Nasional

Tiga Potensi Pesantren dalam Mendorong Kemandirian Umat

Ahad, 2 Agustus 2020 | 13:00 WIB

Tiga Potensi Pesantren dalam Mendorong Kemandirian Umat

Ilustrasi Pesantren Darul Hikmah. (Foto: NU Online/Romzy)

Jakarta, NU Online
Selama ini, pesantren hanya dianggap sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Namun, Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Jawa Tengah Iss Savitri Havid memiliki pandangan berbeda soal pesantren.


“Saya melihat ada tiga potensi yang dimiliki pesantren dalam kemandirian ekonomi umat,” ujarnya pada acara Sinau Online UMKM Gayeng (Sinoman) volume ke-8. Acara bertema ‘Santri Berbisnis? Pasti Bisa!’ itu digelar secara virtual oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (30/7).


Ketiga potensi itu, kata dia, meliputi potensi pesantren dengan santri-santrinya. Potensi pesantren dalam hal pengembangan masyarakat di sekitar pesantren. Terakhir, potensi pengembangan serta optimalisasi zakat dan wakaf umat.


“Dengan potensi yang ada tersebut, kami melihat bahwa pesantren bisa turut serta dalam menciptakan kemandirian ekonomi dan membangun bangsa,” bebernya.


“Bila potensi ini dioptimalkan, maka bisa mewujudkan kemandirian usaha di pesantren sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan sekitar pesantren,” tambahnya.


Dalam kesempatan itu, ia mengatakan bahwa Bank Indonesia juga turut serta dalam pengembangan kemandirian ekonomi pesantren melalui sejumlah kegiatan karena dilatarbelakangi berbagai hal.


“Pertama, kami melihat bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah menunjukkan kemampuannya mencetak para kader ulama. Selain itu, turut berjasa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


Atas dasar itu, pihaknya merasa optimis bahwa pesantren mampu memberikan dampak luas serta menjadi solusi pengentasan kemiskinan dan pengangguran yang ada pada saat ini.


“Kehadiran pesantren membuat kami optimis dapat berdampak luas menjadi solusi pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Minimal pada masyarakat sekitar pesantren,” urainya.


Wujudkan kesejahteraan bersama
Tak hanya itu, lanjut Saviri, Bank Indonesia juga ingin bersama-sama dengan pesantren mewujudkan kesejahteraan bagi santri dan masyarakat sekitar pesantren.


“Kami ingin menekankan bahwa Bank Indonesia ingin bersama-sama memvisikan pesantren untuk menggali potensi masing-masing sehingga dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan santri dan masyarakat sekitar,” tukasnya.


Di akhir, ia mengajak para peserta acara tersebut untuk bisa meningkatkan kreasi bersama di tengah pandemi Covid-19, serta mewujudkan sinergi dengan berbagai pihak. Dengan bersinergi, harapannya bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi keuangan syariah di Indonesia.


“Dalam kondisi sulit seperti ini, seharusnya kita harus lebih giat lagi untuk mencari celah dan upaya bagaimana kita bisa meningkatkan kreasi kita bersama,” ajaknya kepada para peserta.


“Kami berharap agar kegiatan ini bisa menjadi katalis dalam mempercepat tumbuhnya ekonomi keuangan syariah di Indonesia. Tentunya ini membutuhkan sinergi dan semangat dari berbagai pihak yang terlibat baik dari pesantren, santri, pemerintah, dan otoritas seperti Bank Indonesia serta lembaga ekonomi lainnya,” pungkasnya.


Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Musthofa Asrori