IMG-LOGO
Cerpen

Senja di Pulau Gus Dur

Ahad 16 Desember 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Senja di Pulau Gus Dur
Ilustrasi: saatchiart.com
Oleh Hilmi Abedillah

Alkisah, tergenang di tengah samudera sebuah pulau yang amat damai. Nyiur-nyiur berdiri menjulur ke langit melambai. Awan dan hujan kebahagiaan berarak seperti dua mempelai. Ombak yang lirih di tepinya mengelus halus bibir pantai. Muka-muka manis bertabur senyum tanpa seringai. Jantung berdegup pun terdengar iramanya di tengah tarian berjuntai.

Masih seperti apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya, Tumba tetap membuat ritual di pulau terpencil itu. Ritual pemadaman api kejahatan dengan menyulut api unggun di tengah gelapnya malam. Kemudian para penduduk bersama-sama memadamkan api itu sebagai simbol terusirnya arwah jahat dan jiwa yang khianat. Sebagai pemimpin wilayah Barat, Tumba memimpin doa di dekat kobaran api yang masih menyala-nyala.

Di pulau itu, api adalah kesombongan yang terus meluap-luap mencari tempat yang tinggi, menjauhi tanah dimana ia dilahirkan. Namun, kesombongan api tidak akan sampai ke puncak langit, karena ia terlanjur menjadi asap hitam yang menyebar lalu menghilang. Tidak ada ia ingin menjadi air yang selalu mencari tempat terendah walau melalui celah-celah.

Di akhir doanya, Tumba berkata, “Kami hamba yang lahir dari air mani yang hina, hidup membawa kotoran yang cela, dan mati menjadi bangkai yang nista. Adakah Engkau untuk melenyapkan segala keangkuhan dari dalam diri, dan melimpahkan kebesaran hati untuk saling berbagi?”

Kemudian gerimis turun dan dingin serentak menyelimuti lingkaran warga. Semua menangkupkan kedua telapak tangan dengan dua tujuan, mengurangi hawa dingin dan berdoa. Walaupun berasal dari suku yang berbeda-beda, doa mengalir bersama-sama dari mulut-mulut yang tak ternoda. “Kami semua hidup rukun seperti setangkai batang yang lebat daunnya.”

Pagi harinya, mereka saling bertemu kembali di dalam kesibukan masing-masing. Semua orang melempar senyum kepada sesamanya. Ada yang menanam pohon, ada yang mencuci pakaian di sungai, ada yang mandi di bawah air terjun, ada pula yang membuat permainan panah-panahan.

Tiba-tiba ada sebuah hati yang gelisah. Hati itu benar-benar bertanya, “Apakah ini akan kekal abadi?” Hati itu tak lain hati Tumba sendiri, pemilik tanah Barat pulau itu. “Bukankah kau telah percaya, bahwa tidak ada daki di dalam hati orang-orang sini?” tegur seseorang.

“Hati itu tersembunyi. Hati orang siapa tahu?”

Cerahnya pagi itu memaksa orang-orang untuk giat bekerja. Kesejukan yang terpancar dari batang-batang pohon memberikan energi tersendiri. Cahaya matahari keluar hangat seperti senter yang tak terhitung jumlah banyaknya. Hari pagi ialah hari yang paling damai untuk mereka semua.

Di wilayah Timur, Murba memimpin sebagaimana yang nenek moyang katakan. Api tetaplah simbol keangkuhan. Namun, Murba dan kaumnya berbeda dengan orang Barat dalam memahami itu. Orang Barat beragama Rohani, orang Timur beragama Rohalus. Barat dan Timur terpisahkan oleh sungai kecil yang membelah pulau itu.

“Tidak ada api, dan tidak akan pernah ada api,” ujar Murba. Kecuali api-api kecil yang digunakan untuk memasak. 

Seperti di belahan yang lain, orang-orang di sini tidak pernah berbuat onar dan kemarahan. Mereka adalah orang yang ramah-ramah. Bertamu dan mengetuk pintu dengan sangat lembut, hingga sang pemilik rumah yang sedang bekerja di belakang tidak mendengar. Senyum sopan saling sapa mengakar kuat menjadi budaya setempat.

Anak-anak menghormati orang tua, dan orang tua menyayangi anak-anak. Banyak sekali kutipan kata nenek moyang yang terpahat di dinding gua, dan sebagian yang lain habis di papan-papan kayu yang menua. Dari situlah orang-orang belajar memaknai hidup dari para pendahulu. Apakah berterima kasih dan meminta maaf itu perlu, ataukah tidak perlu. Karena keduanya sebentar akan berlalu.

“Berterima kasihlah untuk hal kecil. Meminta maaflah untuk hal sepele. Sungguh seekor kuman bisa saja membunuh seorang raja yang telah berkuasa berabad-abad.” 

Tentu Murba yang seorang pemimpin juga harus berterima kasih atas seteguk air minum yang diberikan oleh seorang putranya yang masih bocah, walaupun air itu bisa diambilnya sendiri di sungai yang mengalir di pinggir kediamannya. 

Suatu kali, orang-orang berteriak-teriak. Membangunkan Murba yang sedang beristirahat. Ada apa? “Ada seseorang yang mencelakai nenek moyang.” Orang-orang itu melihat asap mengepul di atas pulau itu. Murba segera bangkit dan mencari tahu asal-usul asap itu dari mana datangnya. Ia mengira tidak ada orang selain Murba yang memimpin.

Akhirnya, diutuslah sekelompok orang untuk pergi ke bagian Barat pulau. Memastikan penyebab asap yang mengganggu ketenangan jiwa penduduk itu. Tidak ada alat penyeberangan. Sungai tak bisa dilompati. Beberapa pemuda berenang menuju seberang. Mungkin sekitar enam orang.

Setelah menelusuri jalan bersemak, enam pemuda itu menemukan pemukiman dengan di tengahnya kayu-kayu besar yang telah terbakar. Mereka bertanya siapa yang memperbuat semua ini, dengan nada marah-marah. “Kami tak akan marah bila hati kami disinggung, tapi kami akan marah bila nenek moyang kami dilukai.”

Tumba keluar dari balik tirai, dan menyambut mereka berenam dengan lapang hati. “Adakah yang mengusikmu siang ini, Tuan?” tanya Tumba.

“Pemimpin kami mengutus kami untuk memadamkan api itu,” kata salah satu dari mereka.

Tumba mengira kalau tidak ada pemimpin selain dirinya. “Bukankah api itu telah padam?”

“Namun kayu-kayu itu membuktikan kalau kalian telah membuat api yang besar. Lihatlah, asapnya mengotori langit pulau ini. Kalian sebaiknya berhenti memainkannya.”

“Itu adalah ritual kebesaran. Bagaimana mungkin kau mencegahnya? Kau telah menyalahi ajaran nenek moyang,” elaknya.

“Bukankah yang menyalahi nenek moyang adalah kau? Pergilah dari sini!”

Satu dari mereka berenam ditahan, sementara yang lain dibiarkan Tumba kembali ke daerah asal. Mereka melapor kepada Murba tentang kejadian ini. Mendengar hal itu, Murba marah besar, lalu seluruh penduduk dikerahkan untuk menyerang wilayah Barat.

“Ini menyangkut kebesaran nenek moyang kita. Kita harus mempertahankan kata-kata yang terukir jelas pahatannya. Ini adalah pulau damai. Jangan biarkan sekelompok orang merusak kedamaian itu.” Murba menggerakkan massanya dengan cepat.

“Bukankah kita sebaiknya berunding dulu?” usul Tumba.

Tumba dan Murba bertemu laksana sepasang keadilan yang saling berebut. Mulut-mulut berserabut mengatasnamakan nenek moyang masing-masing. Apakah nenek moyang mereka sama? Mungkin tak ada yang bisa menjawabnya, selain dinding-dinding gua, aliran sungai, dan pohon yang menjulang yang telah berumur ribuan tahun. Tumba dan Murba pun tak tahu siapa yang disebut-sebut nenek moyang itu. Apalagi mereka telah lama mati.

Bukankah Noah? Bukankah Adam? Atau adakah manusia yang lebih tua lagi?

Dan jika itu ada, mungkin ia tak tinggal di pulau terpencil ini. “Kau telah menghina nenek moyang kami, dan sekarang kau menjelek-jelekkan tanah leluhur kami?” kata Murba.

“Hari hampir senja, aku benar-benar sudah tidak sabar dengan perundingan yang tak berujung ini. Menghormati leluhurmu sama saja dengan mencela leluhur kami. Sekarang kita tentukan di mana kita akan berperang,” ucap Tumba mengakhiri perundingan.

“Di perbatasan. Aku harap pendudukmu siap untuk mati sia-sia.”

Matahari yang tadinya kuning kini telah menjadi jingga. Terlihat siluet camar pulang dari melaut. Sebentar-sebentar mentari tertutupi awan-awan kemelut. Sungai yang tadinya jernih, kini tidak lagi. Satu per satu ikan mengambang mati. Teracuni. 

Semua orang telah berbaris berhadap-hadapan. Berseberangan. Seolah sungai perbatasan itu adalah wasitnya. Masing-masing telah menggenggam senjatanya. Berharap hari ini bisa berburu nyawa. Murba berteriak. Tumba menyalak.

Matahari yang tadinya jingga kini telah menjadi merah. Lalu meneteskan darah dari balik gunung. Suara-suara bergaung. Tombak mulai dilempar ke arah lawan. Dan tiba-tiba, dari depan, sebuah panah menusuk ulu hati kawan. Murba berteriak. Tumba menyalak.

Semua orang menunggu, apakah matahari yang merah itu pada akhirnya akan menjadi hitam. Namun sekian lama menunggu, matahari itu tetap saja merah. Merah yang marah. Tidak ada damai lagi, tidak ada sapa lagi. Barangsiapa menyeberangi sungai, ia akan mati.

Tiba-tiba, sebuah perahu mainan terbawa arus sungai. Mengalir begitu cepat menuju muara. Semua mata tertuju padanya.

Di atas perahu itu, terputar sebuah kotak musik. Kotak musik yang masih bernyanyi lirih: Di atas kedamaian masih ada kedamaian. Manusia dari tanah yang sama walaupun berbeda warna. Manusia dari udara yang sama sekalipun berlainan bahasa. Bukankah kita saudara?

Perang berhenti sejenak. Semua mata mengarah ke hulu, mencari tahu siapa yang melayarkan perahu mainan itu. Oh, seorang anak kecil dekil berkacamata. Sarung di pundaknya tersampir, dan pecinya sedikit miring. Anak itu berkata, “Lantas, apakah kita biarkan senja menjadi malam yang kelam, ataukah kita kembalikan menjadi pagi yang terang benderang?”


Penulis tinggal di Pesantren Tebuireng Jombang. Cerpen yang disajikan ini merupakan bagian dari antologi Trik Ahli Neraka (2018)


Bagikan:
Ahad 25 November 2018 23:36 WIB
Warta Cinta
Warta Cinta
Ilustrasi: pixabay.com
Oleh Muchamad Aly Reza

Aku tersentak ketika seorang bocah laki-laki bertubuh gempal berlari sambil berseru haru-kegirangan dari bibir pantai. Kabar apakah kiranya yang dia bawa dari negeri seberang sana? bisikku dalam hati. Betapa dari raut bocah berkulit sawo langsat itu terpancar rona bahagia. Sekejap saja dan bocah laki-laki itu dikerumuni nelayan, pedagang, dan para saudagar. 

“Aku membawa kabar dari salah seorang saudagar Arab,” ucapnya mantap dengan mengangkat tingggi-tinggi selembar kertas berwarna cokelat kekuningan. Kecuali aku, semua yang hari itu berada di dermaga termangu dan menyimak seksama. Sementara aku masih sibuk mendempul perahu. 

Persis setelah bocah laki-laki itu membacakan warta di tangannya, lamat-lamat terdengar puji-pujian dalam tradisi Hindu, Budha, dan seruan syukur dalam bahasa kepercayaan orang-orang Nusantara. Aku terhenyak—tiba-tiba aku teringat pada suatu kali ketika kakekku mengajakku melaut, pada sebuah purnama ketika usiaku baru terhitung belasan. Dia bercerita, bahwa akan tiba hari di mana akan terbit cahaya terang dari Arab. Cahaya kedamaian, cahaya yang dirindukan kaum miskin, cahaya yang akan menghapus jejak-jejak kelaliman dari muka bumi. Malam itu aku tidak banyak bertanya, aku tidak pernah tertarik dengan rahasia-rahasia langit. Namun hari ini, dari sinar di wajah bocah laki-laki itu, sungguh aku ingin tahu, kira-kira ada pesan apa dari langit?

Aku berdiri, mencoba mendekati kerumunan yang masih hanyut dalam doa dan puji-pujian. “Dia telah dilahirkan, oh sungguh ini adalah saat yang aku tunggu seumur hidupku,” teriak salah seorang nelayan tua. Semakin aku mendekati kerumunan, semakin aku yakin tentang ramalan itu. Dari kakekku aku sering mendengarnya—sebuah kabar baik ketika di negeri Arab diliputi kegelapan, ketika dunia dipenuhi awan kelabu. 

“Hei anak muda, tidakkah kau turut bahagia? Penutup para nabi itu telah dilahirkan, hari ini, menjelang fajar.” 

Kali ini aku tidak kuasa menopang tubuhku sendiri. Aku terduduk, tubuhku bergetar hebat, aliran darahku mengalir deras, detak jantungku berpacu dua kali lebih kencang dari batas normalnya. Kemudian aku mendengar bocah laki-laki tadi kembali membcakan warta di tangannya. Sepersekian detik sebelum aku jatuh tidak sadarkan diri, sempat aku tangkap dari suaranya yang berat, bahwa ada sepasukan gajah yang mencoba merobohkan bangunan suci di Mekah, namun batal-digagalkan oleh sekawanan burung-burung. Aku tidak sanggup membayangkan, betapa dimuliakan manusia itu? Penutup para nabi, manusia suci yang lahir yatim, yang kelak akan membangun dunia dengan kasih sayangnya, yang kelak akan menyelamatkan manuisa dari petaka kebodohan. Sementara pikiran-pikiran berkelebat di kepalaku—aku pingsan.

***

Aku terbangun di atas padang rumput yang dipenuhi domba-domba gembala. Di mana aku?. “Warta cinta sudah sampai di negeri kita, Nak, pesisir yang jauh ini.” 

“Siapa itu?” sergahku. 

Kemudian yang ku dengar justru suara tawa. 

“Bersabarlah, Nak, ketika semua ramalan itu terpenuhi, akan ada banyak guncangan di muka bumi. Dia akan datang dengan kejujuran.” Aku berdiri, mencari-cari dari mana sumber suara itu. 

Kakek? Itukah kau? 

Kemudian kulihat cahaya besar merekah dari langit. Sekejap dan kemudian aku terbangun dari ketidaksadaranku. Aku terbangun ketika hari sudah petang, dermaga sudah sepi. Tinggal aku dan bocah laki-laki yang memeluk erat warta di tangannya. 

“Kau pingsan cukup lama,” ucap bocah laki-laki di sebelahku. Tatapannya tajam ke sudut laut. “Kita akan menjadi saksi bagi terwujudnya sebuah ramalan agung,” ucapnya lagi dengan nada dramatis. Aku bangkit tertatih, rasanya masih gemetar seluruh tubuhku. Tiba-tiba ada kerinduan luar biasa yang muskil kumaknai. 

***

Sementara di belahan bumi lain, di sebuah negeri bernama Mekah, seorang bayi laki-laki yatim menjemput takdrinya. Bersiap memenuhi ramalan besar, menjadi penutup para Nabi, menjadi juru perdamaian, pembawa lentera dalam kegelapan. Sementara bayi itu menunggu masanya tiba, sementara itu aku berdoa, semoga aku mati setelah risalahnya sampai ke telingaku. 


Surabaya, 2018, 12 Maulid

biasa dipanggil Kang Aly.
Kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Merupakan mahasiswa aktif Prodi Sejarah
Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.
Aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon
Adab UINSA sekaligus menduduki Divisi Intelektual di Himpunan Mahasiswa
Jurusan Sejarah Peradaban Islam UINSA. Sebelumnya, pengirim adalah
alumnus dari Pondok Pesantren An-Nur, Lasem, Rembang, asuhan KH. Abdul
Qoyyum Manshur (Gus Qoyyum).







Senin 5 November 2018 21:30 WIB
Surau Pojok Desa
Surau Pojok Desa
Ilustrasi (via grid.id)
Lelaki itu bertubuh tinggi kecil. Badannya kurus seperti tidak makan berhari-hari. Tampilannya selalu memakai peci dan sarung kumuh yang belum dicuci berbulan-bulan. Pecinya pun berwarna hitam kemerah-merahan. Dia kurang beruntung mungkin hidupnya, masih muda tapi pakaiannya tidak seperti pemuda lainnya yang necis, harum, dan rapi. Tidak hanya di tampilannya, bahkan cara hidupnya pun berbeda. Pandangannya selalu kosong. Berbicaranya juga tidak semua orang bisa memahamninya, butuh jarak waktu untuk menafsirkan maksud yang dia omongkan.

Arif namanya, konon katanya pemuda ini misterius. Tidak ada seorang pun yang mengetahui asal usulnya. Pada malam jum’at, warga kampung seperti biasa membaca yasin dan tahlil di surau yang lumayan besar di pojok desa. Meskipun surau itu tidak dirawat, tapi setiap kamis paginya para warga gotong royong membersihkannya untuk acara pada malamnya. Maklum karena surau itu berguna pada saat malam Jum’at. 

Ketika para warga dengan seksama membaca yasin dan tahlil, ada seorang warga keluar dari surau dan bertemu dengan pemuda, dia si Arif namanya. Warga itu bingung, karena bertemu anak muda yang tak jelas pakaiandan omongannya.Ada semacam rasa takut dan bingung. Yang diucapkan di mulut pemuda itu hanya untaian-untaian syair memuja Rasulullah SAW. Warga sedikit bisa menangkap syairnya.
Ya Allah, Ya Rasulullah. Aku rindu kepadamu. Aku cinta kepadamu
Aku ingin bertemu. Langit tak cukup mampu memandang wajahmu Ya Rasulallah.
Kecuplah keningku ya Rasul, tak ada yang mengalahkan keindahanMu
Aku berharap syafaatmu, terimalah aku sebagai umatMu
Aku bersujud bersimpuh kepadaMu.

Bunyi itu yang selalu diucapkan Arif. Dengan berpakaian compang-camping dan saat mulutnya berucap syair itu, tangannya menadah, wajahnya menghadap ke atas. Seakan-akan ada suatu harapan yang sangat ingin dia harapkan. Air matanya deras keluar dari kedua matanya. Warga tersebut semakin bingung melihat tingkah laku Arif. Dia seperti orang gila tapi kegilaannya sambil memuja Rasul.

Setelah itu keluarlah para warga yang sebelumnya khusu’ pengajian di surau. Karena mereka mendengar suara berisik di luar. Kejadian itu tidak jauh dari surau, maka dengan keras suara Arif bisa menjalar sampai ke dalam surau. 

“Kenapa kau pemuda, apa kau gila. Dari mana kau berasal?” tanya dari perwakilan warga.

“Ha ha ha ha, aku tidak gila. Aku ini sedang memuja-muja Rasul, karena aku semalam bertemu dengannya di surau ini. Beliau tersenyum kepadaku. Sepertinya aku tidak salah melangkah. Aku disuruh menjaga dan merawat surau ini,” jawab si Arif.

“Apa kalian percaya dengan pemuda ini?” terdengar bisik-bisik warga.

Sebenarnya para warga tidak terlalu percaya dengan Arif. Tetapi kultur di desa ini masih sangat kental agama, semua yang berbau agama, apalagi islam, gampang sekali mereka percaya. Ada satu orang di desa tersebut yang dipanggil Abah. Kalau di desa ini Abah sama seperti ayah jika dilihat dalam lingkup keluarga.

Tapi Abah bisa mengandung makan luas, seperti orang yang kental agamanya atau orang yang dihormati. Biasanya mereka memanggil dengan sebutan Abah Yusuf. Apa kata beliau, pasti semua warga menurutinya. Sebab biasanya jika ada sebuah persoalan di desa yang membutuhkan jawaban, pasti Abah Yusuf menjadi patokannya.

Abah Yusuf adalah orang yang bijak, dia tidak bisa menolak Arif karena alasan seperti itu. Terkadang apa yang diputuskan olehnya berbalik dengan usulan para warga. Meskipun begitu, tapi putusan dia sampai saat ini selalu untung, malah tidak ada orang yang dirugikan sama sekali. Jadi keputusan yang diambil olehnya adalah mencoba menerima Arif dengan ikhlas, sembari tinggal di surau itu, itung-itung surau ada yang merawat. Karena sudah beberapa tahun belakangan surau tidak ada yang bisa merawat. 

“Biarkan dia tidur sambil menjaga surau ini. Kita harus menerima siapapun yang ingin berbuat baik. Kita lihat saja nanti, andaikan dia berbuat jahat, kita boleh mengusirnya," kata Abah Yusuf.

Sontak para warga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Keputusan sudah seperti itu. Terima atau tidak berterima harus berterima. Bahkan terkadang Abah Yusuf itu orang yang lebih tahu dari pada para warga. Dia kan orangnya pintar. Jadi warga nurut saja dengannya. 

***
Si Arif seperti biasa, dia melakukan sesuai tugasnya, yaitu membersihkan surau yang penuh dengan daun kering rontok. Tapi ada satu yang tidak boleh dilakukan oleh para warga, yaitu jangan mengajak dia berbicara.

Bahasanya sulit mengerti, bahkan kalau didengar dengan teliti, bahasanya tidak bahasa Indonesia, bahkan tidak bahasa Jawa pula. Bahasanya mirip-mirip bahasa Arab. Entah apa yang dia ucap, semua orang tidak ada yang mengerti dengan bahasanya. Sering kali dia melamun sendiri.

Setelah dia menyelesaikan tugasnya, pasti dia keluar surau, dia duduk bersila sambil melamun dengan pikiran kosong. Warga yang melihatnya pun tidak berani menyapanya. Bagaimana cara menyapa yang lebih pantas, jika bahasanya pun sulit dimengerti. Paling-paling warga cuma menyapanya dengan mengucap salam. Tidak lebih.

Pernah sesekali pada saat beberapa warga ronda keliling desa, mereka menjumpai Arif keliling desa juga sambil memungut sampah. Tidak lupa bibirnya mengucap syair yang dilantunkan ketika awal dia menginjak mengunjungi desa. Tidak hentinya dia berucap, berulang kali, mungkin sudah beribu kali dia mengucap syair tersebut. 

Di punggungnya dia membawa karung yang lumayan besar sambil sedikit membungkuk badannya. Waktu itu tepat pukul satu pagi, dia berkeliling desa sambil memungut sampah. Mulutnya komat-komit tiada henti. Syair terus dilantunkan sampai menjelang subuh. Kemudian dia kembali ke surau sambil membawa karung tersebut.

Ternyata selama dia tinggal di desa itu, dia sudah mengumpulkan beberapa karung sampah di belakang surau. Para warga pun juga tidak pernah tau apa sebenarnya isi karung yang dia bawa terus-menerus, yang mereka tahu hanya sampah, karena pada saat itu dia membawa karung tersebut saat mencari sampah. 

Yang mempunyai asumsi aneh kepada si Arif hanya para warga. Abah Yusuf melihatnya seperti barang lumrah. Karena dia sudah banyak pengalaman dengan hak-hal aneh seperti itu. Menurutnya, tingkah laku Arif adalah tingkah laku orang yang tidak bisa di nalar. Yang bisa menalar hanyalah orang-orang yang paham dengannya. 

Kalau dalam duia Islam, perilaku tersebut adalah perilaku Zuhud, perilaku zuhud adalah perilaku seperti para wali Allah, kekasih-kekasih Allah. Orang awam sulit untuk menerima dengan logika manusia. Karena bukan sembarang orang bisa melakukannya, hanya orang-orang pilihan yang diberi kekuatan Allah untuk bisa menjalankannya. 

Ada untungnya Arif tinggal di surau itu, surau semakin bersih, wangi. Biasanya kalau malam jum’at para warga harus kerepotan dengan kecoak, dengan cicak-cicak yang tiba-tiba jatuh di kepala. Suasana yang mulanya khusu’ menjadi ribut karena ada gangguan-gangguan itu. Semenjak ada Arif, surau menjadi beda. Orang semakin kerasan lama-lama di surau, mereka bisa khusyu’ menjalankan ibadahnya. 

***
Pada suatu malam, para warga sedang mencari Arif. Dia beberapa hari tak terlihat di desa. Di tengok ke surau pun tidak ada batang hidungnya. Semua warga mencarinya. Lalu warga memanggil Abah yusuf. Warga tidak ingat jika di dalam surau ada sebuah kamar kecil tempat tidur si Arif. Dibuka pintu itu, lalu warga terkejut dengan bau harum yang bersumber dari kamar.

Terlihat tubuh Arif tergeletak dengan wajah tersenyum. Bau tubuhnya mendadak wangi. Ternyata diteliti, Arif meninggal sejak dua hari yang lalu, namun tubuhnya tetap memunculkan bau-bau wangi, mirip seperti bunga kenanga putih. 

Setelah para warga selesai menguburkan jenazah Arif. Ke esokan harinya datanglah segerombolan orang memakai mobil nampak mengunjungi desa itu. Orang-orang tersebut memakai jubah-jubah putih, tubuhnya tinggi besar, dan wajahnya kearab-araban. Semua warga bingung siapa orang ini, kenapa datang kesini. Langsung saja mereka diantar salah satu warga ke rumah Abah Yusuf, mereka menceritakan semuanya, jika Arif adalah saudaranya. 

Mereka berasal dari pondok pesantren yang tak jauh dari desa. Arif adalah anak kesayangan Ayahnya, pemangku pondok pesantresn tersebut. Sedangkan yang datang adalah para saudaranya yang diutus oleh ayahnya.

“Dia memang tampak berbeda di keluarga. Tingkah lakunya pun berbeda, apa yang dia mau harus dia jalankan sesuai kehendaknya. Namun dalam keluarga tidak ada yang protes terhadap perilakunya, semuanya sudah paham dengannya, dari apa yang diucap sampai apa yang dilakukannya.Memang akhir-akhir ini dia tidak pulang.

Dia berpamit terakhir kalinya untuk keluar mencari surau, keluarga pun turut bingung kenapa dia mencari surau. Kemudian saya cari-cari ternyata dia ada di sini “Cerita dari salah satu kakanya.”

Tapi Abah Yusuf hanya tersenyum mendengarnya, dia sebenarnya sudah paham dengan Arif, maka dari itu sejak awal dia menerimanya. Dan semenjak Arif meninggal, surau menjadi ramai, semakin indah, anak-anak kecil senang berkumpul di situ.

Memang ada sedikit yang direnovasi ketika keluarga Arif memberi sedikit bantuan uang. Namun surau itu tetap menjadi surau. Sedangkan kuburan Arif dipindah dimakamkan di belakang surau. Tidak hanya itu, ternyata karung-karung yang dikumpulkan Arif di belakang surau berisi uang juga.

Kiranya para warga adalah berisi sampah atau dedaunan. Tapi tidak disangka, sampah itu berubah jadi uang yang bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan para warga. Untuk mengenang jasa si Arif, warga memindah kuburannya di belakang surau.

Ada tempat kecil khusus untuk peristirahatan terkahirnya. Warga pun ikut beruntung dan bahagia karena mungkin Arif adalah kekasih Allah yang dimakamkan di desa itu.


Ahmad Baharuddin Surya, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, anggota Pers Kampus Gema Unesa.
Ahad 28 Oktober 2018 13:0 WIB
Kerumunan, Kerumunan, Kerumunan!
Kerumunan, Kerumunan, Kerumunan!
Ilustrasi: pixabay.com
Oleh Abdullah Alawi

Siang yang panas. Matahari yang culas. Cahaya yang ganas. Orang-orang berkeringat meski dalam ruangan. Orang-orang malas keluar takut kepalanya terpanggang. Meski demikian, entah kenapa ada hendak aku untuk keluar berjalan-jalan menyusur lorong-lorong kecil, trotoar-trotoar sempit, jalan-jalan kumuh, pasar-pasar tradisional, atau pasar kambuhan. Pokoknya jalan-jalan. 

Sebenarnya aku berjalan dengan ragu-ragu dan tidak bersemangat, tapi perasaan ingin berjalan terus-menerus memompaku untuk berjalan. Dan kaki ini pun terus saja berjalan. Akhirnya, sampai juga aku ke sebuah pasar tradisional. Pasar yang kumuh dan becek. Sampah beronggok-onggok dari sisa sayuran busuk dan plastik. Lalat-lalat hijau mondar-mandir dari sampah-sampah buah-buahan, sisa makanan, bangkai tikus, tukang daging kemudian hinggap di makanan, hidung orang. Anjing kurap mengorek-orek sisa makanan yang dibuang dari warung makan. Kucing liar mengendus-endus. Orang gila mengais-ngais tong sampah mencari puntung. Pemulung mencari plastik bekas dan cangkang air mineral. Tukang becak berjajar menunggu penumpang sambil terkantuk-kantuk. Pedagang dan penjual berebut harga. Tukang kuli panggul bolak-balik mengantar dan mengambil barang. Pencopet mengintip yang lengah. Suara kondektur memekik menantang siang. Mesin meraung-raung di antara mobil yang tersendat-sendat. Tukang asongan dan pengamen bergiliran mengais re
jeki dalam bis. Pengemis menengadahkan tangan. Polisi lalu lintas memaki angkot yang ngetem sembarangan sambil sesekli meniup pluit. Di bawah sinar matahari.

Tenggorakanku kering kerontang. Haus begitu menyengat. Aku mendekati seorang tukang es cendol pikul yang sedang duduk di kursi kecilnya sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan topi lusuhnya. Di mukanya tampak garis-garis kelelahan. Aku memesan satu gelas. Dia mulai menuangkan cendol ke dalam gelas. Aku menunggu. Air liurku sudah berlelehan. Tukang cendol menyerahkan gelas itu. Dia mulai mengipas-ngipaskan topi lusuhnya kembali. Aku mulai menyeruput. Rasa dingin merayap menyusur tenggorokan. Dingin itu begitu terasa hingga pori-pori.

Di pojok pasar itu kumelihat orang yang berkerumun. Kumelihat orang yang satu saperti berkata-kata sambil menudingkan telunjuknya kepada orang yang di hadapannya. Orang-orang di belakangnya ikut menuding-nuding. Sedangkan orang yang di hadapannya tidak kalah garangnya mengeluarkan kata-katanya pula sambil menuding-nuding, sementara tangan kirinya berkacak pinggang. Orang di belakangnya menyeringai. Di bawah sinar matahari.

Kemudian seperti ada yang menggerakan, beberapa orang berlari ke arah kerumunan itu. Kemudian beberapa orang masuk lagi ke kerumunan itu. Kemudian beberapa orang masuk juga ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian hitam dengan tergopoh-gopoh masuk ke kerumunan itu. Kemudian beberapa orang yang berpakaian kuning tergesa-gesa masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian merah sambil berteriak masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian biru masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian ungu masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian hijau masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian putih masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang bepakain lusuh masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang berpakaian tanpa warna masuk ke kerumunan itu. Kemudian orang yang tidak berpakaian masuk ke kerumunan itu. Orang-orang menyatu dalam kerumunan itu. Di bawah sinar matahari.

Kerumunan itu menyeret perhatian orang-orang di pasar itu. Orang yang sedang tawar-menawar berlari. Pembeli kabur. Ibu-ibu menjerit. Anjing menjauh. Orang gila tertawa. Pemilik toko dengan gesitnya menutup toko. Di bawah sinar matahari. Kemudian ada beberapa orang yang menyusup. Orang itu membisikan sesuatu pada orang di dekatnya. Orang-orang semakin berjejalan. Orang-orang semakin berdesak-desakan. Orang yang terinjak kakinya memaki orang yang di sampingnya. Orang yang dimaki membalas dengan memaki. Mereka waspada dan siap-siap. Bau sengak keringat menyengat. Keringat berlelehan. Suara-suara tak jelas keluar dari kerumunanan itu. Mendesis seperti ribuan tawon hijrah. Di bawah sinar matahari.

Aku masih saja menghirup sisa cendol sambil memperhatikan kerumunan itu dari kejauhan. Aku memesan satu gelas lagi. Haus belum juga hilang. Tiba-tiba kumelihat di kerumunan itu orang sebelah kiri menyiku orang yang di sebelah kanannya. Orang kanan membalas dengan tak kalah hebatnya. Orang yang di belakang menendang orang yang di depannya. Orang yang di depan berbalik, kemudian melayangkan tinjunya. Orang-orang berteriak sambil menyerang orang yang ada di dekatmya. Mereka semakin kalap. Menyerang dan diserang. Di bawah sinar matahari.

Kemudian beberapa orang lagi berlari ke arah kerumunan itu sambil berteriak. Sementara akau mulai minum cendol dari gelas kedua yang disodorkan si tukang cendol. Di bawah sinar matahari.

Orang-orang di kerumunan itu semakin beringas. Mereka saling menendang, saling memukul, saling menangkis, saling menyerang, saling memekik, saling mengerang, saling meregang. Saling menjengkang. Terkapar. Di bawah sinar matahari.

Kemudian suara letusan peluru.

Orang-orang yang berpakaian seragam melepaskan tembakan ke udara. Polisi memang datang selalu terlambat. Seperti di film-film. Orang-orang tak mempedulikannya. Pak polisi kalap. Pistol itu meletus kembali. Peluru melesat ganas. Tapi tidak ke udara. Tubuh seorang yang berpakaian tanpa warna rubuh. Darah mengucur dari punggungnya. Mulutnya memekik keras. Orang-orang yang berkerumun pontang-panting membubarkan diri. Sementara orang yang sudah kepalang adu jotos tak menghiraukan semua itu. Sementara aku masih menyeruput cendol untuk mengusir kering. Di bawah sinar matahari. 

Tukang cendol masih mengipas-ngipaskan topi lusuh ke tubuhnya.Kulihat di bekas kerumunan itu ada beberapa tubuh yang terbujur kaku bersimbah darah. Ada juga yang mengerang-ngerang meminta pertolongan. Ada yang tak sadarkan diri. Polisi begitu sibuk dengan hpnya. Beberapa orang yang tak sempat melarikan diri dicekal orang-orang berseragam itu untuk dimintai keterangan. Tak lama kemudian dari kejauhan terdengar mobil ambulan meraung-raung. Sementara aku baru saja menghabiskan cendol gelas kedua. Aku cuma berkata dalam benak, begitu cepat nyawa tercerabut dari raga seperti mencabut rambut dalam adonan tepung. Begitu cepat orang terpengaruh bisikan. Lamanya meregang nyawa sama dengan menghabiskan dua gelas cendol. Begitu singkatnya!

Ah..., tenggorokanku tidak kering lagi. Lumayan mengusir gerah. Tubuhku segar. Tapi aku tak punya uang sepeser pun untuk membayar dua gelas cendol yang sudah lenyap. Aku pura-pura mengodok saku celanaku seperti orang yang hendak mengambil uang. Tapi yang kudapatkan hanya sekepal tinju. Kemudian tinju itu kukeluarkan perlahan-lahan. Kemudian aku ayunkan ke muka si tukang cendol sambil berteriak, “Terimalah tinjuku. Dua gelas lunas.” 

Tukang cendol jatuh dari kursi kecilnya hingga tak sadarkan diri dengan muka penyok kebiruan. Darah meleleh dari bibirnya. Topi lusuhnya lepas beberapa meter. Di bawah sinar matahari.

“Terima kasih, ya, kataku,” sambil berlalu untuk melanjutkan jalan-jalanku lagi menyusuri lorong-lorong kecil, trotoar-trotoar sempit, jalan-jalan kumuh, pasar-pasar tradisional, atau pasar kambuhan. Aku mencari kerumunan. Lalu aku mencari tukang cendol yang sedang mengipas-ngipaskan topi lusuhnya. Di bawah sinar matahari. 


Penulis adalah warga NU kelahiran Sukabumi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG