IMG-LOGO
Nasional

Benarkah Umat Islam di Xinjiang Alami Penindasan?

Kamis 20 Desember 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Benarkah Umat Islam di Xinjiang Alami Penindasan?
Mahsiswa di Xinjiang belajar Islam (detikcom)
Jakarta, NU Online
Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia Xiao Qian melalui juru bicaranya memberikan keterangan lengkap, Kamis (20/12) terkait polemik Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, Tiongkok.

Selain mengemukakan akar persoalan terkait gerakan ekstremisme internasional yang disebut telah berpengaruh luas dan menimbulkan konflik di Xinjiang, Kedubes Tiongkok juga memberikan penjelasan soal program pendidikan dan pelatihan vokasi untuk Muslim Uighur.

Dalam keterangannya, Pemerintah Tiongkok menyadari keberagaman suku di negeri tirai bambu itu. Mereka mengaku sepenuhnya memberikan perlindungan kepada setiap warganya seperti dijamin dalam Undang-Undang Dasar negara Tiongkok.

Perlu informasi faktual terkait kondisi umat Islam secara umum di Xinjiang. Berikut hasil penelusuran lengkap detikcom pada 3-11 Mei 2018 lalu yang dikutip NU Online, Kamis (20/12): 

Cerita sedih soal Muslim di Xinjiang, Tiongkok (China) suka beredar di media sosial Indonesia. Tapi benarkah hal itu terjadi?

detikcom mencari tahu jawabannya dengan mendatangi langsung Xinjiang pada 3-11 Mei 2018 lalu. Di ibu kota Provinsi Xinjiang Uyghur Autonomous Region, Kota Urumqi, wartawan beberapa negara berjumpa dengan State Council Information Office China, Information Office Xinjiang Uyghur Autonomous Region dan Xinjiang Islamic Institute.

Presiden Xinjiang Islamic Institute, Abdurakib Bin Tumurniyaz adalah seorang pria tinggi besar bersuara berat. Dia tahu betul betapa pemberitaan negatif soal Xinjiang beredar luas di luar negeri.

"Berita soal puasa Ramadan dilarang, itu tidak benar! Datang saja ke sini dan lihat langsung. Tidak ada aturan larangan. Saya memelihara janggut panjang begini apa saya ditangkap? Kan tidak," kata Abdurakib.

Lantas, bagaimana dengan kerusuhan besar yang pernah terjadi di Xinjiang tahun 2009? Hal itu kemudian diikuti dengan beberapa kali insiden di tahun-tahun berikutnya.

Abdurakib mengatakan kerusuhan itu bukan karena masalah agama Islam. Xinjiang menghadapi masalah ekstremisme yang melibatkan kekerasan. Padahal ajaran Islam sendiri cinta damai, dan pemerintah China menurut Abdurakib menjamin kebebasan pemeluk agama.

"Berdasar UU di China dan peraturan agama di Xinjang, setiap warga negara berhak mendapatkan kebebasan menjalankan agama. Gerakan ekstremisme internasional mempengaruhi Xinjiang, mereka anti agama dan anti masyarakat. Mereka merusak persatuan masyarakat. Sehingga melawan ekstremisme adalah untuk kepentingan semua orang," kata dia.

Dalam penelusuran detikcom, kerusuhan di Provinsi Xinjiang memang bagai benang kusut. Yang paling banyak disorot adalah kerusuhan di Kota Urumqi dengan korban tewas lebih dari 197 orang.

Konflik ini bukan dipicu oleh agama. Kerusuhan diawali konflik antara etnis muslim Uyghur dengan etnis Han. Namun penting diketahui, konflik ini tidak bisa digebyah-uyah sebagai konflik semua muslim di Xinjiang. Faktanya, etnis muslim Hui tidak terlibat bahkan mereka tidak mau menjadi bagian dari konflik.

Khusus untuk etnis muslim Uyghur, rupanya ada sejarah panjang soal separatisme sejak tahun 1960 yang dimotori beberapa kelompok, seperti East Turkistan Islamic Movement (ETIM), dan yang terakhir adalah Turkistan Islamic Party (TIP). Seperti halnya juga di Indonesia, ada pengaruh kelompok teror seperti Al Qaeda sampai ISIS yang membuat urusan separatisme Uyghur ini makin keruh.

Sikap keras dan represif pemerintah China dalam menghadapi kelompok ini juga perlu dikritisi. Pendekatan humanis perlu dikedepankan. Dari penjelasan Abdurakib, sepertinya pemerintah China juga menyadari itu.

Xinjiang Islamic Institute yang berdiri tahun 1982 dengan izin Partai Komunis China (PKC) dan pemerintah Xinjiang, kini menjadi lembaga pendidikan untuk mempromosikan Islam yang damai.

"Dari lembaga kecil sampai sebesar ini juga kita didukung PKC. Tahun 2014 kita bikin kampus baru dan selesai tahun 2017. Pemerintah lokal Xinjiang bantu dana. Kita punya 71 pengajar yang digaji pemerintah Xinjiang dan 480 murid. 5 Tahun kuliah, jadi sarjana dan lulusan kami jadi imam di berbagai kota di China," kata dia.

Abdurakib lantas mengajak detikcom dan wartawan negara-negara lain melihat masjid mereka yang baru dan megah. Kemudian kami melihat proses belajar di kampus. Para mahasiswa belajar agama, mengaji dan bahasa mandarin.

Abdurakib tidak menampik fakta bahwa anak-anak Muslim di sekolah milik pemerintah China, belum boleh menjalankan ibadah. Pemerintah komunis China memang meniadakan urusan agama dari segala kantor pemerintahan dan institusinya.

"Jika itu institusi pemerintah memang begitu aturannya. Tapi selepas dari sana, mereka bisa belajar agama Islam di sini," kata Abdurakib mencoba berkompromi.

Menurut Abdurakib, pihaknya mengedepankan pembangunan budaya etnis minoritas. Mereka membuka kerja sama dengan dunia internasional dengan dasar saling menghormati dan bukan intervensi.

"Kita bikin pameran budaya ke Indonesia dan negara lain. Setiap kebebasan beragama diperhatikan dan pemerintah juga memperbaiki diri. Xinjiang sebagai Jalur Sutra Baru, kami mempromosikan dialog antaragama dan antarwilayah," jelasnya.

Secara terpisah, detikcom juga bertanya kepada Sultan Mahmood Hali, wartawan senior Nawa-i-Waqt, Pakistan yang sering bolak-balik ke Xinjiang. Dia mengatakan pembangunan Xinjiang Islamic Institute memang sungguhan.

"Dulu kantornya gedung tua bukan di sini tempatnya. Ini gedung baru, saya juga baru lihat dan memang besar dan bagus," kata Mahmood Hali.

Jika mau melihatnya secara objektif, kedua pihak memang ada salahnya. Pemerintah China tidak ingin ada separatisme, itu bisa dimaklumi. Namun menghadapi kelompok minoritas dengan sikap represif itu tidak bisa dibenarkan. Kita juga tahu bagaimana China menghadapi Falun Gong.

Di sisi lain, Uyghur merasakan kecemburuan etnis dengan Han. Namun memakai jalan kekerasan, separatisme dan terorisme seperti yang dilakukan sekelompok kecil oknum masyarakat Uyghur, itu juga salah. Belum tentu semua etnis muslim Uyghur menghendaki cara seperti ini.

Dari kunjungan langsung ke Xinjiang, bisa dilihat memang ini masalah kesenjangan antar etnis dari faktor historis yang cukup panjang, baik aspek ekonomi dan politik. Orang Uyghur cemburu karena orang Han lebih sejahtera secara ekonomi. Orang Han cemburu karena orang Uyghur tidak terkena One Child Policy dan boleh punya anak lebih dari satu.

Sayangnya, ada pihak-pihak yang menutupi akar masalahnya dengan bungkus konflik agama. Hal itu tampaknya supaya isu Xinjiang ini laku dijual untuk mendapatkan simpati umat Islam di dunia. Namun, hal itu tidak menyelesaikan akar masalah.

Pemerintah China harus bersikap lebih lunak lagi. Etnis Uyghur pun harus mengedepankan cara-cara damai. Hentikan kekerasan. Etnis-etnis minoritas lain di Xinjiang harus membuka komunikasi dan dialog. Xinjiang adalah pekerjaan rumah yang belum selesai untuk China.

(Red: Fathoni)
Bagikan:
Kamis 20 Desember 2018 22:30 WIB
Wapres Jusuf Kalla dijadwalkan Luncurkan Pembangunan UIM
Wapres Jusuf Kalla dijadwalkan Luncurkan Pembangunan UIM
Rektor UIM Makassar temui Wapres di Jakata
Makassar, NU Online
Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla dijadwalkan meluncurkan pembangunan infrastruktur Universitas Islam Makassar (UIM) di Auditorium KH Muhyiddin Zain pada Sabtu (22/11).

Hal ini diungkapkan Rektor UIM, Majdah Agus Arifin Nu'mang saat ditemui di kampus UIM saat memantau persiapan kehadiran RI 2 di UIM, Kamis (20/12)

"Insyaallah beliau siap hadir, setelah kami audiensi di Istana Wakil Presiden beberapa hari lalu," ujarnya kepada NU Online.

Tak hanya itu, kedatangan Ketua Dewan Penyantun UIM ini, diawali silaturahim Trimatra yang terdiri dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulsel, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, dan sivitas akademika UIM, kemudian dilanjutkan peluncuran pembangunan infrastruktur UIM berupa gedung Rektorat, gedung Perpustakaan,  ruang serba guna, student centre, fasilitas olahraga, dan menara UIM.  

Kedatangan Wapres ke UIM juga sekaligus untuk meresmikan Laboratorium Fakultas Teknik yang juga merupakan bantuan kemasyarakatan Wakil Presiden tahun anggaran 2017.

