IMG-LOGO
Daerah

Pojok Sunan Kalijaga di UIN Yogyakarta

Jumat 21 Desember 2018 4:15 WIB
Bagikan:
Pojok Sunan Kalijaga di UIN Yogyakarta
Yogyakarta, NU Online
Perpustakaan UIN Yogyakarta kini menambah salah satu fasilitasnya yang disebut Pojok Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijaga Corner. Pojok Sunan Kalijaga berisi buku-buku, skripsi, tesis, penelitian, dan laporan ilmiah tentang Islam Jawa dan budaya lokal. Ada juga koleksi naskah-naskah kuno yang keislaman dan kejawen, seperti maskah sunan kalijaga dan sunan bonang.

Labibah Zain, kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga mengatakan naskah-naskah yang ada di Pojok Sunan Kaliaga Corner sudah digitalisasi. Tujuan dari digitalisasi naskah yaitu untuk menangani manuskrip yang rawan kerusakan karena usia yang lama dan lapuk.

"Ada sekitar 15 manuskrip yang menjadi koleksi di Pojok Sunan Kalijaga yang semuanya sudah digitalisasi. Naskah tersebut didapatkan dari koleksi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakata, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Perpustakaan Balai Bahasa Yogyakarta, dan Pesantren Budaya Kaliopak," rincinya pada peluncuran, akhir pekan lalu.

Labibah menyebutkan tujuan didirikannya Sunan Kalijaga Corner adalah untuk mengumpulkan bahan pustaka atau koleksi tentang Islam Jawa, supaya terkumpul dalam satu tempat (corner).

Gustamara Ardianta, mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Yogjakarta mengungkapkan hadirnya Pojok Sunan Kalijaga juga agar Perpustakaan UIN Yogyakarta menjadi pusat koleksi Islam di Yogyakarat.

Sunan Kalijaga Corner diharapkan dapat bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Sunan Kalijaga yang memiliki banyak hasil penelitian-penelitian tentang keislaman.

"Supaya penelitian-penelitian tentang keislaman bisa dibaca dan bermanfaat untuk semua akademisi," tukas Mifedwil Jandra, ketua LPPM UIN Yogyakarta, saat ditemui di kantornya, Kamis (21/12).

Pengembangan Sunan Kalijaga Corner dilakukan kurang lebih selama tiga bulan oleh 13 mahasiswa  Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmi Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarya.

Peluncuran dimeriahkan dengan pameran koleksi Islam Jawa berupa naskah tentang dan karya-karya yang mengkombinasikan antara budaya tradisional Indonesia dengan kehidupan milenial. Pameran ini berlangsung selama tiga hari di lobi perpustakaan UIN Yogyakarta.

Selain pameran, pada saat peluncuran juga diadakan aneka lomba seperti cipta puisi dengan tema Sunan Kalijag dan Islam.
Bagikan:
Jumat 21 Desember 2018 23:30 WIB
Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat
Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat
Kudus, NU Online
Kiai Dzikron dari Semarang mengatakan ulama tarekat berbeda dengan ulama syariat. Ulama syariat belum tentu mengerti tarekat, hanya mengerti syariat.

"Mereka biasa disebut dengan kelompok garis keras atau golongan sumbu pendek. Mereka mengucapkan takbir tapi tidak dari hati. Para ahli tarekat yang memegang teguh tarekatnya, insyaallah tidak akan memicu terjadinya intoleransi," katanya pada Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di Pondok Pesantren Manba'ul Falah Piji, Dawe, Kudus, Rabu (19/12) malam.  

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan beberapa pesan penting, di antaranya ialah hal yang harus dimiliki oleh seorang murid adalah sikap jujur dan takdhim kepada guru atau mursyidnya. Ia menyebutkan dalam Tarekat Tijaniyah sebutan bagi seorang guru adalah muqoddam (pemimpin), bukan mursyid.

"Para ahli tarekat harus senantiasa istiqomah dalam bertarekat," tegasnya. 

Salah satu santri alumni Pesantren Manba'ul Falah yang telah menjadi polisi juga menyampaikan bahwa dzikir para salik dalam tarekat berbeda dengan bacaan tahlil yang bernada pada umumnya, contohnya seperti tahlil kematian. Dzikir ahli tarekat tidak bernada, namun dikhususkan meresap ke dalam hati para salikin dengan berusaha menghadirkan Allah dalam hatinya.

Rabu pagi (19/12), ribuan jama'ah menghadiri haflah maulid Nabi Muhammad SAW dan haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jiilani R.A di Pondok Pesantren Manba'ul Falah Piji, Dawe, Kudus pimpinan Romo Kyai Haji Affandi Shiddiq yang merupakan mursyid thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) di desa Piji Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
 
Maulid Nabi dibuka dengan pembacaan dzikir bersama dan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Dalam acara tersebut turut hadir pula para ulama di antaranya KH Asnawi Fauzan selaku mudirul ma'had Darul Ulum Pasuruan; serta rombongan jamaaah TQN Tasikmalaya dan jamaah TQN Cirebon. Sementara dari Jakarta sendiri hadir rombongan jama'ah Majelis Mihrobul Muhibbin pimpinan KH.Ahmad Shodiq. (Siti Nurjannah/Kendi Setiawan)
Jumat 21 Desember 2018 21:0 WIB
IPNU-IPPNU Kesamben Hidupkan Pimpinan Ranting yang Vakum
IPNU-IPPNU Kesamben Hidupkan Pimpinan Ranting yang Vakum
IPNU-IPPNU Kesamben, Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur miliki nahkoda baru setelah melaksanakan konferensi anak cabang (Konferancab), Selasa (18/12) lalu di Kantor MWCNU setempat.

Peserta Konferancab mempercayai kepada Achmad Amirudin sebagai Ketua PAC IPNU Kesamben dari Pimpinan Ranting (PR) IPNU Carangrejo, dan kepada Nuril Asmaul Khusna asal PR IPPNU Jombatan sebagai ketua PAC IPPNU setempat.

Kepada NU Online, Jumat (21/12) Achmad Amirudin mengatakan, ada beberapa langkah prioritas yang harus dilakukan PAC IPNU-IPPNU Kesamben di masa kepemimpinannya. Salah satunya yang paling urgen adalah membentuk sekaligus mengaktifkan kembali beberapa Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU yang vakum.

"Amanah ini sebagai ajang pembelajaran untuk istiqamah dalam melakukan dengan mengaktifkan beberapa pimpinan ranting yang masih vakum," katanya.

Sementara Ketua MWCNU Kesamben M Setu mengapresiasi terkait langkah-langkah organisasi NU tingkat pelajar itu. Ia mengatakan, perjalanan kepengurusan IPNU-IPPNU Kesamben harus terus progres setelah IPNU-IPPNU di wilayah ini kembali bangkit dari kevakumannya hingga belasan tahun.

"Pada periode sebelumnya sudah berjalan cukup bagus sebagai organisasi yang baru bangkit kembali setelah vakum hmpir 16 tahun," ucapnya.

Ia menyebutkan, memang masih ada beberapa ranting yang harus digugah kembali pada kepengurusan yang baru ini. Di samping itu mereka juga harus mendirikan setidaknya 5 (lima) pimpinan ranting untuk bisa menyempurnakan kepengurusan IPNU-IPPNU tingkat ranting di Kesamben.

"Di Kesamben telah terbentuk 9 (sembilan) Pimpinan Ranting IPNU - IPPNU dari 14 ranting, belum terealisasinya semua program menjadi tanggung jawab kepengurusan yang baru," jelasnya.

Dan untuk memuluskan sejumlah programnya, ia mengimbau mereka harus bisa saling mendukung. "Tidak boleh 'welehan' dalam merealisasikan program yang disepakati," ujar dia.

Sepanjang IPNU-IPPNU Kesamben merealisasikan program-programnya, dirinya menegaskan MWCNU akan selalu mendukung. "Segera menyusun acara pelantikan dan mengadakan orientasi kepemimpinan. Kemudian juga penyusunan program kerja bila perlu ke Pacet, Mojokerto. Dari MWCNU dan Banomnya akan menyupport demi terbentuknya generasi penerus NU," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Jumat 21 Desember 2018 16:45 WIB
Unipdu Jombang Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Warga
Unipdu Jombang Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Warga
Jombang, NU Online
Sejumlah mahasiswi program studi D III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan  Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur menggelar pengabdian masyarakat.

Mereka adalah mahasiswi angkatan 2016 dan 2017 dari kampus yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum, dan mengadakan layanan kebidanan di Desa Ngumpul, Jogoroto. 

Kegiatan dilaksanakan di salah satu rumah warga dan dihadiri Kepala Puskesmas Mayangan, Jogoroto, Dyah Ayu Yulyastuti. 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim dari Program Studi D III kebidanan Unipdu yang telah menunjuk Desa Ngumpul sebagai lokasi kegiatan pengabdian masyarakat,” katanya, Kamis (20/12). 

Pada kesempatan tersebut, dirinya menyampaikan menyampaikan bahwa pemeriksaan pada ibu hamil sangat penting. “Hal itu  dilakukan sebagai deteksi dini adanya bahaya atau komplikasi  pada kehamilan,” ungkap Dyah Ayu Yulyastuti.

Dalam pandangannya, deteksi dini dapat mengurangi angka kematian. “Baik bagi ibu hamil bersalin dan nifas,” tandasnya.

Selama pengabdian, para mahasiswi  melakukan berbagai kegiatan. Dari mulai pemeriksaan ibu hamil, penyuluhan kesehatan, senam ibu hamil dan akupresure pada bayi dan balita fisiologis. 

Kegiatan ini diikuti puluhan ibu hamil dan bayi serta balita. (Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG