Obituari

AGH Sanusi Baco, Gus Dur, dan Kisahnya Berhenti Merokok

Ahad, 16 Mei 2021 | 07:00 WIB

AGH Sanusi Baco, Gus Dur, dan Kisahnya Berhenti Merokok

Setelah berdoa, ternyata semua rokok AGH Sanusi Baco hilang. Menurutnya itu adalah isyarat bahwa ia harus benar-benar meninggalkan rokok. (Foto: dok Majalah Aula)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah wafat Anre Gurutta Haji Sanusi Baco, Mustasyar PBNU dan Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan pada 3 Syawal 1442 H. Saat Muktamar ke-32 NU Tahun 2010 di Makassar, saya sempat sowan sekaligus wawancara. Ada beberapa kisah menarik yang saya tulis dan dimuat di Majalah Aula edisi April 2010. Berikut cuplikannya.

 

Gurutta Sanusi Baco lahir di Maros, 4 April 1937 dengan nama Sanusi. Putra kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah bernama Baco. Ketika beranjak muda, namanya dinisbatkan kepada ayahnya menjadi Sanusi Baco. Pada zaman Jepang, Sanusi kecil menjadi perawat kuda tentara Jepang di Maros. Sementara ayahnya adalah seorang mandor.

 

Setelah merasa cukup dengan belajar kepada beberapa guru ngaji di desanya, Gurutta Sanusi Baco kemudian mondok di Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) Ambo Dalle selama delapan tahun. Setelah lulus aliyah pada tahun 1958, Gurutta Sanusi Baco hijrah ke Makassar dan mengajar ngaji di beberapa tampat. 

 

Saat itulah, Gurutta Sanusi Baco mendapat kesempatan meraih beasiswa dari Departemen Agama untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Di negeri piramid itu, Gurutta Sanusi Baco mulai bersahabat dengan Gus Dur dan Gus Mus (KH Musthofa Bisri).

 

"Saya adalah teman seperjalanan Gus Dur ketika naik kapal menuju Kairo untuk kuliah di sana. Perjalanannya satu bulan dua hari. Membosankan sekali. Untung ada Gus Dur yang selalu bercerita menghibur," kata Gurutta Sanusi Baco mengenang Gus Dur.

 

Pada tahun 1967, Gurutta Sanusi Baco berniat untuk melanjutkan kuliah S-2 di Al-Azhar. Namun terpaksa ditarik pulang ke tanah air oleh pemerintah Indonesia karena Gurutta Sanusi Baco mendaftar sebagai tentara sukarela untuk berperang melawan Israel.

 

Persahabatannya dengan Gus Dur membuat Gurutta Sanusi Baco bertekad untuk berkhidmah di NU. Setelah kembali ke Makassar, aktivitasnya adalah mengajar di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan mulai diminta mengajar ngaji serta ceramah di berbagai daerah. Tak lama kemudian, Gurutta Sanusi Baco diangkat sebagai dosen negeri di Fakultas Syariah IAIN Sultan Hasanuddin Makasar.

 

"Waktu itu Gus Dur sempat datang ke Makassar. Saya menjemputnya di bandara dengan sepeda motor vespa. Ternyata vespanya mogok, akhirnya saya naik vespa dan Gus Dur yang mendorongnya. Setelah bisa jalan baru kami berkeliling kota Makassar," kenang ayah dari delapan anak ini.


Semangat Dakwah Tak Kenal Usia
Perjuangan dakwahnya juga dilalui bersama Haji Kalla (ayah Jusuf Kalla). Saat Haji Kalla menjadi bendahara Masjid Raya Makassar, terbentuk Yayasan Masjid Raya yang salah satu kegiatannya melakukan pengkaderan ulama. Sarjana agama dari IAIN ia rekrut di tempat ini untuk dididik menjadi ulama. Mereka diberi fasilitas seperti tempat menginap di belakang rumah Haji Kalla. 

 

Haji Kalla mengundang Gurutta Sanusi Baco untuk tinggal di Masjid Raya dan diberi kepercayaan memimpin Masjid Raya. Tidak cuma itu, Gurutta Sanusi Baco juga sekali seminggu diminta berceramah di kantor NV Hadji Kalla. 

 

Di masjid itulah, Gurutta Sanusi Baco mengisi hari-harinya bersama istri yang dinikahinya pada 1968. Setelah memiliki anak kelimanya lahir pada 1976, Gurutta Sanusi Baco meminta izin kepada Haji Kalla untuk pindah ke rumahnya sendiri di Jl Pongtiku yang terletak di belakang Masjid Lailatul Qodri Makassar.

 

Dengan demikian, aktivitas dakwahnya tidak hanya di Masjid Raya, tatapi juga mengisi pengajian setelah subuh dan maghrib di Masjid Lailatul Qodri. Kecintaan beraktifitas di masjid inilah yang ditanamkan pada anak-anaknya. Setiap subuh, Gurutta Sanusi Baco menggendong salah satu anaknya yang masih tidur kemudian tiba-tiba terbangun ketika berada di pangkuan saat mengisi pengajian. 

 

Tahun 1987, keluarga Gurutta Sanusi Baco kemudian pindah ke rumah di Jl Kelapa Tiga Makassar. Namun aktivitasnya terus ia jalani dengan mengajar di kampus, berkhidmah di NU, berdakwah di masjid-masjid dan ceramah di berbagai daerah di pulau Sulawesi. Hingga pada tahun 1992, Gurutta Sanusi Baco diberi amanah menjadi Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan dan Ketua MUI Sulawesi Selatan sampai sekarang.

 

Tahun 2001, Gurutta Sanusi Baco memberanikan diri untuk mendirikan pesantren Nahdlatul Ulum. Gagasan awalnya dimulai ketika Jusuf Kalla memiliki program untuk membiayai kuliah santri-santri berprestasi ke perguruan tinggi unggulan di seluruh Indonesia. Dari inisiatif itu, Jusuf Kalla mewakafkan tanah seluas empat hektar di Maros yang beberapa tahun lalu diwakafkan menjadi pesantren milik NU.

 

Di usianya yang semakin senja, tak menghalangi Gurutta Sanusi Baco berdakwah. Bahkan, di saat para muktamirin mulai meninggalkan Makassar usai penutupan pada Sabtu (27/03/2010) malam, pagi harinya Gurutta Sanusi Baco sudah dijemput untuk ceramah di Kabupaten Pinrang yang berjarak sekitar 200 km dari Makassar kemudian di Kabupaten Polman yang berjarak 250 km dari Makassar dan baru berada di rumah pada Selasa (29/03/2010).

 

"Abah ke mana-mana masih suka nyetir mobil sendiri. Baru setelah operasi bypass karena penyempitan jantung tahun 2008 lalu Abah benar-benar berhenti nyetir. Itu pun karena dipaksa dokter," tutur putra keenam Gurutta Sanusi Baco, Dr Nur Taufiq, MA.

 

Saat ditanya apa resepnya? Gurutta Sanusi Baco menuturkan, semangat dakwah adalah motivator hidupnya. Meski di rumah kadang kelihatan capek dan letih, tapi ketika menyampaikan ceramah suaranya tetap lantang dan penuh semangat.

 

Di sisi lain, Gurutta yang dulunya perokok berat berhenti total pada tahun 2000. Saat berada di Masjidil Haram Makkah, Gurutta Sanusi Baco berdoa di Hijr Ismail agar diberi kekuatan oleh Allah menyelesaikan semua amanah yang ia emban dengan baik. Setelah berdoa, ternyata semua rokoknya hilang dan menurutnya itu adalah isyarat bahwa ia harus benar-benar meninggalkan rokok. Selain itu, setelah subuh Gurutta Sanusi Baco selalu menyempatkan diri untuk selalu jalan-jalan pagi di sekitar rumahnya. Namun, setelah operasi itu, Gurutta Sanusi Baco kini mengisi pagi harinya dengan bersepeda di tempat menggunakan sepeda statis.


Ahmad Afif Amrullah, aktivis NU, Dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya, Ketua NU Care-LAZISNU Jawa Timur.