IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Masuk Era Milenial, Anak Harus Dididik Lebih Baik


Senin 10 Desember 2018 22:45 WIB
Bagikan:
Masuk Era Milenial, Anak Harus Dididik Lebih Baik

Salatiga, NU Online 

Di zaman milenial, anak harus dididik lebih baik. Mengingat kompleksnya tantangan yang harus dihadapi.


"Apabila sejak dini anak-anak sudah dididik dengan perawatan dan pendampingan yang benar, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi harapan agama dan bangsa," kata H Muslih, Senin (10/12). 


Sekretaris Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kota Salatiga Jawa Tengah ini mengingatkan hal tersebut saat memberikan sambutan pada pembukaan pesantren kilat. Kegiatan diprakarsai Fatayat NU Ranting Pulutan dengan total peserta mencapai 180 anak-anak usia 5 hingga 12 tahun yang diselenggarakan di gedung NU Pulutan, Sidorejo, Salatiga.


H Muslih menambahkan bahwa pesantren kilat ini patut dicontoh bagi Fatayat atau Banom NU lainnya khususnya di Kota Salatiga maupun tempat lain. Karena melalui kegiatan ini anak-anak dapat berinteraksi dengan teman sejawatnya sekaligus mengenalkan NU sejak dini.


Dirinya berharap kegiatan menjadi program rutin Fatayat NU Pulutan setiap memasuki libur semester sekolah. “Sehingga diharapkan dapat menjadi alternatif aktivitas liburan yang bermanfaat dan mengenalkan NU di kalangan anak-anak," ungkapnya.


Menurut Ketua Fatayat NU Pulutan, Arna Asna Annisa, pesantren kilat menjadi jawaban atas kegelisahan orang tua akan waktu senggang yang dimiliki anak-anak selama liburan hingga awal tahun. Dalam rentan waktu libur anak-anak membutuhkan alternatif kegiatan yang bermanfaat.


Pesantren kilat dikemas dengan berbagai kegiatan menarik dan  menumbuhkan rasa cinta untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran. “Juga membangun kecintaan terhadap ibadah Ahlussunnah wal Jamaah," ujar Arna usai acara pembukaan pesantren kilat.


Rangkaian kegiatan dalam pesantren tersebut antara lain hafalan juz amma, kisah dalam Al-Qur’an, shalat Dhuha berjamaah, pemutaran film anak, outbond, mewarnai kaligrafi dan ditutup dengan  pawai santri.


Antusias orang tua dan anak-anak luar biasa, sehingga panitia harus membuat kebijakan untuk membatasi kuota sebanyak 180 peserta. “Bahkan tidak sedikit peserta yang berasal dari luar Salatiga dengan berbagai latar belakang sekolah,” tandasnya. (Zidnie Fikri/Ibnu Nawawi)

 


Bagikan:
IMG
IMG