IMG-LOGO
Daerah

IPNU-IPPNU Kesamben Hidupkan Pimpinan Ranting yang Vakum

Jumat 21 Desember 2018 21:0 WIB
Bagikan:
IPNU-IPPNU Kesamben Hidupkan Pimpinan Ranting yang Vakum
IPNU-IPPNU Kesamben, Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur miliki nahkoda baru setelah melaksanakan konferensi anak cabang (Konferancab), Selasa (18/12) lalu di Kantor MWCNU setempat.

Peserta Konferancab mempercayai kepada Achmad Amirudin sebagai Ketua PAC IPNU Kesamben dari Pimpinan Ranting (PR) IPNU Carangrejo, dan kepada Nuril Asmaul Khusna asal PR IPPNU Jombatan sebagai ketua PAC IPPNU setempat.

Kepada NU Online, Jumat (21/12) Achmad Amirudin mengatakan, ada beberapa langkah prioritas yang harus dilakukan PAC IPNU-IPPNU Kesamben di masa kepemimpinannya. Salah satunya yang paling urgen adalah membentuk sekaligus mengaktifkan kembali beberapa Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU yang vakum.

"Amanah ini sebagai ajang pembelajaran untuk istiqamah dalam melakukan dengan mengaktifkan beberapa pimpinan ranting yang masih vakum," katanya.

Sementara Ketua MWCNU Kesamben M Setu mengapresiasi terkait langkah-langkah organisasi NU tingkat pelajar itu. Ia mengatakan, perjalanan kepengurusan IPNU-IPPNU Kesamben harus terus progres setelah IPNU-IPPNU di wilayah ini kembali bangkit dari kevakumannya hingga belasan tahun.

"Pada periode sebelumnya sudah berjalan cukup bagus sebagai organisasi yang baru bangkit kembali setelah vakum hmpir 16 tahun," ucapnya.

Ia menyebutkan, memang masih ada beberapa ranting yang harus digugah kembali pada kepengurusan yang baru ini. Di samping itu mereka juga harus mendirikan setidaknya 5 (lima) pimpinan ranting untuk bisa menyempurnakan kepengurusan IPNU-IPPNU tingkat ranting di Kesamben.

"Di Kesamben telah terbentuk 9 (sembilan) Pimpinan Ranting IPNU - IPPNU dari 14 ranting, belum terealisasinya semua program menjadi tanggung jawab kepengurusan yang baru," jelasnya.

Dan untuk memuluskan sejumlah programnya, ia mengimbau mereka harus bisa saling mendukung. "Tidak boleh 'welehan' dalam merealisasikan program yang disepakati," ujar dia.

Sepanjang IPNU-IPPNU Kesamben merealisasikan program-programnya, dirinya menegaskan MWCNU akan selalu mendukung. "Segera menyusun acara pelantikan dan mengadakan orientasi kepemimpinan. Kemudian juga penyusunan program kerja bila perlu ke Pacet, Mojokerto. Dari MWCNU dan Banomnya akan menyupport demi terbentuknya generasi penerus NU," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)
Bagikan:
Jumat 21 Desember 2018 23:30 WIB
Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat
Beda Ulama Tarekat dan Ulama Syariat
Kudus, NU Online
Kiai Dzikron dari Semarang mengatakan ulama tarekat berbeda dengan ulama syariat. Ulama syariat belum tentu mengerti tarekat, hanya mengerti syariat.

"Mereka biasa disebut dengan kelompok garis keras atau golongan sumbu pendek. Mereka mengucapkan takbir tapi tidak dari hati. Para ahli tarekat yang memegang teguh tarekatnya, insyaallah tidak akan memicu terjadinya intoleransi," katanya pada Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di Pondok Pesantren Manba'ul Falah Piji, Dawe, Kudus, Rabu (19/12) malam.  

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan beberapa pesan penting, di antaranya ialah hal yang harus dimiliki oleh seorang murid adalah sikap jujur dan takdhim kepada guru atau mursyidnya. Ia menyebutkan dalam Tarekat Tijaniyah sebutan bagi seorang guru adalah muqoddam (pemimpin), bukan mursyid.

"Para ahli tarekat harus senantiasa istiqomah dalam bertarekat," tegasnya. 

Salah satu santri alumni Pesantren Manba'ul Falah yang telah menjadi polisi juga menyampaikan bahwa dzikir para salik dalam tarekat berbeda dengan bacaan tahlil yang bernada pada umumnya, contohnya seperti tahlil kematian. Dzikir ahli tarekat tidak bernada, namun dikhususkan meresap ke dalam hati para salikin dengan berusaha menghadirkan Allah dalam hatinya.

Rabu pagi (19/12), ribuan jama'ah menghadiri haflah maulid Nabi Muhammad SAW dan haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jiilani R.A di Pondok Pesantren Manba'ul Falah Piji, Dawe, Kudus pimpinan Romo Kyai Haji Affandi Shiddiq yang merupakan mursyid thariqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) di desa Piji Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
 
Maulid Nabi dibuka dengan pembacaan dzikir bersama dan manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Dalam acara tersebut turut hadir pula para ulama di antaranya KH Asnawi Fauzan selaku mudirul ma'had Darul Ulum Pasuruan; serta rombongan jamaaah TQN Tasikmalaya dan jamaah TQN Cirebon. Sementara dari Jakarta sendiri hadir rombongan jama'ah Majelis Mihrobul Muhibbin pimpinan KH.Ahmad Shodiq. (Siti Nurjannah/Kendi Setiawan)
Jumat 21 Desember 2018 16:45 WIB
Unipdu Jombang Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Warga
Unipdu Jombang Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Warga
Jombang, NU Online
Sejumlah mahasiswi program studi D III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan  Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur menggelar pengabdian masyarakat.

Mereka adalah mahasiswi angkatan 2016 dan 2017 dari kampus yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum, dan mengadakan layanan kebidanan di Desa Ngumpul, Jogoroto. 

Kegiatan dilaksanakan di salah satu rumah warga dan dihadiri Kepala Puskesmas Mayangan, Jogoroto, Dyah Ayu Yulyastuti. 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim dari Program Studi D III kebidanan Unipdu yang telah menunjuk Desa Ngumpul sebagai lokasi kegiatan pengabdian masyarakat,” katanya, Kamis (20/12). 

Pada kesempatan tersebut, dirinya menyampaikan menyampaikan bahwa pemeriksaan pada ibu hamil sangat penting. “Hal itu  dilakukan sebagai deteksi dini adanya bahaya atau komplikasi  pada kehamilan,” ungkap Dyah Ayu Yulyastuti.

Dalam pandangannya, deteksi dini dapat mengurangi angka kematian. “Baik bagi ibu hamil bersalin dan nifas,” tandasnya.

Selama pengabdian, para mahasiswi  melakukan berbagai kegiatan. Dari mulai pemeriksaan ibu hamil, penyuluhan kesehatan, senam ibu hamil dan akupresure pada bayi dan balita fisiologis. 

Kegiatan ini diikuti puluhan ibu hamil dan bayi serta balita. (Ibnu Nawawi)
Jumat 21 Desember 2018 16:0 WIB
KONGRES IPNU-IPPNU
Ketua NU Jatim: Peserta Kongres IPNU Harus Ingat Inti Perjuangan
Ketua NU Jatim: Peserta Kongres IPNU Harus Ingat Inti Perjuangan
Surabaya, NU Online
KH Marzuki Mustamar mengingatkan kepada kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) khususnya di Jawa Timur jangan terlena ingin merebut kekuasaan di kalangan pelajar, tapi lupa substansi perjuangan. 

“Untuk mengarahkan perjuangan, kader NU harus menanamkan rasa ikhlas berjuang karena Allah. Ukuran ikhlas itu, siapapun yang jadi ketua harus ikhlas,” kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini, Jumat (21/12). 

Indonesia ini hanya ada satu, NU juga satu, begitu pun IPNU harus satu. “Kalau ada kubu-kubuan berarti ada nafsu di antara perjuangan kalian, dengan begitu akan timbul perpecahan,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang ini.

“Kami ingin NU satu. Sebagai kader NU, IPNU pasca kongres tidak ada perpecahan. Kalau ada dua kubu, tidak akan saya ladeni,” kata dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini. 

Kiai Marzuki juga mengingatkan kader IPNU harus pintar, tidak boleh bodoh. Sebab musuh NU saat ini sudah pintar. Musuh NU juga musuh IPNU. Karena IPNU adalah kader utama NU. “Sepuluh, dua puluh tahun ke depan, kalian yang akan menjadi penurus, menjadi pengurus, ketua NU bahkan yang akan menjadi rais syuriyah,” tutur di kantor PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.  

Demikian pula, Kiai Marzuki berpesan kaderisasi di NU harus jalan. Setelah berproses di IPNU, lanjut Ansor dan menjadi pengurus NU. Sebagai kader NU, harus belajar sungguh-sungguh. “Niatkan menjaga NU,” pesan Kiai Marzuki. 

NU sebagai organisasi penjaga NKRI, jangan tinggal diam ketika bahaya mengancam keberadaannya. Kelompok yang memutar balikkan fakta jangan dibiarkan. “IPNU harus hadir, terutama di media sosial, karena ini generasi yang melek teknologi dan informasi, generasi milenial,” tegasnya.

Setelah memberi arahan, Kiai Marzuki melepas kafilah PW IPNU Jatim. Mereka berjumlah 170 peserta dengan diangkut tiga bus menuju lokasi kongres yakni Pondok KHAS Kempek Cirebon. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG