Opini

Tokoh, Puisi, dan Politik

Ahad, 8 Oktober 2023 | 10:30 WIB

Tokoh, Puisi, dan Politik

Ilustrasi politik. (Foto: NU Online/Freepik)

Di lembaran-lembaran yang dinamakan koran, kita masih sering membaca berita-berita bertema politik. Berita-berita dengan judul yang jarang menghibur atau kocak. Kita malah sudah mengerti diksi-diksi biasa digunakan dalam pemberitaan politik. Ucapan-ucapan para tokoh politik dikutip dalam berita pun mudah diketahui struktur dan maksudnya. Kita tentu tak mengabaikan foto-foto turut melengkapi berita. Mereka dalam berpolitik mungkin paling "berkuasa" atas kamera. Di foto-foto, mereka sudah mempertimbangkan posisi, busana, dan permainan wajah.


Di Indonesia, politik tidak mau tidur atau tidak pernah tidur. Politik berlaku 24 jam setiap hari. Situasi makin pelik dan mendebarkan menjelang 2024. Kita bakal susah tidur jika bermaksud ingin mengetahui semua lakon politik sedang dimainkan tokoh-tokoh besar di Jakarta. Kita pun mengikuti ulah para tokoh di kota-kota berbeda tapi masih berkaitan lakon utama di Jakarta.


Kaum politik pasti capek. Mereka bisa menjadikan raga dalam penjelasan politik dan "mengelabui" kelelahan dengan beragam ucapan bijak. Di hadapan publik, mereka ingin selalu tampil kuat dan mempertaruhkan raga demi Indonesia. Konon, mereka berani mengurangi jatah waktu untuk istirahat atau tidur agar politik tak pernah berhenti, macet, dan sepi.


Kita sejenak menepi dari berita-berita politik menuju puisi-puisi. Pada saat lelah, tokoh politik itu tidur. Kita tak mengetahui mutu tidur dan mimpi-mimpi diperoleh bila mendapat tafsir politis. Tidur itu dipuisikan oleh Muhaimin Iskandar. Di lakon politik, ia biasa ditampilkan bakal menjadi sosok presiden. Pendefinisian dilakukan oleh partai politik. Pada saat nama-nama capres diumumkan, Muhaimin Iskandar masih mungkin memainkan peran sebagai "pendamping". Ia tetap kencang berpolitik demi menang berakibat capek. Sekian hari lalu, publik mendapat pengumuman pasangan menuju 2024: Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.


Ia tak mengajukan foto tapi puisi. Diri dalam lelah disajikan melalui "Sajak Menjelang Tidur". Puisi digubah pada 2018. Sekian tahun lalu, ia masih sempat berpuisi. Kini, waktu untuk berpuisi mungkin tergantikan peristiwa-peristiwa melulu politik. Muhaimin Iskandar menulis: Tidur berbantalkan koran/ dengan judul-judul yang menghebohkan/ Dan, aku diurapi pertanyaan/ seperti apakah wajah kebenaran?


Sejak puluhan tahun lalu, politik di Indonesia dipengaruhi koran. Pada setiap pagi atau sore, koran-koran terbit dinantikan para pembaca ingin mengetahui lakon politik. Koran-koran itu santapan penting bagi kaum politik. Koran dan politik pernah erat berlatar masa Orde Baru. Para pejabat menjadikan koran-koran acuan dan corong untuk menggerakkan politik bergelimang dusta. Mereka kadang menjadikan politik itu fiksi. Koran-koran di meja kerja kaum politik berbeda kesan dengan para pembaca ingin mengetahui borok atau aib dalam politik akbar di Indonesia.


Koran-koran tetap penting saat kita bergerak menuju 2024. Pembaca koran (cetak) makin berkurang tapi kertas-kertas itu masih terbaca. Muhaimin Iskandar mungkin terikat kesilaman. Ia berada dalam masa berpolitik dengan koran, belum mutlak sibuk di media sosial.


Muhaimin Iskandar selaku perenung mengajukan larik-larik renungan minta jawaban: Kenapa demokrasi malah mendatangkan kemunduran?/ Kenapa kebebasan berbicara sama artinya dengan/ perpecahan?/ Segregasi, intoleransi, dan persekusi// Apakah kecerdasan dan kejernihan punya arti/ di belantara caci maki/ dan perang opini? Ia tampil dengan hasil pengamatan. Muhaimin Iskandar berpolitik tapi bersalin rupa menjadi pengamat. Peran ganda dimainkan dengan lincah.


Pengamat itu kadang menghendaki jawaban. Ia mungkin menanti jawaban dari kaum politik. Jawaban bisa dibuat sendiri saat sadar sedang menjadi manusia-politik. Kita membaca: Apa artinya ilmu pengetahuan/ bila ia tak sanggup menghidupkan kesadaran?// Apa artinya kesalehan/ jika selalu merasa benar sendiri?// Tidurku selalu singkat/ Karena malam-malam gawat. Para pembaca puisi-puisi di Indonesia mungkin ingin lekas menaruh puisi itu berdekatan dengan puisi-puisi gubahan Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Gus Mus, dan Wiji Thukul. Muhaimin Iskandar telanjur menulis puisi meski sulit berharap mendapat perhatian dari para kritikus sastra. Kita pun tak pernah mengetahui penggunaan kutipan-kutipan dari  puisi untuk poster, spanduk, atau baliho memasang foto Muhaimin Iskandar bertema 2024.


Tokoh sedang moncer bernama Ganjar Pranowo. Ia boleh dicatat dalam perkembangan sastra di Indonesia. Ia memang mahir omong. Suara pun cukup merdu bila bersenandung. Di hadapan publik, Ganjar Pranowo berhak menjadi idaman. Ia pun menggubah puisi meski tak berjanji bakal menerbitkan buku atau rajin berada di panggung-panggung sastra. Ia terlalu sibuk berpolitik. Kini, ia membawa amanah besar untuk menang dan berpredikat penguasa.


Pada 2018, ia masih bisa berpuisi. Kita membaca puisi berjudul "Merdeka Adalah" gubahan Ganjar Pranowo. Puisi ditulis sebelum ia menjadi tokoh (terlalu) besar bertema 2024. Puisi bisa digunakan dalam demonstrasi. Puisi mungkin awalan sebelum berpidato resmi atau memberi perintah-perintah kepada bawahan. Kita mengutip: Sajakku bakal hadir pada orang-orang lapar yang masih/ yakin pada kebenaran/ pada orang-orang miskin yang teguh memegang iman/ penyapu jalan, tukang becak, petani-petani kampung/ dan nelayan, para pekerja serabutan dan pengangguran. Bait memuat pengenalan beragam orang dengan pekerjaan-pekerjaan melelahkan. Pekerjaan kaum bawah. Ia masih mengingat lakon  pengangguran. 


Ganjar Pranowo berpolitik ketimbang menuruti hasrat bersastra. Hari-hari menjadi album kesibukan birokrasi. Ia masih memiliki waktu senggang. Waktu tetap saja mudah bermakna politik. Hari-hari menjelang 2024, politik makin mengental dan tebal. Kita sejenak menengok puisi sempat ditulis tanpa ada janji dibacakan setiap ia berada di panggung-panggung politik demi menjadi presiden.


Kita mengutip lagi: Takkan berdaulat kita punya politik jika rakyat bekerja/ dengan tercekik/ Takkan berdikari kita punya ekonomi jika petani dan/ nelayan masih mengenal paceklik/ Takkan berbudaya kita punya pribadi jika penyapu jalan/ dan pekerja serabutan terlepas dari tatanan. Kalimat-kalimat dibuat dengan kesadaran berpihak kaum lemah. Ganjar Pranowo itu pejabat tapi ingin sampai ke lakon hidup kaum bawah penuh derita. Ia berusaha membahasakan secara gamblang tapi mengesankan citarasa demonstrasi. Ia mungkin berperan sebagai demonstran sekaligus pejabat.


Ganjar Pranowo sering berada di Semarang ketimbang di Jakarta. Kesibukan besar terjadi di Jakarta. Ia rajin bergerak untuk bisa berada di Semarang dan hadir di pelbagai kota. Ia seperti berlari meski posisi raga biasa berada di pesawat terbang atau mobil untuk "pergi-pulang" berpolitik.


Di Semarang, 27 Agustus 2019, ia duduk untuk menulis puisi tentang berlari. Puisi itu berjudul "Cencang Sepatumu". Di televisi dan media sosial, kita biasa melihat Ganjar Pranowo dalam penampilan tak selalu berbaju cap pejabat. Di bawah, kita melihat sepatu memudahkan bergerak cepat. Ia tampil sebagai sosok kuat dalam bersepeda dan berlari.


Kita mengutip: Kita akan lari penuh/ Tak perlu panas api Alengka merembet dada/ Kita tak akan mati/ Tak kupinjam Antakusuma Werkudara/ Tak apa tanpa panah Arjuna. Berlari itu "kewajiban" agar segala kerja atau misi bisa mewujud. Lari dengan kekuatan tanpa ketergantungan. Ajakan berlari mengingatkan referensi dalam epos-epos. Kita sedang diajak mengerti bahwa berlari itu urusan demi Indonesia. Ganjar Pranowo membahasakan: Hei. Bung! Cencang kuat ikat sepatumu/ Pada bangsa-bangsa, kita kejar atau dihajar.


Puisi itu apik jika tergunakan dalam lakon birokrasi. Sejak dulu, kita mengartikan birokrasi sering lambat, malas, macet, dan murung. Puisi mungkin berpengaruh untuk mengubah: birokrasi harus berlari. Begitu.


Bandung Mawardi, Penulis Rokok di Halaman Sastra (2022)