Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

NU Belanda Peringati Maulid Nabi Sekaligus Haul Ke-9 Gus Dur

NU Belanda Peringati Maulid Nabi Sekaligus Haul Ke-9 Gus Dur
Wageningen, NU Online
Ada yang tidak biasa di gedung Forum kampus Wageningen University and Research (WUR) pada siang 15 Desember 2018. Dingin menusuk di awal musim dingin tetiba pecah oleh lantunan sholawat dan kasidah diiringi oleh pukulan rebana yang rancak berisi puji-pujian ke hadirat Nabi Muhammad SAW di gedung paling ikonik di kampus Wageningen University tersebut.

Puluhan orang kaum muslimin Indonesia membaca dengan khidmat kisah perjalanan hidup Rasulullah yang dirangkum dalam bentuk Maulid Ad-diba’i. Selain untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW acara yang digelar oleh Majelis Yasin-Taklim Wageningen dan didukung penuh oleh PCINU Belanda serta KBRI Den Haag ini dilaksanakan dalam rangka haul Presiden RI-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

“Maulid Nabi merupakan momentum bagi kita untuk mengenang, merefleksi dan mengimplementasikan kembali teladan Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad adalah tokoh terbesar dalam sejarah peradaban manusia yang diutus untuk membawa rahmat bagi semesta alam. Di sisi lain, kita mengenang almarhum Gus Dur sebagai tokoh Islam yang telah menunjukkan bagaimana semangat islam rahmatan lil alamin itu diimplementasikan dalam konteks kekinian” ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta besar RI untuk kerajaan Belanda yang hadir memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Tak lupa pula Pak Puja, mengenang interaksinya sebagai diplomat saat bekerja bersama Presiden Gus Dur merintis upaya perdamaian dengan GAM di Aceh. “Perjanjian damai memang ditandatangani di jaman Presiden setelah Beliau, tetapi rintisannya dilakukan oleh almarhum Gus Dur. Beliau melihat GAM tidak sebagai musuh, melainkan saudara sebangsa yang layak diajak berdialog” tambah Pak Puja. 

Selain pembacaan maulid Diba’ tampil pula anak-anak TPQ Wageningen menyanyikan sebuah lagu berjudul “Aku anak Indonesia” yang penuh dengan semangat nasionalisme. Penampilan mereka disambut meriah oleh segenap hadirin termasuk Pak Dubes. 

Sementara itu, sahabat Gus Dur ketika berkuliah di Baghdad, KH. Hambali Maksum, membuka mauizhah hasanah¬-nya dengan mengisahkan kenangan-kenangannya bersama Gus Dur. Cerita keterlibatan Gus Dur di LSM Belanda ketika tinggal di Belanda tahun  70-an, upaya Gus Dur mendamaikan konflik Israel-Palestina sampai tentang kegemaran Gus Dur membaca.

“Sekamar dengan Gus Dur membuat saya malas membaca karena setiap akan membaca buku, pasti Gus Dur sudah membacanya dan menceritakan isinya panjang lebar kepada saya,” kenang Kiai yang juga mustasyar PCINU Belanda ini. 

Ia melanjutkan ceramahnya dengan menguraikan hikmah peringatan maulid Nabi. Menurut Beliau, ada dua sisi rasulullah SAW yaitu sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Menyitir akhir surat Al-Kahfi yang menyebutkan sisi kemanusiaan Nabi dan digunakan oleh para penentang maulid untuk melarang peringatan ini.

“Yang dimaksud dengan Ana basyarun mitslukum (Saya manusia biasa seperti kalian) adalah tidak ada alasan bagi semua umatnya untuk tidak bisa mencontoh Nabi. Nabi makan, minum, berumahtangga dan sebagainya sehingga sangat mungkin bagi umatnya untuk mencontoh Beliau” jelas Kiai Hambali. 

Secara khusus Beliau merefleksikan keteladanan nabi dalam perjanjian Hudaibiyah yang memilih mencoret tujuh kata dari piagam Hudaibiyah demi mengutamakan perdamaian. Nabi memilih perdamaian daripada mengutamakan simbol-simbol Islam. 

“Teladan  Kanjeng Nabi ini yang sepertinya diikuti oleh para pendiri bangsa Indonesia ketika mencoret tujuh kata dari sila pertama Pancasila demi mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, ini namanya mencontoh nabi Muhammad!”ungkap Kiai Hambali penuh semangat. 

Acara maulid menjadi lebih istimewa berkat ditayangkannya slide  berisi naskah maulid dilengkapi dengan terjemahan untuk memandu peserta mengikuti baris demi baris Maulid Diba’i. Peserta maulid terutama generasi “jaman now” yang tidak semuanya terbiasa dengan maulid dapat dengan nyaman mengikuti pembacaan Diba’ seraya meresapi kandungan maknanya. 

Acara ditutup dengan makan siang bersama dan ramah tamah yang telah disiapkan oleh panitia. (Fahrizal Yusuf Affandi/Abdullah Alawi)

       

Posisi Bawah | Youtube NU Online