser Utara dan Sepaku," tutupnya.

 

Pada kesempatan itu, Rais  Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Timur KH Ali Kholil memimpin pembacaan istighatsah. Hadir Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf, Bendahara Umum H Mardani Maming, dan Plt Bupati Penajam Paser Utara Hamdam Pongrewa. 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×