Universitas Islam Makassar adalah salah satu perguruan tinggi Islam di Kota Makassar. UIM merupakan merger dari dua sekolah tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al-Gazali dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Gazali. 

Pada tahun 2000 atas izin dari Dikti, maka didirikanlah Universitas Islam Makassar dengan delapan fakultas, yaitu Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Sastra dan Humaniora, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. (Andy Muhammad Idris/Muiz)
Kamis 20 Desember 2018 20:0 WIB
183 Mahasiswa Ikuti Tes Tertulis Beasiswa LAZISNU
183 Mahasiswa Ikuti Tes Tertulis Beasiswa LAZISNU
Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU mengadakan tes tertulis bagi calon penerima beasiswa NU Care Scholarship 2018. Sebanyak 183 mahasiswamengikuti ujian yang bertempat di Masjid Annahdlah PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis (20/12).

Penanggugjawab seleksi, Slamet Tuhari mengatakan para peserta yang mengikuti ujian pada hari ini diseleksi dari 1.370 peserta yang mendafatarkan diri dan lolos seleksi berkas.

“Mereka berasal dari 17 perguruan tinggi se-Jabodetabek baik negeri maupun swasta,” kata Slamet.

Ia menambahkan ada tiga tahapan untuk seleksi beasiswa ini. Tahapan pertama adalah tahapan administrasi yang dilakukan secara online diselenggarakan tanggal 1-12 Desember 2018. Tahapan yang kedua adalah tahapan tes tertulis yang berupa tes potensi akademik, BTA, dan ke-NU an.

“Bagi yang lolos pada tahap kedua akan masuk pada tahap ketiga yaitu tes PPI dan wawancara. Setelah melakukan tiga tahapan tersebut akan diumumkan siapa saja yang mendapat beasiswa dan hanya diambil 50 orang saja,” terangnya.

Menurut Slamet setiap tahun NU Care- LAZISNU rutin mengadakan program beasiswa serupa. Tujuan diberikannya beasiswa untuk membantu mahasiswa mendapatkan akses kebutuhan dalam pendidikan dengan membantu pembiayaan setiap semesternya. 

Salah satu peserta ujian, Ilmi Firdausi, mahasiswa UIN Syarih Hidatullah mengatakan mengikuti ujian ini karena ingin memanfaatkan peluang. Adapun Ahmad Ardiansyah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPBI Jurusan Teknologi dan Manajemen Ternak, mengatakan ikut serta dalam ujian beasiswa ini karena sebagai mahasiswa dengan harapan dapat membantu dalam segi belajar yang lebih baik lagi. 

“Bila saya diterima yang pasti bersyukur kepada Allah SWT, saya akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin dan membawa nama baik NU,” ujarnya optimis. (Kendi Setiawan)

Kamis 20 Desember 2018 17:0 WIB
KONGRES IPNU IPPNU
Besok, Presiden Jokowi Buka Kongres IPNU-IPPNU di Istana Negara
Besok, Presiden Jokowi Buka Kongres IPNU-IPPNU di Istana Negara
Kongres IPNU IPPNU di Cirebon, Jabar
Jakarta, NU Online
Presiden H Joko Widodo direncanakan memberikan pengarahan sekaligus membuka Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XIX dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama XVIII di Istana Negara, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (21/12). Kongres kali ini mengangkat tema besar Pelajar Hebat, NKRI Bermartabat.

"Insyaallah Pak Jokowi akan memberikan arahan sekaligus membuka Kongres IPNU-IPPNU nanti, mohon doa restunya, semoga acara kongres ini berjalan dengan lancar,” kata Ketua Umum IPPNU, Puti Hasni kepada NU Online, Senin (20/12).

Puti berharap, Presiden Jokowi bisa membawa visi misi pelajar NU dan lebih pro aktif terhadap pelajar. Sebab, menurutnya, pelajar hari ini adalah pemimpin masa depan.

“Maka pelajar yang masih terpinggirkan dan dianggap sebelah mata saat ini bisa selangkah lebih maju,” jelasnya.

Pada pembukaan ini, sejumlah tokoh juga direncanakan hadir, seperti Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan sejumlah menteri kabinet kerja.

Seusai pembukaan, para peserta langsung bertolak ke Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, untuk melanjutkan rangkai pembukaan kongres. Forum tertinggi di lingkungan pelajar NU ini sendiri berlangsung hingga Senin (24/12). 

Nantinya, pada forum ini, para peserta membahas lima agenda utama, yakni pembahasan dan pengesahan tata tertib Kongres XIX IPNU dan Kongres XVIII IPPNU.

Selanjutnya, laporan pertanggungjawaban PP IPNU-PP IPPNU masa khidmat 2015-2018 dan pandangan umum, pengesahan hasil sidang komisi, persidangan tata tertib pemilihan ketua umum, dan pemilihan ketua umum PP IPNU-PP IPPNU masa khidmat 2018-2021. (Husni Sahal/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG