Nasional

Yayasan Gus Dur Siap Luncurkan Program BEST untuk Kuatkan Toleransi

Sab, 21 Mei 2022 | 19:00 WIB

Yayasan Gus Dur Siap Luncurkan Program BEST untuk Kuatkan Toleransi

Ilustrasi toleransi.

Jakarta, NU Online
Yayasan Bani KH Abdurrahman Wahid (YBAW) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda akan meluncurkan Program Beda & Setara (BEST) dan Talkshow: Menguatkan Toleransi, Menguatkan Indonesia di Hotel Millenium, Jakarta, pada Senin (23/5/2022) mendatang.


Program yang bertujuan menguatkan toleransi dan kebebasan beragama itu diisi oleh Direktur YBAW Alissa Qotrunnada Wahid sebagai pembicara kunci dan beberapa narasumber, seperti Komisioner Komnas HAM RI M Choirul Anam, Tenaga Ahli Kemenag Hasanudin Ali, dan agamawan Sylvana Maria Apituley.


Alissa Wahid menyebutkan, sebagai negara-bangsa yang memilih untuk menyeimbangkan gagasan negara sekuler dan negara berbasis agama, Indonesia menghadapi tantangan terus-menerus dalam menjaga keseimbangan ini.


“Agama menjadi faktor penting dalam persoalan kewarganegaraan Indonesia sejak negara merdeka dan menganut cita-cita Pancasila,” tulisnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Sabtu (21/5/2022).


Apalagi, kata dia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD 1945) Bab 29 Pasal 2 menjamin dan melindungi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (ForB). Namun, hanya enam agama yang diakui dan dijamin sepenuhnya kebebasan umatnya.


“Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, negara berupaya mengayomi pluralitas agama dan keyakinan. Namun, persekusi terhadap kelompok agama minoritas, baik dengan kekerasan maupun pembatasan masih menjadi isu yang sering terjadi hingga saat ini,” terang Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian itu.


Dijelaskan, pelanggaran hak atas kebebasan beragama telah meningkat secara signifikan selama dua dekade terakhir, dengan disertai tindakan kekerasan dan insiden diskriminatif.


“Pelanggaran hak-hak kemerdekaan beragama yang paling umum adalah penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah dan pengusiran atau serangan kekerasan terhadap minoritas agama seperti Ahmadiyah, Syiah, dan kelompok kepercayaan,” jelas dia.


Eksklusivisme agama
Menurut dia, pelanggaran ini terus terjadi sebagai akibat dari meningkatnya eksklusivisme agama dan ultra-konservatisme yang mengarah ke ekstremisme, diperburuk oleh pendekatan keamanan oleh pemerintah baik di tingkat nasional maupun lokal dengan justifikasi bahwa ‘kehendak mayoritas rakyat harus dihormati’.


“Justifikasi ini secara implisit termanifestasi dalam institusi pemerintah melalui sering munculnya peraturan yang diskriminatif di tingkat lokal,” ujar Alissa.


Padahal, lanjut dia, konstitusi jelas melindungi kebebasan beragama untuk semua. Tetapi, pemerintah masih mengizinkan diskriminasi dan praktik mayoritarianisme secara bebas.


“Preferensi negara terhadap mayoritarianisme telah menghalangi kelompok agama minoritas untuk membangun rumah ibadah mereka dan menjalankan peribadatan mereka,” terangnya.


Lebih lanjut, salah satu Ketua PBNU ini juga menyampaikan keberagaman etnis, budaya, dan agama merupakan kekuatan sekaligus tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.


Sehingga, ia menilai eksklusivisme dan ekstremisme yang tumbuh berkembang belakangan ini telah melahirkan maraknya tindakan intoleransi dan diskriminasi. Kekerasan atas nama agama, ujaran kebencian, penyesatatan, dan penolakan tempat ibadah, merupakan bukti ancaman bagi keberagaman tersebut.


Untuk membendung maraknya eksklusivisme dan ekstremisme, YBAW didukung Kingdom of the Netherlands menginisiasi Program BEST, dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif dan toleran, menjamin Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan, berlandaskan paradigma konstitusional.


“Beda mencerminkan cita-cita hidup berdampingan di antara keberagaman yang ada di Indonesia. Sedangkan Setara mencerminkan cita ideal kehidupan bermasyarakat dan bernegara, di mana semua pemeluk agama, sebagai sesama warga negara, memperoleh hak yang sama di hadapan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Alissa.


Ia juga menambahkan, program BEST ini akan mendorong orang muda dan tokoh agama agar berperan aktif dalam mengelola keberagama di komunitas, memperkuat kerja jaringan dan advokasi, serta kampanye publik untuk merayakan keberagaman dan memperkuat hak-hak kemerdekaan beragama dan berkeyakinan di ruang publik.


“Dalam rangka sosialisasi program BEST dan untuk memperoleh dukungan yang luas dari berbagai stakeholder, YBAW hendak mengadakan peluncuran program dan diskusi terkait situasi toleransi dan kebijakan terkini,” tandasnya.


Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori