IMG-LOGO
Nasional

Repotnya Mengikuti Akhlak Gus Dur

Jumat 21 Desember 2018 4:30 WIB
Bagikan:
Repotnya Mengikuti Akhlak Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Jepara, NU Online 
Desember adalah bulan memperingati haul Wafatnya Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati di berbagai pelosok negeri. Gus Dur perlu diikuti akhlak baiknya oleh generasi bangsa. Namun generasi bangsa yang kehilangan anutan di zaman kini, menjadi kerepotan untuk mengikuti jejak akhlak Gus Dur yang rendah hati kepada semua manusia, apa pun agama dan sukunya.

Hal itu disampaikan Wakil Katib PWNU Jateng, KH Nasrulloh Afandi (Gus Nasrul) pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Kecamatan Mayong, Jepara, Rabu (19/12).

Menurutnya seperti publik mafhum, di luar hal pemikiran Gus Dur yang kontraversial dan susah diikuti, semestinya ada banyak kelebihan akhlak mulia pada diri Gus Dur, perlu dan mudah diikutui oleh publik. Namun, menjadi repot dan susah untuk bisa diikuti oleh publik.

“Di antara faktor yang membuat masyarakat umum repot, susah untuk mengikuti jejak akhlak Gus Dur adalah setelahwafatnya Gus Dur, masyarakat kehilangan tokoh teladan yang minimalnya bisa membimbing masyarakat untuk meniru akhlak mulia Gus Dur," kata peraih Doktor Maqashid Syariah, Summa Cum Laude Universitas al-Qurawiyin Maroko itu.

Fakta di lapangan, tuturnya, banyak orang bilang, "Akhlak kita harus seperti Gus Dur. Meski beliau jadi presiden tetap rendah hati, bergaul dengan semua kalangan, Gus Dur menyatu dengan semua elemen bangsa akar rumput sekalipun."

Anehnya, lanjut Gus Nasrul, orang yang pidato demikian, dirinya sendiri pilah-pilih pergaulan. "Hanya mau bergaul dengan kalangan pejabat atau orang terhormat, padahal dia hanya punya jabatan politik ‘kecil-kecilan’ saja," tutur alumni Pesantren Lirboyo Kediri itu.

Banyak pula aktivis ormas yang di mimbar pidato nyaring teriak, Kita harus meniru Gus Dur, meski tiga periode jadi Ketua Umum PBNU, selama lima belas tahun, namun Gus Dur tetap low profil, santun kepada semua khalayak umum, masyarakat perdesaan.

Baca: Surat Sakti Gus Dur
"Tetapi, kenyataannya orang yang nyaring di forum teriak demikian, dirinya baru sedikit punya posisi di Ormas tertentu saja, sudah langsung jaga jarak dengan masyarakat umum, lupa dengan teman lamanya, sikapnya menampakkan seolah-olah dirinya merasa tidak kelas bergaul dengan masyarakat umum," papar kiai muda Pesantren Balekambang Jepara Jateng itu.

Banyak juga yang di atas panggung lantang; Kita harus meniru Gus Dur, meski Gus Dur keturunan kiai besar, ia tidak pernah membangga-banggakan nasab, Gus Dur selalu menghormati orang karena ilmunya.

"Tetapi, sikap orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat ia berlebihan mengagunggkan nasab, dan kurang menghormati orang yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia," ujarnya.

Dari sejumlah contoh gejala di atas, menurut Gus Nasrul, betapa jelasnya bahwa publik sulit mengikuti suri tauladan akhlak mulia Gus Dur. Di antara faktornya, sulit ditemukan tokoh yang bisa membimbing masyarakat setelah wafatnya Gus Dur.

"Bahkan justru publik mendapat ‘hiburan gratis’, lelucon, dari sejumlah tokoh yang mengajak meniru akhlak rendah hati Gus Dur, tetapi tokoh yang bersangkutan justru tidak mengamalkan teladan Gus Dur," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 21 Desember 2018 23:0 WIB
NU PEDULI SULTENG
NU Peduli Resmikan Masjid Annahdliyah di Sigi Biromaru
NU Peduli Resmikan Masjid Annahdliyah di Sigi Biromaru
Sigi, NU Online
Usai Syukuran dan penyerahan secara simbolis kunci hunian sementara (Huntara) di Pos Pengungsian Petobo, kini giliran Masjid Annahdliyah Lolu Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi Biromaru diresmikan oleh PCNU Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Jumat (21/12) siang.

Manager NU Care-LAZISNU Sidoarjo A'at Choiruddin mengungkapan, dibangunnya mesjid hasil kerja sama NU Sidoarjo dan warga yang sudah berdonasi melalui NU Care-LAZISNU Sidoarjo. Kehadiran masjid diharapkan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt serta sebagai sarana berkumpulnya warga bermusyawarah, menjadi tempat munculnya inspirasi bagi warga.

"Alhamdulilah peresmian ini berlangsung khidmat, sederhana dan penuh makna. Semoga manfaat, menjadi simbol kebangkitan korban gempa tsunami Palu, bangkit iman dan takwanya,  bangkit harapannya, bangkit ekonominya,  bangkit semangatnya. Aamiin ya rabbal alamin," ucap Gus A'at sapaan karibnya.

Sekretaris Koordinator NU Peduli, Handrianto WSA menyampaikan dengan adanya fasilitas masjid bisa dimanfaatkan sebagai situasi untuk bangkit dari keterpurukan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bangkit dari keterpurukan sesuai maknanya 'Annahdliyah'.

"Di tengah-tengah bencana kita harus tak henti- hentinya bersyukur, dan menikmati fasilitas rumah ibadah yang telah dibangun atas kerja sama, tenaga Sahabat-sahabat  PCNU Sidoarjo melalui NU Peduli. Tentunya tak lupa kita patut bersyukur kepada nikmat-Nya diberikan rezeki melalui NU Sidoarjo," kata dia.

Persemian masjid juga dihadiri masyarakat dan tokoh setempat. (Ibrahim/Kendi Setiawan)
Jumat 21 Desember 2018 22:45 WIB
Pesan Ketua MPR RI kepada Kader IPPNU untuk Kedaulatan Bangsa
Pesan Ketua MPR RI kepada Kader IPPNU untuk Kedaulatan Bangsa
Cirebon, NU Online
Temu Tokoh Nasional Kebangsaan adalah rangkaian kegiatan Kongres  XVIII Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dihadiri oleh Ketua MPR RI H Zulkifli Hasan sebagai narasumber. Bertempat di aula al-Ghadier dan dihadiri oleh sebagian peserta kongres IPPNU yang sudah datang dari berbagai daerah. 
 
Acara dimulai dengan penampilan hadrah oleh tim dari Pondok Pesantren KHAS Kempek sebagai pembuka yang melantunkan Syubbanul Wathan, Mars IPNU dan Mars IPPNU. Dilanjutkan sambutan oleh KH Muhammad Bin Ja’far, selaku pengasuh. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pesan kepada para anggota IPPNU.

"Pemuda dan pemudi sekarang adalah calon pemimpin di masa mendatang," katanya.

Ketua MPR RI H Zulkifli Hasan menyampaikan tantangan yang dihadapi oleh pemuda pemudi di era millinial saat ini. "Orang yang peradabannya maju, merupakan kemajuan sebuah bangsa," katanya.

Ia menceritakan sejarah bagaimana Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, serta bagaimana Indonesia dapat merdeka melalui perjuangan para ulama yang saat ini lebih kita kenal dengan Resolusi Jihad.

Tolok ukur kemajuan peradaban dilihat melalui tiga aspek utama yang pertama, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang kedua kemampuan membaca buku-buku ilmiah dan terakhir kemampuan matematika.

Ia menegaskan prestasi bisa dicapai dengan perjuangan, kerja keras dan sungguh-sungguh. "Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Kita harus punya nilai lebih yaitu dengan cara menambah ilmu, lalu upgrade diri dengan belajar, observasi bagaimana cara sukses dan hindari cara orang yang gagal. Karena hidup adalah pilihan. Cari inspirasi dan segera tentukan target untuk meraih sukse," pesannya. (Marleni/Kendi Setiawan)

Jumat 21 Desember 2018 22:30 WIB
LPBI NU Perkuat Pemuda Tanggap Bencana
LPBI NU Perkuat Pemuda Tanggap Bencana
Mamuju, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), menggelar Pelatihan Relawan Pemuda Tanggap Bencana di Hotel Pantai Indah Mamuju.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kasubdit Pengembangan Desa pada Asdep Kepemimpinan dan Kepeloporan Pemuda Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Dzikro, Sekretaris Umum LPBI NU Yayah Ruchyati, Perwakilan Dispora Sulbar, Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mamuju Ashari Rauf dan Kasatkorcab Banser Mamuju Muh. Ikhsan Hidayah.

Sementara, peserta dalam kegiatan ini terdiri dari kader GP Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), IPNU dan IPPNU. Para peserta akan mengikuti pelatihan selama 3 hari, 21-24 Desember 2018.

Sekretaris LPBI NU, Yayah Ruchyati mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk mengembangkan potensi pemuda agar dapat berpartispasi dan berkontribusi dalam penanggulangan bencana, dan mengembangkan kompetensi pemuda dalam penanggulangan bencana.

“Sebagai daerah yang sering gempa di Sulbar ini, tentu kita harus mempunyai pengetahuan terkait kebencanaan. Paling tidak kita bisa meminimalisir korban saat terjadi bencana,” kata Yayah dalam sambutannya, Jumat (21/12).

“LPBI NU ini bekerjasama dengan Kemenpora. Ini bukti bahwa NU sendiri punya LPBI nya yang menanggulangi bencana,” tambahnya.

Menurut Yayah, ada tiga isu yang menjadi fokus LPBI NU, yakni tentang penanggulangan bencana, perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.

“Kita satu-satunya NGO (Non Governmental Organization) yang menyatukan tiga isu ini. Jadi tanggap bencana hanya NU yang menyatukan isu ini. Dan selama ini LPBI NU sudah bersinergi dengan IPPNU dan IPNU, kemudian LAZIS NU,” sebut Yayah.

Melalui kegiatan tersebut, Yayah yang juga pengurus Muslimat NU ini berharap, agar kedepan LPBI NU dapat terbentuk di Sulawesi Barat.

“Harapannya di Sulbar nanti segera terbentuk, karena memang selama ini belum ada. Jadi ketika teman-teman sudah dibekali dengan kebencanaan, semoga PWNU bisa membentuk dan semua yang hadir bisa bergabung nantinya,” ucapnya.

Ia juga berharap, melaui kegiatan tersebut lahir kompetensi dan kepeloporan pemuda di Sulbar dalam penanggulangan bencana.

“Juga kita harapkan dapat meningkatnya pengetahuan tentang penanggulangan bencana. Kemudian nanti, ilmu yang diperoleh dari acara ini dapat disebarluaskan dan disosialisasikan kepada masyarakat,” simpulnya.

Sekadar diketahui, dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan sejumlah Narasumber, seperti Kepala BPBD Sulbar Darno Madjid, perwakilan Kemenpora, Dispora Sulbar, pakar dan ahli penanggulangan bencana serta tim fasilitator dari pusat. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG